
Satu tahun kemudian …
Aku terpaku menatap bangunan berbenteng tinggi di depan sana. Sempat ragu sejenak, akhirnya kumantapkan langkah menuju tempat tersebut.
Hari ini tepat satu tahun paska tragedi kelam yang kualami bersama Rifa. Bukan perkara mudah hingga akhirnya kuputuskan mengunjungi tempat ini. Banyak pertimbangan untuk itu. Tapi toh kakiku melangkah kemari juga.
Kugeser pintu yang berada di pertengahan pagar besi setinggi tiga meter ke samping. Sebuah pos keamanan langsung menyambut kehadiranku. Ada seorang polisi berkepala plontos yang berjaga di sana. Mata elangnya senantiasa mengawasi orang-orang yang keluar-masuk rutan seraya menikmati secangkir kopi di tangannya.
Ya, saat ini aku tengah berada di lapas alun-alun Purwakarta.
Menyadari kehadiranku, polisi berkepala plontos itu langsung bertanya, “Ada keperluan apa, Dek?”
Agak gelagapan, kujelaskan tujuanku datang kemari. Ia mengangguk paham, kemudian membawaku masuk menuju meja resepsionis. Di sana aku diminta mengisi data diri lalu menitipkan barang yang tidak boleh dibawa saat membesuk ke dalam loker yang disediakan. Bahkan tas pun tak diperkenankan masuk.
Setelah sekali lagi mengisi data diri lalu menyebut siapa yang hendak kubesuk sambil menyerahkan KTP, akhirnya aku dipersilakan menunggu di sebuah ruangan yang cukup ramai.
Beberapa menit kemudian, orang yang kutunggu pun muncul. Semula ia tampak terkejut melihat kehadiranku. Namun tak lama senyumnya merekah lebar. Seolah ia telah menanti kedatanganku sejak lama.
“Alexa, kan?” tanyanya setelah duduk berhadapan denganku.
Aku mengangguk ragu. “Apa kabar … Kak?”
Hening.
Mendadak salah tingkah, aku mengalihkan perhatian ke tempat lain. Pura-pura serius memperhatikan suasana sekitar.
Sial, mengapa di saat seperti ini aku malah melupakan daftar pertanyaan yang telah susah payah kususun? Menanyakan kabar sama sekali tidak ada dalam list tersebut. Tak heran jika ia enggan menjawab.
Tiba-tiba cowok di depanku itu tertawa. “Ayolah jangan gugup begitu. Santai aja, Alexa.”
Aku tersenyum malu.
“Seperti yang lo lihat, gue baik-baik aja,” ujarnya ceria. “Jadi, lo bisa mulai cerita sekarang. Apa yang membawa lo datang kemari?”
Sedikit takut, kucoba menatap langsung ke manik matanya. Ada kelembutan di situ yang berhasil membuat perasaanku jauh lebih tenang.
“Udah setahun berlalu, Kak.” Akhirnya kegugupanku musnah sama sekali. “Tapi aku masih belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
“Maksud lo?”
“Mayat-mayat itu,” ujarku ngeri. “Kenapa mereka bisa mati?”
“Bukannya berita heboh itu udah muncul di koran dan TV?”
“Iya. Tapi aku yakin apa yang selama ini diberitakan media bukan yang sesungguhnya terjadi.” Aku merendahkan suaraku. “Pesta pembunuhan, kata mereka? Yang bener aja!”
Lagi-lagi ia tertawa. “Lantas buat apa lo tahu yang sebenarnya?”
“Kakak tanya kenapa?” Aku mendengus. “Aku dan Rifa itu korban sesungguhnya, Kak. Tapi kenapa malah mereka yang mati dan kenapa jadi Kakak yang dipenjara?”
“Pertanyaan terakhir lo, gue sendiri bingung kenapa jadi gue yang dipenjara? Padahal gue gak ada sangkut pautnya sama masalah tersebut. Eh, ada, sih. Tapi dikit banget.”
“Kenapa Kakak gak membela diri? Bukankah gak ada bukti bahwa Kakak pelakunya?”
“Ada, kok,” katanya. “Sidik jari gue ditemukan di pistol dan pisau Raka.”
“Kakak megang alat itu?”
“Gak sengaja. Waktu itu gue berusaha mencegah Raka bunuh diri.”
“Tapi aku masih gak paham. Kenapa mau-maunya Kakak menyewakan rumah buat mereka?"
“Nah!” Ia menjentikkan jari. “Kalau Raka bukan siapa-siapa gue, mana mau gue ikut campur dalam rencana mereka. Dan satu hal, seluruh kejadian tidak berlangsung di rumah gue. Begitu lo pingsan, mereka langsung membawa lo pergi ke tempat yang sampai saat ini masih diberi garis polisi itu."
“Lho? Emang Raka siapanya Kakak?”
“Lo gak tahu? Gue sama Raka masih ada hubungan darah kali. Dia cucu dari adiknya nenek gue. Ya … walau hubungan kekerabatannya cukup jauh, tetap aja kami bersaudara.”
“Masalah minuman itu … Apa Kakak yang ngeracunin aku?”
Hendrik merenung sejenak. Ia tampak malu-malu untuk melanjutkan. “Gue bakal jelasin. Tapi Xa, lo jangan murka, ya!”
Aku mengangguk.
