Blind Love

Blind Love
Kisah 34



“Gue suka sama dia. Gimana dong? Perasaan gue rasanya nggak bisa disembunyiin lagi.” Suara itu terdengar di telinga El yang sedang berjalan menuju kantin. Awalnya dia sama sekali tak peduli dengan hal itu, tapi sayangnya nama Al di bawa dalam obrolan tersebut.


“Lo yakin kalau Al bakalan lirik lo?” begitu kata temannya menanggapi, karenanya El tak melanjutkan langkahnya dan memilih untuk menguping.


“Gue sebenernya nggak peduli sama sekali kalau gue ditolak, tapi yang terpenting adalah gue udah bilang ke dia kalau gue suka sama dia.” Kegigihan itu membuat El mengegelengkan kepalanya. Dia belum tahu siapa gadis yang sedang bercakap tersebut, karenanya dia menunggu orang-orang itu keluar dari ‘persembunyiannya’ dan mereka pasti akan kaget ketika melihat dirinya mendengarkan obrolan mereka.


Dan hal itu terjadi, tiga gadis yang tadi sedang mengobrol itu akhirnya keluar dan mendapati El yang ada di balik dinding. Wajah mereka pucat seketika. Bahkan tak melanjutkan langkahnya untuk menghindari El.


El menatap tida gadis itu dari ujung kaki sampai ujung rambut seperti biasanya. Namun sayangnya tak ada satu kata pun yang terucap dari bibirnya. Hanya gelengan yang diberikan kepada mereka dan setelahnya meninggalkan tempat tersebut.


Seperti itu saja, ketiga gadis itu sudah merasa gugup luar biasa. Sepertinya mereka bukan kumpulan yang harus mendapatkan perhatian lebih dari El, karena dia hanya mengurus sesuatu yang sangat penting dan sangat tidak penting. Sedangkan yang hanya biasa-biasa saja seperti mereka itu jelas tak masuk daftar dari hal yang harus di urusnya.


“Lama lo.” Perekenalkan, namanya Cordelia. Dia biasa dipanggil dengan Odel oleh El karena namanya terlalu susah jika harus disebutkan semuanya. Dia adalah sahabat sejak SMP dan mereka sudah seperti saudara sendiri.


“Gue habis nguping omongan orang.” Jawabnya santai sambil mencomot siomay milik lelaki yang sedang duduk di depannya itu.


“Sejalk kapan lo peduli dengan urusan orang lain?” lelaki yang siomaynya di comot oleh El itu menimpali.


“Sejak nama Al di bawa-bawa. Gue jelas harus menuntaskan semuanya kan?”


“Kalau lo terlalu nggak punya pekerjaan, mending lo pijitin gue. Dapat pahala, dan hitung-hitung belajar menjadi istri idaman.” Yang baru saja berucap itu bernama Rigel. Seorang lelaki dalam perkumpulan El. El memang memiliki dua sahabat baik. Odel, yang memang sudah bersahabat sejak mereka SMP, dan Rigel, adalah lelaki yang dikenalnya sejak mereka ospek. Dan pertemanan mereka terjalin sampai sekarang.


“Bahasa lo terlalu lembut, Gel. Gue salut.” Tak perlu mengambil hati atas apa yang dikatakan oleh lelaki itu, memang seperti itulah cara kerja pertemanan mereka.


“Jadi, sepeti apa ceweknya?” Odel sepertinya penasaran dengan lanjutan cerita El, atau hanya basa-basi saja dia mengatakan itu? tak ada yang tahu.


“Standart. Nggak ada yang menonjol yang sampai gue malas meladeni.” El santai menjawab. Dan kedua sahabatnya tentu paham dan tak lagi bertanya.


“Kayaknya lo harus berhenti merecoki Al deh El.” Rigel sudah menyelesaikan makannya dan serius menatap El, “Dia pasti juga sebenarnya pengen pacaran. Cuma lo selalu nggak setuju dan akhirnya dia mengargai lo sebagai kembarannya.”


El mengedikkan bahunya tak acuh, “Gue nggak akan tinggal diam kalau dia berpacaran dengan orang yang bukan standart yang sudah gue tetapkan.”


