Blind Love

Blind Love
Episode 32



Ada Langkah kaki yang didengarkan oleh Libra, dia hanya beranggapan jika itu adalah ibunya. Setelah ibunya mengelap badannya, dia tak tahu lagi kemana perginya perempuan tersebut karena dia Kembali terlelap. Tubuhnya masih terasa lemas dan dia diijinkan untuk terus tertidur yang terpenting Ketika waktunya untuk makan dia tak melupakan itu.


“Mama udah balik?” suaranya parau tapi matanya masih terpejam. “Mama dari mana?” tapi tak ada jawaban.


Libra dengan pelan membuka matanya, namun pandangannya tak menemukan siapapun. Dia tentu saja panik. Dengan cepat, dia bangun dan jantungnya hampir saja keluar dari sarangnya Ketika menemukan seseorang dengan wajah datar menatapnya.


Menelan ludahnya dengan pelan, dia menggigit bibirnya karena merasakan hal yang tidak menentu di dalam hatinya.


“Vir!” katanya dengan suara menahan tangis, “Kamu ngapain ke sini? Kalau ayah tahu gimana?” dengan mengatakan hal tersebut, Virgo tentu tahu jika gadis itu sangat-sangat peduli dengan dirinya.


Virgo mendekat masih dengan setia menatap Libra. “Kenapa kamu sakit?” tanyanya ketika sudah berada tepat di samping gadis itu. “Kamu harus sehat karena sebentar lagi kita akan ujian. Benarkan?” mata Libra mengembun menatap Virgo. Cinta itu masih terlihat jelas di sana, dan siapapun akan tahu hal itu dengan mudah.


“Jangan menangis.” Virgo menghapus air mata Libra yang menetes di pipi Libra, dan bukannya air mata itu berhenti, justru semakin banyak.


Pandangan keduanya tak terputus sama sekali mengatakan secara tidak langsung satu sama lain jika rindu itu begitu besar di hati keduanya. “Aku kangen sama kamu,” Libra yang mengatakan lebih dulu, “Tapi aku nggak tahu dengan kamu.”


“Aku juga. Tapi kita nggak bisa melakukan apapun kecuali memendamnya.” Kedua tangan mereka saling menggenggam dengan erat seolah hari ini adalah benar-benar pertemuan terakhir mereka.


“Kamu masih cinta sama aku?”


“Hem,” Virgo mengangguk. “Aku masih cinta sama kamu, banget.” Katanya yang membuat Libra tersenyum tulus.


“Tapi kita nggak bisa bersama untuk saat ini,” senyum itu pudar seketika mendengar lanjutan ucapan Virgo. “Karena kita nggak mendapatkan restu dari ayah kamu.”


“Kita bisa!” Libra keras kepala.


“Kita nggak bisa,” Virgo tak kalah tegas, “Aku nggak mau kita mendapatkan masalah karena menentangnya.”


“Kita bisa diam-diam jalan, jangan sampai ada yang tahu, terutama Ayah.” Ide Libra mendapatkan kekehan dari Virgo sembari gelengan tanda penolakan yang diberikan oleh lelaki itu.


“Itu bukan hal yang mudah, Li, dan aku nggak bener-bener nggak mau.” Air mata Libra mengalir Kembali dan melepaskan tangannya dari genggaman Virgo.


“Kalau begitu untuk apa kamu ke sini? Kalau cuma mau bilang seperti itu?” wajah Libra menyerong dan tak mau menatap Virgo.


“Karena aku masih peduli dan masih mencintai kamu, karena itu aku ingin melihat keadaanmu,” Virgo masih menatap gadis itu dengan lembut.


“Kita tidak bisa bersatu sekarang nggak berarti kita nggak akan bersatu suatu saat nanti, Li.” Lanjutnya dengan sabar, “Jangan seperti ini, Li.” Di genggamnya lagi tangan Libra dan gadis itu sudah tak lagi berontak.


“Tapi hatiku sakit, Vir!”


“Kamu pikir aku nggak?” tatapan itu sama sekali tak beralih dari wajah Libra.


“Jadi sekarang kita putus?” pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari Libra, “setelah ini kamu pasti akan dapat pacar baru.” Membayangkan hal itu terjadi, membuat Libra kembali tergugu, kemudian dia melanjutkan. “Tolong, kalau memang kamu nanti memiliki pacar baru, jangan sampai kamu menunjukkannya di depanku, karena itu akan menyakiti aku dengan sangat dalam.”


