
“Kalau melihat Avez yang tumbuh dengan sangat baik seperti itu, rasa-rasanya papa ingin sekali pensiun dalam waktu dekat dan ingin menikmati waktu papa bersama keluarga. Terutama cucu papa.” Marvel menatap
cucunya yang sedang berlarian kesana kemari itu dengan pandangan sayang. Avez memang sudah bisa berjalan dengan lancar dan bisa bermain sendiri. Ya, Avez sudah berumur dua tahun sekarang. Bocah itu pun sudah pandai berbicara. Apa yang di dengarnya mudah sekali di hafalnya. Bibit kecerdasannya sudah terlihat bahkan ketika umurnya masih sangat muda.
“Sepertinya, Papa sependapat dengan ayah.” Tanggap Aksa. Dipandangi ayah mertuanya dia melanjutkan. “Beliau juga mengatakan hal yang
sama kepada saya beberapa hari lalu.” Kini, baik Aksa maupun Love tak melalaikan tugasnya sebagai seorang anak untuk mengunjungi ke empat orang tua mereka. Dan menginap.
Sejak Daka mengungkapkan ‘tegurannya’ waktu itu, Love terus mengingatnya dan datang mengunjungi mereka setiap sebulan sekali, atau paling lambat dua bulan sekali. Ya, Aksa memang menempati rumah yang Daka buatkan
untuk Kenya waktu itu. Dan mereka meminta putranya itu untuk menempati rumah tersebut.
“Memang baginilah pikiran kami para orang tua. Rasanya kami ingin segera mengakhiri rasa lelah kami dengan tumpukan dokumen dan pensiun dengan segera.” Terkekeh kecil ketika Avez melakukan kekonyolan, Marvel
melanjutkan. “Tapi kamu masih sangat muda untuk memikul beban berat ini sendirian. Umur kamu aja belum genap tiga puluh tahun, dan kamu akan memimpin perusahaan besar tanpa kami, itu rasanya mustahil meskipun kecerdasan kamu tidak diragukan lagi.”
Benar kata Marvel, usia Aksa memang masih muda, tapi beban yang akan dipikulnya itu tak tanggung-tanggung. Aksa menikah ketika umurnya baru dua puluh lima tahun. Dan memiliki anak setelah dua tahun menikah. Dan
ketika sekarang umurnya belum genap tiga puluh tahun akan memimpin perusahaan?
Meskipun mungkin, sepertinya itu sulit.
Ketika tiba-tiba dia membayangka bagaimana dia akan susah berkumpul bersama keluarganya ketika dia dilanda kesibukan yang luar biasa, lelaki itu memejamkan matanya, dia menghela napas panjang. Sepertinya itu akan menjadi
hari yang berat.
Melihat perubahan wajah Aksa, memuat Marvel meduga jika menantunya itu sedang memikirkan hal lain. Kemudian dia bilang, “Menjadi seorang pemimpin itu seperti halnya memimpin anak-anak kita. Ketegasan itu
perlu diberikan tapi tidak dengan kekerasan. Kita harus memimpin anak kita dengan tegas, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Pun, dengan memimpin perusahaan.”
Aksa mengangguk paham. “Saya paham, Pa.” jawabnya dengan sungguh-sungguh.
“Setelah papa memikirkan, papa akan memilih seseorang untuk membantumu menangani perusahaan. Dan papa sudah memiliki kandidat yang bisa diandalkan untuk membantu kamu.” Menyamankan duduknya, lelaki paruh baya itu
melanjutkan. “Kamu hanya perlu memantau bagaimana perusahaan Nareswara berjalan. Papa juga akan membantu kamu. Meskipun kamu pintar dan bisa diandalkan, tapi mengurus dua perusahaan itu tak akan mudah.”
Senyuman aksa tercetak jelas di wajahnya. “Terima kasiih, Pa.” katanya dengan tulus. Merasa sedikit lega dengan persiapan mertuanya.
Mengangguk. “Karena papa nggak mau kamu akan sibuk dengan pekerjaan kamu dan tak ada waktu untuk keluarga kamu. Dan papa akan mendapatkan omelan dari istrimu nanti.” Keduanya tertawa karena secara tidak langsung telah membahas Love di belakang perempuan itu.
Kalau Love tahu, bisa dipastikan jika dia akan memberengut seperti biasa.
