Blind Love

Blind Love
Seri 30



Pintu rumah Libra tertutup ketika Virgo baru saja keluar, diikuti oleh tubuh Libra yang terduduk dengan lemas di atas lantai. Air mata masih terus saja keluar tanpa bisa lagi di cegah. Ardi masih menatap putrinya dalam diam.


Suasana masih terasa mencekam ketika ibu Libra masuk ke dalam rumah. Betapa kagetnya perempuan tersebut ketika melihat putrinya. Denga panik beliau mendekat ke arah putrinya dan memegang kedua pundak Libra. "Kenapa, Sayang? Ada apa?" Tanyanya menatap putrinya bingung.


Beralih kepada sang suami, perempuan itu kembali bertanya. "Kenapa, Yah? Ada apa?" Yang sama sekali tak mendapatkan jawaban juga. Membuat perempuan itu kebingungan seorang diri.


"Nak!" Libra berdiri, mengusap air matanya, kemudian berlalu dari sana tanpa mempedulikan apapun lagi.


Kejadian itu benar-benar membuat Libra berubah drastis. Hatinya seolah kaku melihat apapun sekarang. Hidupnya hanya digunakan untuk mendekam di dalam kamar dan belajar. Ucapan Virgo terngiang di telinganya, masuk ke dalam memori otaknya, dan terkurung di sana tanpa bisa lagi keluar.


"Li, mau ikut mama belanja? Sepertinya kamu perlu refreshing sekarang. Biar pikirannya adem." Ibunya tak ingin putrinya itu stress kalau terus-terusan mendekam di dalam kamar. Gadis itu keluar kalau memang waktunya makan saja.


"Aku sebentar lagi ujian, Ma. Nggak ada waktu lagi untuk santai dan melakukan hal yang tidak berguna sama sekali." Kunyahan ibu Libra terhenti mendengar itu. Seperti perempuan pada umumnya, Libra pun suka dengan yang namanya belanja. Namun sekarang berubah sama sekali.


"Kan nggak setiap hari, Nak." Libra menggeleng.


"Aku nggak bisa. Mama pergi sendiri aja."


"Kan kamu udah belajar sama Edzard tadi." Edzard memang selalu ke rumah Libra ketik sore hari untuk belajar bersama dengan gadis itu.


Libra menatap ayahnya datar. Kemudian menyeringai, "Edzard nggak sepintar itu kali sampai apa yang harus aku palajari semua harus sama dia." Kemudian memutar bola matanya.


Mungkin kalau orang yang tahu tentang masalah Libra dan ayahnya, gadis itu akan di bilang anak tak punya sopan santun. Sedangkan ibu Libra sudah mengetahui semuanya karena suaminya menceritakannya.


"Kamu lama-lama nggak punya sopan santun ya, Li." Raut marah ayahnya terlihat jelas karena sikap anaknya itu kepadanya.


"Sopan santun seperti apa yang Ayah mau dari aku?" Perubahan itu benar-benar drastis sekali. Tak ada lagi Libra yang ramah, tak pernah membantah, dan lembut kepada orang tuanya. Libra sekarang benar-benar seperti gadis yang kurang didikan.


"Gara-gara Virgo kamu berbuat sampai sejauh ini?"


"Virgo?" Senyum mengejek itu di keluarkan lagi, "Siapa Virgo? Aku nggak kenal. Please lah, Yah," Meletakkan sendok dan garpu di atas piring kemudian dia melanjutkan, "Jangan suka mengkambing hitamkan orang lain, nggak baik. Libra juga pengen berubah. Jangan lah dia itu lembek terus, sampai orang-orang bisa menyakiti dia sesuka hatinya.


"Aku ingin hidup dengan caraku sendiri," senyumnya merekah tapi menyimpan kesedihan mendalam di dalam hatinya. "Dan aku nggak mau ada orang lain yang mencampurinya." Gadis itu berdiri. "Aku udah selesai." Kemudian meninggalkan ruang makan dengan santai. Hal itu membuat kedua orang tuanya tertegun.


Sebelumnya, Libra tak pernah mendapatkan kesedihan entah dari manapun, namun ketika dia mendapatkannya begitu dalam dan sakit. Karena itulah perubahannya pun tak tanggung-tanggung.


