Blind Love

Blind Love
Episode 53



Sejak masuk ke dalam mobil, air mata Libra terus keluar tanpa bisa lagi di cegah. Gadis itu terus mengusap air matanya yang mengalir di pipinya tanpa henti. Rasa di hatinya terlalu sakit melihat Virgo bersama dengan gadis lain yang jelas-jelas mendapatkan dukungan penuh dari orang tua si gadis. Libra iri, kenapa dia tak mendapatkan hal itu.


“Apa yang kamu sukai dari lelaki seperti itu?” Ardi sepertinya jengah melihat tingkah putrinya.


“Memangnya Virgo lelaki seperti apa, Yah?” masih dengan menatap jalanan, Libra membalas pertanyaan ayahnya dengan pertanyaan juga.


Ardi tak menjawab, kemudian Libra melanjutkan, “Dia memang pembuat onar di sekolahnya, tapi tak pernah sekalipun dia ikut terlibat dalam tawuran. Meskipun dia perusuh, tak pernah sekalipun dia kalah dengan kutu buku di sekolah. Dia memang sering memusingkan banyak guru di sekolah, tapi dia juga membanggakan nama sekolah. Setidaknya Virgo adalah lelaki yang memiliki tanggung jawab atas apa yang menjadi kewajibannya.”


“Dari mana kamu tahu banyak tentang dia?”


“Dari sumber yang dapat dipercaya. Dari orang yang selalu bersama Virgo sejak dia menjadi murid baru.”


“Bisa saja itu adalah sumber yang tidak akurat.”


“Kenapa Ayah nggak suka sama Virgo?” Libra menatap punggung ayahnya yang duduk di depan dekat dengan sopir, “Sepertinya, Ayah menyimpan dendam yang begitu besar buat Virgo.” Ardi tak menjawab. Lelaki itu hanya diam tanpa menjawab.


“Kamu bahkan udah nggak dilirik sama dia. Kenapa kamu masih mengharapkan lelaki seperti itu?” Libra menghembuskan napas panjang dan memejamkan matanya.


“Karena aku sangat paham sekali, dia pasti akan memilih gadis yang orang tuanya mau menerima dia.” Air mata yang jatuh di pipinya kembali di usap dengan cepat. Dan kebetulan mobilnya sudah masuk ke dalam pelataran rumahnya, jadi dengan cepat Libra keluar dari mobil dan berjalan cepat masuk ke dalam rumah. Membuat ibunya merasa miris dengan hal itu.


Karena setelahnya, perempuan tersebut mencoba untuk mencari cara memperbaiki kekacauan yang timbul. Perempuan itu ingin menemui seseorang yang pasti akan bisa membantunya.


“Siang, Tante,” sapa seorang lelaki yang ditunggunya. Jihan mendongak dan mendapati sesosok lelaki tampan yang sanggup membuat putrinya sakit hati.


“Siang!” jawabnya sambil memberikan senyum kecil kepada lelaki itu, “Duduk.” Dan lelaki itu sama sekali tak membantah.


“Mau pesan sesuatu?”


“jus jeruk aja.” Kemudian ibu Libra memanggil pelayan dan memesankan lelaki itu minuman.


“Virgo!” panggilnya dengan suara lemah, “Kamu sama sekali sudah nggak ada perasaan apapun dengan Libra?” tatapan perempuan itu lurus tepat ke mata lelaki di depannya. “Karena saya lihat, kamu sama sekali tak merespon meskipun Libra di depanmu.”


Virgo balas menatap Jihan. “Apa kita akan membahas ini sekarang, Tante?” sungguh-sungguh lelaki itu.


Jihan mengangguk, “Iya.” Katanya dengan mantap, “Kalau memang hubungan kalian masih bisa diperbaiki, tante akan membantu kamu.”


Virgo tersenyum santai mendengar hal itu. “Jujur saja saya nggak membutuhkan hal itu, Tante.” Seperti tanpa minat sama sekali ketika mengatakan hal itu.


“Saya bukan orang yang akan memaksakan kehendak saya kepada orang lain. Jika memang orang itu tidak menyukai saya, itu bukanlah hal yang aneh.” Entah kenapa, Jihan terlihat sekali lemahnya ketika bertatap muka dengan Virgo. Bisa saja karena perempuan itu memikirkan anaknya.


