
Malam ini, malam yang panjang bagi Virgo dan Libra. Ketika mereka sedang tidur dengan lelap, tiba-tiba Libra mengeluh sakit di perutnya. Maka dengan cepat Virgo langsung membawanya ke rumah sakit. Dan ternyata waktu untuk perempuan itu melahir sudah tiba.
Baru tiga hari yang lalu, Libra membuka ikatan mulut rahim namun sepertinya anak-anak mereka sudah tak betah berdempetan di perut ibunya. Virgo ikut masuk ke dalam ruang bersalin dan ikut merasakan betapa melahirkan itu adalah hal yang sangat menyakitkan. Dia terus berbisik di telinga Libra jika dia ada di sana dan menemani istrinya melakukan persalinan.
Libra sedang berjuang dengan keras dan kesakitan itu memang benar-benar luar biasa. Bahkan dia merasa kelelahan tapi bayi-bayi mereka masih bertahan di dalam. Tangis itu seperti tak ada artinya sama sekali.
“Sakit, Yang.” Keluhnya.
“Kalau memang kamu udah nggak kuat, kita bisa melakukan operasi sesar.” Virgo tak mungkin membiarkan saja istrinya kesakitan. Dia pun tak bisa melakukan apapun.
“Enggak, aku mau lahir nomal.” Tolak Libra yang memang dari awal selalu menginginkan bisa melakhirkan bayi-bayinya dengan cara normal. Dan kembali berjuang mengeluarkan mereka dari perutnya.
“Kepalanya sudah terlihat,” dokter yang mengatakan itu dan Virgo semakin tegang saja dibuatnya. Perjuangan Libra ini sangatlah besar karena dia harus berjuang melahirkan dua bayi. Mengeluarkan satu bayi saja berat sekali.
Entah berapa lama mereka berada di dalam kamar persalinan tersebut ketika dua bayi itu keluar dengan selamat. Dan kembar itu benar-benar membuat semua orang merasakan ueforia kebahagiaan. Bahkan dokter saja merasa terharu dibuatnya.
“Laki-laki,” ketika yang pertama lahir dokter itu mengangkat bayi merah itu dan memberikan kepada suster untuk ditimbang. Jeda dua menit, dan Libra menangis karena haru. Dia sudah benar-benar menjadi ibu sekarang. Perjuangan mempertahankan mereka memang tidaklah mudah, tapi ketika sekarang mereka lahir di dunia, kebahagiaan itu tak bisa disembunyikan.
Perjuangan kedua ini sama sekali tak terlalu susah seperti yang sebelumnya. Bahkan prosesnya cepat sekali seolah bayi pertama yang keluar sudah membuatkan jalan yang mudah agar adiknya bisa segera ikut keluar dan bisa berkumpul bersamanya dan juga kedua orang tuanya, serta orang-orang yang menyayanginya.
“Perempuan.” Dokter tersebut kembali mengangkat bayi kedua untuk menjalankan prosedur seperti yang pertama tadi.
Bayi kembar laki-laki dan perempuan, bukankah itu anugerah yang tak bisa disangkal? Itu adalah kebahagiaan yang hakiki. Mereka memang tidak pernah ingin melihat jenis kelamin mereka ketika pemeriksaan.
Ingin membuat kejutan untuk dirinya sendiri. Dan mereka benar-benar terkejut dengan hasilnya. Sungguh luar biasa sekali.
Mereka sudah ada di dalam ruang inap dengan kedua bayinya digendong oleh dua neneknya. Mereka benar-benar merasakan kebahagiaan yang begitu luar biasa. Libra tak hentinya tersenyum melihat hal itu. Semua kesakitan yang sudah dilaluinya itu seolah tak berarti sama sekali karena kebahagiaan yang didapatnya sekarang.
“Kalian sudah menyiapkan namanya?” Firman bertanya kepada orang tua muda yang baru saja memiliki bayi tersebut. Dan malah tertegun mendengar itu. Sungguh, baik Libra maupun Virgo melupakan hal itu. Bagaimana mereka begitu teledor melupakan sesuatu yang begitu penting.
Keduanya bahkan saling melihat satu sama lain dan kebingungan itu terjadi. Firman menggelengkan kepalanya melihat anak dan menantunya. “Benar-benar kalian ini, teledor.” Katanya tapi setelahnya terkekeh sendiri.
