Blind Love

Blind Love
Lanjutan 24



Aksa tak ingin menunda lagi apa yang sudah dijanjikan oleh putranya itu. Minus Love, Aksa mengajak kedua anaknya itu untuk jalan-jalan sore. Lelaki itu sengaja pulang bekerja ketika masih pukul dua siang kerena dia


ingin memenuhi janjinya membelikan sketboard kepada Avez. Sengaja tak mengajak Love, karena memang mereka pergi tak teralu jauh.


Aslinya, Love tak terima dengan hal tersebut, tapi mau bagaimana lagi, Aksa kekeh sekali tak mau mengajak istrinya itu.


“Abang pilih yang mana?” Tiba di toko, mata Avez tak bisa berbohong jika dia benar-benar menginginkan benda tersebut dan segera ingin mendapatkannya. Tak menjawab pertanyaan ayahnya, matanya menatap sekeliling dengan padangan berbinar.


“Mau belikan untuk si ganteng ini, Pak?” Penjaga toko yang bertanya.


Aksa mengangguk dan tersenyum. “Iya, Pak. Dia sedang suka sama papan ini sejak kami jalan-jalan dan dia melihat orang-orang main sketboard.”


Pandangan penjaga toko beralih ke Avez. “Abang mau pilih yang mana?” Kemudian lelaki itu menunjukkan sketboard yang bagus dan sketboard yang terbaru. Sepertinya bagi Avez semua sketboard di sana sama saja, sama kerennya. Tapi ketika dia melihat papan sketboard dengan papan berwarna hitam bergambar burung elang matanya tak lagi bisa berbohong jika dia sangat menginginkan benda tersebut.


“Itu.” Tunjuknya pada sketboard yang berjejer dengan sketboard lain tapi terlihat lebih unggul dibandingkan yang lainnya. Mungkin begitulah yang dipikirkan Avez.


“Yang mana, Bang?”


“Yang gambar elang.” Ketika penjaga toko mengambilkannya untuknya, wajahnya terlihat puas sekali. Apalagi papan itu sudah berpindah tangan dan dia bisa langsung memegangnya. Tangannya mengelus benda itu seolah


tengah mengelus seorang bayi. Itu menimbulkan rasa geli di hati Aksa dan membuat lelaki itu terkekeh.


“Safety nya sekalian, Pak.” Begitu kata Aksa kepada penjaga toko. “Abang nggak milih yang lain? Udah suka yang itu?” anggukan semangat itu terlihat.


“Iya, Yah. Abang mau ini aja.” Begitu jawabnya dengan mantap. Ixy yang sejak tadi ikut berkeliling tak mau kalah.


“Adek mau ini, Yah.” Tunjuknya pada sepatu roda anak berwarna pink. “Boleh kan, Yah?” bahkan pandangannya memohon itu membuat Aksa gemas.


“Boleh.” Dan uforia kebahagiaan itu langsung keluar dari bibirnya.


Setelah memenuhi keinginan anak-anaknya, Aksa juga tak mau membiarkan istrinya merasa diabaikan. Dia menghentikan mobilnya ke toko perhiasan dan akan membelikan benda itu untuk ibu anak-anaknya di rumah.


“Silahkan, Pak.” Seorang karyawan toko tersebut menyambut ramah kedatangan Aksa.


“Saya ingin mencari perhiasan buat istri saya, Mbak. Buat sehari-hari aja.” Kemudian dengan cekatan karyawan tersebut menunjukkan koleksinya.


“Yang ini satu set, Pak. Modelnya sederhana tapi elegan.” Aksa menyetujui jika perhiasan itu memang sangat cantik. “Atau mau couple dengan putrinya, Pak?” sontak saja Aksa langsung menatap karyawan tersebut.


“Ada, Mbak?”


Karyawan tersebut tersenyum. “Ada, Pak.” Dikeluarkannya kalung dan gelang couple ibu dan anak dari etalase dan menunjukkannya kepada Aksa. “Ini, Pak.” Aksa melihat kalung tersebut dengan seksama. Bentuk liontinnya adalah kupu-kupu. Jika dua kalung itu disatukan, maka akan seperti Kupu-kupu yang besar di bawah kupu-kupu kecil. Pun dengan gelangnya.