“Kalau misalnya Al mencintai orang di bawah standart lo, apa lo akan tetap melarang dia? Cinta kan nggak bisa dipaksa ataupun di cegah.” Rigel sepertinya memang ingin mengetes El sekarang.


“Kita lihat saja nanti. Apa yang akan gue lakukan kalau itu terjadi,” El fokus menatap Rigel dan melanjutkan, “Toh sekarang semua itu masih belum terjadi.” Itu adalah jawaban aman yang diberikan El kepada Rigel. Karena dia tak ingin memikirkan sesuatu hal yang belum terjadi.


*.*


Al tak pernah langsung pulang ketika jam sekolah sudah berakhir. Dia memilih tetap di sekolah dengan bermain basket di lapangan indoor. Jika sudah kelelahan seperti sekarang ini, dia memilih tidur terlentang di tengah lapangan dan memejamkan matanya.


Hari ini memang dia bermain seorang diri. Teman-temannya langsung pulang ketika jam sekolah berakhir. Tak biasanya memang hal itu terjadi, karena memang hari-hari sebelumnya pun teman-temannya juga akan bermain basket bersamanya.


“Al!” panggilan itu membuat matanya terbuka namun masih belum memberikan reaksi apapun. Al sedang menunggu si pemanggil itu mengatakan apa tujuannya tapi nyatanya hal itu tak kunjung terjadi.


Al bangun dan duduk, sampai dia bisa melihat siapa orang tersebut. tak ada kata yang terucap dari bibir lelaki itu dan hanya tatapannya yang berperan. Matanya fokus melihat kearah gadis yang sedang berdiri dengan gugup itu tanpa mengatakan apapun.


Dengan berani, gadis itu mendekati Al namun Al selalu memberikan jarak kepada gadis-gadis dari dirinya.


“Behenti di sana!” perintahnya, “Gue masih bisa mendengar dengan jelas apa yang akan lo katakan ke gue dari jarak ini.” Al berdiri dan dengan gayanya yang seperti biasa dia memasukkan kedua tangannya di saku celana pendeknya.


Gadis itu menurut. Tetap berdiri di tepatnya, kemudian memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu. “Lo ingat gue?’ tanyanya.


“Enggak.” Jawabnya cepat tanpa berfikir.


Gadis itu tersenyum dan terlihat kecewa atas jawaban yang Al berikan kepadanya. “Gue tahu ini pasti akan terjadi.” Katanya, “Gue adalah cewek yang pernah lo pinjemi sapu tangan lo waktu SMP dulu.” Gadis itu mengeluarkan dan memperlihatkan sapu tangan dari saku jas almamaternya kepada Al. “Lo dulu bilang ke gue kalau badan gue yang besar, harusnya hati dan pikiran gue juga harus sama besarnya. Ejekan yang dilayangkan teman-teman ke gue harusnya menjadikan motivasi buat gue agar gue bisa menjadi lebih baik. Bukan sebaliknya.”


Al hanya menatap datar tanpa merasa kaget dengan apa yang gadis itu katakan. Ekspresinya masih sama datarnya seperti beberapa saat lalu. “Gue tahu harusnya ejekan lo yang mengatakan kalau badan gue besar akan membuat gue lebih down lagi. Sayangnya setelah gue mencerna apa yang lo bilang ke gue, itu benar-benar membuat gue berubah seperti sekarang ini.” Mata gadis itu berbinar cerah ketika mengatakan itu. Gadis yang dulunya memiliki tubuh besar itu sekarang menjadi langsing.


“Gue pindah ke sekolah ini sejak awal semester, tapi sekalipun lo nggak pernah nyapa gue meskipun gue ada di depan lo. Dan gue nggak kuat kalau harus memendam ini lebih lama lagi.” Tatapannya tak bergeser sedikitpun dari Al.


“Sejak saat itu sampai sekarang, gue mencintai lo. Gue suka banget sama lo.” Al tak kaget dengan hal tersebut. Entah sudah berapa kali dia mendapatkan ucapan cinta dari para gadis. Dan dia juga sudah terbiasa menolak.


