
Rigel tahu tak seharusnya dia memikirkan apa yang dikatakan oleh El beberapa jam yang lalu. Tapi sayangnya otaknya seolah tak ingin pujian itu berlalu begitu saja dari pikirannya. Dia terus mengingat kalimat yang itu dan membuat lelaki itu kelimpungan dibuatnya.
“Ingat, Gel, El itu cablak. Dia bisa mengatakan apapun tanpa disaring sebelumnya. Itu hal yang biasa.” Begitu Rigel mengingatkan dirinya sendiri.
Tapi itu tak mempan. Terkadang otaknya dengan cepat tiba-tiba mengingatkan wajah El yang menyebalkan, tertawa, tersenyum, dan ekspresi lainnya yang benar-benar membuatnya kelimpungan sendiri.
“Lo besok minggu pasti datang ke sekolah buat nonton Al kan, Gel?” dia mengingat sebelum dia pulang dari rumah El, El mengatakan itu kepadanya. Rigel memang tak pernah absen menonton Al bermain basket. Selain karena faktor El yang pasti akan menyeretnya menonton pertandingan itu, Rigel juga memang menyukainya.
Dan ketika minggu tiba, Rigel benar-benar ke sekolahnya. El mengatakan jika dia sudah sampai di sekolah bersama kedua orang tuanya dan sedang menunggu dirinya dan juga Odel.
Sampainya dia di sekolah, dia langsung mendekati keluarga El dan berjabat tangan dengan kedua orang tua temannya itu. Baik Virgo maupun Libra tersenyum melihat kedatangan Rigel. Bocah jangkung itu memang mempesona meskipun pesona itu ditutupi oleh si pemilik.
Virgo dan Libra mengelus pundak Rigel, “Kamu sepertinya tambah ganteng aja, Gel.” Entah kenapa pujian itu mengingatkan ucapan El malam itu. Membuat Rigel berdehen merasa agak gugup yang sanggup ditutupinya.
“Terima kasih, Tante,” jawabnya kalem. Namun matanya sedikit melirik El yang sibuk dengan ponselnya.
Mata Rigel menyipit dan menatap gadis itu. “Kenapa lo?” tanyanya mendekati El. El mendongak dengan mata menyipit.
“Kapan datang?” pertanyaan aneh muncul dari bibir El dan mendapatkan dengusan dari Rigel.
“Sejak lo sibuk dengan hp.” Sambil memutar bola matanya Rigel ikut bersandar di mobil milik gadis itu.
“Odel belum datang. Gue dari tadi hubungin dia tapi nggak ada jawaban.” Rigel menatap dengan serius gadis di sampingnya sambil berfikir.
“Nggak biasanya.” Rigel pun merasa heran dengan itu, karena tak biasanya sahabatnya itu telat.
“Al juga belum sampai.” Dan informasi itu membat Rigel semakin keheranan.
“Nggak berangkat sama dia?”
“Dia tadi pergi duluan, tapi sampai sekarang dia belum sampai.” Begitu jelas Libra dengan wajah yang menunjukkan kepanikan.
“Yah!” El mendekati ayahnya dan mengatakan kekhawatirannya, “Al nggak bisa dihubungi.” Kernyitan dahi Virgo terlihat.
“Kok bisa?”
“Aku nggak tahu.” Virgo mengeluarkan ponselnya bukan untuk menghubungi putranya, tapi untuk mengetahui keberadaan lelaki itu. Sekali dia membuka aplikasinya, dia langsung bisa melihat titik hijau di sana.
“Daerah ini bukannya dekat dari sini?” dia menunjukkan ponselnya kepada sang istri, “Ngapain dia ke sana?”
Tanpa banyak kata, Rigel berlari untuk mengambil motornya dan menjalankannya. “Lo mau ikut?” begitu katanya kepada El. El tak menjawab dan memilih untuk langsung duduk di belakang Rigel dan motor itu langsung melesat pergi.
Virgo dan Libra juga tak tinggal diam karena mereka mengikuti sebisa mungkin untuk menyusul motor Rigel.
“Lo tahu tempat itu, Gel?” El berteriak agar lelaki yang memboncengnya itu mendengar apa yang dikatakan.