“Saya mencintai Libra.” katanya terus terang tanpa ditutupi, dan membuat Jihan terkaget melihat Virgo, “Tapi bukan berarti saya akan gelap mata dan menghalalkan segala cara, Tante.”


“Tapi kamu sepertinya sama sekali nggak peduli dengan Libra. kalau memang kamu cinta sama dia, kamu nggak akan mengabaikan dia.”


“Saya mengikuti saja alur permainannya, Tante. Om nggak suka sama saya dan menginginkan agar saya tidak mendekati Libra. Jadi apalagi yang bisa saya lakukan selain melakukannya.” Munafik. Katanya pada dirinya sendiri. Pintar sekali berkelit padahal dia melakukan hal yang sebaliknya.


Tapi biarlah, selama kedua orang tua Libra tak mengetahuinya, itu tak akan menjadi masalah besar.


“Kalau begitu katakan kepada Libra kalau kamu masih mencintai dia. Setidaknya biar hati Libra tak terbebani dan tenang.”


“Percuma, Tante. Itu sama sekali tak akan mempengaruhi apapun.” Jawabnya dengan berani.


“Libra sedih.” Pandangan Jihan seperti memohon namun tak dikatakan secara langsung, “Dia bahkan terus menangis ketika pulang dari pesta kemarin.” Aduan itu membuat Virgo tahu jika Libra lagi-lagi terluka karena dirinya.


Tapi apa boleh buat, dia tak akan bisa merubah cara mainnya.


“Kesedihan itu pasti akan segera berlalu. Tante tak perlu mengkhawatirkan masalah ini terlalu berlebihan.”


“Bagaimana bisa saya tidak memikirkan masalah putri saya, Virgo? Dia terluka, dan mana mungkin saya tidak mencarikan obat untuk dia?”


“Tapi luka itu, Om sendiri yang membuatnya sejak awal.” Jihan terpaku ketika Virgo mengatakan itu. Bagaimana tidak jika perkataan itu memang benar.


Tak ada jalan keluar meskipun Jihan menemui Virgo hari ini. Perempuan itu pulang dengan membawa kekecewaan atas semua hal yang terjadi pada putrinya itu. Apalagi ketika melihat Libra yang tak memiliki semangat sama sekali, membuat hatinya terasa teriris benda tajam.


*.*


Virgo mencoba untuk menghubungi Libra sejak tadi namun tak ada jawaban sama sekali. Memang dia terlihat tenang ketika Libra tak merespon panggilannya, namun di dalam hatinya terdapat beberapa hal yang mungkin terjadi kepada gadis itu.


Hanya saja dia tak ingin membayangkan sesuatu itu apa. Banyak panggilan yang dia lakukan, namun tak ada satupun yang diangkat oleh Libra. apa yang dikatakan oleh ibunya pasti benar jika Libra sedang bersedih karena apa yang terjadi waktu itu.


Jari-jarinya mengetikkan sesuatu yang akan dikirimkan oleh Libra.


Virgo – Kamu dimana?


Virgo – Kamu serius nggak mau angkat telpon aku?


Kepalanya terus memikirkan tentang perbedaan antara ayah dan ibu Libra sangatlah banyak. Jika dilihat, ibu Libra memang mendukung dirinya jika bersama dengan Libra. Kalau tidak, tidak mungkin perempuan itu meminta untuk bertemu dengannya. Dan ini kali kedua beliau melakukannya. pertama ketika Libra masuk rumah sakit waktu itu.


Virgo juga bisa merasakan jika Ardi sepertinya sudah mulai terpengaruh dengannya. Ini mungkin akan semakin seru. Tapi dia tak ingin menunjukkan pergerakan yang berarti.


Tidur sepertinya adalah jalan yang baik untuk malam ini agar pikirannya tak melayang kemana-mana. Sedangkan di rumah yang lain yang dihuni oleh Keluarga Ardi, anak gadis keluarga itu tak hentinya menangis. Apalagi ketika Virgo terus menghubunginya, dan dia tak bisa mengangkatnya tanpa mengeluarkan tangisnya.


“Li!” Ibunya masuk ke dalam kamarnya dan duduk di pinggiran ranjang. Mengelus rambut putrinya dengan sayang kemudian mengecup kepala gadis itu dengan sayang. “Apa yang bisa mama lakukan, untuk bantu kamu, Sayang?” air mata gadis itu kembali mengalir dan menangis keras. Memeluk guling dengan erat dan menenggelamkan kepalanya di sana.


