
“Bibi tahu nggak kalau orang komplek sebelah itu kemarin cacingan gara-gara cuekin suaminya.” Aksa sudah berada di meja makan pagi ini minus anak-anaknya karena mereka akan berangkat ke sekolah dari rumah nenek
kakeknya. Sedangkan Love menemani Aksa dalam diam sejak insiden semalam.
“Iya ya, Pak?” Sepertinya si bibi ini harus di stel terlebih dahulu agar dia tahu kalau Aksa mengajaknya bermain drama.
“Bibi masak nggak tahu, Bibi kan koneksinya cepat sekali.” Aksa sudah menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dan menikmati sarapan tersebut.
“Beneran nggak tahu loh, Pak. Padahal saya update terus kalau masalah berita ‘Ya Ilahi’ begitu.” Aksa hampir tertawa kalau dia tak menahannya. Ucapan bibi sunguh lucu menurutnya.
“Beneran loh, Bi. Saya baca beritanya kemarin.” Itu adalah cara Aksa meyakinkan bibi, tapi beliau masih tak mengerti juga.
“Bibi tahu nggak kalau kemarin ada juga yang tiba-tiba botak karena suka ngerjain istrinya.” Kini Love ikut andil. Perempuan itu juga sambil sarapan.
“Waduh, sekarang ini karma itu gampang sekali ya datangnya. Saya kok jadi takut.” Bibi ini benar-benar tak mengerti sepetinya jika kedua majikannya sedang saling menyindir satu sama lain.
“Makanya kalau Bibi suka sekali ngerumpi bisa-bisa Bibi juga kena cacingan.” Aksa tak mau kalah, hanya saja sindiran itu bukan untuk sang istri melainkan secara terang-terangan mengatakan kepada asistennya itu.
“Waduh, Pak. Jangan takutin saya dong. Saya ini kan masih belum insyaf.” Jawaban yang mengagumkan sekali bagi Aksa. Lelaki itu bahkan menggelengkan kepalanya.
“Ya insyaf lah, Bik. Sebelum dunia cacing menyerang Bibi.” Entah kenapa Aksa suka sekali mengerjai orang akhir-akhir ini.
“Tapi saya masih penasaran loh Pak kalalu tetangga-tetangga itu bawa berita baru.” Ada saja jawaban si bibi ini. “Saya permisi dulu kalau gitu ya, Pak.” Kemudian berlalu begitu saja dari dapur dan entah pergi kemana setelahnya.
Tak ada lagi alat yang digunakan mereka berdua untuk saling menyidir, keduanya diam dengan fokus ke aktivitas mereka masing-masing. Aksa makan dengan tenang, sedangkan Love makan dengan malas-malasan.
Meminum minumannya, Aksa berdiri. “Aku berangkat ya, Istiriku sayang.” Begitu dia bilang sambil mengulum senyum. Ingatannya masih merekam jelas dan memutar ulang adegan semalam di mana sang istri yang menangis.
“Sebenernya aku mau minta kiss, tapi karena sayangku lagi ngambek, apa boleh buat.” Love melirik sedikit sang suami tanpa mengatakan apapun. Melihat jejak senyum geli di wajah Aksa membuat gondok di hatinya semakin
besar.
“Aku berangkat dulu.” Karena waktu semakin siang, Aksa tak ingin dia terlambat karena terus mengerjai istrinya. Maka dia segera bergegas untuk keluar rumah. Ternyata Love tak setega itu membiarkan Aksa pergi tanpa diantarkan olehnya seperti biasanya.
Mengekori sang suami, dia ikut keluar rumah. Ketika Aksa sudah membuka pintu mobilnya, tangan lelaki itu di cekalnya. Tanpa banyak kata, dia mencium tangan suaminya seperti biasa. kemudian memberi ciuman di pipi tapi
wajahnya masih sangat datar tanpa senyum.
“Aku suka sih, tapi kalau nggak iklas ya nggak usah dipaksa lah, Yang.” Aksa tersenyum dan menatap sang istri. “Masuk lah, aku berangkat dulu.” Love memang tak akan bisa berlaku cuek kepada suaminya. Karena dia langsung memeluk Aksa dari belakang dan menenggelamkan wajahnya di punggung lelaki itu.