“Pegangan aja.” Rigel tak kalah berteriak dan membuat El melakukan apa yang dikatakan oleh lelaki itu. Rigel tak main-main dengan kecepatan motornya, dan El sepertinya merasa ngeri dengan ini. Maka dia hanya diam saja sambil memeluk perut sahabatnya itu.
Sampai di tempat yang membuat El ngeri melihatnya, sepertinya ada lahan kosong dibalik ilalang tinggi itu. Rigel tak membuka helmnya dan tetap memakainya.
“Gue nggak tahu apa yang dilakukan Al di sini, tapi titik yang Om tunjukkan tadi itu adalah di sini.” Katanya dengan keyakinan tinggi. “Tapi gue nggak mau ambil resiko kalau lo ikut masuk ke sana. Lo baik-baik saja kalau lo gue tinggal di sini?”
El menggeleng, “Gue ikut lo aja.” Katanya dengan yakin, “Gue emang nggak bisa berantem, tapi gue yakin gue nggak terlalu ***** akan hal seperti ini.”
Rigel mengangguk. Menarik tangan El dengan pelan dan melangkah agak cepat namun tanpa menimbulkan suara sama sekali. Menemukan sebuah kayu, Rigel mengambilnya dan memberikan kepada El. “Lo bawa ini dan pakai ini sebagai senjata.” Bisik lelaki itu.
Melangkah lebih jauh, dua orang itu mendengar suara berdegum entah apa. Jika Rigel bisa menebak, sepertinya itu adalah bantingan dari badan seseorang. Ini seperti memacu adrenalin bagi Rigel. Namun dia juga tak bisa bertindak gegabah.
Ternyata benar, di sana ada lahan kosong namun ada bekas rumah yang sepertinya dulunya terbakar. Hanya ada sisa-sisa puing dan Rigel bisa melihat kepala-kepala mereka. Termasuk Al. Lelaki itu berdiri dan di delakangnya ada Odel yang sepertinya ketakutan.
Rigel mengetahui apa yang terjadi sekarang. Kenapa Odel yang tak kunjung datang ke sekolah, dan kenapa Al juga sama.
“Kalau lo mau lepas dari tempat ini, maka lo harus kembali sama gue.” Jika dilihat dari kepala mereka, sepertinya Al sedang menghadapai lima orang.
Suara itu tentu bukan untuk Al, mungkin saja untuk Odel. Rigel juga tak tahu akan hal itu.
“Kita udah putus. Kenapa lo datang dengan kekonyolan ini?” suara Ogel terdengar, “Lo sendiri yang buat gue pergi dari lo. Lo nggak perlu lagi melakukan hal ini lagi.” Suara Odel terdengar ketakutan. Rigel bisa mengintip keadaan itu sekarang.
Dan benar saja, Al yang sekarang sedang menggenggam tangan Odel yang ada di belakangnya berdiri tegak tanpa merasa gentar sedikitpun. Setidaknya itulah yang ada di pandangan Rigel sekarang.
“Kita ngapain sekarang?” bisik El di telinga Rigel.
“Kita tunggu dulu apa yang sedang mereka lakukan setelah ini.” Jawab Rigel menjawab. Sepertinya pertarungan itu belum dimulai. Jadi mungkin deguman tadi bisa dipastikan bukan suara yang dikira dalam fikiran Rigel.
“Bisa kita selesaikan ini baik-baik?” suara Al terdengar. “Ogel sudah ketakutan karena lo.” Al masih terlihat tenang tanpa melakukan apapun.
“Gue nggak perlu mendengarkan apa yang lo bilang.” Lelaki yang berada di depan dengan para antekannya di belakangnya itu bersuara. “Kalau lo mau pergi, lo pergi dan tinggalkan Delia di sini.”
“Al, gue mohon lo bawa gue pergi dari sini. Gue nggak mau ketemu sama dia lagi.” Nada sura ketakutan itu bahkan terdengar oleh Rigel.
“Lo tunggu di sini.” Rigel sepertinya tak tahan melihat Odel yang ketakutan itu di sana. Dan jalan satu-satunya adalah dengan membantu Al agar mereka bisa keluar dari ‘kepungan’ orang-orang itu.
