
Love membaca banyak chat yang mengatakan permintaan maaf entah sudah yang ke berapa puluh kali. Kekehannya bahkan tak bisa lagi ditahan karena hal itu.
'Aku minta maaf lah, kak.'
'Kakak tega sekali sama aku. #akumintamaaf #virgoyangterluka'
'Terserah kakak aja lah'
Itu adalah tiga dari banyak chat yang dikirimkan Virgo untuk meminta maaf kepada Love. Tapi tak ada dia merespon satu pun dari chat tersebut. Niat sekali memang kalau mengerjai orang memang ibu Avez ini. Awalnya dia memang benar-benar kesal dengan Virgo, tapi itu tak lama. Melihat Virgo yang kelimpungan seperti itu meminta maaf kepadanya, membuat hiburan sendiri bagi dirinya.
"Udah puas?" Aksa menatap Love lurus-lurus melihat kelakuan istrinya yang benar-benar luar bisa sekali itu. "Suka sekali membuat anak orang bingung." Kemudian Aksa meneruskan bacaanya setelah mengatakan itu.
"Lucu aja tahu, Mas, melihat si Virgo kaya gitu." Love menunjukkan chat yang dikirimkan Virgo untuk dirinya dan meminta sang suami untuk membaca. "Baca coba, Yah." Perintahnya kepada sang suami.
"Baca aja sendiri." Tanggapan Aksa memang selalu seperti itu jika ditunjukkan dengan hal-hal yang baginya tak penting dan sama sekali tak menarik. "Balas chat dia, suruh ke rumah." Aksa menginginkan istrinya segera mengakhiri semua kegilaan yang dilakukan kepada Virgo. Namun Love mana mungkin akan setuju begitu saja.
"Nggak, aku akan sedikit bermain-main sama dia." Penolakan itu diberikan secara gamblang oleh suaminya tanpa perlu berpikir kembali.
Di tatapnya Love kembali dengan peringatan yang terlihat jelas di sana. "Udah. Virgo itu tulus meminta maaf, nggak perlu lagi kaya gitu. Kamu udah bukan anak-anak lagi, belum puas aja main-mainnya." Panjang kalimat Aksa membuat Love menarik napas saja. Aksa memang selalu seperi itu, mana mau dia 'bercanda' berlebihan seperi yang dilakukannya sekarang.
Tak ada jawaban dari bibir sang istri membuat Aksa memanggil perempuan itu. "Yang!" begitu katanya dengan tegas. "Jangan terlalu berlebihan, nggak baik." Bahkan sebelum Love menyetujui keinginannya, Aksa tak sama sekali memutus tatapannya dari sang istri.
Jadi mau bagaimana lagi, kalau sudah seperti itu kalimat rayuan berjenis apapun tak akan pernah didengarkan oleh Aksa. Maka dengan berat hati Love menyetujui. "Iya." Katanya dengan berat hati. Mungkin bagi Love, melihat Virgo yang kelimpungan seperti yang terjadi sekarang ini adalah hiburan sendiri bagi dirinya, tapi bagi Aksa itu bukanlah lelucon yang harus diteruskan.
Karena merasa belum puas dengan keusilan yang diberikan kepada Virgo, sedangkan harus segera diakhiri, maka keusilan itu dikeluarkan untuk sang suami. "Mas!" Panggilanya dengan palan. "Sayang kamu." Katanya tepat di telinga Aksa. "Mau nggak tidur sama aku?" Perkataan itu dibarengi dengan jarinya yang menggoda dada Aksa.
"Nggak usah mulai kenapa sih." Keluhan benar-benar dikeluarkan oleh lelaki itu sebab dia sudah lelah dengan aktivitas hari ini. Dan dia hanya ingin tidur, dengan lelap. Bukan sembarangan 'tidur' namun dengan konotasi yang lain.
"Mulai apa sih?" Niatnya untuk melanjutkan keisengannya sepertinya pudar entah karena apa. Maka sambil berdiri, dia mendumel. "Orang aku beneran mau tidur kok. Emang apa lagi, ngantuk tahu." Sebenarnya usia Love ini sudah berapa? Kenapa tingkah kekanakannya sama sekali tak hilang jika itu bersama Aksa.
