
Tanah merah basah itu mengotori sepatuku dan Rifa. Namun kami seolah tak peduli. Masih terus menyusuri jalanan yang tak rata tersebut. Bagaimanapun, kami mesti cepat sampai ke tempat tujuan.
Ada. Enam batu nisan itu benar-benar ada di sana. Berderet rapi dengan ukiran nama-nama mereka yang kukenal. Aku terpaku memandangi keenamnya. Masih belum memercayai semua yang telah terjadi.
Tragis. Akhir kehidupan mereka benar-benar tragis.
Rifa berjongkok di samping pusara pertama. Dielusnya nisan berukir nama Setya Prakarsa penuh perasaan. Mulutnya tampak komat-kamit menggumamkan sesuatu. Mungkin doa. Setelah itu ditaburkannya kelopak bunga yang kami beli di perjalanan menuju TPU Sirna Anyar ini.
Kemudian ia beralih ke makam selanjutnya. Tertulis nama Andre Salawijaya di situ. Hal yang sama ia lakukan untuk Andre. Begitu berulang-ulang sampai pusara Kevin Salawijaya, Nadine Alya Putri, dan Veronika Aisylla bertabur kelopak bunga tujuh rupa.
Selesai melakukan ritualnya, Rifa berdiri di sampingku. Bersama, kami menatap keenam pusara tersebut dengan hati bergetar.
Peristiwa tragis yang menewaskan enam orang siswa SMA 4 Purwakarta ini benar-benar menggemparkan Indonesia. Berbulan-bulan media menyorot habis kasus tersebut. Kehebohan yang sempat membuat pemakaman Sirna Anyar ramai dikunjungi penduduk dari berbagai daerah. Entah atas permintaan siapa makam mereka dibuat berdampingan begini.
“Siapa yang ngelakuin ini?” Akhirnya Rifa membuka suara.
Aku memejamkan mata rapat. “Raka.”
“Raka? Dia membunuh semua orang ini dan dirinya sendiri?”
Kubenarkan ucapan Rifa. “Hendrik bilang, setelah gak sengaja nembak aku, Raka langsung belingsatan. Ia teriak-teriak minta anak buahnya buat manggil ambulan tapi gak ada yang mau denger. Untuk pertama kalinya, mereka membantah perintah Raka. Akhirnya Raka hilang kendali dan membunuh mereka semua.
“Hendrik yang punya firasat buruk langsung nyusul Raka ke tempat kejadian. Dia bilang, awalnya dia kaget melihat banyak darah yang berceceran di sana, ditambah kondisi kamu yang mengenaskan banget. Tapi kemudian perintah tegas dan ancaman Raka bikin dia cepat sadar hingga akhirnya mereka membawa kita ke rumah sakit.”
“Siapa Hendrik?”
“Saudara Raka."
Rifa manggut-manggut. “Jadi Raka yang membuat kita celaka, Raka pula yang menyelamatkan kita? Lucu banget.”
“Fa,” lirihku. “Bahkan sebelum menembak dirinya sendiri pun, dia masih memplokamirkan perasaannya sama aku.
“Setelah semua kegilaannya, dia sadar ternyata dia gak sanggup lihat aku mati. Dia panik dan menangis di sepajang perjalanan menuju rumah sakit. Dia bahkan gak peduliin penampilannya yang berantakan. Penuh cipratan darah juga muntahan aku. Prioritas utamanya adalah keselamatan aku. Begitu kata Hendrik.”
Beruntung mereka menyelamatkan kami tepat waktu. Bukan hanya nyawa, jika penduduk setempat keburu memergokiku dan Rifa di sana, kami pasti akan kerepotan sekarang: dipanggil bolak-balik ke pengadilan sebagai saksi. Belum lagi anak-anak SMA 4 pasti semakin menggila.
Mendengar Rifa dan kedua orangtuanya koma-berminggu-minggu-di-rumah-sakit-karena-kecelakaan-lalu-lintas-biasa saja mereka sudah heboh sekali, apalagi kalau mereka tahu kejadian sesungguhnya? Bisa-bisa kami diteror untuk yang kedua kalinya.
“Jangan nangis, dong,” bujuk Rifa ketika mataku mulai berkaca-kaca. “Rasa cinta aku sama kamu jauh lebih besar dari dia, kok. Percaya, deh.”
Aku tertawa. “Gombal.”
“Aku jujur.” Rifa menarik lembut wajahku hingga berhadapan dengannya. “Kamu pikir, kenapa aku mau sama kamu padahal kamu sama sekali bukan tipe aku?”
Sungguh, sedikit nyeri mendengar pengakuan tersebut. Aku tahu aku tidak cantik, seksi, kaya, modis, dan cerdas seperti mantan pacar Rifa yang lain. Tapi jika disebutkan secara blak-blakan begitu ….
“Jangan buat perasaan aku semakin berkabung,” ucapku ketus. “Kalau kamu gak mau sama aku, pergi aja sana! Gak usah ngejar-ngejar aku lagi.”
