Blind Love

Blind Love
Episode 46



Virgo waktu itu sempat merasa jengkel dengan teman-temannya karena menyembunyikan fakta jika Libra berada di kampus yang sama dan tak ada penjelasan yang mereka berikan untuknya. Tapi semua hal itu tak lagi dipikirkan oleh lelaki itu karena memang dia juga sudah merasa jika hubungan mereka memang sudah berantakan.


Virgo memang tak pernah merasa jika hubungannya dengan Libra akan menjadi lebih mudah karena pertemuan mereka yang cenderung sering. Karena tak ada dari mereka yang saling mendekat. Virgo ingin melakukan pendekatan itu, tapi ada di dalam sisi hatinya yang merasa jika hal itu sama sekali tak benar. Maka akhirnya seperti inilah hubungan mereka.


Seperti sekarang ini misalnya, ketika mempersiapkan ulang tahun Edo yang sudah direncanakan oleh Tere, mereka juga berada di tempat yang sama. Tapi saling menghindari. Ketika Libra ke kanan, Virgo dengan otomatis ke kiri, begitulah gambarannya.


Sam, Baro, dan Rai bahkan harus menggelengkan kepalanya ketika melihat itu. Jika dibilang kekanakan, pastilah mereka akan marah. Tapi jika itu adalah sikap orang dewasa, sangat menggelikan.


Ulang tahun Edo ini memang tak dirayakan di tempat mewah, hanya menyewa sebuah ruangan di sebuah kafe milik teman Tere dan dengan acara yang sederhana pula. Mereka masih seorang mahasiswa yang bahkan cenderung memiliki uang jajan yang pas-pasan. Atau tidak? Karena mereka jelas saja adalah anak-anak dari orang tua yang berkecukupan.


“Ya, Yang?” Libra yang duduk di samping Tere bisa mendengarkan percakapan Tere dengan Edo di line telpon.


“Iya, kamu lurus aja itu. Di depan butik Oval, kan tadi udah aku kasih tahu lokasinya, bisa di map kan? Iya__ Oke__, Bye.” Begitulah Tere berbicara entah apa yang dikatakan oleh kekasihnya di seberang sana. Kemudian gadis itu bilang, “Edo udah mau datang, udah siap semua kan?”


Jawaban ‘siap’ diberikan kepada orang-orang di sana dan tak lupa acungan jempol juga diberikan kepada Tere. Hanya ada Virgo dan kawan-kawan dan tambahan dari Libra dan Tere. Itu saja. Yang terpenting adalah orang-orang terdekat yang hari ini berulang tahun berkumpul dan ikut berbahagia bersama.


“Surprise!” teriakan itu diberikan oleh mereka ketika Edo masuk ke dalam ruangan yang sudah ada tulisan HBD Edo, 19th, dengan tambahan di bawahnya makin tua lo makin jelek. Memang kurang ajar sekali orang-orang itu.


Edo masuk dengan wajah sumringah melihat kejutan yang diberikan untuk dirinya. Di depannya sudah berdiri Tere dengan sebuah kue dengan lilin di atasnya. “Selamat ulang tahun, Yang!” katanya sambil tersenyum dan meminta agar lelaki itu segera meniup lilin tersebut.


“Doanya yang baik-baik aja buat kamu.” Katanya.


“Terima kasih,” Edo mendekat ke Tere dan mencium dahi gadis itu dengan sayang. Sontak saja mendapatkan sorakan dari teman-temannya.


“Udah besar ya sekarang, Edo, udah bisa cium-cium lho sekarang.” Begitu kata Baro si calon dokter masa depan.


“Besar nggak papa, yang penting habis ini nggak minta nikah aja,” sahut Sam. Hal itu menimbulkan tawa bagi yang lain. kecuali Libra. Dia bersikap biasa seperti memiliki beban yang begitu berat sekali.


Tapi memang benar kan? Virgo ada di sana artinya beban bagi hatinya.


“Makan….Makan!” hidangan sudah disajikan diatas meja, dan mereka langsung duduk di kursi masing-masing. Tere benar-benar menyiapkan acara untuk kekasihnya ini dengan sangat baik.