“Jangan ngerjain orang kayak semalem lagi bisa kan, Yang?” Suaranya teredam tapi masih bisa di dengar oleh Aksa. Tangan yang melingkari perutnya di genggam, kemudian berbalik untuk melihat wajah Love.
“Kalau begitu jangan menanyakan hal yang nyeleneh seperti semalam bisa nggak?”
“Wanita itu kan memang seperti itu, meskipun tahu jawabanya tapi di hati itu selalu terjadi kekhawatiran yang besar.” Jawban Love ini benar-benar membuat sebagian perempuan terwakilkan sepertinya.
“Khawatir tentang apa?”
“Tentang banyak hal lah. Makanya kami itu kadang selalu menanyakan pertanyaan yang sama berulang-ulang meskipun nanti akan mendapatkan jawaban yang sama. Tapi sekalinya nanti jawaban itu berbeda, kebakaran jenggot kami.” Kegamblangan jawaban Love menambah pening kepala Aksa.
“Udahlah, aku udah telat. Aku berangkat dulu.” Lelaki itu mencium kening sang istri dan mengecup bibirnya. Masuk ke dalam mobil dan menjalankan kendaraan itu untuk segera sampai di tempat kerja. Dia mau saja meladeni sang istri, tapi dia harus bekerja demi bisa memenuhi kebutuhan keluarganya.
Aaa Aksa bahkan senyum-senyum sendiri sekarang di dalam mobil mengingat hal-hal lucu yang baru saja terjadi. Entah sampai kapan istrinya itu bertindak kekanakan, sayangnya dia juga sangat menikmati hal tersebut. Love adalah cinta pertamanya dan menjadi cinta terakhirnya. Apa yang dikatakan oleh Love semalam itu memang benar. Sejak dulu dia tak bisa berpindah ke lain hati dan dia pun tak berniat untuk melakukannya.
Cinta itu adalah Love, dan Love adalah cinta. Maka Aksa tak memerlukan cinta yang lain selain Love. Dia tak memerlukan orang lain untuk mengisi hatinya dengan cinta. Hanya Love dan tetap Love. Sampai kapanpun.
*.*
Seperti yang sudah direncanakan oleh Love dan juga Aksa, mereka benar-benar mengajak Virgo ikut serta dalam piknik kali ini. Bukan main senangnya Avez ketika dia mengetahui jika abang kesayangannya itu ikut serta bersama keluarganya di ‘acara’ keluarganya. Bocah itu bahkan sangat semangat sekali mempersiapkan semua hal yang akan dibawanya pergi kali ini. Memang tak pergi ke tempat yang jauh, tapi membuat acata seperti ini akan membuat keluarga menjadi keluarga akrab satu sama lain.
“Abang boleh bawa sketboard, Bunda?” Dalam pikiran Avez, dia ingin sambil latihan ketika mereka sampai nanti.
“Nggak boleh, Bang. Kita kan akan piknik, masa bawa sketboard.” Di saat liburan, Love tak akan mengijinkan keluarganya sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Sebisa mungkin tak ada ponsel atau hal-hal lain yang akan mengganggu keasyikan mereka menikmati waktu libur mereka.
“Assalamualaikum.” Virgo masuk ke dalam rumah Aksa dan mendapati keriuhan anggota keluarga tersebut.
“Waalaikum salam.” Jawab mereka kompak. Virgo kemudian bertos ria bersama Avez seperti yang dilakukan setiap mereka bertemu, dan tak lupa menyapa bocah cantik yang sedang sibuk entah melakukan apa.
“Adek ngapain?” Virgo sambil mengintip apa yang dilakukan bocah itu. “Waw! Anggur. Buat abang ya?” Ternyata Ixy sedang memasukkan anggur ke dalam kotak bekal kecil.
“Buat Ixy, bukan buat Abang.” Katanya dengan santai sambil menutup kotak tersebut karena sudah penuh. “Ini, Bunda.” Diberikannya kotak tersebut kepada Love agar dijadikan satu dengan bekal lainnya.
Virgo ikut bergabung dengan Aksa di kursi makan. “Kita akan jalan kemana, Bang?” Virgo memang belum mengetahui dia akan diajak kemana oleh Aksa karena lelaki itu memang tak mengatakan tujuannya.
“Ke tempat yang indah.” Aksa sama sekali tak menatap Virgo ketika menjawab pertanyaan pria muda tersebut. Pandangannya mengikuti pergerakan istrinya.
