Blind Love

Blind Love
Seri 11



“Aku sebenernya bisa lho, Yang, jadi sekertaris kamu.” Love duduk dengan tenang di sofa ruangan Aksa sambil mencondongkan tubuhnya untuk menatap sang suami. “Buktinya pekerjaan kamu beres kan?” Bangganya kepada diri sendiri dan sudah melupakan hal apapun yang terjadi tadi. Lagipula untuk apa mengingat hal yang tidak penting kan?


“Mungkin kali ini pekerjaan oke, tapi kalau kliennya kaya Rudi semua, nggak oke juga lama-lama.” Melihat Aksa dengan keseriusan yang seperti itu mau tak mau membuat Love terpesona. Sejak dulu sampai sekarang, tak ada pernah Love merasa bosan dengan lelaki itu. Sudah berapa lama dia mencintai orang yang sama namun hatinya sama sekali tak berubah.


Aksa yang dari dulu mempesona, bahkan semakin bertambahnya umur, semakin menawan pula lelaki itu. Jadi apa yang bisa dilakukan oleh Love kecuali terus masuk ke dalam lubang yang sama yaitu cinta. Kalau dia mengatakan hal seperti ini kepada orang lain, bisa jadi ini terdengar menggelikan, karena itu hanya Aksa lah yang selalu tahu perasaan yang dirasakannya.


“Kenapa lihatinnya gitu banget?” Aksa tak akan berpura-pura tak tahu jika sejak tadi  istrinya itu bertingkah menggelikan di matanya. “Kalau cinta bilang, nggak udah dipendam.”


“Aku cinta kamu.” Meskipun matanya tak menatap Love, tapi Aksa tetap tersenyum sambil mengotak-atik ponsel miliknya. Di dorong rasa penasaran, Love bertanya.


“Apa sih yang Mas lihat dari tadi?” Belum pernah sebelumnya Aksa seserius itu dengan benda bernama ponsel jika bersama dengan Love, dan ketika Aksa melakukan itu sekarang, pertanyaan di dalam hati Love tentu saja langsung di keluarkan.


“Apa yang kira-kira membuat kamu jatuh cinta sama aku?” Diletakkannya ponsel miliknya di atas meja dan berbalik menatap sang istri. “Karena aku rasa, aku bukan lah orang yang menarik.”


“Karena cinta itu nggak beralasan. Hatiku yang memilih dan dia sama sekali nggak mau berpaling dari kamu. Aku juga nggak paham.” Jawaban yang diberikan oleh Love sama sekali seperti tak memiliki keseriuasan di dalamnya. Tapi Aksa pasti bisa merasakan bagaimanapun yang dikatakan oleh Love adalah sebuah kebenaran yang hakiki dan tak terbantahkan.


“Jadi, Yang, apa perasaan itu akan menempel dan melekat terus di dalam hati kamu?” Seolah kini Aksa yang ingin mengetahui keseriusan perasaan Love terhadapnya. “Bisa jadi nanti kamu berpaling dari aku.” Love kali ini menatap Aksa dalam. Entah karena Aksa merasa sensitive atau apa, tapi itu adalah pertanyaan aneh bagi Love.


“Ngomong-ngomong dapet dari mana pemikiran kaya gitu, Yang?” Love tak akan rela jika dirinya ‘dicurigai’ oleh suaminya jika dia akan ‘menyukai’ orang lain meskipun dia tak akan pernah tahu apakah hal itu akan terjadi ataukah tidak. Perasaan orang bisa berubah jika memang takdir menginginkan itu terjadi.


“Kalau seandainya aku berpaling dari, Mas, apa yang akan Mas lakukan?” Pancing Love. “Mas ngebayangin nggak, kalau aku suka sama seseorang kaya aku suka sama Mas waktu dulu itu. Gigih dan pantang menyerah. Gimana kira-kira perasaan Mas?” Dengan bodohnya, bukan hanya Aksa yang membayangkan jika itu terjadi. Aksa menatap kursi kebesarannya dengan pandangan kosong, sedangkan Love menatap kancing baju Aksa dengan pikiran melayang.