“Terima kasih.” Bisik Edo kepada gadisnya dan dihadiahi anggukan oleh Tere,


“Aku harap kamu suka,” katanya dan lagi-lagi mendapatkan sorakan dari teman-temannya.


“Udah-udah, nanti kalian lanjutin lagi bisik-bisiknya.” Rai bersuara keras, “sekarang ini kan waktunya makan, tak elok rasanya kalau harus ngobrol apa lagi bisik-bisik. Macam tetangga aja,” Kemudian tiga pria itu bernyanyi,


“Bisik-bisik tetangga….” yang diakhiri dengan nananana karena tak tahu kelanjutan liriknya. Dan barulah Libra tertawa mendengar keanehan para lelaki itu.


Mendengar Libra tertawa, membuat Virgo menatap gadis itu terang-terangan. Sedangkan Libra yang ditatap seperti itu langsung menutup bibirnya karena takut jika Virgo terganggu dengan tawanya. Benar-benar tak nyaman dengan keadaan yang seperti ini.


“Li!” Panggilan itu dari Baro. Libra mendongak dan mengajukan pertanyaan melalui tatapan matanya. “Lo mau nggak punya suami dokter?” Virgo melirik sinis ke arah lelaki itu. Dan bukan hanya Virgo, tapi yang lain pun ikut menatap lelaki itu dengan penasaran.


Libra tak menjawab, namun kernyitan di dahinya kelihatan. Tak lama Baro kembali berbicara. “Kalau lo mau, biar gue jodohin dia sama temen gue…. Aduh,” Libra menatap Baro yang terlihat mengusap belakang kepalanya kemudian menatap Virgo.


Virgo memang tak mengatakan apapun, tapi tajamnya pandangan lelaki itu sungguh ingin menguliti Baro. Namun Baro adalah lelaki yang bebal, maka dengan sakitnya kepala yang dirasakan sekarang sama sekali tak membuatnya menyerah.


“Gue nggak tahu tipe cowok lo kaya apa. Kalau kaya Virgo ‘lagi’ jujur gue nggak bisa cari, karena Virgo cuma satu. Tapi gue nggak bakalan lah cariin lo yang asal-asalan. Dia ganteng, sholat lima waktunya nggak pernah ketinggalan, pendiam, dan cool gitu lah kaya yang diceritakan di novel-novel… Aduh!” Kini bukan kepalanya yang dipegangi oleh Baro, tapi kakinya.


Sam dan Rai bahkan tak bisa menahan tertawanya karena kelakuan dua temannya itu. Baro yang melotot-melotot menatap Virgo, tak dipedulikan sama sekali oleh lelaki itu. Kemudian karena pelototannya tak mempan, maka dia bertanya, “Lo punya masalah apa sama gue? Ha! Ha!” katanya dengan masih melotot menatap Virgo.


“Gue ngomong sama Libra, bukan sama elo. Gue kepret, jelek lo.” Begitu katanya dengan wajah yang terlalu menantang. Melihat apa yang dilakukan oleh Virgo, memang tak ada yang spesial, tapi entah kenapa hati Libra menghangat karenanya. Dia memang berharap agar apa yang dirasakannya ini bukanlah hal yang sia-sia.


Tapi sayangnya, ucapan Virgo menyakitinya, meskipun itu hanya diucapkan dengan sangat biasa.


“Bukannya apa-apa, kalau memang lo mau nyomblangin anak gadis orang, calonnya itu harus lo pilih dengan baik. Paling tidak harus di atas orang yang dulu menjadi pacarnya. Biar ada kemajuan.” Begitu katanya, “Jangan asal-asalan. Lo tahu sendiri sekarang orang itu nggak bisa dilihat dari wajahnya. Kelihatanya anak baik-baik, tapi nggak tahunya bejat. Lo sama saja memasukkan dia ke dalam lubang buaya.” Lanjutnya dengan santai.


Baro menatap Libra dengan ekspresi yang sulit diartikan. Baro menggelengkan kepalanya karena merasa bahwa dia sama sekali tak bisa berkutik melihat hal itu. Ucapannya adalah pancingan yang sengaja diberikan untuk melihat reaksi Virgo apakah lelaki itu akan menunjukkan perasaannya yang sebenarnya atau sebaliknya. Dan kini terbukti jika Virgo memang lelaki yang bisa mengendalikan perasaannya dengan sangat baik meskipun hatinya mungkin merasa dongkol luar biasa.