Virgo sedih mendengar hal itu. “Jangan memikirkan hal yang tidak-tidak,” katanya, “Kamu harus sehat…”


“Vir!” Sam datang dengan terburu-buru. Virgo belum menyelesaikan ucapannya dan terpotong karena kedatangan temannya itu.


“Kita pergi, ayah Libra datang,” mata Virgo melebar dan kedua tangannya melepaskan genggamannya di tangan Libra.


“Aku balik dulu, kamu sehat-sehat, makan yang teratur agar kamu segera sembuh. Aku pergi.” Katanya tak kalah paniknya dengan Sam. Libra menggelengkan kepalanya tak mau Virgo keluar dari kamarnya.


“Vir!” panggilnya. Meskipun Virgo tak tega melihat Libra seperti itu tapi dia harus melakukan ini.


“I love you.” Akhir kalimat itu menjadikan kalimat terakhir yang Libra dengar dari Virgo. Meninggalkan Libra yang menangis seorang diri di dalam kamar.


*.*


Ardi masuk ke dalam kamar rawat inap putrinya. Berjalan terburu Ketika melihat Libra menangis tergugu. “Kenapa, Li? Ada apa?” bukannya menjawab, gadis itu justru menangis kencang dan membuat ayahnya kebingungan. Tak lama setelah itu, ibu Libra datang. Dan langsung mendapatkan prepetan dari suaminya.


“Kamu dari mana? Kenapa Libra menangis sendirian di dalam kamar?” perempuan itu tak mengatakan apapun dan langsung memeluk putrinya. Dan Libra langsung membalas pelukan dari sang bunda. Dia menangis lagi dan ibunya mengelus punggungnya namun tak mengatakan apapun.


“Libra tidur ya!” Perintah ibu Libra dengan sabar. Dan dipatuhi oleh gadis itu. Bahkan Libra memegang tangan ibunya erat, kemudian memejamkan matanya.


Menunggu sampai putrinya tertidur, barulah perempuan itu berlalu dari sana dan tak menghiraukan keberadaan sang suami. Sampai Ardi mencekal tangannya agar diberi perhatian.


“Ada apa sebenarnya?” tanyanya dengan wajah yang sangat amat penasaran.


“Nggak ada papa. Libra mungkin hanya merasa bosan.”


“Tapi dia nggak akan seperti itu hanya karena merasa bosan.” Ardi Kembali mendebat.


“Nanti coba kamu tanyakan saja apa yang terjadi, aku juga nggak paham.” Melepaskan cekalan suaminya, ibu Libra meninggalkan suaminya berdiri di sana mematung.


Sore harinya Ketika Ardi sudah tak ada di kamar Libra, dan gadis itu sudah bangun, Jihan—ibu Libra mencoba untuk berbicara kepada putrinya.


“Apa yang mama lakukan ini menyedihkan hati kamu?” gadis itu duduk bersila di atas ranjang sembari memainkan jari-jarinya.


“Mama yang melakukan itu?” tanyanya dengan menatap ibunya dengan mata sayu.


“Mama hanya ingin kamu bahagia, tapi sepertinya itu semakin membuat kamu sakit hati.” Ada nada sedih yang keluar dari suara sang bunda dengan mata yang berkaca-kaca.


“Hubungan kami sudah berakhir, Ma,” senyum kecut terlihat dan membuat Jihan serasa teriris perih di dalam hatinya. Dan tetesan air mata itu juga keluar dari mata Libra.


“Aku ingin segera sembuh, Ma. Aku ingin sekolah, lulus, dan aku akan merealisasikan keinginanku.” Meskipun kesedihan itu terasa kental sekali di dalam hatinya, tapi ada kesungguhan yang tak bisa ditutupi.


Meskipun Jihan tak tahu keinginan seperti apa yang direncanakan oleh putrinya, tapi perempuan itu tersenyum menunjukkan dukungan sepenuhnya untuk Libra. “Ya,” jawabnya, “Kamu memang harus segera sembuh. Mama juga ingin melihat kamu sehat Kembali. Selama itu adalah rencana baik, maka mama akan selalu mendukung kamu.” Katanya dengan sangat yakin.