“Lo serius mau ke sana sendiri?” terlihat kekhawatiran itu di mata El yang membuat Rigel meneguk ludahnya.
Namun ini bukan waktunya untuk terharu, maka dengan anggukan yakin, Rigel menjawab El. Kemudian dengan berani lelaki itu keluar dari persembunyiannya.
“Bro, lo udah telat tanding basket. Ternyata di sini?” hanya kalimat basa-basi dan Rigel mengatakan itu dengan gesture penuh pertimbangan.
Al dan Odel menatap ke arah Rigel. Jika Odel mungkin tahu siapa Rigel, namun Al tentu tak begitu.
“Ada apa ini?” berpura-pura tak tahu, Rigel menatap orang-orang asing itu.
Rigel yang tak disangka benar-benar mahir dalam berkelahi. Lelaki itu seperti actor laga saja sekarang. “Al, awas!” katanya memberitahu jika di belakang Al ada seseorang yang hampir menghantamkan kayu ke kepala lelaki itu.
Satu kali tak kena, dan naasnya ketika hantaman ke dua, Odel lah justru kena kayu tersebut sampai gadis itu pingsan.
*.*
“Del, bangun.” Gadis itu terkena pukulan kayu di punggungnya dengan keras ketika dia akan keluar dari kerumunan bentrokan tersebut. Dan salah satu preman itu akan memukul Al dari belakang ketika Odel tiba-tiba muncul.
“Bawa ke mobil.” Virgo datang dengan membawa polisi karena itulah mereka semua dibekuk oleh petugas kepolisian.
Seperti bukan beban berat, Al mengangkat Odel ke dalam gendongannya dan membawanya ke dalam mobil agar bisa segera di bawa ke rumah sakit.
El menangis melihat sahabatnya yang tak berdaya seperti itu. Rigel mencoba menenangkan El dan membawa ke dalam pelukannya. Mobil melesat dengan cepat tanpa lagi perlu menunggu lama. Meningggalkan Rigel dan El yang akan menyusul di belakang.
Virgo sudah meminta orang untuk menjemput motor Al.
“Odel nggak papa kan, Gel?” tanyanya sambil menangis sesenggukan. Tangannya menggenggam tangan Rigel dengan kuat.
“Dia akan baik-baik aja. Lo nggak perlu khawatir.” Katanya dengan mencoba meyakinkan El. “Ayo kita pergi dari sini, kita lihat keadaan Odel.”
El mengangguk dan masih sesenggukan namun tetap mengikuti ajakan Rigel. Mereka meninggalkan tempat itu dan menuju rumah sakit.
Sampai di sana, El langsung menemukan Al yang sedang menumpukan kedua sikunya di pahanya sepertinya sambil memikirkan sesuatu. “Gimama keadaan dia, Al?” tanpa lagi basa-basi, El langsung menembakkan pertanyaan kepada Al.
“Dia masih di rontgen, jawab Al.” Wajah Al dan juga Rigel sama-sama penuh dengan memar dan dua lelaki itu sepertinya tak peduli sama sekali dengan keadaannya sendiri. El yang menyadari itu tak tinggal diam.
Dia berlari keluar untuk pergi ke apotek yang ada di dalam rumah sakit tersebut membelikan obat untuk bisa segera mengobati luka dua lelaki itu.
“Terima kasih, Gel. Lo udah bantu kami.” Al masih menunduk ketika mengatakan itu. Wajahnya terasa berdenyut sekali sekarang.
“Om yang menemukan lokasi kalian tadi,” lelaki itu menyenderkan tubuhnya ke sandaran kursi dan memejamkan matanya, “Tadinya kami khawatir dengan Odel, tapi El bilang lo juga belum datang sedangkan lo berangkat duluan tadi.”
Al mengangguk. Dia merasa bersyukur memiliki ayah Virgo. Karena otak pintar ayahnya itulah dia sepertinya tak perlu merasakan kesulitan lagi.
“Lo udah menghubungi orang tuanya?”
“Gue barusan kasih tahu orang tuanya.” El datang membawa obat untuk Al dan Rigel. Membuka alcohol untuk membersihkan memar di wajah mereka terlebih dulu, dan mulai mengobatinya.