“Saya ambil ini.” Tanpa lagi berpikir, Aksa langsung memutuskan. Menurutnya itu adalah perhiasan yang bagus. Sembari meletakkan perhiasan tersebut ke kotak perhiasan, karyawan tersebut bilang, “Ini adalah perhiasan terbaru, Pak. Baru datang pagi tadi. Dan anda adalah orang pertama yang membelinya.” Aksa tersenyum saja, kemudian menyelesaikan pembayarannya.


Setelahnya mereka pulang ke rumah karena sebentar lagi matahari akan tenggelam. Sampai di rumah, kedua anaknya memasang senyum lebar dan benar-benar bahagia sekali dengan barang yang ada di tangannya. “Assalamuaikum.” Keduanya masuk ke dalam rumah dan Love duduk dengan tenang sambil menonton televisi.


“Waalaikum salam.” Senyuman itu juga merekah di bibir Love untuk menyambut anak-anaknya pulang.


“Bunda, adek beli sepatu roda.” Dengan srampangan, Ixy mengeluarkan sepatu dari kotaknya dan menunjukkannya kepada sang bunda.


“Wah, bagus banget. Adek bisa pakainya?”


“Bisa dong, Bunda.” Bahkan tanpa diminta untuk memakai, bocah itu sudah memakainya meskipun memang benar-benar harus berjalan sangat pelan. Sedangkan Avez yang memang belum bisa menggunakan seperti yang dilihatnya selama ini hanya memeluknya saja.


“Abang nggak mau coba?” Aksa yang bertanya.


“Abang belum bisa, Yah.”


“Boleh ayah coba?” Izinnya kepada sang putra. Avez mengangguk cepat.


“Boleh, Yah. Ayah bisa ya?” Aksa tak menjawab dan langsung naik di atas papan tersebut. Bahkan tak repot untuk keluar rumah terlebih dulu.


Kaki kanan Aksa berada di atas papan, sedangkan kaki kirinya berada di lantai. Berjalan pelan, kemudian kedua kakinya dinaikkan ke atas papan dan papan itu meluncur dengan lancar. Avez yang melihat itu langsung girang bukan kepalang.


“Ayah hebat.” begitu katanya dengan lantang. Love yang melihat itu terkekeh saja. Namun hanya sebentar saja Aksa melakukan itu. sedangkan Ixy tak mempedulikan sekitarnya karena dia asyik sendiri dengan apa  yang dilakukannya.


Aksa kemudian duduk di samping Love dan bertanya, “Gimana? Aku selalu keren kan?” begitulah jika percaya dirinya muncul ke permukaan.


“Ya. Tapi aku sebel karena Ayah nggak ajak aku pergi.” Dan bukannya mengeluarkan kalimat penghiburan, Aksa langsung mengeluarkan kotak perhiasaan dan menyerahkan kepada istrinya itu.


“Aku nggak akan melupakan kamu meskipun kamu nggak ikut keluar sama aku.” Love pasti tahu jika isi dari kotak itu adalah perhiasaan. Dengan cepat, tangannya membuka kotak itu dan bibirnya menunjukkan kekaguman.


“Ini cantik banget.” Mengeluarkan barang tersebut dari ‘kandangnya’ dan meletakkan di tangannya. “Couple sama adek?” begitu tanyanya untuk memastikan.


“Nggak mungkin kan abang memakai itu?” senyuman Love terlalu lebar ketika mengatakan, “Terima kasih, suamiku. You are the best.” Bahkan tak lupa kedua jempolnya yang diacungkan di depan wajah sang suami.


“Makanya jangan ngambek dulu. Udah tua juga.” Cibir Aksa santai.


Kemudian dipanggilnya Ixy dan memakaikan perhiasaan itu di leher dan lengan bocah itu. Tak kalah berlebihannya Ixy, bocah itu juga mengatakan, “Bagus banget, Bunda.” Dengan mata melebar dengan dramatis. Benar-benar drama queen semua memang keluarga Aksa ini.


*.*


Besoknya, Aksa mengantarkan Avez ke tempat latihan sketboard yang biasa Avez lihat ketika pulang dari mengaji. Lelaki itu ingin mereka mengajari putranya. Bukan dia tak mau memanggilkan guru yang professional di bidang ini, tapi Avez sudah mengikuti banyak les, jadi untuk sketboard biarlah dia berlatih dengan santai. Selain itu supaya putranya juga bisa berbaur dan bersosialisasi.


“Permisi,” Aksa mendekati seorang laki-laki muda, mungkin umurnya sekitar delapan belas tahun.


“Ya, Bang?” luar biasa sekali panggilan yang lelaki itu berikan kepadanya. Ya, memang Aksa masih terlihat muda meskipun sudah memiliki dua buntut.