“Nggak papa, kalian bisa mempersiapkannya secepatnya. Akan papa bantu mencarikan nama yang juga buat cucu-cucu papa ini.”
“Kok bisa lupa sih, Yang?” Virgo yang bertanya lebih dulu. Menatap istrinya dengan wajah bodohnya.
“Kok tanya aku sih? Aku lupa sama sekali bahkan. Lah kamu kenapa nggak ingat?” Tak menanggapi Firman yang berbicara, keduanya bahkan berbicara berdua sambil saling menatap dengan tatapan menuduh satu sama lain. Tapi ketika menyadari hal itu, mereka terkekeh berdua.
“Udah, nggak papa, kita cari namanya sama-sama.” Jihan menimpali. Memberikan nama kepada anak adalah hal yang sangat penting, tapi biarlah mereka menikmati dulu kebahagiaan itu dengan suka cita. Setelahnya barulah mereka memberbaiki keteledoran dari orang tua muda tersebut.
*.*
Menyadari apa yang sudah dilakukannya, Virgo kini benar-benar fokus pada laptopnya dan mencari rekomendasi nama di sana untuk bayi-bayinya. “Menurut kamu, kita ambil dari istilah apa anak-anak kita, Yang?” tanyanya meminta pendapat, “Nama kita aja diambil dari nama zodiak, kira-kira yang cocok untuk mereka itu apa ya?” Virgo benar-benar fokus dengan pekerjaannya sekarang.
Membuat nama itu adalah sesuatu yang tak sulit namun tak mudah. Karena nama adalah doa. Arti nama itu biasanya mempengaruhi seseorang itu nantinya. Maka Virgo tak akan membuat nama itu asal-asalan.
“Nama planet di tata surya.” Jawab Libra memberikan ide. Virgo mengalihkan tatapannya dan menatap ke arah sang istri. “Aku dulu pernah membaca nama tatap surya, dan itu cocok dijadikan nama.” Lanjutnya karena Virgo seolah menatapnya dengan aneh.
“Coba aku cari.” Mereka sekarang hanya berempat karena para tetua entah sedang kemana. Jika Firman jelas kembali ke kantor, tapi etahlah dengan dua ibu mereka.
“Ada banyak nama, Yang.” Setelah mendapatkan apa yang dicari di internet, Virgo menginformasikan, “Ariel, Aurora, Amalthea,” Virgo membacakan nama-nama itu kepada istrinya, “Altair,” Virgo berhenti ketika membaca nama tersebut, “Al-El, panggilan itu sepertinya bagus.”
Libra menatap suaminya dengan kening mengernyit. “Itu kan nama anak-anaknya artis, Yang, masa kita tiru-tiru.” Sepertinya Libra sama sekali tak setuju dengan ide sang suami.
“Yang penting kan nama mereka nggak sama.” Virgo mempertahankan ide yang dimillikinya. Libra tak lagi menanggapi dan memilih turun dari ranjangnya dengan pelan. Menatap anak-anaknya dengan tatapan kagum, tak menyangka jika dua bayi yang sedang tertidur dengan damai itu adalah bayi-bayinya.
Membungkuk, mencium bayi-bayi terebut dengan sayang. “I love you.” Katanya membisikkan ungkapan sayang itu kepada kedua bayinya. Kembali berdiri tegak, Libra mengingat apa yang dikatakan oleh dokter beberapa waktu lalu.
“Kalau kalian ingin menjalankan program anak untuk selanjutnya, kejadian seperti ini akan terjadi lagi.” Katanya, “Karena kadungan lemah memang tak bisa disembuhkan.” Begitulah kata dokter. Namun cara Tuhan memang begitu hebat. Kalaupun nanti dia tak akan menjalankan program hamil, dia sudah memiliki sepasang. Bukankah itu hebat sekali?
“Kenapa?” melihat Libra yang tertegun sambil melihat ke depan dan melamun, membuat Virgo ingin mengetahui apa yang sedang difikirkan oleh istrinya.
“Bukankah Tuhan begitu baik dengan kita, Yang? Ketika kandunganku lemah, kita langsung mendapatkan sepasang.” Tatapan Libra lemah namun penuh dengan kebahagiaan.