"Ayah pasti puas sekarang." Ibu Libra menuding sang suami, "Aku bilang jangan terlalu kasar menghadapi Libra, tapi kamu tetap melakukannya. Dan menampar? Kalau aku ada di sana waktu itu, aku akan menampar balik kamu." Suaranya terdengar geram dan sebal.


"Aku tahu aku kelewatan, tapi kalau kamu ada di sana waktu itu, kamu pasti akan tahu bagaimana kelakuan Libra dan Virgo."


"Susah ngomong sama kamu." Ibu Libra berdiri dan meniggalkan suaminya sendirian. Membuat Ardi ikut geram dibuatnya.


*.*


Paska mengakhiri hubungan mereka, tak ada dari dua orang tersebut yang mencoba untuk kembali bertemu. Saling memutus komunikasi satu sama lain adalah hal yang dilakukan keduanya. Teman-teman mereka tentu tahu tentang hal itu dan mereka sama sekali tak pernah membahasnya.


"Li!" Kini Edzard sepertinya sudah berada di atas angin karena dia mendapatkan kesempatan dari ayah Libra untuk tetap dekat gadis itu, "Pulang sekolah keluar dulu ya, setelah itu kita lanjutkan belajar."


Libra menatap lelaki itu dengan datar. "Aku nggak mau," katanya, "Kalau kamu mau keluar, keluar saja. Kalau perlu nggak perlu ke rumahku lagi. Aku lagi muak dengan semua orang." Kemudian meninggalkan lelaki itu terkaget sengan sikap dan sifat Libra yang sekarang. .


Libra masuk ke dalam kelas dengan langkah santai. Duduk di bangkunya dan meletakkan kepalanya di atas meja. Memejamkan matanya namun tak sampai tertidur.


"LI!" Riska mengelus rambut gadis itu dengan sayang, "Lo nggak mau ikut kami ya? Kami kan mau ke pantai hari minggu nanti."


"Ikut ya, Li. Plase!" Mohon Ersya kepada Libra. "Kita kan mau cari udara segar sebelum ujian."


"Kalian pergi aja. Gue capek rasanya badannya." Karena terlalu memforsir tubuhnya dengan terus belajar, tubuhnya pun lama-lama berontak juga.


"Jangan terlalu di forsir lah tubuh lo itu. Takutnya nanti lo malah sakit." Libra menegakkan tubuhnya dan menatap temannya satu per satu.


"Kalian nggak perlu takut. Gue baik-baik aja. Cuma gue malas aja sekarang." Tepat setelah mengatakan itu, matanya berkunang-kunang dan tubuhnya limbung ke samping. Sayangnya Riska bisa menarik tangannya, kalau tidak, sudah bisa dipastikan kalau Libra pasti akan terjatuh di lantai.


Teman-temannya panic dan berteriak untuk meminta bantuan teman-teman laki-laki di kelasnya. Menggendong Libra dan membawanya ke UKS diikuti oleh teman-temanya. Mereka khawatir akan terjadi sesuatu dengan Libra.


"Bangun dong, Li." Ule bagian memberikan minyak kayu putih di tubuh Libra. Mengolesi telapak tangan, telapak kaki, perut, dan juga hidungnya. "Apa kita bilang, elo itu butuh istirahat. Jangan buku mulu yang elo plototin." Ule adalah jagonya mengomel. Dia bisa berbicara panjang lebar kalau ada yang tak mencocoki hatinya.


"Gue bilang ke, Sam." Riska menunjukkan gambar Libra yang berbaring di atas kasur UKS dari ponselnya, "Biar Virgo juga tahu." Sebetulnya sama sekali tak ada pengaruhnya. Karena kedua orang itu sudah memutuskan untuk tak saling berkaitan lagi, jadi semuanya itu mungkin akan sia-sia.


"Gue nggak yakin ini akan berhasil." Ersya yang mengatakan, "Karena seperti yang kita tahu, Libra bahkan nggak pernah sama sekali membahas masalah Virgo lagi sekarang."


"Kasihan sih sebenarnya," ucap Ule masih sambil terus mengusap-usap tangan Libra. "Tapi mau bagaimana lagi, kita nggak bisa mencampuri urusan mereka terlalu jauh. Mereka sudah memilih dan artinya itu adalah keputusan yang baik bagi keduanya." Ketiga teman Libra itu menatap Libra dengan kasihan dengan semua hal yang terjadi akhir-akhir ini.