“Saya, Aksa.” Katanya mengulurkan tangan untuk memperkenalkan diri. “Dan ini Avez putra saya.” Lelaki itu tersenyum.


“Saya Virgo.” Mereka berdua kemudian duduk di pinggir sambilmelihat latihan sketboard.


“Jadi, Virgo, kamu juga pemain sketboard?”


Virgo mengangguk. “Iya, Bang. Tapi baru pemula juga. Baru satu tahunan lah.” Avez duduk dengan diam di samping sang ayah sambil dengan fokus memperhatikan orang-orang di depannya itu berluncur menggunakan papan.


“Kamu bisa mengajari Avez bermain ini? Dia lagi senang-senangnya dengan sketboard.” Virgo menolehkan kepalanya ke arah Avez, meneliti bocah itu dan tersenyum.


“Kayaknya dia emang minat sekali sih, Bang.” Aksa langsung ikut menatap Avez dan terkekeh.


“Saya juga masih belajar kok, Bang.” Jawab Virgo.


“Bukan masalah, kamu sudah satu tahun, dan pasti untuk mengajari bocah pemula kaya anak saya ini juga pasti bisa.” Begitu yakinnya kepada bocah delapan belas tahun itu.


“Saya akan bayar kamu.” Lanjutnya agar Virgo mau menerima tawaran itu.


“Abang tahu? Saya sama sekali nggak kekurangan uang.” Jawaban itu dikeluarkan dengan sangat santai oleh Virgo. “Dan kalau Abang bayar saya, artinya saya memiliki kewajiban untuk mengajari Avez.”


“Jadi kamu mau mengajari Avez tanpa bayaran?”


Virgo mengedikkan bahunya tak acuh, “Di tempat ini, kita bisa belajar dengan siapapun.” Aksa tak menanggapi dan menunggu kelanjutan ucapan Virgo, tapi tak kunjung berlanjut ucapan tersebut.


“Saya akan mengajari Avez,” Kini Aksa yang menoleh ke arah Virgo. “Anggap aja dia adik saya.” Luar biasa sekali ucapan bocah itu.


“Terima kasih.” Aksa tak bisa untuk tak tersenyum mendengar hal itu. “Saya beruntung memiliki anak sebesar kamu sekarang.” Yang di jawab kekehan oleh Virgo.


“Kalau Abang punya anak sebesar saya, Abang nikah di usia berapa.” Itu bukan pertanyaan tentu saja, tapi jelas itu di tujukan untuk Aksa sebagai bualan semata.


“Memang kamu umur berapa sekarang?”


“Delapan belas.” Jawaban itu tak perlu di pikirkan jawabannya.


Aksa mengangguk. “Baiklah, anak pertama, ajari Avez sketboard ya agar dia seneng.” Virgo terkekeh.


“Oke. Abang hanya perlu terima beres. Avez, ayo ikut abang.” Ajaknya kepada Avez untuk mulai belajar.


Tapi Avez tak langsung menuruti Virgo, bocah itu menatap ayahnya terlebih dulu. Setelah Aksa mengatakan jika lelaki itu yang akan mengajarinya, barulah dia mau mendekati Virgo. Dan itu membuat Virgo gemas, diacaknya rambut Avez seolah mereka sudah mengenal sangat lama.


Aksa menatap dari kejauhan bagaimana anaknya itu belajar. Dia tentu tak akan meninggalkan putranya di sana sendirian tanpa pengawasan sampai dia yakin dia ‘menitipkan’ ke orang yang benar.


Semua orang bubar dari tempat tersebut ketika waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam. Kedua lelaki beda generasi itu mendekat ke tempat Aksa. “Ayah.” Avez sepertinya benar-benar menikmati kegiatannya sore ini terlihat senyumnya yang begitu merekah.


“Abang senang?”


“Iya, Yah.” Katanya semangat sekali. “Kita besok latihan lagi ya, Bang.” Avez bertanya tak kalah semangatnya.


Virgo terkekeh. “Pasti.” Kemudian mereka berjalan bersama untuk meninggalkan tempat tersebut.


“Rumah kamu jauh?” pertanyaan itu di ungkapkan oleh Aksa ketika mereka sudah sampai di dekat kendaraan masing-masing.


“Di komplek ini juga. G nomor 14.” Jawabnya menyebutkan alamat rumahnya, yang artinya mereka adalah satu komplek.