Meletakkan buku yang dibacanya, lelaki itu mengikuti sang istri. Berbaring di atas Kasur, dan mereka saling berhadapan. Love yang awalnya sudah memejankan mata kini membuka kembali matanya dan mendapati Aksa sedang menatapnya. Tak ada kata yang keluar dari keduanya. Mereka saling memandang satu sama lain dan menyelami perasaan yang mereka rasakan. Hanya ada kata cinta di dalam hati mereka.
"Jika sebuah neraca dalam akutansi harus terus diperbaharui untuk mengetahui kondisi keuangan perusahaan, maka hatiku pun sama. Dia akan terus diperbaharui untuk mengetahui kondisi perasaanku ke kamu. Hasilnya pasti akan selalu sama, jika aku cinta kamu. Dan sepertinya itu tak akan pernah berubah sampai kapanpun." Itu adalah kalimat tiba-tiba yang diucapkan oleh Aksa untuk mengatakan isi hatinya kepada sang istri.
Semua yang dikatakan bukanlah sebuah rayuan gombal, tapi adalah kebenaran yang hakiki. Kalimat-kalimat spontan seperti itulah yang selalu menjadi sesuatu hal yang mahal bagi Love. Dia bahkan bersedia menukar dengan hidupnya untuk mendapatkan hal itu.
"Balasan apa yang harus aku berikan kepada, Mas sekarang? Aku bahkan nggak bisa lagi berkata-kata." Mereka masih saling menatap namun tangan kiri Love sudah mengelus wajah suaminya. Sepertinya perempuan itu sedang terharu sekarang.
"Kamu nggak perlu membalasnya, karena dengan kamu sekarang ada di depanku saja adalah hal yang sangat membahagiakan sekali." Sepertinya Aksa memang sedang kambuh penyakit 'playboy' nya sampai dia bisa mengatakan kalimat cheesy seperti sekarang.
Dengan gerakan pelan, Love mendekat dan masuk ke dalam pelukan sang suami. Tempat ternyaman baginya.
"Ini alasan kenapa aku nggak bisa marah sama, Mas. Dan kenapa aku begitu mencintai, Mas. Mas selalu saja berhasil membuat hatiku terbakar dengan api cinta yang Mas berikan ke aku. Betapa beruntungnya aku." Lengan kirinya yang sudah memeluk pingang Aksa mengelus punggung lelaki itu. Seolah dengan elusan itu dia bisa menyampaikan kalimat balasan cinta yang Aksa berikan kepadanya tadi.
"Tapi kata-katamu kenapa dangdut sekali sih, Yang. Nggak bisa ngerayunya yang berbobot sedikit?" Dan protesan itu benar-benar membuat Love ingin membenturkan kepalanya sendiri di dinding kamarnya. Tak semua orang bisa secerdik dia. Bahkan untuk mengatakan cinta saja harus menggunakan kalimat berat dan berbobot.
"Mas yang terlalu songong, bilang sayang aja muternya sampai ke akutansi. Bikin sakit kepala saja." Love membalikkan tubuhnya untuk memunggungi suaminya yang direspon kekehan oleh lelaki itu.
*.*
'Ke rumah!'
Itu adalah chat yang didapatkan Virgo dari Love siang ini. Dia baru saja keluar dari kelasnya karena jam belajar sudah berakhir, niatnya tadi dia akan pergi bersama teman-temannya harus berbelok karena mendapatkan perintah dari kakak tersanyangnya.
"Gue balik dulu." Pamitnya kepada teman-temannya dan tanpa menunggu balasan dari mereka dia berlari ke parkiran motor untuk mengambil motor miliknya. Senyumnya merekah seolah dia mendapatkan hadiah milyaran rupiah padahal itu hanya sebuah chat.
Motor yang dibawanya di lajukan dengan kencang karena dia ingin segera sampai ke rumah Aksa. Mungkin kata maaf tak akan langsung Love katakan kepadanya, tapi dengan pesan yang baru saja dia terima menimbulkan harapan yang besar baginya.
Kemacetan jalanan Jakarta bahkan sama sekali tak dipedulikan karena perasaan senang itu muncul di dalam hatinya.