“Gue harus segera pulang,” senyum Libra kaku ketika mengatakan itu sambil memainkan tali tasnya, “Nggak papa kan, Re?” tanyanya dengan nada ragu. Dia merasa tak enak hati harus pulang lebih dulu ketika acara ulang tahun Edo belum selesai sepenuhnya.


“Lo nggak papa pulang sendiri?” kafe yang mereka datangi dengan tempat kos mereka memang lumayan jauh.


“Nggak papa, gue bisa pesen ojek. Kalian bersenang-senanglah.” Kemudian berdiri untuk keluar dari kafe tersebut setelah benar-benar pamit pada teman-temannya.


Sungguh, Libra merasa tak nyaman sama sekali dengan semua ini. Sampai di luar kafe, gadis itu mengotak-atik ponselnya untuk memesan ojek. Hampir dia mengklik pesan, ketika ponselnya direbut oleh seseorang.


“Hei! H… E...i!” mulutnya seketika tertutup ketika tahu siapa orang yang melakukannya. Tak ada kata yang terucap, dan bibirnya seolah terkunci karena melihat tubuh jangkung seorang lelaki di depannya.


“Biar aku antar,” katanya dengan lembut. Seolah beberapa saat lalu dia tak menyakiti hati gadis itu dengan apa yang dikatakan kepada Baro.


Maka dengan itu, dia mengeluarkan air matanya di depan Virgo. “Li!” panggilnya dengan lembut. Namun bukannya meredakan tangisnya, Libra justru sesenggukan dan berjongkong di depan Virgo. Virgo kelabakan karena hal itu. Pandangan orang-orang yang melihatnya seolah menghakiminya.


Dan itu membuat Virgo merasa menjadi laki-laki yang buruk. Tanpa banyak kata, lelaki itu memegang bahu Libra agar gadis di depannya itu berdiri. Libra mengelak dengan wajah yang penuh dengan air mata.


“Kamu pasti setelah ini akan jahat lagi sama aku. Kamu pasti akan menyakiti aku lagi, kamu pasti__” Libra mengusap ingusnya yang keluar akibat tangis yang tak kunjung berhenti.


“Kamu jahat!” mata Libra benar-benar merah dan terasa ingin mengeluarkan semua hal yang disimpan di dalam hatinya.


Virgo tak mengatakan apapun. Dia masih terus menatap Libra dengan tenang dan menunggu segala hal yang akan dikatakan oleh Libra kepadanya.


“Kamu nggak masalah kan kalau Baro comblangin aku sama calon dokter?” tantang Libra kepada Virgo, “Oke, aku akan melakukannya. Aku akan kencan sama orang baik itu. Kamu dengar kan? aku akan berkencan dengan dia.” Libra berbalik untuk kemudian meninggalkan Virgo ketika tangannya di cekal dan oleh lelaki itu dan ditariknya tangan itu dengan kasar dan hanya dalam hitungan detik, Libra masuk ke dalam pelukan Virgo.


Waktu seolah berhenti berputar, detakan jantung keduanya seolah mampu meledakkan gedung-gedung bertingkat saking gaduhnya. Tatapan orang-orang tentu tak dipedulikannya sama sekali. Virgo hanya menyamankan kegiatannya dengan mendekap erat Libra.


“Kita pergi.” Bisiknya kemudian mengurai pelukannya dan menarik tangan Libra untuk pergi dari sana. Libra tak menolak sama sekali karena terlalu shock dengan apa yang dilakukan oleh Virgo. Tak ada kata yang terucap. Tak ada hal yang bisa dicerna di dalam kepalanya.


*.*


Libra hanya diam saja ketika Virgo menggenggam tangannya dengan genggaman yang kuat. “Apa perlu aku meminta maaf karena perlakuanku ke kamu?” Virgo mulai mengatakan sesuatu setelah mereka hanya terdiam sejak tadi. “Kalau perlu, aku akan melakukannya sekarang.” Lanjut Virgo menatap Libra dengan sungguh-sungguh.