Sam – perubahan wajah Virgo memang kaget, tapi dia hanya bilang, 'ada Edzard yang akan dengan baik membantu Libra' gitu.


Riska membaca jawaban dari chat yang tadi dia kirimkan untuk lelaki itu dan menghembuskan napas kasar. Bahkan ketika Ule dan Ersya juga membaca itu juga melakukan hal yang sama.


"Gue nyerah." Ucap Riska, "Kita hanya perlu menjadi teman yang baik dengan terus berada di sampingnya tanpa menghakimi Libra. Sakit hatinya sudah cukup parah dan kita hanya perlu menghibur saja."


Benar apa yang dikatakan oleh Riska. Libra hanya butuh dukungan dari orang-orang yang disayanginya. Gadis itu tak akan mendapatkan dari ayahnya, tapi paling tidak ada orang yang sanggup menguatkan hatinya.


Sudah dilakukan pemeriksaan oleh seorang petugas UKS dan tak lama setelahnya Libra bangun. Gadis itu mengerjap dengan kepala yang berdenyut nyeri. "Kepala gue sakit." Adunya kepada teman-temannya. Jari-jarinya memijat pelipisnya berharap sakit itu akan segera mereda. Tapi sayangnya sama sekali tak ampuh.


"Lo pulang aja ya, Li. Biar gue tempon sopir lo." Ule memberinya ide, karena tak tega melihat wajah pucat Libra.


Libra bahkan tak menjawab. Matanya menatap dinding dengan pandangan kosong dan itu benar-benar membuat teman-temannya ikut bersedih.


"Li, please. Lo harus istirahat." Ersya menambahi karena tidak mau gadis itu memaksakan tubuhnya yang bahkan sudah terlihat lemas itu.


"Oke." Teman-temannya menghembuskan napas lega dengan jawaban yang diberikan oleh Libra. Maka dengan sigap, Riska menghubungi sopirnya Libra agar segera menjemputnya.


Dia atau temannya yang lain pasti mau mengantarkan Libra pulang, hanya saja setelah ini masih ada jam pelajaran. Dan Libra juga pasti tak akan mau jika teman-temannya meninggalkan sekolahnya begitu saja.


"Li!" mendengar jika Libra pingsang, Edzard tentulah langsung datang ke UKS untuk melihat kondisi gadis itu. "Lo nggak papa?"


"Kalau lo bisa lihat, harusnya lo tahu kalau Libra sekarang sedang nggak baik-baik aja. Lo lihat wajahnya pucat." Ule adalah orang yang paling tidak bisa menelan kekesalannya ke dalam tenggorokannya. Maka dengan pasti dan otomatis dia akan menyembur Edzard dengan ucapannya.


"Gue anter pulang ya?" Udah telat, sopir Libra juga udah mau sampai sini.


Edzard bahkan harus melototi Ule karena dengan kurang ajarnya menjawab pertanyaan yang bukan untuk dirinya.


"Lo bisa diem dulu nggak?" Tak main-main Edzard mengatakan itu. Sayangnya bagi Ule, Edzard adalah penyebab dari segala hal yang terjadi antara Libra dan Virgo, maka dia tak bisa santai.


"Lo yang harusnya diem. Gue udah enek banget lihat muka lo di sini."


"Lo pikir gue enggak?"


"Bagus kalau gitu. Lo bisa keluar sekarang dan biarin gue jaga Libra dengan tenang." Edzard mengetatkan rahangnya dengan sikap Ule kepadanya.


"Lo nggak berhak perintah gue."


"Dan lo nggak berhak ngebuat Libra semakin sakit dengan adanya lo di sini." Masuk ke dalam jantung Edzard tikaman ucapan Ule, "Lo adalah orang yang paling nggak peka. Libra udah memberi signal dengan menjauhi elo, tapi lo nggak paham juga dan selalu mendekat. Lo tahu akibatnya sekarang? Ini." Tunjukknya kepada Libra yang berbaring. "Dia sakit."


Bahkan Libra tak bisa mengatakan apapun lagi sekarang. Mendengar pedebatan antara Ule dan Edzard semakin membuat kepalanya berdenyut.