“Papa penasaran.” Aksa seketika menatap ke arah mertuanya dengan kening bekerut. Bertanya secara tak langsung.
“Kenapa karena Love, kamu mau menikah diusia yang sangat muda? Padahal bisa saja kamu menundanya atau bahkan memutuskan hubungan kalian.” Marvel belum mau menyudahi ucapannya karena dia masih melanjutkannya.
“Tidak mudah menikah di usia muda sedangkan terkadang jiwa muda itu meronta tak tanggung-tanggung. Masih ada perempuan yang lebih cantik di luar sana.”
“Dua tahun di luar negeri adalah pembuktian diri saya jika saya bisa hidup tanpa bantuan dari kedua orang tua saya, Pa.” itu baru
permulaan Aksa menjawab. “Selama hidup, tak pernah sekalipun saya kesulitan dari segi apapun.” Ditatapnya mertuanya itu dengan senyum. Kemudian dia melanjutkan. “Dengan Bunda dan Ayah, hidup saya begitu sangat mudah. Materi tercukupi, mereka begitu menyayangi saya dengan begitu luar biasa. Ayah, yang memiliki kesibukan yang luar biasa, tak pernah sekalipun tak ada buat saya
untuk sekedar memberikan petuah.”
Pandangan Aksa kini mengarah di mana anak dan istrinya sedang tertawa. Lelaki itu ikut tersenyum. Helaan panjang kembali dikeluarkan
dan melanjutkan ucapannya. “Seandainya di jiwa saya ada jiwa playboy, mungkin
saya sudah memiliki banyak mantan kekasih. Karena jujur saja, sejak saya masih
duduk di bangku SMP saja, banyak sekali cewek yang suka sama saya.”
Aksa tekekeh lagi mengingat dirinya yang masih sangat muda dulu. “Papa nggak pa-pa mendengarkan kisahku dengan Love dari versi saya?”
Suara kekehan Marvel kini terdengar. “Papa siap mendengarkan. Hahhhhh.” Helaan napas itu terdengar dari Marvel. “Papa penasaran
dengan hal itu.” Jelas saja lelaki paruh baya itu menyetujui dengan usul Aksa untuk ‘mendongenginya’ tentang kisah lelaki itu dengan putri kesayangannya di masa lalu. Mengingat jika Love dulu begitu memperlihatkan jika cinta perempuan itu begitu besar terhadap Aksa.
“Love adalah perempuan pertama yang tidak takut ketika saya menatapnya.” Ingatan Aksa menerawang di masa lalu. Menggali memori yang disimpannya sejak bertahun-tahun yang lalu.
“Dan dia juga memiliki kegigihan yang tinggi untuk terus menunjukkan kesukaannya terhadap saya.”
“Aishh.” Desisan itu dari Marvel. “Kenapa dia seperti itu? Untung saja dia bisa mengejar cintanya, kalau tidak, dia pasti akan malu
sekarang kalau ingat itu.” Begitu tanggapan Marvel. Entah merasa malu atau apa.
“Dia memiliki caranya sendiri agar saya tidak merasa risih mengetahui jika ada perempuan yang berani mendekati saya. Dia maju teratur,
pelan, tapi pasti.” Imbuh Aksa.
“Dua tahun dia mendekati saya secara terang-terangan. Dia mengatakan secara blak-blakan. Dan selama dua tahun itu, ada sedikit dari hati saya tersentuh karena kegigihan saya. Ketika hari terakhir saya di sekolah dan bertemu dengan Love, saya mengatakan sesuatu yang bahkan saya saja tidak percaya sudah mengatakan hal itu.”
Kening Marvel mengernyit. “Apa?” pertanyaan itu merujuk pada kalimat terakhir Aksa.
“Jika kita bertemu lagi suatu saat nanti dan masih sama-sama sendiri, aku menganggap jika itu adalah kode Tuhan untuk kita bersama.” Aksa terkekeh dengan wajah yang sedikit memerah karena merasa malu. Senyum itu
tersemat di wajahnya sampai Marvel yang melihatnya tak bisa mengatakan apapun.
“Mungkin itu terlalu kekanakan atau apa, tapi saya benar-benar mengatakan itu kepada Love.”