“Jadi, kenapa gue mau-maunya naburin serbuk putih yang Andre kasih ke gue, karena sebelumnya Raka udah bilang kalau itu obat pendorong hasrat untuk melakukan—itu.” Hendrik menunduk malu, begitu pun aku. Wajahku semerah tomat.
"Yang lo belum tahu, begitu lo pingsan, Raka langsung keluar dari kamar gue—iya, sejak awal dia emang udah ada di rumah gue—lalu dia, Andre, serta gue membopong lo ke dalam mobil. Setelah itu, mereka pergi ke rumah kosong di pinggiran hutan.
"Sebagai informasi, rumah itu adalah tempat yang biasa dipakai keluarga besar kami untuk mencari ketenangan. Iya, sebenarnya itu rumah singgah milik buyut kami.
"Jadi, begitu kalian pergi, gue sendirian nih di rumah. Tapi entah kenapa hati gue kayak gak tenang gitu. Berasa kepikiran Raka terus. Akhirnya gue susulin Raka ke sana. Dan seperti lo tahu, gue pun menemukan pemandangan—mengerikan itu."
Aku bergidik.
“Lo tahu gak, Xa? Orangtua Raka itu sayang banget sama gue. Mungkin karena sedari kecil Raka gak sama mereka, mereka jadi anggap gue sebagai anak. Gue yakin sekali-dua kali lo pasti pernah lihat gue di rumah Raka tapi lo gak nyadar.”
“Makanya Kakak gak kuasa menolak semua permintaan Raka?”
“Tepat!” serunya. “Gue tahu dia suka sama lo. Selama di LA, setiap hari dia curhat tentang lo ke gue. Dan setelah balik pun, cuma lo topik pembicaraan yang dia sukai. Bahkan waktu patah hati pun dia cerita. Makanya gue rasa, dengan mengesampingkan norma agama dan kesusilaan sejenak, gue bantulah dia menaburkan obat itu ke minuman lo.”
“Itu termasuk tindak kriminal, Kak,” ujarku tersinggung. “Andai benar itu adalah obat per*ng*ang, lalu Raka berhasil melakukannya denganku, bagaimana masa depanku, Kak?!”
“Ya, ya, ya… makanya gue malu mengakui ini, Xa. Gue minta maaf banget, ya?"
“Lalu sekarang … Kakak gimana?” tanyaku, mengabaikan permintaan maafnya.
Ia mengangkat bahu lelah. “Entahlah. Mungkin dalam waktu dekat gue bakal dieksekusi mati. Walau pengacara gue keren, gue yakin dia gak akan bisa menyelamatkan gue. Haha … kocak banget! Gue dibui dan harus rela kehilangan nyawa untuk mempertanggung jawabkan sesuatu yang gak pernah gue lakuin.”
Aku tak tahu bagaimana harus menanggapi. Akhirnya kami saling membisu satu sama lain, sampai kuingat waktu kunjunganku amat terbatas.
Maka majulah kepalaku mendekatinya, lalu mulai berbisik. “Jadi, apa yang sebenarnya terjadi pada mereka?”
***
Sungguh melegakan melihat Rifa kembali pulih seperti sedia kala. Lebam di sekujur tubuhnya telah membias. Kulit wajahnya pun kembali bersinar. Walau kini ia botak, aku jamin kadar ketampanannya tak berkurang barang seujung kuku pun. Ia masih Rifa yang dulu. Tak berubah setelah nyaris setahun rutin melakukan rawat jalan di rumah sakit. Ya, ada beberapa organ tubuhnya yang mengalami gangguan fungsi akibat penyiksaan sadis hari itu.
Mungkin hanya satu yang berubah: Rifa belum bisa beraktivitas terlalu berat. Hal yang menyebabkan dulu ia terpaksa menyusun puluhan halaman makalah Penjaskes karena tidak mengikuti ujian praktik olahraga. Entah butuh waktu berapa lama sampai ia benar-benar pulih.
Tante Diana yang tampak segar-bugar meletakkan nampan berisi dua gelas teh di atas meja. Minuman tersebut masih mengepulkan asap tipis. Kami mengobrol sebentar. Setelah itu, Tante Diana kembali ke belakang.
“Gimana kondisi ayah kamu?” tanyaku begitu Tante Diana undur diri.
“Seperti aku. Masih butuh banyak istirahat.”
Aku manggut-manggut paham. "Padahal udah setahun ya?"
Rifa mengambil dua gelas teh tadi lalu diberikannya satu padaku.
Seraya menyeruput tehku perlahan, kupandangi kepala plontos Rifa tanpa berkedip. Dan tawaku meledak begitu saja, membuat Rifa mengerutkan kening dalam.
“Aku aneh ya, botak begini?” Ditunjuknya bagian kepala.
“Nggak.” Aku menggeleng. “Kalau dasarnya udah ganteng. Mau diapa-apain juga tetep aja ganteng.”
Rifa refleks mengacak-acak rambutku. “Mulai gombal ya, kamu.”
Aku hanya terkekeh tanpa berusaha membalas perbuatannya. Bagaimana bisa membalas kalau rambutnya saja tidak ada?
“Sayang.” Tiba-tiba Rifa memasang tampang serius. Aku menoleh dengan raut bertanya.
Sebelum menjawab, diletakkannya kembali gelas kami ke atas meja. Ia bangkit seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Menatapku tajam, lalu berkata, “Kayaknya aku udah siap bertemu mereka.”
Ya Tuhan, ini benar-benar mukjijat ….