"Udah!" Tak mau kedua orang itu semakin hebat bertengkar, Libra mendengahi. "Kepala gue semakin sakit kalau kalian melanjutkan pertengkaran kalian....'


"Mbak Libra!" Sopir Libra sudah datang dan itu artinya Libra harus segera pulang dan beristirahat di rumah.


Ule memegangi lengan kanan Libra. "Kuat jalan nggak?"


"Rasanya muter-muter lho, Le." Memijat kepalanya sendiri karena merasa bedenyut dengan sangat sakit.


"Di gendong aja, Mbak." Sopir Libra memberi usul.


"Mau gue aja yang gendong, Li?" Edzard menawrkan. Kemudian Ule langsung berdecih.


"Lo emang mau bantu atau cari kesempatan?" Sadisnya mulut gadis itu.


"Le!" Ersya mengingatkan, "Udah." Katanya lagi. Dan hal itu membuat Ule menahan rasa kesalnya.


Libra benar-benar naik ke punggung sopirnya karena tak kuat berjalan. Semua hal yang dilihatnya seolah berputar dan tentu itu membuatnya merasa ingin marah kepada tubuhnya sendiri. Kenapa dia harus selemah ini? Tapi memang hal itu wajar terjadi ketika dia memforsir tubuhnya sampai harus melupakan semuanya dan hanya memikirkan tentang buku, buku, dan buku.


"Hari-hati, Pak. Lo langsung istirahat. Pulang sekolah kami akan langsung ke rumah lo." Ule menutup pintu mobil setelah mengatakan wejangan itu kepada Libra. Mobil Libra keluar dari sekolah dan barulah ketiga temannya itu masuk ke dalam kelas. Memang kelas sudah di mulai, tapi apa boleh buat, mereka tak mungkin meninggalkan Libra seorang diri di UKS.


Sedangkan Virgo yang tadi mendapatkan kabar yang diperoleh dari Riska, perasaannya menjadi sangat berantakan sekarang. Dia memang pura-pura biasa saja, tapi hatinya jelas mengatakan hal lain. Ingin sekali dia melihat keadaan gadis itu sekarang, tapi dia tak sanggup.


Dan sayangnya lagi dia adalah seorang lelaki. Dia sudah mengatakan kepada ayah Libra jika pertemuannya malam itu adalah akan menjadi pertuan yang terakhir bagi mereka. Maka dia juga harus memenuhi janji tersebut. dia tak akan bertindak tak gentle dengan datang diam-diam ke rumah Libra dan melihat atau menuggu gadis itu di depan rumah siapa tahu takdir mempertemukan mereka.


Sungguh, Virgo tak akan melakukan itu. Baginya sebuah kata yang sudah dia ucapkan pantang untuk diingkari. Karena itu, meskipun dia merasa ingin sekali bertemu dengan gadis itu tak akan dia berbuat nekat.


Sam – Libra masuk rumah sakit


Dan informasi ini benar-benar membuatnya merasa ikut sakit bersama Libra


Virgo – Semoga dia cepat sembuh


Sam – Lo yakin nggak mau jenguk dia?


Virgo – keputusan udah di ambil


Sam – Jangan keras kepala lah, Bro


Virgo –Gue hanya menepati janji


Sam – Tapi masalah ini bukan tentang perjanjian


Virgo – Gue nggak mau Libra semakin merasa sakit ketika gue tetap mendekat. Libra pantas mendapatkan orang lain yang lebih baik. Gue nggak mau bahas ini lagi


Virgo mematikan ponselnya dan tak lagi bisa di hubungi siapapun. Menyenderkan tubuhnya di senderan kursi gantung yang ada di balkon kamarnya, pikirannya tertuju pada Libra. Apa yang terjadi dengan gadis itu setelah mereka berpisah, dia yakin Libra tak akan melakukan hal yang buruk, tapi...." Virgo memutuskan pemikiran itu di dalam otaknya.


Ada sesuatu yang sebenarnya ingin sekali Virgo ketahui, tentang sikap ayah Libra yang terlihat begitu tak menyukainya. Sayangya dia merasa jika itu hanya sia-sia saja. Semuanya pasti akan sama saja.


*.*