Libra dinyatakan sembuh oleh dokter, dan dia diijinkan pulang besok pagi. Banyak wejangan yang dikatakan oleh dokter dan Libra harus mematuhinya. Edzard datang bersama Ardi ketika Libra sedang menyantap bubur yang sama sekali tak enak dari rumah sakit tersebut.


“Hai! Li.” Sapa Edzard, “Sorry, gue baru datang, di sekolah ada les, dan hari ini gue baru ada waktu.” Libra menanggapi dingin.


“Lo nggak datang pun gue nggak masalah,” jawabnya santai saja. “Gue udah sehat dan gue udah diijinkan pulang.”


“Jangan begitu, Li, nggak sopan sama sekali.” Tegur Ardi kepada putrinya.


“Duduk dulu, Ed, kita ngobrol.” Begitu kata Ardi dan jelas saja dipatuhi oleh Edzard. Entah apa yang diobrolkan oleh ayahnya dan juga Edzard, Libra sama sekali tak peduli. Dia sibuk dengan apa yang dilakukan.


*.*


Hari berganti minggu, ujian yang waktu itu hanya akan dilakukan, sekarang sudah selesai dilakukan. Napas lega semua murid terhembus dengan lega.


“Gue lega sekarang,” Ule terlentang di atas rumput belakang sekolah sambil menikmati semilir angin, “Gue yakin usaha kita selama ini sama sekali tak akan menghianati hasilnya.” Hanya Libra yang duduk sambil menghadap ke depan.


“Gue akan kuliah ke luar Jakarta,” obrolan teman-temannya yang tadi asyik sekali kini hanya sebuah keheningan yang keluar.


“Gue akan menghilang dari keramaian kota Jakarta.” Lanjutnya seolah ucapannya bukanlah beban.


“Lo nggak serius kan, Li? Di Jakarta ini menyenangkan kan?”


Libra menatap teman-temannya dengan senyum, “Gue serius. Entah kemana gue akan melanjutkan, tapi gue mau tinggalkan Jakarta untuk sementara waktu.” Katanya dengan keyakinan yang luar biasa.


“Sorry, gue nggak bisa nepatin janji gue untuk satu kampus dengan kalian, tapi kalian akan menjadi sahabat terbaik gue,” benar-benar tak ada yang bersuara karena keputusan yang mereka kira adalah keputusan mendadak itu.


“Kenapa mendadak, Li?” tanya Ersya, “Lo udah pikirkan matang-matang keputusan yang lo buat?” bukan hanya Ersya yang menunggu jawaban Libra, tapi yang lain juga.


“Gue udah pikirkan ini matang-matang, dan keputusan ini udah gue ambil. Kalian nggak perlu khawatir, gue akan kembali ketika liburan, dan kita akan ketemu.” Mereka semua berpelukan seolah Libra akan pergi sekarang. Keharuan itu terasa kental sekali.


Sama dengan yang dikatakan kepada teman-temannya, Libra juga mengatakan hal yang sama kepada kedua orang tuanya. Dia mengatakan dengan gamblang tentang rencana yang sudah disusunnya matang-matang itu.


“Ayah nggak akan izinkan kamu,” jawab Ardi dengan tegas, “Di Jakarta juga banyak fakultas yang baik, untuk apa pergi ke luar Jakarta.” Tatapan lelaki itu bahkan sama sekali tak bersahabat. Berbeda dengan ayahnya, ibunya hanya diam tercenung belum menanggapi.


“Aku sudah pernah mengatakan kalau aku ingin hidup dengan caraku, Ayah, lupa?”


“Tapi bukan ini yang ayah mau.”


“Tapi ini yang aku mau.” Libra tak akan mengalah kali ini, dia sudah membulatkan tekadnya dan tak ada apapun yang bisa menghalanginya.


“Ayah tetap tidak setuju.” Kukuhnya keras kepala.


“Terserah.” Libra berdiri dari duduknya dan akan pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang berada di ruang keluarga.


“Kalau kamu bertekad kuliah di luar kota, ayah nggak akan membiayai kamu.”


“Aku yang akan membiayai dia.” Ibu Libra berdiri dan menunjukkan dukungannya kepada sang putri.