Jihan benar-benar ikut merasa sakit melihat putrinya seperti itu. Masalah dengan kisah asmara seperti ini memang menyakitkan. Dan kenapa Libra harus mengalaminya? Mungkin seperti itu lah yang ada di dalam hatinya.


“Mama tadi ketemu sama Virgo.” Adunya yang mendapatkan reaksi dari Libra. gadis itu beranjak dari tidurnya dan duduk sambil menatap ibunya, “Mama mencoba untuk berbicara dengannya. Ada satu hal yang membuat mama merasa sedikit lega adalah ketika dia bilang dia masih mencintai kamu.” Libra menegang mendengar itu. Seberanikah itu Virgo? Tapi tentu saja lelaki itu akan mengatakan apapun yang ada di dalam hatinya karena terlalu blak-blakan.


Ingin Libra mengatakan jika sekarang ini mereka memang sudah kembali berpacaran, tapi Libra tak akan melakukannya karena pasti ada akan masalah tambahan nantinya. Karena bisa jadi ibunya akan berbalik menarik restunya karena Virgo berani mengabaikan Libra bahkan ketika mereka berdua saling bertemu.


“Mama nggak perlu lagi melakukah hal itu,” digenggamnya tangan ibunya, “Aku akan menata hatiku dan melupakan kesedihanku sekarang.” Bukan hanya bualan saja memang, tapi gadis itu memang bertekad untuk melakukannya. Tak mungkin dia terus menerus menunjukkan kesedihannya dan galau karena itu.


“Mama tenang aja.” Padahal baru beberapa saat lalu dia menangis dengan menyedihkan. Entah itu hanya untuk menenangkan ibunya atau memang benar-benar dia akan melakukannya.


“Kamu yakin?” Jihan meyakinkan putrinya.


“Iya.” Libra menunjukkan kesungguhannya lewat tatapan matanya, “Semua ini akan berlalu, Ma.” Libra berhasil meyakinkan ibunya dan membuat beliau keluar dari kamar milik putrinya itu.


Mengambil ponselnya yang sejak tadi tergeletak di atas nakas tanpa dia pegang sama sekali seharian ini, Libra membuka ponselnya dan mengetikkan sesuatu di sana kemudian mengirimkan kepada Virgo. Menunggu balasan lelaki itu sambil sesekali mengusap wajahnya.


Tak lama setelahnya, ponsel yang dipegangnya bergetar tanda ada panggilan masuk, Virgoku tertulis di sana. Memantapkan hatinya, Libra mengangkat panggilan tersebut.


“Halo.” Berusaha menetralkan suaranya agar tidak terdengar parau, “Bisa kita ketemu?” Virgo tak membalas apapun ketika mendengar penawaran dari Libra, “Aku tunggu kamu di kafe biasa.” Kemudian mematikan panggilan tersebut karena Virgo benar-benar diam saja di seberang sana.


Beranjak dari atas kasurnya gadis itu mengganti pakaiannya, memakai masker untuk menutupi wajahnya yang terlihat sangat berantakan.


Libra menunggu. Satu gelas jus jeruk ada di depannya. Pikirannya melayang kemana-mana sampai ketika Virgo datang, dia sama sekali tak menyadarinya. Virgo pun sama sekali tak ingin menghalau gadis itu ataupun mengganggunya. Ditatapnya Libra dalam diam tanpa mengatakan apapun.


Tiba-tiba Libra menolehkan kepalanya ke depan yang sejak tadi menatap lalu lalang orang-orang yang terlihat dari tepatnya duduk karena kebetulan dia duduk di samping dinding kaca.


Berkedip pelan, Libra menggigit bibirnya agar tangisnya tak pecah. Namun semua orang jika melihat matanya pasti akan mengetahui jika gadis itu tengah menahan tangis. Virgo tak banyak bicara, lelaki itu berdiri, mengambil tangan Libra untuk di genggam, dan menariknya pelan agar mereka bisa keluar dari tempat itu.


“Kamu bawa kendaraan sendiri?”


“Taxi.” Paraunya suara Libra benar-benar menunjukkan jika hatinya sangat tidak baik. Gejolak itu tak biasa dan bahkan pemiliknya merasa kalang kabut.