Aksa terkekeh. “Jadi kita tetangga.” Naik ke atas motor, kemudian Aksa meneruskan. “D nomor 6.” Kini Virgo yang terkekeh.


“Saya akan mampir ke rumah Abang kapan-kapan.” Aksa mengangguk


“Saya tunggu.” Kemudian mereka pergi meninggalkan tempat tersebut untuk kembali ke rumah. Bahkan ketika Aksa akan berbelok ke lorong bloknya, Avez berdada ria dengan Virgo dengan senyum mengembang. Sepertinya


Virgo benar-benar bisa mengambil hati bocah itu.


Setibanya di rumah, Avez langsung pergi ke kamarnya dengan wajah yang masih berbinar cerah. Meskipun bekas keringatan yang keluar dari pori-porinya itu masih terlihat, sepertinya itu tak mengganggu sama sekali.


“Gimana, Yah?” Aksa duduk di samping sang istri, baru juga pantatnya itu mendarat di sofa, tapi Love sepertinya bahkan tak menahan dirinya untuk tak segera mengungkapkan rasa penasarannya.


“Virgo akan mengajarinya.” Santai Aksa ketika menjawab.


“Virgo?”


“Dia anak komplek sini juga. Di lorong G. Nanti mungkin dia akan ke sini. Avez juga kayaknya suka banget sama dia.”


“Baik nggak dia?” Kini Aksa menatap suaminya itu heran.


“Kamu serius tanya itu?”


“Kenapa?” Aksa geleng-geleng kepala masih dengan menatap sang istri.


“Kita belum bisa menilai seseorang itu baik atau tidak dalam pertemuam pertama. Tapi kesan pertama ketika aku ketemu dia, anaknya cukup asyik dan mudah bergaul. Aku juga nggak akan lepaskan Avez begitu saja tanpa pantauan.”


“Jadi Ayah akan menyelidiki Virgo?”


“Kurang lebih seperti itu.” Love memang terkadang berlebihan jika Avez dengan orang asing. Entah ketakutan seperti apa  yang dirasakan oleh perempuan itu. Tapi dia ingin tetap waspada.


“Kamu nggak perlu khawatir. Besok biar Pak Joko yang mengantarkan dan menunggu Avez latihan.”


“Jadi ngajinya?” sepertinya Aksa melupakan kewajiban Avez yang satu itu.


“Minta ustad agar dia dipindahkan mengaji malam.” Mendengar itu Love mendengus lelah.


“Mas, jadwal Avez itu padat banget loh. Pulang sekolah pukul dua, baru istirahat, guru music udah datang. Setengah empat berangkat ngaji sampai jam lima. Habis isya’ belajar sampai jam Sembilan. Kasihan sekali sih dia.” Kini Aksa yang terkekeh. Siapa dulu yang ingin putranya menguasai banyak hal dalam banyak bidang. Ketika sekarang Avez jarang di rumah, dia juga yang mengeluh, emak-emak sekali.


“Apa pernah Avez mengeluh dengan semua kepadatan kegiatannya?” Love menggeleng.


“Kalau begitu biarkan. Kita sebagai orang tua tugas kita adalah mendukung apa yang anak kita inginkan selama itu baik. Dan keinginan Avez selama ini adalah hal positif semua. Kita hanya perlu memantau sejauh mana dia ingin berkembang dari dalam dirinya.”


“Mau jadi apa sih, Nak-nak kamu nanti.” Gumam Love.


“Jadi laki-laki sukses, sholeh, dan bermanfaat bagi orang lain. Memang mau jadi apa lagi.” Saut Aksa mendengar gumaman sang istri.


Dan Love melirik Aksa dengan jengah. “Iyalah, namanya anak sultan.” Kemudian meninggakan Aksa untuk pergi ke kamar.


Aksa menyusul dan menggoda Love dari belakang. “Ssuit-suit, cewek.” Begitu katanya dengan nada benar-benar menggelikan. “Abang ganteng mau kenalan.” Love geli mendengarnya. Tapi dia hanya diam saja tanpa menanggapi.


“Aku sekarang godain kamu, kamu cuek-cuek aja ya, Yang. Anggap aja ini Aksa pas masih tujuh belas tahun. Pas kamu masih ngejar-ngejar dia, terus sampai berantam pula sama kakak kelas demi Aksa ini.” Bukan hanya lirikan yang diberikan oleh Love kali ini, tapi juga pelototan. Aksa ini benar-benar.


*.*