“JIHAN!” bentaknya tak terima karena istri dan anaknya membangkan kepadanya, “Kamu pikir apa yang kamu lakukan sekarang?”


“Aku melakukan sesuatu yang memang harus aku lakukan. Aku nggak mau anakku kembali bersedih karena tentangan dari kamu.”


“Aku akan mencabut fasilitas yang aku berikan kepada kamu,” Itu ditujukan kepada istrinya, “Mau pakai apa kamu membiayai kuliah Libra?” kesombongan itu keluar juga dari mulut Ardi.


“Kamu lupa kalau aku juga punya saham di perusahaan?” kesombongan Ardi tak akan berpengaruh pada sang istri. “Aku bisa menjualnya dan aku bisa menggunakannya untuk membiayai kuliah Libra.” Tantangan itu tak main-main.


Ardi geram. Rahangnya mengetat dan kepalan tangannya semakin bulat. “Kalian sudah berani menantangku?” begitu akhirnya katanya.


“Kami sama sekali nggak pernah menantang, Ayah. Tapi Libra membutuhkan dukungan. Dan aku akan mendukungnya selama itu baik.” Ardi masih menegang dengan perasaan marah.


“Terserah kalian.” Begitu akhirnya dan berlalu dari sana. Libra masih berdiri dan tak tahu apa yang harus dilakukannya. Kepalanya menunduk dan merasa bersalah karena sudah membuat kedua orang tuanya bertengkar.


“Kamu nggak perlu khawatir dengan ini, Sayang, ayahmu akan mama bujuk sampai memberikan restunya kamu kuliah di luar kota.” Itu adalah janji seorang ibu.


‘Kalau Mama bisa membujuk Ayah, kenapa Mama nggak bujuk Ayah buat mau merestui aku dengan Virgo? Tentu saja itu dikatakan di dalam hati. Tak mungkin dia mengatakan itu secara langsung dan segamblang itu.


Dan Libra hanya mengangguk saja. Setidaknya kalau ijin itu didapatkan, itu akan lebih mudah bagi dirinya untuk melupakan rasa sakit hatinya di tempat yang baru, dan melupakan semua hal buruk yang terjadi di Jakarta.


Libra berusaha bersabar. Hubungannya dengan sang ayah memang belum terlalu baik. Baik Libra maupun Ardi masih saling cuek dan bersikap dingin satu sama lain.


“Kenapa Ayah nggak izinkan Libra untuk kuliah di luar kota?” kedua orang tua Libra sudah berada di dalam kamar, dan Jihan sepertinya tak ingin mengulur waktu untuk segera memintakan izin kepada suaminya.


“Karena dia anak perempuan. Dia harus mendapatkan pengawasan dari orang tuanya.” Bukannya terharu perempuan itu terkekeh mengejek.


“Pengawasan seperti apa?” katanya ekspresi menyebalkan, “Bahkan ketika aku bilang seperti itu waktu itu, kamu bahkan masih tetap mengajak aku untuk menemani kamu perjalanan bisnis. Ayah lupa?”


Ardi menghentikan aktivitasnya dengan laptopnya yang berada di atas mejanya. Menatap sang istri. “Apa kita akan berdebat sekarang?” tanyanya, “Setidaknya jika dia ada di rumah, kita bisa memantau anak kita.”


“Kalau begitu terserah kamu,” Jihan Kembali berbicara, “Kalau kamu masih dengan keputusanmu, aku juga akan pada keputusanku. Aku akan mulai bekerja dan kalau ada perjalanan bisnis, maka kamu pergi tanpa aku. Kalau memang dengan keputusanku ini akan membuat semuanya menjadi berantakan, semisal kamu merasa jika aku sudah membangkang dan kamu tertarik dengan perempuan lain, maka aku juga sudah memikirkan dampaknya.”


Ardi tercengang dengan ucapan sang istri. Namun seolah tak cukup sampai di sana, istrinya, mendekati lelaki itu dan berdiri di depan meja kerja suaminya. “Aku, lebih memilih membahagiakan putriku dibandingkan menyenangkan suamiku jika memang diminta untuk memilih, tapi kalau memang keduanya bisa bahagia bersama, itu lebih menyenangkan.” Katanya dengan senyum dan nada yang sunguh-sungguh. Membuat Ardi mati kutu.


*.*


Selamat makan sahur ❤️❤️❤️❤️