Empat puluh lima menit, akhirnya dia sampai ke kediaman Aksa. Pintu depan entah sengaja atau tidak, tapi pintu tersebut tidak terkunci. Maka merasa tak membutuhkan ijin dari siapapun, dia masuk ke dalam rumah dan mencari pemilik rumah tersebut.
Ada Love di ruang keluarga, Virgo langsung mendekat dan duduk di sofa. "Hai, Kak. Apa kabar?" Basa-basi busuk itu keluar dari mulut Virgo, bibirnya bahkan sambil tersenyum.
Love melirik sekilas tanpa mengatakan apapun. Entah melakukan apa dengan ponselnya berlaku tak acuh kepada remaja tersebut. "Kakak kirim chat ke aku pasti ada sesuatu yang ingin dikatakan kan? Apa itu?" Tak meyerah, Virgo masih bersabar karena diabaikan oleh perempuan di depannya itu.
"Aku, Virgo, sebagai adik yang baik, akan membantu Kakak sekuat tenaga." Sepertinya Virgo tak pantang menyerah untuk menarik perhatian Love.
"Dengan catatan!" Love mengacungkan jari telunjuknya di depan lelaki itu. "Jangan pernah berpikir kamu akan melakukannya lagi. Karena kalau sampai itu terjadi, aku akan benar-benar memblack list kamu dari kehidupan kami." Sadis sekali ucapannya, tapi tak urung Virgo mengangguk.
"Aku akan mematuhi apapun yang Kakak katakan sama aku. Aku akan mengingatnya. Aku nggak akan mengulanginya lagi." Jawaban itu pasti diberikan oleh Virgo kepada Love sebagai tanpa persetujuannya dengan keputusan yang dibuat oleh perempuan tersebut.
"Aku pegang kata-kata kamu." Keduanya bahkan bersalaman seolah baru saja menyetujui perjanjian besar satu sama lain. Dan setelah kesepakatan yang dibuat keduanya, Virgo merasa tenang sekali sekarang. Keluarganya sudah kembali dan dia bersyukur akan hal tersebut.
"Udah makan?" Inilah yang disukai Virgo dari Love, meskipun mereka baru saja berbaikan, perempuan itu sudah menunjukkan perhatiannya.
"Mana mungkin aku udah makan, Kakak chat aku aja aku langsung ke sini." Interaksi mereka yang tanpa kecanggungan sudah kembali.
"Makan sana. Entar kalau kamu pingsan di sini gara-gara nggak makan, aku nanti yang disalahin." Virgo tak akan menunggu lama untuk menjalankan 'perintah' yang diberikan oleh Love. Dengan langkah panjang, dia berjalan menuju meja makan dan matanya berbinar melihat banyak makanan di sana.
"Aku makan banyak ya, Kak." Teriaknya dari ruang makan seolah Love adalah perempuan dengan pendengaran payah.
"Teriak lagi, ku lempar sofa nanti." Love juga ikut berteriak menjawab apa yang dikatakan oleh Virgo. Dan itu membuat Virgo terkekeh. Dan selanjutnya dia langsung mengambil makanan dan melahapnya. Tanpa lagi beban di dalam pikirannya.
Tuhan sungguh baik mempertemukan dirinya dengan Aksa. Dia mendapatkan banyak pembelajaran dari keluarga tersebut. Seandainya dia menikah nanti, dia ingin memiliki keluarga yang harmonis seperti ini. Virgo bahkan merasa perlu belajar banyak kepada Aksa tentang hidup. Sepertinya, diam-diam dia mengidolakan Aksa sekarang.
*.*
Virgo mendapat panggilan penting dari sang kakek ketika dia sedang asyik-asyiknya dengan kedua adiknya. Maka dengan terpaksa, dia tetap pergi ke kediaman lelaki tua yang begitu menyayanginya untuk menghadap beliau dan mengetahui apa tujuan beliau memanggilnya.
"Cucu kakek memang tampan." Selalu hal itu yang akan diucapkan pertama kali oleh lelaki tersebut ketika mereka bertemu. Memiliki cucu lelaki seperti Virgo ini adalah memanglah sesuatu hal yang menyenangkan bagi seorang Wondo. Apalagi memiliki ketampanan yang baginya luar biasa semakin bahagia saja hatinya. Itu mendandakan jika Virgo benar-benar terlahir dari orang tua yang memiliki kwalitas yang bagus.