Virgo meminta Libra untuk segera naik ke atas motornya. Dan dalam hitungan detik, motor itu meluncur jalan dan membelah kota Jakarta. Libra sama sekali tak bertanya kemana dia akan dibawa oleh lelaki itu, hanya satu saja keyakinannya jika Virgo sama sekali tak akan membuatnya celakan.


Masuk ke dalam tempat yang hanya ditumbuhi pohon-pohon sepanjang jalan, Libra barulah merasa takut. Maka dia bertanya,”Kita mau kemana? Aku nggak mau di sini.” Begitu kata Libra dengan tangan yang tak sengaja menggenggam erat jaket yang dipakai oleh Virgo.


Virgo tak menjawab. Lelaki itu tak menanggapi apapun sampai mereka sampai di sebuah tempat yang terlihat indah dengan pemandangan danau. Mata Libra melebar ketika melihat itu. Ketika Virgo sudah mematikan mesin motornya, dia langsung turun dari sana. Menatap sekeliling dan kata indah itu tak cukup untuk mendeskripsikan tempat tersebut.


“Mau duduk?” Libra mengangguk dan Virgo lagi-lagi membimbing gadisnya itu ke bawah pohon. Tak ada tempat duduk di sana tentu saja, hanya ada rerumputan.


Keheningan itu masih mendominasi diantara mereka. Baik Virgo maupun Libra sama sekali tak membuka obrolan. Sibuk dengan pemikiran masing-masing tak terasa waktu berlalu lima belas menit dengan sia-sia.


“Kamu suka tempat ini?” tanya Virgo kepada kekasihnya.


“Ya.” Jawab Libra singkat, “Tempat ini nyaman dan indah.” Lanjutnya dengan senyum yang tercetak di bibirnya. Masker yang dipakaianya sudah dia lepaskan dan Virgo tahu betapa berantakannya wajah kekasihnya itu.


“Berapa lama kamu menangis?” tembak Virgo dengan serius karena merasa sangat tak suka dengan wajah Libra yang penuh dengan kesedihan.


“Aku nggak menghitung.” Libra tak berani menatap Virgo karena aura yang yang dikeluarkan oleh lelaki itu begitu hitam kelam mencengkam. Tiba-tiba saja Libra merinding dibuatnya, dan yang tadinya duduk berdempetan kini Libra menjauh sedikit demi sedikit. Namun Virgo dengan gerakan cepatnya menarik Libra kembali menempel di sampingnya.


“Ngapain kamu mau jauh-jauhan!” suara Virgo benar-benar tak bersahabat sekali sepertinya. Libra tak menjawab dan mengunci bibirnya dengan rapat.


“Pasti ada hal yang ingin kamu bicarakan sampai kamu menghubungiku ketika kamu saja sama sekali nggak mau menjawab ketika aku telpon kamu tadi.” Libra menunduk mendengar pertanyaan dari kekasihnya.


Napasnya di Tarik panjang, dan memilih kata dan memikirkan pembahasan mana dulu yang harus dia bahas. Kebingungan itu terlihat jelas.


“Aku masih menunggu, Yang!” katanya dengan jelas di telinga Libra. Gadis itu tergagap dan seketika menoleh ke arah Virgo. Gugup, ketika mata Virgo menatapnya dengan tegas dan tajam. Belum pernah sekalipun dia ditatap seperti itu dari Virgo.


Hal satu-satunya yang dia lakukan agar jantungnya tak terasa berdegup sekencang ini adalah mengalihkan pandangannya dari Virgo. Tapi apalah daya, Virgo dengan kurang ajar memegangi kedua pipinya dengan tangan kiri lelaki itu.


Dan dalam hitungan Virgo mendekatkan wajahnya ke wajah Libra dan mencium gadis itu. Sungguh, entah kenapa Virgo sekarang menjadi lelaki yang seperti ‘kotor’ seperti itu. Libra? dia sama sekali tak berkutik dengan apa yang dilakukan oleh Virgo. Keduanya menutup matanya. Virgo memeluk Libra di punggungnya, sedangkan Libra meremas baju bagian depan Virgo.


Mereka tak tahu jika ada seseorang yang sedang menatap mereka dengan marah. Kepalan tangannya bahkan siap untuk menghantam apapun.


*.*