“Secinta itu ya, Bang?” Komentar itu jelas saja menimbulkan reaksi dari Aksa. Namun dia tak langsung menjawabnya. Virgo memberi isyarat dengan matanya dan mengedikkan kepalanya ke arah Love.
“Sejak tadi fokus sekali ngelihatin kakak.” Santai sekali Virgo mengatakan itu.
“Jadi?”
“Berapa banyak lagi makanan yang akan di bawa? Kita cuma berlima, dan sepertinya makanan yang di bawa untuk lima belas orang.”
“Karena Mas kemarin mengeluh lapar setelah makan banyak. Dan aku nggak mau suamiku kelaparan lagi nanti.” Love menjawab itu dengan masih memasukkan makanan ke keranjang piknik berukuran lumayan besar.
“Denger loh dia, Bang.” Virgo yang sedang memainkan ponselnya itu berkomentar.
“Kalau mau ngomongin orang itu suaranya harus pelan. Kalau perlu pakai telepati biar yang diomongin nggak denger.” Judes sekali Love. “Dan kamu.” Dengan garpu di tangannya, perempuan itu menunjuk Virgo. “Nggak ada main hp nanti. Kalau sampai kamu Cuma main hp aja, ku lempar nanti kamu ke laut. Dengar?” Virgo mengangguk dan langsung meletakkan ponselnya di atas meja.
“Galak bener.” Begitu gumamnya sambil menatap Aksa. Yang di jawab Aksa dengan kekehan saja.
Persiapan selesai. Mereka sudah mengganti baju yang sama berwarna abu-abu berlengan panjang bertuliskan ‘We are family’ di bagian depan. Keluar rumah, masuk ke dalam mobil, dan Aksa langsung menjalankannya agar segera sampai tujuan.
Di perjalanan, Ixy yang suka sekali bernyanyi, selalu menyanyikan lagu kesukaannya. Bahkan meskipun dia tak hapal liriknya secara penuh pun dia tetap bernyanyi dengan percaya diri. Virgo bahkan sesekali tertawa ketika mendengar itu.
Jika Avez akan antipati dengan orang lain yang dekat dengan adiknya, berbeda dengan Virgo. Karena bocah itu akan ‘baik-baik’ saja jika Virgo yang ‘menggoda’ Ixy. Dia tak akan gondok apalagi marah.
“Sampai kita.” Mobil yang di kendarai oleh Aksa masuk ke dalam sebuah lahan dengan banyak pohon rindang di pinggir jalan, tapi masih belum menghentikan mobilnya meskipun dia baru saja mengatakan jika mereka sudah
sampai.
Pemandangannya indah sekali dan tentu saja sepi karena tak ada pengunjung lain. “Kok sepi, Bang?” itu adalah pertanyaan Virgo karena rasa penasarannya.
“Karena kalau kamu nakal, aku mudah ngelempar kamu dan nggak ada orang yang tahu.” Masih dengan kesinisan yang sama, Love menjawab.
Mobil benar-benar berhenti di depan sebuah rumah kayu dan di depan sana terlihat pantai yang begitu indah. “Waw!” Virgo bahkan langsungkeluar dari mobil dan terkesan sekali dengan apa yang dilihatnya. “Ini keren sekali.” Kedua tangan Virgo bekacak pinggan dan sangat mengagumi keindahan ciptaan Tuhan itu.
“Bawa keranjangnya.” Perintah Love yang memutus kekagumannya. Sedangkan Love sudah berjalan terlebih dulu menuju rumah tersebut diikuti oleh kedua anaknya.
Virgo tak membantah dan menurut saja apa yang diperitah oleh Love kepadanya. “Bisa?” keranjang itu terlihat berat dan Aksa akan membantu jika Virgo merasa tak bisa membawanya sendirian.
“Bisa lah, Bang.” Kemudian mereka berdua menyusul Love yang sudah berada di halaman rumah kayu tersebut.
Avez dan Ixy sudah sibuk berlari ke sana ke mari dengan tawarenyah mereka. Inilah yang Aksa sukai jika mengajak keluarganya pergi berpiknik. Apalagi mendengar tawa anak-anaknya yang terlihat sekali bahagianya. Bukan hanya ke mall saja keluarnya.
Semua makanan sudah dikeluarkan dari keranjang. Seperti biasa, mereka langsung duduk melingkar dan memulai makan sambil menikmati pemandangan indah di depan mereka.