“Jadi sekarang udah lega?” tanyanya kepada gadis itu.


“Apa?”


“Harusnya lo udah lega karena sudah bilang ke gue.”


“Gue udah lega,” begitu jawab gadis tersebut.


Al mengangguk, “Bagus kalau gitu. Gue nggak perlu membalas apa yang lo bilang barusan kan? Karena bukan tanggung jawab gue untuk itu.” Wajah gadis itu kecewa sekali terlihat, tapi dia juga tidak bisa melakukan apapun untuk merubah keputusan Al.


“Gue ngerti.” Jawab gadis itu lagi. Suaranya rendah dan penuh dengan kekecewaan.


Al berlalu dari sana tanpa mengatakan apapun kepada gadis di depannya. Mengambil tasnya yang tergeletak di kursi, dia pergi meninggalkan gedung tersebut. Tak peduli jika gadis itu masih mematung di tempatnya.


*.*


Al sampai ke rumah ketika waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Dia berjalan dengan santai seolah tanpa beban. Ketika masuk ke dalam rumah, dia melihat ujung kepala seseorang di lengan sofa yang memang sedang berbaring.


“Jelek!” katanya sambil memegangi kepala orang itu. Hampir dikempitnya leher orang itu dengan tujuan bercanda, tapi sayangnya dia harus terkaget ketika dia salah sasaran.


“Lo?” katanya sambil menunjuk wajah gadis itu dengan telunjuknya, “Sorry, gue kira El tadi.” Tentu saja itu menimbulkan kecanggungan luar biasa bagi keduanya. Meskipun orang yang sekarang sedang duduk tak nyaman itu adalah sahabat El sejak dulu, tapi interaksinya dengan Al sama sekali minim.


“El, lagi ganti baju di atas.” Dia adalah Odel. Memang dia sering sekali main ke rumah si kembar karena Odel sering memaksanya untuk datang ke rumahnya.


“Oke!” Jawab Al. Mata lelaki itu tak fokus dan berdehen canggung. Menyempatkan matanya menatap Odel yang salah tingkah, barulah Al pergi dari sana. Berjalan cepat agar dia bisa segera masuk ke dalam kamarnya.


El datang ketika Odel masih menata hatinya yang tadi berdegup begitu hebohnya di dalam sana. “Kenapa lo?” wajah Odel memang masih terlihat sekali kalau dia gugup dan El tentu tak bisa di bohongi.


“Gue kaget gara-gara tiba-tiba ada setan keluar.” Dalihnya dan tak berterus terang.


“Mana ada setan siang-siang gini keluar rumah.” El mengernyit karena merasa tak puas dengan jawaban sahabatnya itu.


“Di tivi, El.” Serunya ketika sudah bisa menguasai keadaan.


Dan desisan El terdengar namun gadis itu tentu saja menyetujui ucapan dari Odel, karena tak ada setan yang keluar di siang bolong kecuali ada di televisi. “Penakut, masih aja nonton horor.” Komentarnya kepada Odel. Bebeda dengan El yang seolah tak takut dengan hal-hal seperti itu, Odel sebaliknya. Karenanya ketika dia dan teman-temannya menontong di bioskop, dia hanya menyembunyikan tatapannya di balik telapak tangannya sepanjang film jika menonton film bergenre horror.


Malam datang dan angggota keluarga sudah berkumpul. Libra dan Virgo selalu memiliki waktu untuk anak-anaknya agar mereka tak merasakan kehilangan perhatian orang tuanya.


“Weekend jalan kemana?” Virgo sang kepala rumah tangga bertanya. Biasanya memang setiap weekend mereka akan menghabiskan waktu dengan bersenang-senang. Entah nantinya akan menginap atau tidak, tapi hal itu rutin dilakukan.


“Weekend ini abang ada tanding basket, Yah.”


“Biasanya kan dihari biasa tandingnya.” Libra bersuara.


“Iya, pertandingan persahabatan antar tingkatan.” Yang dimaksud oleh Al adalah pertandingan antara kelas sebelas sampai kelas dua belas.