Al yang lebih dulu mendapatkan giliran. Berhati-hati menempelkan kapas ke wajah lelaki itu agar tidak semakin sakit. Al tak banyak berkomentar dan manut saja apa yang dilakukan oleh kembarannya itu. Setelah selesai dengan Al, barulah dia mengobati Rigel.
Al pergi dari sana meninggalkan El dan Rigel. Entah mau kemana lelaki itu tapi dia merasa tak tenang jika harus duduk diam di sana. Di depan ruang rontgen ada Virgo dan Libra yang menunggu hasil dari pemeriksaan tersebut.
Orang tua Odel datang dengan wajah paniknya. Untungnya dua orang itu mengenali El yang masih dengan sabar mengobati Rigel.
“El?” kata ibu Odel.
El mendongak, “Tante.” Entah kenapa air mata yang tadi sudah sepenuhnya berhenti kini malah keluar kembali.
“Kamu sampai seperti ini, Gel.” Itu adalah ayah dari Odel ketika melihat wajah Rigel yang penuh dengan memar.
“Nggak papa, Om.” Katanya dengan lembut. Namun wajah ayah Odel sepertinya semakin khawatir dengan putrinya.
Al datang dan mendekati orang-orang itu. El yang melihat itu langsung memperkenalkan saudaranya itu kepada orang tua Odel. “Tante, Om, ini Al, kakak saya.” Katanya.
“Saya Al, Tante, Om.” Katanya memperkenalkna diri sambil berjabat tangan.
“Ini pasti El dalam versi cowoknya.” Ada binar cerah ketika melihat Al di mata perempuan paruh baya itu.
“Benar, Tante.” Jawab Al. Hanya ada senyum kecil yang diberikan oleh Al kepada mereka.
“Saya minta maaf, Om, Tante.” Lanjutnya, “Saya tidak tahu bagaimana kejadiannya, tapi Odel tiba-tiba berada di belakang saya ketika preman itu akan memukul saya. Seharusnya saya ada di dalam sana, bukan Odel.” Al menunduk karena merasa bersalah dengan Odel dan juga kedua orang tua gadis itu.
“Kita bahas ini nanti ya, Nak.” Bukan ibu Odel yang mengatakan itu, tapi suami dari perempuan tersebut. Dan disetujui oleh sang istri.
Tak lama setelah itu, Virgo keluar dari ruangan UGD untuk menemui anak-anaknya dan memberi kabar kepada mereka.
“Yah.” El langsung memeluk ayahnya. Virgo membalas memeluk putrinya dengan erat.
“Anda orang tua Odel?” begitu tanya Virgo kepada dua orang yang sedang berdiri bersisihan dengan Rigel juga.
“Benar, Pak. Kami orang tua Odel. Bagaimana keadaan putri kami?” ibu Odel yang bertanya.
“Alhamdulillah, Odel baik-baik saja. Tidak ada yang cidera di punggungnya. Hanya saja sakit itu pasti ada karena kayu yang dipakai untuk memukul bisa dibilang lumayan besar.” Ingin menahan tangis pun tak akan bisa, maka ibu Odel menangis sesenggukan membayangkan betapa putrinya pasti akan kesakitan setelah ini.
“Sudah di pindahkah ke ruang inap, Pak?” tanya ayah Odel.
“Sebentar lagi, Pak. Istri saya ada di dalam menemani Odel. Nanti dia akan mengabari saya.”
“Apa boleh saya masuk saja, Pak?”
“Jangan dulu, Bu. Setelah mendapatkan kamar rawat inap, anda bisa menemui Odel.” Menunggu memang adalah hal yang sangat menyebalkan. Tapi itu harus dilakukan oleh orang tua Odel.
Virgo mengelus punggung Al. “Abang nggak perlu khawatir, semua akan baik-baik saja.” Begitu katanya untuk menenangkan putranya. Sejak tadi memang Al selalu terlihat resah dengan keadaan Odel.
“Dia juga sudah siuman. Abang tenang saja.” Al mengangguk. Namun meskipun begitu dia sepertinya masih resah. Dia memang sempat menyalahkan dirinya sendiri karena tumbangnya Ordel akibat ingin menyelematkannya.
*.*