“Karena itulah aku nggak mau kamu ngeluh dengan apa yang kita dapatkan. Kenapa kita harus bersyukur ketika mendapatkan sesuatu yang baik saja? Sedangkan ketika kita mendapatkan ujian justru terus bertanya sama Tuhan ‘kenapa ini terjadi kepada aku?’ itu nggak masuk akal rasanya.” Virgo menggenggam kedua tangan Libra dengan kedua tangannya.
“Terima kasih atas semuanya. Perjuangan kamu selama sembilan bulan ini benar-benar luar biasa. Kamu nggak pernah menyerah dan selalu optimis dengan kondisi kamu.”
“Dan karena kamu ada di sisi aku selama ini, itu yang membuat aku kuat menjalani semuanya.” Virgo memeluk Libra dengan lembut karena takut menyakiti Libra.
“I love you so much.” Virgo jarang mengatakan kata cinta kepada Libra, dan sepertinya memang dia harus melakukannya sesekali.
“Dan masalah nama, kenapa kita sama sekali nggak terpikirkan selama ini ya, Yang? Seriusan aku lupa banget lho.” Virgo kembali mengungkapkan keheranan dalam dirinya.
“Aku sama sekali nggak terpikir sama sekali, Yang. Karena kamu fokus sama aku karena keadaanku, pun dengan orang-orang. Bahkan nama saja nggak keinget.” Keduanya tertawa bersama mengingat kebodohan yang terjadi.
“Istirahat.” Virgo merangkul Libra dan mengajak untuk kembali ke ranjang. Agar istrinya itu bisa segera kembali istirahat agar segera pulih dan bisa segera pulang ke rumah mereka.
*.*
Mungkin kalian akan merasa sebal dengan nama Ardi, tapi bagaimanapun kalian harus tetap membaca keterlibatan lelaki itu dalam cerita. Lelaki malang itu memang selalu tak disukai oleh orang lain karena sifat keras kepalanya.
Bahkan sekarang saja dia harus mendapatkan cibiran dari istrinya. Jadi, ketika Jihan baru saja pulang ke rumah dan langsung membuatkan makanan buat Ardi karena memang sudah waktunya makan malam. Meskipun banyak kegiatan yang dijalankan oleh Jihan di luar sana, tak pernah sekalipun perempuan itu melupakan kewajibannya untuk mengurus suaminya.
Ternyata Ardi malah mengatakan hal yang sama sekali tak disukainya. “Bagaimana proses persalinannya?” begitu awalnya menanyakan keadaan Libra.
“Lancar. Cucu-cucuku juga sangat menawan.” Jawab Jihan.
“Dia juga cucuku.” Ardi sepertinya tidak suka dengan ucapan istrinya yang terus saja mengatakan anakku, cucuku, bahkan menantuku, sejak waktu itu. Seolah mengejek Ardi secara terang-terangan.
“Siapa bilang dia cucumu juga? Kan Virgo cuma menantuku aja.” Cibir Jihan tak tanggung-tanggung, “Mana punya kamu menantu Virgo. Rugi kamu nggak ngakuin Virgo jadi menantu, cowok keren gitu.” Lanjutnya. Namun Ardi menjawab Jihan yang membuat perempuan itu sebal setengah mati.
“Anak penghianat tetap penghianat.” Jihan tak langsung menjawab dan memilih menatap Ardi dengan tatapan tajam.
“Terserah kamu tidak suka dengan dia, tapi jaga ucapan kamu. Virgo adalah menantuku, dia adalah anakku. Kalau ada orang yang menghinanya, artinya dia harus berhadapan denganku juga. Kalau memang kamu mau pertengkaran ini terjadi, ayo kita lakukan.” Tantang Jihan. Namun hanya mendapatkan gelengan kepala dari Ardi.
“Terserahmu, aku nggak peduli dengan apapun tentang Virgo dan keluarganya.” Katanya dengan santai.
“Kalau gitu nggak usah kamu pedulikan kami. Biarkan mereka menjadi urusanku. Kamu kalau nggak suka ya udah, nggak usah dihina, nggak usah dicaci. Mulai sekarang, nggak usah lagi pedulikan orang lain. Urusi saja urusanmu sendiri.” Kemudian Jihan pergi dari ruang makan tanpa mempedulikan lagi Ardi.