“Sebenarnya ini tempat bagus banget, tapi kok nggak ada yang datang ke sini ya?” Itu adalah pertanyaan Virgo yang mengungkapkan rasa penasaran di dalam hatinya.
“Karena tempat ini bukan tempat umum.” Begitu kata Love dengan santai. “Kalau kamu perhatikan, ketika kita masuk ke sini tadi akan melewati pagar tinggi yang di jaga oleh satpam.” Di tatapnya Virgo dengan maksud agar lelaki itu bisa mengingatnya.
“Ya, aku ingat.” Virgo santai mengatakan itu kemudian sedetik kemudian matanya menatap Love dan Aksa bergantian. “Tempat ini milik kalian?” Nada yang digunakan untuk mengatakan itu bahkan seolah kaget sekali.
“Milik keluarga kami lebih tepatnya.” Itu Aksa yang jawab.
“Keluarga yang mana? Ganedra atau Nareswara?” Mata Love melotot ketika mendengar pertanyaan itu.
“Kamu mencari tahu tentang kami?” Love tak biasa mengatakan itu dengan santai ketika Virgo tahu tentang keluarganya.
“Tentu.” Sekampret memang Virgo ini, bisa-bisanya dia mejawab dengan biasa ketika Love hampir murka. “Seperti Abang yang memata-matai aku.” Diliriknya Aksa dengan santai. “Kita sama kan, Bang?” begitu tanyanya.
“Begitulah.” Aksa tak kalah santainya menjawab hal tersebut. Love tak habis pikir dengan Aksa sekarang, kenapa suaminya itu justru terlihat biasa saja menyikapi jika keluarganya tengah dimata-matai.
“Jadi apa tujuan kamu mematai-matai kami?” Love tak akan tinggal diam dengan apa yang dilakukan Virgo meskipun suami juga melakukan hal yang sama.
“Nggak ada. Aku Cuma iseng aja. Tenang aja, aku nggak akan melakukan hal yang buruk kepada kalian.” Virgo bahkan berekspresi mencibir ke arah Love yang membuat perempuan itu melotot.
“Udah. Kamu makan aja. Virgo itu Cuma membual aja.” Kata Aksa agar istrinya itu tak seperti orang kebakaran jenggot. Love menatap Virgo memicing, mencari kebenaran dari ucapan Aksa.
Karena tak tahan dengan pelototan Love, Virgo mengaku. “Iya, aku kerjain, Kakak. Mana ada waktu aku mencari hal-hal begitu. Kayak nggak ada kerjaan aja.” Dan itu sukses membuat Love semakin melotot.
“Bibi yang bilang. Aku dikasih cerita sama dia.” Jujur Virgo.
“Bibi lagi?” Love berfikir jika bibi yang dimaksud Virgo adalah asistennya.
“Iya. Waktu itu aku bawa Avez ke rumah sebentar buat ambil sesuatu. Nggak tahunya dia fans berat Avez sama Ixy. Langsung lah cerita dia. Aku pun nggak paham cerita itu benar apa nggak.” Bukan hanya sosialita saja sekarang yang kerjaannya Cuma merumpi, karena pembantu pun sekarang lebih eksis daripada majikannya.
“Jadi, tempat seindah ini punya keluarga Kakak atau Abang?” Virgo sepertinya masih sangat penasaran terkait dengan tempat yang di datanginya sekarang ini.
“Punya keduanya.” Jawaban itu Love yang memberikan. “Keluarga kami menghadiahkan untuk kami. Tapi bagi kami ini adalah milik keluarga besar kami.” Lahan luas dekat dengan pantai itu memang dihadiahkan pasangan tersebut beberapa tahun yang lalu sejak mereka masih di Singapura.
Awalnya Kenya yang mengusulkan itu kepada sang suami, tapi Sha mendengar dan meminta agar dirinya dan sang suami diikutsertakan untuk membeli lahan tersebut. Tadinya hanyalah lahan kosong tak begitu terawat karena
pemiliknya memang tidak terlalu mengurusnya, setelah beberapa tahun lahan tersebut menjadi tempat yang luar biasa. Kalaupun seandainya dijadikan tempat wisata, pasti akan menjadi tempat yang banyak dikunjungi oleh wisatawan. Sayangnya, baik Aksa maupun Love belum memiliki rencana untuk itu.
*.*