“Aghhh. Nggak mau ngebayangin aku.” Love tiba-tiba berteriak sambil menarik baju bagian depan Aksa. “Ayang tahu nggak aku geli ngebayangin diriku yang ngejar-ngejar orang, terus kalau dia mau kita jadian, terus aku dipeluk-peluk sama orang itu. Jangan dibayangin, Yang. Serius aku jijik bayanginnya.” Bahkan mata Love sampai melotot ketika mengatakan itu.


“Udah, aku maunya sama suamiku aja dan nggak mau yang lain. Mau dia lebih ganteng kek, muda kek, bodo amat aku nggak peduli.” Ketika Love benar-benar serius seperti itu, maka Aksa pun berlaku sama.


“Iya ya, Yang, bayangin kamu dipeluk-peluk orang, kok panas juga otakku.” Aksa sepertinya juga sudah mulai gila sekarang. Memang begitulah manusia, seiring berjalannya waktu, seiring mereka semakin menua, otaknya kadang tak bisa dikendalikan untuk tak memikirkan hal-hal yang aneh.


“Kalau gitu, kita hanya perlu bersama, membesarkan anak-anak kita berdua, dan nggak ada ibu dan ayah sambung. Aku belum-belum udah ngeri ngebayangin.” Love menyanggupi dan tersenyum.


“Jadi gimana rasanya cemburu?” Lagi-lagi Love memancing. “Enak atau enggak?”


Aksa mengggeleng. “Enggak.” Bahkan tanpa pikir panjang lelaki itu menjawab. “Rasanya ada yang mau meledak di dalam sini.” Tunjuknya pada dadanya.


“Jadi, Mas tadi cemburu nggak waktu Rudi nunjukin banget kalau dia tertarik sama aku?” Putaran bola mata diberikan kepada sang istri.


“Biasa aja, karena dia nggak seganteng aku.” Percaya diri sekali sepertinya orang satu ini. “Cuma pengen nendang wajahnya sampai giginya rontok kalau perlu.” Lanjutnya dengan wajah kelewat santai. “Cuma aku nggak mau main kekerasan. Seperti apa yang menjadi ketetapan di keluarga kita, jika memang sebuah ucapan bisa menyelesaiakan masalah, untuk apa kekerasan dikeluarkan.”


Seharusnya yang dilakukan oleh Aksa sekarang ini adalah bekerja, bukannya meladeni istrinya mengobrol hal-hal yang tak penting seperti ini.


“Ngomong-ngomong Damar gimana ya?” Ingatan Love tiba-tiba berlari untuk mengingat sekertaris suaminya itu.


“Dia pulang setelah ke klinik kantor tadi. Biar dia istrirahat.” Barulah setelah itu Aksa berdiri. “Aku kerja dulu.” Sambil berjalan ke meja kerjanya dan melanjutkan pekerjaan yang siap untuk diselesaikan. Sedangkan Love hanya duduk santai di sofa sambil memainkan ponselnya. Sembari menunggu sang suami menyelesaikan jam kantornya.


*.*


Libra sedang berbaring di kasurnya sambil mendengarkan music. Tirai kamarnya masih terbuka dan melayang-layang karena angin malam. Getaran ponselnya membuat Libra mengambil benda itu di sampingnya dan membaca sebuah chat dari seseorang.


Virgo – Aku di bawah, turunlah.


Begitu bunyi dari pesan yang dibaca oleh Libra. Kening gadis itu mengernyit ketika membaca pesan tersebut. Pasalnya, tak ada janji sebelumnya jika mereka akan bertemu. Takut jika dia mendapatkan keisengan dari Virgo, maka dia lebih dulu mengintip dari balik sendiri untuk mencari kebenaran apakah yang dikatakan oleh Virgo adalah benar.


Sayangnya Virgo tak terlihat dari sana.


Aku nggak yakin kamu ada di depan rumahku. Itulah jawaban yang diberikan oleh Libra untuk Virgo.


Virgo – Aku serius. Kalau kamu mencoba intip dari kamar kamu, kamu jelas nggak akan lihat. Aku di balik pohon.


Virgo tersenyum membayangkan jika bisa saja Libra memang sedang memastikan jika apa yang dia katakan benar atau tidak. Tak ada lagi balasan dari Libra, namun kemunculan gadis itu pun tak terlihat. Entah sudah berapa kali dia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Dan memutuskan untuk pergi dari sana ketika pagar tinggi rumah Libra terbuka dan Libra muncul di depannya.