Sedangkan Ardi hanya sanggup terdiam seorang diri di ruang makan tanpa memakan nasi yang sudah ada di piringnya. Entah apa yang ada di dalam fikirannya saat ini, tak ada yang tahu sama sekali.
Dan semakin tak terduga adalah ketika dengan tidak sengaja melihat postingan dari putrinya di media social. Ardi yang memang jarang membuka media sosialnya entah kenapa dia tak sengaja membuka aplikasi tersebut dan hal pertama yang dia lihat adalah dua bocah yang masih di bedong dengan warna kain Pink dan biru. Untuk membedakan lelaki dan perempuan.
Libra – Twins. Pink : Elara, Biru : Altair
Bagitu tulis caption dari foto bayi tersebut. Bayi itu masih memejamkan matanya dengan wajah polos tanpa dosanya. Jantung Ardi terasa bergetar melihat dua bayi tersebut. Dia sama sekali tak bisa mengallihkan tatapan matanya kepada dua mereka. Namun bukan hanya foto itu yang ada di sana, ketika dia menggeser ke kanan, muncullah dua bayi itu bersama orang tuanya.
Masih dengan menggunakan baju rumah sakit, Libra mengendong yang biru, sedangkan Virgo menggedong yang pink, dan senyum mereka merekah terlihat sekali kebahagiaan itu.
Di bawahnya ada lagi satu foto keluarga besar mereka. Bahkan ada Wondo dan istrinya juga. Mereka semua bahagia dengan kehadiran bocah-bocah itu dan dia sendirian dengan memendam rasa jengkel yang tak terkira.
Tak ingin lebih marah lagi, dia menutup aplikasi tersebut dan memejamkan matanya. Dia tak akan terpengaruh dengan hal itu. Tidak akan. Begitulah pemikiran keras kepalanya.
*.*
Libra sudah pulang ke rumah dengan anggota baru yang menyertainya. Keadaan Libra sudah sangat baik sekarang. Elara dan Altair juga sangat sehat sekali. Kabar ini sudah pasti menyebar, apalagi dia mempostingnya ke social media, jadi pasti teman-temannya juga sudah melihatnya.
Ada dari sahabat-sahabatnya yang akan datang, tapi dia tak mengijinkan lebih dulu. Mereka memang tidak sempat menjenguk ke rumah sakit karena padatnya jadwal kuliah mereka. Libra sama sekali tak masalah dengan hal itu.
Virgo dan Libra memang tak menyiapkan kamar bayi karena memang itu belum diperlukan sampai beberapa tahun ke depan.
“Welcome home, Al, El.” Virgo mengatakan hal itu sebagai sambutan. Meskipun mereka belum mengerti akan semua ini. Mereka tak langsung masuk ke dalam kamar dan duduk lebih dulu di ruang keluarga.
Kehebohan itu benar-benar terjadi di rumah tersebut.
“Ngomong-ngomong aku lapar lho, Ma.” Sejak tadi dia memang belum makan apapun karena bersiap-siap untuk pulang.
“Pesan gojek aja ya, Vir.” Bahkan dia sama sekali tak dilirik oleh ibunya.
Biasanya saja jika dia memesan makanan menggunakan gojek langsung di complain dengan ibunya karena katanya tidak sehat atau apa lah. Tapi sekarang karena ada anggota baru, dia diabaikan begitu saja. Maka Virgo hanya menghela nafas panjang sebelum membuka ponselnya untuk memesan.
Sekarang di rumahnya sudah ada wangi bayi. Wangi yang selama ini disukainya. Virgo yang begitu menyukai anak-anak merasa senang dan bahagia karena dia sudah memiliki sendiri anak-anak itu buah cintanya bersama dengan Libra.
Kini waktunya dia menata hidupnya kembali. Tanggung jawabnya sebagai ayah sudah dimulai. Dia harus mempersiapkan semua hal. Anak-anaknya harus menjadi anak-anak dengan pelayanan yang baik. Dan untuk mendapatkan itu, dia harus bekerja keras. Itulah yang ada di dalam kepalanya sekarang.
Virgo. Usianya masih dua puluh tahun. Tapi dia sudah berani mengambil keputusan yang sulit dan menanggung beban berat itu dengan memiliki istri dan anak. Tapi dia sama sekali tak menyesal, karena semua ini dia bisa banyak belajar. Karena hidup mengajarinya semuanya.
*.*