“Kamu benar-benar pujangga cinta.” Marvel sepertinya sudah menemukan kalimatnya kembali dengan mengatakan itu. “Kamu bahkan membuat papa mati kutu ketika waktu itu papa meminta kamu bertunangan dengan Love saat Love sakit karena mau kamu tinggal ke Singapura.” Marvel menggelengkan kepalanya
“Sayangnya saya tidak mengambil kesempatan itu saat masih muda dulu.” Kedua lelaki beda generasi itu tertawa bersama dengan lelucon yang mereka ciptakan sendiri.
“Lalu apa kamu nggak pernah sekalipun melirik perempuan lain ketika jauh dari Love dulu?” sepertinya, ayah mertua Aksa itu belum puas dengan cerita menantunya sampai cerita itu bisa menghilangkan dahaga kekepoannya akan pertanyaan yang selama ini disimpannya rapat.
“Setiap hari.” Jawaban enteng Aksa itu membuat Marvel memicing. “Karena memang begitulah cara saya menatap orang lain.” Lanjutnya dengan santai. “Saya tidak pernah memandang mereka dengan cara yang berbeda. Dibandingkan melirik, memandang jauh lebih berbahaya, Pa. Setidaknya kalau melirik, saya hanya tahu sekilas. Sedangkan jika saya memandang, saya bisa melihat
betul-betul kecantikan perempuan tersebut.”
Marvel dibuat tak berkutik kembali seperti beberapa tahun yang lalu. Sedangkan Aksa, dia masih santai melanjutkan ceritanya. “Sejak saya meminta Love untuk menunggu saya, sejak saat itu hati saya tertutup untuk perempuan lain. Saya lelaki, dan lelaki harus menjaga komitmen yang dibuatnya. Saya tidak mau karena kesenangan sesaat, saya harus kehilangan orang yang saya cintai.”
“Hahh.” Seperti sedang menonton film action, Marvel merasa tegang entah karena apa. “Kamu benar-benar keterlaluan. Pantas saja Love mati-matian mendapatkan kamu.” Komentarnya.
“Kami memang mati-matian untuk saling memiliki.” Aksa berjuang dengan keras untuk menjadi pantas buat Love sebelum dia memantapkan hatinya untuk menikahi perempuan itu dulunya. Dia ingin menjadi Aksa yang bukan hanya numpang tenar karena ada embel-embel Ganendra di belakang namanya.
Dan karena Love, dia memiliki alasan untuk berjuang.
*.*
“Ayang tadi ngobrol apa sama, Papa?” Love berada di pelukan Aksa dengan keduanya sedang berbaring di tempat tidur. Jari-jari Aksa memainkan rambut Love.
“Banyak.”
“Iya. Apa aja?” Love tak akan berhenti sampai dia tahu pembahasan yang ayah dan suaminya itu bahas siang tadi.
“Kamu tahu, Yang? Kalau orang kepo itu biasanya gampang keriput?” tepukan keras di dada Aksa diberikan oleh Love.
“Dasar.” Katanya. “Apa? Suami itu harus jujur sama istri kalau mau di sayang.”
“Halah.” Tanggap Aksa. “Jujur nggak jujur juga kamu sayang sama aku. Sama kayak aku yang sesayang itu sama kamu…. Aduh.” Seketika Aksa berdesis karena merasa kesakitan. Bagaimana tidak kalau dengan bar-barnya Love menggigit putting Aksa.
“Kamu ini ya, Yang.” Aksa mengelus bekas gigitan Love di putingnya. Mereka sudah tidak menempel seperti tadi karena lelaki itu bangun dan sontak saja Love ikut bangun. “Heran deh sama kamu, suka banget main KDRT.”
Decihan itu keluar dari bibir Love. “Lagian bisa banget begitu.” Tak merasa menyesal sudah membuat Aksa kesakitan, Love menatap suaminya dalam.
“Kalau sampai Avez nanti nggak bisa ***** karena nenennya kamu gigit, awas kamu.” Ngawur Aksa lagi.
“Aku yang nenenin Avez, bukan kamu.” Jawab Love dengan sangat malas. “Peluk lagi.” Terdengar seperti sebuah titah.
“Nggak, minta peluk sana sama guling.” Aksa melemparkan guling di depan wajah istrinya kemudian melentangkan tubuhnya dan memejamkan matanya. “Nyamannya.” Katanya tak mempedulikan jika Love sudah berbaring dengan menggunakan dadanya sebagai bantal.
“Nyamannya.” Love menirukan ucapan Aksa sambil mengusel suaminya itu. “Tempat ternyaman seorang perempuan itu adalah di pelukan suami.” Lanjutnya.