“Kalau gitu nontong abang aja main basket.” Virgo menjawab.


“Nanti ayah kaget lagi lihat Al yang popular.” El menjawab.


“Kalau itu nggak kaget ayah. Keturunan ayah pantas aja lah kaya gitu.” Bangga Virgo, “Ayah kan dulu juga kaya gitu.” Lanjutnya tanpa malu mengatakan.


“Tapi, Bang, kenapa sih nggak mau jadi kapten basket?” sebetulnya rasa penasaran itu dipendamnya oleh anggota keluaraganya mengenai keputusan Al yang menolak mendapatkan posisi tersebut.


“Karena abang nggak mau banyak beban, Yah. Abang mau main karena abang suka, jadi kalau untuk posisi itu dan tentu akan menjadi beban bagi abang. Bagaimana nanti kalau kalah dan justru membuat kecewa semua orang, dan itu akan dilimpahkan ke kapten. Karena itu aku nggak mau.” Guru olahraga di sekolahnya sudah berkali-kali meminta Al untuk menempati di posisi tersebut, tapi lelaki itu berkali-kali menolak. Dan apa boleh buat, guru tersebut pun memilih menyerah.


“Abang nggak mau memiliki beban, atau memang nggak mau mengambil resiko?” bagi Virgo alasan putranya itu memang dapat diterima, tapi dia juga tak ingin putranya yang hanya tetap berada di zona nyamannya dan tak ingin mendapatkan resiko dalam hidupnya.


“Bukan, Yah.” Tolak Al, “Abang hanya ingin menikmati apa yang abang suka tanpa beban. Jabatan itu tak penting, karena yang terpenting bagi abang adalah bagaimana kontribusi abang di tim tersebut.”


“Abang serius?” Libra yang bertanya, “Bukan karena Abang nggak mau disalahkan kalau abang nggak membawa trofi kemenangan kan?”


“Bukan, Bunda.”


“Lagian kalau Al jadi kapten basket, kesempatan si Osis yang centil-centil itu kalau lagi wawancara Al. Deket-deket terus.”


“Bukannya kalau menang, Abang juga diwawancara oleh osis juga ya?”


“Ya, pokoknya gitu lah, Yah.” El sepertinya malas menjelaskan tentang apa yang sering terjadi. Maka seperti biasa, dia akan memberikan jawaban aman.


Ditengah mereka mengobrol, bibi datang mengatakan jika ada teman El yang datang. Maka gadis itu keluar dan mendapati Rigel tengah duduk di depan rumahnya.


“Gel?” tak biasanya lelaki itu datang malam-malam seperti ini.


“Gue ganggu, El?”


El menatap lelaki itu dengan kening mengernyit seperti ada keganjalan dalam wajah Rigel malam ini. Gadis itu duduk di samping Rigel, “Nggak sih. Tapi tumben lo datang malam begini.”


Rigel menghela napas panjang sebelum menjawab, “Gue habis putus.” Informasi itu sebenarnya mengejutkan bagi El, tapi dia berusaha biasa saja.


“Karena lo yang terlalu kaku, atau karena dia yang nggak bisa mengimbangi cara berfikir lo?”


“Mungkin dua-duanya.” Jawab Rigel sambil menatap El. “Harusnya ini adalah hari jadi kita, tapi semua berakhir.” Nada kecewa itu terlihat jelas di wajah Rigel.


“Lo pasti masih sayang sama dia.”


“Begitulah.” Rigel menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, kaki panjangnya berselonjor dengan kedua tangan bertumpu di perutnya.


El menatap Rigel dari samping dan mengamati lelaki itu. Kemudian celetukannya membuat temannya itu terlihat kaget. “Sebenarnya lo itu ganteng lo, Gel.” Rigel jelas saja langsung menoleh dan menatap El dengan kening mengernyit.


Ditatap aneh oleh Rigel bukannya malu, gadis itu justru fokus pada lelaki itu. Mengamati lebih jauh lagi dan memberi komentar tentang wajah Rigel yang seperti ini dan itu.


*.*