Kaget dengan jawaban tersebut, Rifa refleks mencubit pipiku gemas. Aku sampai kewalahan menerima perlakuannya.
Aku tak dapat menyembunyikan rona di wajahku. “Kamu bisa aja. Oh ya, coba tebak apa yang aku dapat dari Hendrik?”
“Apa?” Ia tampak tertarik.
Kurogoh saku jaketku dan, “Taraaa …!”
“Handy-cam?”
“Yap. Ini adalah alat yang dipakai Vera buat merekam seluruh adegan penyiksaan kamu. Bukan cuma itu, saat pembantaian terjadi pun rupanya video masih dalam keadaan on. So, ini bisa jadi alat bukti yang kuat, Fa.”
“Gimana caranya benda itu bisa ada di kamu?”
“Raka minta Hendrik menyimpan benda ini di rumah Raka. Dan kalau suatu hari nanti aku datang membesuk Hendrik, Raka bilang cowok itu harus ngasih tahu aku di mana benda ini berada.”
Aku memintanya langsung kepada ibu Raka yang masih dirundung duka. Setelah menyaksikan video tersebut bersamaku, berkali-kali ia meminta maaf dan menyesali semua yang telah terjadi. Sungguh tak disangka anak semata wayangnya tega berbuat hal sekeji itu.
“Setiap malam Tante selalu memimpikan Raka.” Ibu Raka menangis tersedu. “Tante pikir, dia belum bisa tenang di alam sana. Mungkin karena Hendrik. Sebab Hendrik satu-satunya saudara yang dia punya. Jadi dia gak rela Hendrik mesti dihukum untuk sesuatu yang Tante yakin gak pernah dilakukannya.
“Tapi gak ada yang bisa Tante perbuat. Uang kami gak berarti apa-apa di saat media menyorot kasus ini secara intens. Apalagi keluarga korban yang lain masih belum merelakan kematian anak-anak mereka. Mereka butuh seseorang untuk dipersalahkan, dan orang itu adalah Hendrik.
“Akhirnya, sekarang muncul satu alat bukti. Tante harap kamu bersedia menyerahkannya ke kantor polisi agar Hendrik bisa dibebaskan. Bagaimanapun, Raka anak Tante. Tante gak sanggup melakukannya sendiri. Lagipula, kamulah korban sesungguhnya. Maafkan Tante.”
“Tante yakin?”
Ibu Raka mengangguk tegas. “Tante harap, setelah semua masalah ini tuntas, Raka bisa tenang di alam sana.”
Aku balas mengangguk paham.
“Alexa,” panggilnya tiba-tiba. “Raka bilang, dia sangat menyayangi kamu.”
“Kitalah korban sesungguhnya, Fa. Jadi kita yang harus melapor,” ujarku, mengenang kembali percakapan dengan ibu Raka tempo hari. “Selama ini kita gak dilibatkan dalam kasus tersebut juga berkat Raka. Dia minta Hendrik untuk gak bawa-bawa nama kita kalau sampai polisi turun tangan. Tapi kita mesti tolong Hendrik, Fa. Dia gak bersalah!”
Rifa mengangguk. Dirangkulnya bahuku dengan lembut. “I know. Tapi sekarang kita harus pulang. Bukannya kita ada janji sama Cilla dan Kak Jovan? Ingat, double date.”
Ah, mengapa aku bisa melupakan hal sepenting itu? Bayangkan: Jono, double date. Kapan lagi, coba? Bahkan bibirku tak bisa berhenti tersenyum membayangkannya. Namun senyum lebarku terinterupsi sebuah notifikasi yang masuk ke gawai. Kuraih benda tersebut dari dalam saku. Rupanya ada pemberitahuan dari aplikasi facebook: ‘Rifa Maniac menandai Anda dalam sebuah foto’.
Buru-buru ku-klik notifikasi tersebut. Halaman loading sejenak. Tak lama, sebuah gambar muncul. Dua detik pertama aku tertegun, namun detik berikutnya aku terbahak kencang. Rifa yang rupanya mulai penasaran, mengambil alih ponsel di tanganku demi mendapati sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat.
“Apaan ini?” Rifa tampak tersinggung.
Tak ada tanggapan. Aku sibuk tertawa seraya menunjuk-nunjuk wajahnya. “Cilok, cilok, cilok!” seruku lalu melesat meninggalkannya.
Merasa tak terima, Rifa langsung mengejar sambil terus menyeru-nyerukan namaku. Tapi aku tak peduli. Aku terus berlari dengan tawa yang tak kunjung lenyap. Meninggalkan cowok itu jauh di belakangku.
Gila. Rifa Maniac benar-benar gila. Mereka menyandingkan foto terbaru Rifa dengan sebuah makanan tradisional dan menulis keterangan: tanya \=> apa persamaan Rifa dan cilok? Jawab \=> sama-sama plontos.
Hahaha … Rifa sama dengan cilok. Rifa cilok!