Keduanya tak lagi berbicara, karena Aksa pun tak menanggapi apa yang dikatakan oleh sang istri. Lambat laun, mata mereka terpejam untuk menyelami alam mimpi bersama. Entah siapa yang lebih dulu tertidur.
Pagi harinya, keluarga kecil Aksa sudah berpakaian olahraga ketika waktu masih menunjukkan pukul enam pagi. Avez bahkan masih kelihatan mengantuk di gendongan sang ayah. Mereka akan berolahraga di taman komplek sambil mengajari Avez untuk bersosalisasi dengan teman-teman sebayanya di sana nanti.
Hal-hal kecil seperti itu memang sudah mereka ajarkan kepada putra mereka sejak saat ini.
Dan ketika mereka berlari kecil sambil melihat Avez yang mengejar mereka dengan tawa bayinya, membuat orang-orang yang melihat itu tak bisa untuk tak berhenti untuk sekedar menyapa bocah itu. Ada dari mereka yang
mengenal keluarga Aksa, ada juga yang tidak.
“Cepek ya?” Love mengangkat putranya itu dan menggendongnya. “Uuuu, adek olahraga ya.” Love duduk di bangku taman dan menunggu Aksa yang sudah tidak terlihat karena berlari untuk mengelili Taman tersebut.
“Keringatmu, Dek.” Katanya sambil menyeka keringan yang menetes dari kepala bocah itu menggunakan sapu tangan yang dibawanya. Kemudian memberikan air mineral agar putranya tak kehausan.
“Tdek.” Itu suara Avez yang madih cadel. Bocah itu menunjuk bocah kecil yang berada di stroller sambil meminum susu formulanya.
“O iya adek. Avez mau ke sana?” bahkan tanpa menjawab, bocah itu sudah berjalan lebih dulu. Dan itu membuat Love terkekeh. “Kayaknya nanti kamu memang mudah bergaul, Dek.” Begitu kata Love dengan suara rendah.
Love mengikuti Avez dari belakang dan membiarkan bocah itu melakukan sesukanya. Ternyata bukan ‘adek’ itu yang Avez dekati, karena fokusnya teralihkan dengan segerombolan anak-anak yang lebih dewasa dari dirinya sedang bermain balon.
“Lon.” Tunjuknya kepada balon tersebut. Love tak menanggapi dan terus menatap putranya.
Avez kembali berjalan dan mendekati salah satu bocah di sana. “Lon.” Katanya dengan memiringkan kepalanya sedikit dan mata melebar. Sungguh, itu membuat Love terkekeh geli.
Dan ketika bocah yang didatanginya itu meminjami balon merah miliknya, Avez tertawa bahagia dan memutar tubuhnya untuk menunjukkan balon di tangannya. “Nda, Lon.” Katanya masih dengan tawa cerianya.
“Kakak pinjami adik balon ya?” Avez mengangguk.
“Ya.” Sambil melemparkan balon itu ke atas dan tertawa-tawa dengan sangat senang. Sedangkan bocah yang meminjami balon tersebut langsung ikut bermain bersama Avez.
Penting untuk mengajari anak bersosialisasi sejak masih kecil agar tidak minder atau bahkan tak berani menatap orang lain dan malu. Karena itu, Love selalu mengajadi putranya untuk menjadi pemberani.
“Aku cariin.” Aksa dengan peluh yang menguasai tubuh lelaki itu datang dengan napas yang memburu. Love menyodorkan air minum agar suaminya itu segera meneguknya.
Menatap putranya yang sudah bermain dengan banyak anak kecil di sana membuat bapak muda itu terkekeh. “Udah besar aja dia.” Mungkin bagi Aksa melihat putranya yang sudah bisa bermain dengan anak-anak di sana adalah
sesuatu hal yang membuatnya terharu.
“Rasanya baru kemarin aku menggendong dia masih berwarna merah, keriput, dan kecil.” Senyum Aksa terus tercetak dan membuat Love ikut tersenyum.
“Aku bahkan nggak mau ngebayangin kalau dia udah gede, Yang. Ngeri.” Anggukan diberikan Aksa untuk sang istri karena dia pun tak mau
membayangkan masa itu tiba. Biarlah waktu berlalu seperti semestinya, dan biarlah Avez tumbuh dan dia menikmati proses untuk medidik dan merawat bocah
itu.
*.*