Ada senyum yang keluar dari bibir Virgo. Turun dari motor, Virgo berdiri di samping motornya dan menatap ke arah Libra yang sedang berjalan mendekat ke arahnya. Libra menatap Virgo tanpa mengatakan apapun. Pun dengan Virgo yang juga tak kunjung membuka obrolan.


Hembusan napas keras Libra adalah pangkal dari kesunyian itu. “Kenapa?” Hanya begitu saja tanyanya. “Ada yang penting?” Sedikit sinis di telinga Virgo tapi lelaki itu bereaksi biasa saja.


“Nggak ada. Aku hanya pengen ketemu kamu lagi.” Enteng sekali ucapannya. “Mau keluar?” Tawaran itu keluar begitu saja dari bibir Virgo. Mata lelaki itu menatap pakaian yang dikenakan oleh Libra. Celana panjang, kaos lengan pendek, sandal jepit, dan rambutnya dicepol asal-asalan. “Nongkrong aja di depan komplek.” Lanjutnya. Dia tak mungkin menunggu Libra lama untuk berdandan sedangkan sekarang sudah pukul delapan malam.


Libra tak menjawab entah sedang memikirkan apa isi di dalam kepalanya itu. Sedangkan Virgo bukan orang yang sanggup menunggu lama-lama sebuah jawaban. Dangdut sekali memang.


“Li, aku masih nunggu loh ini.” Begitu katanya memberikan penegasan kepada gadis itu. Kemudian anggukan itu diberikan oleh Libra.


“Kamu mau kita duduk di mana?” Pertanyaan itu diberikan Virgo ketika mereka sudah berada di tempat-tempat tongkrongan yang berderet rapi.


“Tumben tanya, biasanya juga ambil keputusan sendiri.” Entah kenapa mereka seperti pasangan kekasih yang sedang saling marah. Lucu sekali memang takdir bermain bersama mereka.


“Mau di sana aja?” Lelaki itu memang tak meninggalkan Libra masuk lebih dulu, tapi ada pandangan protes dari Virgo ketika Libra masih setia di sana.


Setelah turun, Libra malah berjalan lebih dulu dengan bibir cemberut. Virgo tak tahu kenapa Libra bertingkah seperti itu, tapi baginya itu menggelikan sekali.


“Kalau mau beli, jangan cuma di pilih tapi diabaikan lagi.” Bisikan dari belakangnya itu membuat Libra mendesis.


“Isshhh.” Katanya. “Jangan rese kenapa sih.”


“Nggak rese, cuma ingetin aja kok.” Sambung Virgo. Tapi tak ditanggapi oleh Libra. Gadis itu lalu asyik memilih makanan ringan yang akan dilahapnya setelah ini.


“Kamu pilih makanannya, aku ambil minumannya. Kamu mau minuman dingin apa hangat?” Berbagi tugas, seperti itulah mereka sekarang.


“Es teh anget.” Masih sinis saja gadis itu. Tapi hal itu tak membuat Virgo tak balik marah, justru lelaki itu memberikan hormat kepada Libra tanda kepatuhannya. Maka setelahnya, Virgo meninggalkan Libra untuk berurusan dengan minuman.


“Uangnya.” Virgo menyodorkan uang lima puluh ribuan kepada Libra sebanyak empat lembar. Padahal mereka bisa membayar bersamaan setelah keduanya selesai dengan urusan mereka masing-masing.


“Kebanyakan.” Libra bahkan melotot ke arah Virgo. “Belanjaan kita nggak mungkin sebanyak ini.” Kata ‘kita’ yang keluar dari bibir Libra seperti mereka ini benar-benar sepasang kekasih saja.


“Nggak papa bawa aja.” Setelah itu Virgo berbalik dan akan berkutat dengan minuman.


Snack yang diambil Libra memang banyak, tapi tak terlalu banyak. Virgo mengambilkan minuman dingin dan juga hangat untuk Libra, entah mana nanti yang akan di minum oleh gadis itu biarlah Libra sendiri yang memilih.