"Bagaimana sekolah kamu?" Senyum itu tak pudar dari bibinya ketika menatap Virgo.
"Lancar aja, Kek." Jawabnya. Hari-hari ini, Virgo memang menjadi anak yang baik dengan tak berbuat ulah di sekolah.
"Bagus kalau begitu. Masih basket?" Pak Wondo sangat tahu jika cucunya itu sangtlah menykai olahraga basket.
"Masih. Semua masih berjalan dengan sempurna." Jumawanya Virgo membuat Pak Wondo tertawa.
"Cucu kakek ini memang hebat." Tak lupa jempolnya di acungkan untuk Virgo.
"Lalu bagaimana dengan gadis itu? kamu sudah mulai mengenalnya?" Virgo paham siapa yang dimaksud oleh kakeknya. Dia mengikuti alur obrolan mereka. Pastilah ini tujuan kakeknya memanggilnya ke sana.
"Belum, Kek," Jawabnya, "Aku masih sibuk," Katanya dengan santai tak terlalu menanggapi rencana yang sudah di susun oleh kakeknya.
"Cobalah mengenal dia, Libra gadis yang manis dan sopan. Kamu pasti menyukainya." Pujian itu dilontarkan begitu saja oleh Pak Wondo sedangkan Virgo sangat yakin beliau pun belum terlalu kenal juga kepada Libra.
"Ya, mungkin nanti." Virgo masih sibuk dengan hidupnya sendiri dan sama sekali tak memikirkan tentang hal-hal berbau romansa. Kalau takdir akan mendekatkan mereka, maka semesta memang menginginkan dirinya dan juga Libra bersatu.
"Kakek akan mencarikan hal terbaik buat kamu dan salah satunya adalah jodoh. Kamu harus mendapatkan perempuan yang baik dan dari keluarga yang baik pula. Kakek hanya punya kamu satu-satunya harapan kakek, dan kamu harus menjadi kebanggaan kakek." Pak Wondo menatap Virgo dengan serius menginginkan cucunya itu juga memikirkan keinginnannya.
"Perjodohan ini di rencanakan untuk bisnis atau memang benar-benar untuk kebahagianku?" Geplakan di kepalanya membuat Virgo berdesis sakit. Meskipun kakeknya itu mencintainya, tapi lelaki tua itu tak pernah sungkan untuk melakukan adu fisik dengan cucunya.
"Sembarangan," pelototnya untuk Virgo, "Buat apa kakek menumpuk harta kalau punya cucu sebiji aja nggak bahagia karena pilihan kakek?" Virgo terkekeh dan mengacungkan jempolnya ke arah kakenya.
"Bagus," Katanya kurang asam, "Pertahankan ya, Kek. Aku harus bahagia."
"Tentu saja," Pak Wondo mengatakan dengan penuh keyakinan. "Kakek akan melakukan apapun untuk membuat kamu bahagia. Jangan sampai ada yang menyakiti kamu meskipun hanya seujung kuku." Virgo memang selalu mendengar hal itu diucapkan oleh kakeknya bentuk rasa sayangnya lelaki itu untuk dirinya.
"Tapi, Kek," Ada sesuatu yang harus dia yakinkan. "Seandainya aku nggak bisa sama Libra, entah karena memang kami nggak cocok, atau mungkin dia udah punya pacar, atau apa lah itu, apa kakek akan membiarkan itu?"
"Makanya, kamu harus kenal sama dia lebih dulu."
"Tapi aku udah kenal dia, Kek."
"Hanya sebatas kenal kan? Nggak pernah deket dan ngobrol sama dia kan?" Kakeknya ini sepertinya masih kukuh dengan keputusannya.
"Kakek nggak akan merubah keputusan kakek selama kamu belum mengenal dia. Karena nggak adil kalau kamu melakukan itu. Kamu harus mencoba dan meyakinkan diri kamu dulu, baru mengambil kesimpulan dan keuputusan." Kalimat panjang itu keluar begitu saja dari bibir kakeknya. Dan Virgo hanya mengangguk mengiyakan.
*.*