Assistant Love

Assistant Love
Ayah sudah tahu



"Aku akan memikirkannya, dan jika aku benar-benar berhenti, itu bukan karena mu! Melainkan keinginanku sendiri. Aku tidak mau menjadikanmu sebagai alasan, karena aku tidak ingin suatu hari nanti aku kembali terjun lagi." ucapan Alan menohok Dinda.


"Tapi aku akan melakukan yaang terbaik, untuk semua, bukan hanya untukmu dan masa depan kita. Aku harap kamu mengerti, keputusan apapun yamg aku ambil, semua beresiko! Dan aku tidak ingin hal itu terjadi, kau paham kan?"


Dinda mengangguk, dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, meskipun dia ingin Alan mengikuti perkataan nya.


"Aku sudah tegaskan padamu, jika dengan berada di sisiku kau pasti akan terluka, dan kau juga boleh pergi."


"Tidak, maafkan aku, aku hanya takut! apa yang terjadi pada Leon akan terjadi padamu, aku hanya tidak ingin hal itu terjadi,"


Alan mengelus pucuk rambut Dinda, " Kamu tidak usah khawatir, tidak akan ada apa-apa denganku? Apa kau lupa siapa aku? Hem...."


Dinda mengangguk, "Kau harus berjanji padaku? Kau akan baik-baik saja,"


Alan menahan tawanya, " Tidak kau suruh pun, aku akan selalu berhati-hati."


"Benar juga, tapi apa salahnya jika kamu mengatakan hal itu supaya hati ku merasa senang! Kau memang batu." rungutnya.


Alan tidak menjawabnya, dia hanya tersenyum tipis ke arahnya.


"Saat aku bilang aku akan melakukan semua yang terbaik, itu artinya yang terbaik juga untukmu." menusuk pipi Dinda yang tampak mengembang.


"Kamu belum mengatakan padaku, bagaimana kamu bisa berada di perusahaan ku?"


"Maksudku ARR. corps." ujarnya lagi


Dinda terkikik, dengan punggung tangan yang dia pakai untuk menutup mulutnya saat bicara, "Aku mengikutimu, aku tidak sengaja melihat kalian sedang mengobrol, dan saat aku ingin menghampirimu, kau pergi dengan tergesa, membuatku semakin penasaran. Dan aku ngikutin kamu deh."


Namun reaksi berbeda dari Alan membuatnya kaget. "Jangan lakukan hal itu lagi! Kau tahu, aku selalu marah saat kamu diam- diam mengikuti! Karena aku takut seseorang menyadarinya dan membuatmu jadi sasaran empuk."


"Aku tidak bisa selalu menjagamu dua puluh empat jam, jadi berhentilah berbuat hal konyol." menohok Dinda lagi.


Cup


Dinda mendaratkan ciuman pada pipinya, dia terkesiap namun dengan bibir yang melengkung tipis. "Kamu ini memang paling bodoh! Jangan lakukan hal seperti itu lagi!"


"Kau cerewet sekali, aku sudah paham." ujar Dinda membalikkan tubuhnya menghadap Alan.


"Aku tidak akan memaksamu, dan tidak akan membahasnya lagi." ujarnya kemudian.


Denga ragu Alan meraih tangannya, menggenggamnya lembut. "Terima kasih."


.


.


Perusahaan Adhinata.


"Alan apa yang akan kau lakukan setelah ini?" ujar Jerry.


Alan mengenadah, dan menyimpan ponsel yang dia mainkan dengan satu tangan itu, diatas meja, lalu dia menghembuskan nafasnya panjang.


"Entahlah, kita bicarakan nanti saja! Aku sedang malas membicarakannya." jawab Alan dengan datar, dan kembali bermain ponselnya.


Jerry berdecak, "Kau ini sedang apa? jangan-jangan membaca novel online lagi ya!"


Alan tidak menjawab, dia hanya mengangguk pelan.


"Kau ini! apa kata dunia jika mereka tahu bos mereka pembaca novel."


Alan mengherdikkan bahu, "Aku tidak perduli, lagi pula aku melakukan hal ini diluar pekerjaan,"


"Yaa ... ya ... terserah kau saja!" Ujar Jerry yang tengah membersihkan senjata apinya.


Tok


Tok


Mac menyembulkan kepalanya, "Bos ...!"


Alan menoleh, begitu juga dengan Jerry, tidak biasanya Mac hanya menyapanya lalu terdiam.


"Ada apa Mac? Kau ini seperti melihat hantu saja, kenapa melongo seperti itu?" ujar Alan dengan alis yang bertaut. Sementara Jerry tergelak.


Pintu terbuka lebar, Arya masuk dengan tergesa, Jerry terlihat gelagapan. Dengan cepat dia memasukkan senjata api miliknya kedalam balik kemeja.


Sementara Alan melihat tajam pada Jerry, Arya menghempaskan tubuhnya disofa, lalu melemparkan beberapa lembar foto ke atas meja.


"Bisa kau jelaskan semua ini Alan Alfiansyah?"


Alan terhenyak, tidak biasanya ayahnya itu memanggil namanya dengan lengkap kecuali sedang marah.