“Kembaliannya.” Libra menyodorkan uang sisa hasil belanja kepada si pemilik.


“Pegang aja. Tanganku kotor.” Virgo memang sudah membuka satu bungkus snack dan sudah mulai mengunyah.


“Aku tarok sini aja.” Uang itu di letakkan Libra di atas meja dan tak mengantonginya. Kemudian mulai mengikuti Virgo memakan snack yang tadi di belinya.


Niatnya, Libra mau mengambil ponsel miliknya sambil memainkannya, sayangnya dia tak menyadari jika sejak tadi dia keluar rumah tak membawa ponsel.


“HP gue mana?” Itu ditujukan kepada dirinya sendiri. Dan tentu saja meskipun begitu Virgo mendengar.


“Emang kamu bawa hp tadi?” Kunyahan Libra berhenti dan pandangan gadis itu fokus ke arah Virgo.


“Bawa kok.” Tak singkron dengan apa yang dikatakan, wajahnya menunjukkan jika dirinya sendiri pun tak yakin.


“Kamu nggak bawa.” Libra tak lagi mendebat.


Virgo menyodorkan ponsel miliknya. “Pakai aja, ada pulsanya kok.” Katanya dengan santai.


“Bukan mau telpon, tapi kan nggk enak kalau nggak otak-otik hp.” Wajah Libra terlihat sekali kecewa.


“Ya udah pakai aja. Aku nggak pakai kok. Lagian kalau nanti aku mainin hp kamu marah lagi dicuekin.” Pandangan Virgo menyorot menatap Libra. “Udah pakai aja.”


Namun tentu saja Libra tak akan selancang itu. Apalagi mendapat sindiran seperti itu semakin membuat Libra keki.


“Aku minta maaf.” Tiba-tiba saja Virgo mengatakan itu. Kekagetan itu tak bisa dihindari lagi oleh Libra. Gadis itu menatap lurus ke mata Virgo.


“Untuk apa?”


“Udah buat kamu ngambek.” Kini Virgo akan berbicara serius kepada Libra. Maka dari itu dia menegakkan punggungnya, menatap gadis di depannya dengan terang-terangan.


“Waktu itu kamu pulang bahkan nggak mau ngomong sama aku, aku yakin kamu marah karena boneka itu. Aku benar kan?” Wajah Libra sontak menunduk dengan deheman canggung. Bibirnya sesekali di kulum karena mungkin tidak ada yang bisa membunuh rasa kikuknya kali ini.


“Kamu bilang ‘iya’ pun aku nggak papa kok.” Ada kekehan kecil yang keluar dari bibir Virgo. “Karena memang aku salah, jadi aku minta maaf.” Lanjutnya dengan sungguh-sungguh.


“Kamu pasti udah bikin pusing banyak cewek selama ini.” Tanggapan itu keluar begitu saja dari Libra. Tanpa pengenalan yang sunguh-sungguh, mereka tak paham satu sama lain, kemudian sebuah keadaan mempertemukan mereka. Dan dengan tiba-tiba pula, Virgo yang mendekat lebih dulu tanpa lelaki itu tahu apa arti dari pendekatan itu.


“Cara kamu yang seperti kemarin itu seperti memberi…..,” Libra tak melanjutkan perkatannya karena dia pun tak tahu harus mengatakan apa lagi setelahnya. Lalu lalang orang-orang tak mebuat keduanya mengurai sedikit keseriusan itu.


“Kenapa mereka harus bingung?” Virgo tak paham.


“Berapa cewek yang pernah kamu ajak pergi berdua?”


“Nggak ada.” Jawaban itu langsung diberikan karena memang begitulah faktanya. “Anak-anak bilang mereka sering baper dengan kelakuanku, padahal aku sama sekali nggak pernah buat mereka seperti itu.”


Wajah malas Virgo terlihat. “Udah lah, nggak perlu bahas itu lagi.” Bibir Libra mengerucut sebal karena ketika dia ingin mengulik semua dari Virgo, malah lelaki itu sendiri yang mengakirinya.


“Jadi bagaimana dengan rencana orang tua kita?” Virgo lagi-lagi mengernyit. Entah kenapa lagi-lagi gadis itu malah menanyakan masalah itu lagi.


*.*