“Setelah ini,” jawab Libra dengan serak, “apa yang terjadi sama kita?” Libra menatap Virgo seolah ini adalah terakhir kalinya dia menatap lelaki itu.


Virgo masih menunggu kelanjutan ucapan Libra namun gadis itu justru hanya diam saja tanpa melanjutkan. “Kamu menginginkan hubungan kita seperti apa?” tanya balik Virgo.


“Aku sudah pernah bilang kalau aku masih mencintai kamu. Dan kamu sudah menjalin hubungan dengan cowok lain. Jadi aku bisa apa?” Virgo mengedikkan bahunya seolah dia tak peduli dengan itu padahal dia juga merasa jika dirinya hampir marah karena hal itu.


“Dia temenku.”


“Temen yang lama-lama jadi demen. Aku akan dukung kamu kalau memang kamu mau sama dia.”


“Dia teman aku.”


“Dia sepertinya juga bisa menjaga dan mencintaimu.”


“Dia temen aku.”


“Aku pasti akan mendoakan yang terbaik buat kamu.”


“Dia temen aku!” Libra dengan tak tanggung-tanggung mengeplak bahu Virgo karena lelaki itu mengoceh terus-terusan. Air matanya hampir kembali keluar karena Virgo memojokkannya.


Lelaki itu terkekeh dan menarik Libra ke dalam pelukannya, Lagi. Mendekap erat gadis itu dan menumpukan dagunya di puncak kepala Libra.


“Aku tahu kalau kita kembali menjalin sebuah hubungan, ayahmu nggak akan pernah menyetujuinya.” Kata Virgo masih dengan memeluk gadis itu, “Semua menjadi lebih sulit sekarang. Karena bukan pilihan yang baik jika kita harus menentang ayah kamu dan melanggar apa yang dikatakan beliau.”


“Nggak bisakah kita menjalin hubungan diam-diam?” suara Libra penuh harap, “Kita nggak perlu izin dari ayah. Kita jalani saja semua di luar sepengetahuan ayah.” Virgo tak menjawab dan masih setia dengan memeluk Libra. Meresapi perasaan yang entah seperti apa, dan menyalurkan kerinduan yang begitu dalam.


“Kamu nggak masalah kalau kita menjalin hubungan yang seperti itu?” Virgo kembali meyakinkan kepada Libra sebelum dia benar-benar mengambil keputusan.


“Enggak!” Libra tentu tidak akan berpikir ulang dengan jawabannya.


“Kamu yakin?” Virgo menatap gadis di depannya dengan sungguh-sungguh dan mencari keyakinan yang besar dari tatapan itu.


“Iya.” Libra mengangguk dengan penuh keyakinan yang dimilikinya tanpa lagi mengatakan apapun yang akan membuat Virgo ragu.


“Kalau gitu baiklah,” putus Virgo. “Kita pacaran lagi sekarang. Tapi untuk kali ini, aku nggak bisa melepaskanmu begitu saja meskipun ayahmu akan meminta kita untuk kembali berpisah.”


“Kalau kamu nglepasin aku, itu akan lebih menyakitkan lagi.” Jawaban Libra membuat Virgo merasa gemas dengan ucapan Libra kepadanya.


Dengan rasa yang menggebu, Virgo membingkai wajah Libra dengan kedua tangannya, mendekatkan wajahnya dan mencium gadis itu tepat di bibirnya. Sungguh, rasanya Libra ingin mati saja sekarang karena perasaan yang campur aduk menjadi satu.


Senang, takut, khawatir, dan apapun itu benar-benar menelusup masuk ke dalam hatinya sampai Libra merasa sesak yang menyenangkan di sana. Ini adalah kali pertama Libra mendapatkan ciuman dari seorang lelaki. Dan dia sama sekali tak merasa keberatan jika itu adalah Virgo.


“Terima kasih, sudah menerima aku lagi.” Kata Virgo masih dengan menempelkan dahinya dengan dahi Libra. “Dan maaf karena sudah nyakitin kamu.” Virgo tulus mengatakan itu. Perasaan cintanya kepada Libra memang benar-benar melekat di dalam hatinya.


Dalam diam Libra berdoa, agar hubungannya kali ini benar-benar akan membuat kebahagiaan bagi dirinya dan juga Virgo.


*.*