Alan menghampiri Arya ke arah sofa, lalu mengambil selembar foto yang tadi dilempar.


Deg


Arya menatap ke arahnya dengan mata yang menukik menembus dirinya.


"Ayah...." lirih Alan.


Membuat Jerry penasaran dan menghampirinya, kedua matanya membulat sempurna, menatap foto yang tengah di pegang oleh Alan. Dia pun mengambil sebuah foto yang terlempar dilantai.


Jerry terperangah kembaali, saat menatap foto itu,


"Celaka, siapa yang melakukan hal ini Al?" bisiknya pelan ditelinga Farrel.


"Aku tidak tahu!"


"Apa kalian akan terus berbisik-bisik?" seru Arya dengan wajah yang semakin menyeramkan.


"Alan Alfiansyah? Jawab Ayah!?" teriaknya lagi.


Jerry yang merasa dirinya tidak berkepentingan memilih untuk pergi, namun tiba-tiba,


"Aku tidak mengijinkanmu keluar dari ruangan ini Jerry!"


Jerry berbalik, dia menggaruk belakang telinganya, lalu berjalan dengan ragu-ragu.


"Kali ini aku akan bertanya saja padamu!"


"Duduk ... kau juga!" titahnya dengan menunjuk kearah Alan lalu ke arah Jerry.


Alan dan Jerry menurut, mereka duduk bersampingan di hadapan Arya yang tengah menahan emosi.


"Katakan Jerry, apa yang terjadi?"


Jerry menoleh pada Alan, lalu menunduk.


"Maaf Om..., maafkan Alan, dia tidak bersalah! Aku dan Leon lah yang membawanya."


Alan menoleh ke arah Jerry, "Tidak ayah, aku yang bersalah, ini tidak ada hubungannya dengan mereka, aku yang membangunnya sendiri."


Arya menghempaskan punggungnya, bersandar pada sandaran sofa. "Astaga ya Tuhan."


Alan menatap lembar demi lembar foto yang kini berserakan, foto saat terjadi keributan di perusahaan ARR. Corps tempo hari.


Berita ini sudah ditutupinya, data-data bahkan sudah dihilangkan dengan rapi, dan saksi yang saat itu melihatnya pun ikut di lenyapkan oleh Jerry dan anak buahnya.


"Ya tuhan ... apa yang sebenarnya terjadi! Kenapa Al ...kenapa? Apa kami tidak memberikan kasih sayang yang cukup untukmu,"


Alan mengelengkan kepalanya.


"Apa kami membeda-bedakanmu?"


Alan menggeleng lagi.


"Apa yang kau cari Al? Seperti inikah sebenarnya dirimu?" Arya mengusap wajahnya kasar.


Merasa kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Alan. Dia begitu menyayanginya, menganggapnya sebagai malaikat pelindung bagi sang istri dan juga anaknya Farrel.


"Kau menakutkan Al! Ayah tidak menyangka, benar-benar tidak percaya kau bisa melakukannya."


Alan beranjak dari duduknya, dengan bertumpu pada kedua lututnya Alan bersujud,


"Maafkan aku ayah, maafkan aku,"


Arya menepiskan kedua tangannya yang menyentuh kakinya, "Kau bahkan menyembunyikannya selama ini."


"Om, maafkan Alan, ini semua salahku, bukan Alan!"


"Diam kau! Aku sedang tidak bicara padamu," bentak Arya dengan suara menggelegar.


Kecewa, tentu saja sangat kecewa, bagaimana mungkin Alan ternyata begitu menakutkan.


"Katakan apa alasanmu melakukan hal itu, apa kau tahu resiko yang akan kau dapatkan? Ayah sudah tahu semuanya, kau seorang mafia senjata, bersembunyi dibelakang perusahaan peninggalan ayahmu sendiri, kau membuatku kecewa Alan." ujar Arya dengan suara bergetar, dengan wajah yang merah padam menahan amarah.


"Maafkan aku ayah,"


Hening


Untuk beberapa saat mereka dalam kebisuan, ruangan itu mendadak hening, hanya jarum jam yang bergerak dan berbunyi. Ketiganya larut dalam fikiran masing-masing. Saking marahnya, Arya tak mampu mengucapkan satu katapun. Dia terdiam, dengan pandangan nanar pada Alan.


Aku begitu menyayanginya, dia lah yang pertama hadir dengan mengajariku sebagai orang tua, dia juga lah yang menjadi kebanggaanku.


"Ayah bicaralah, jangan mendiamkan ku seperti ini, Aku akan melakukan apapun demi Ayah. Tolong maafkan aku."


Arya tetap tidak bergeming, hatinya merasa sakit, kecewa dan juga marah, masih belim percaya Alan, selama ini sebenarnya melakukan bisnis ilegal, dibelakangnya.


Apa tujuannya, untuk apa dia melakukan semua ini? Pertanyaan- demi pertanyaan berseliweran di dalam kepalanya. Namun lidahnya kelu, tenggorokannya tercekat saking dia merasa dikecewakan.


"Ayah katakan sesuatu! Ayah boleh memarahi ku, kalau perlu pukul aku ayah, jangan diam seperti ini!"


"Aku kecewa padamu."