Assistant Love

Assistant Love
Kalah Gertak



Lexy mendengus, lalu melepaskan Kemal dengan mendorongnya kasar saat mendengar suara Alan dibelakangnya. Dia mengangguk ke arah Alan dan juga Dinda kemudian berlalu begitu saja. Pria tegap itu masuk ke dalam mobil berwarna hitam, namun tidak juga. melaju dari sana, kedua matanya masih menajam ke arah Kemal.


Kemal melonggarkan sedikit lilitan dasi dilehernya, sudah dua kali dia merasa tenggorokannya sakit, namun dia juga tidak beranjak dari tempatnya.


"Maaf Kemal ... Lexy terlalu pemarah! Tapi berhentilah mengganggu, aku tidak tahu apa yang akan di lakukan Lexy setelah ini." ujar Alan menggertak, Kemal tampak berkeringat, dia hanya menatap Dinda lalu pindah menatap Lexy di dalam mobil yang sama sekali tidak bergerak.


"Ayo sayang, kita pulang! Ayah mungkin mencari kita!" Ajak Dinda menarik lengan Alan.


Alan mengulas senyuman lalu menganggukan kepalanya pada Kemal, lantas meraih jemari Dinda dan berbalik. "Ayo!"


Mereka berdua kembali ke rumah sakit dengan berjalan kaki, sementara Lexy mengikutinya dengan melajukan mobilnya dengan sangat pelan, sementara Kemal melempar dasi yang telah dia lepaskan dari kerah kemejanya.


"Sial ... aku terlihat sangat payah didepan Akira, ternyata Alan benar benar menakutkan, gerakannya sangat sigap! Dia membodohiku ternyata, sedari tadi dia hanya diam saja seperti orang bodoh." gumamnya lalu berjalan, menyeret kaki nya kembali ke rumah sakit.


Alan merogoh ponselnya, dia hendak menghubungi Omar agar tidak menyuruh Lexy mengikutinya, dia sudah tidak berada di dunia hitam lagi saat ini, dan tindakan Lexy tadi justru akan memancing orang orang yang masih bersembunyi di luar sana. Entahlah Alan jiga tidak tahu.


"Sayang ... Kenapa membuat Kemal ketakutan seperti itu! Aku sudah bilang kalau dia harus diabaikan saja, dia itu hanya banyak bicara saja!"


"Kau menyukainya hem?"


Dinda memukul lengan suaminya itu, "Mana ada yang begitu! Dia yang menyukaiku, bukan aku ya! Aku hanya menyukaimu saja, dari dulu sampai saat ini, bahkan nanti dan selamanya." ujar nya terkekeh.


Alan mencubit pipinya lembut, "Dasar bodoh!"


"Kau lebih bodoh dariku!" jawabnya dengan kembali terkekeh.


Mereka kembali masuk kedalam ruangan Vip dimana Sisilia dan juga Pramudya tengah menunggu mereka kembali.


"Sayang? Kau dari mana?" tanya Sisilia.


"Oh tadi kami minum kopi, bersama dokter Kemal juga Mom!"


"Benarkah?" Sisilia sontak kaget, dia menatap Pramudya yang tengah duduk bersandar pada sofa.


"Sayang?"


"Ya ...."


Sisilia menyerahkan buah jeruk pada suaminya, namun buah jeruk itu diambil oleh Alan, "Biar aku yang mengupasnya, Ayah pasti lelah."


"Ya ampun Al ... hanya mengupas jeruk saja kok, mana mungkin lelah." tukas Pramudya dengan terkekeh, Dinda berjalan mendekati ayahnya lalu duduk disampingnya.


"Alan benar Ayah! Lebih baik Ayah pulang ke apartemen saja agar bisa beristirahat! Biar aku yang berjaga di sini."


Pramudya melirik anak perempuan nya, lalu beralih pada sang istri yang mengangguk setuju kemudian pada Alan yang juga setuju. Dia terlihat menghela nafas, "Baiklah kalau begitu! Aku akan pulang dan mencoba tidur, tapi jika aku tidak bisa tidur nyenyak, aku akan kembali kemari."


Setelah kepergian Pramudya, Dinda membaringkan tubuhnya yang lelah di atas sofa, sementara Alan duduk di kursi tepi ranjang. Sisilia menatap putrinya yang terlihat mengantuk dan mulai tertidur, dan Alan memberikan jeruk yang sudah di kupas pada ibu mertuanya itu.


"Mom? Secara pribadi aku belum menyampaikan permintaan maafku padamu atas kesalahan kesalahan yang aku lakukan pada putrimu yang pasti membuatmu sakit hati juga. Aku minta maaf."


"Memang Al ... aku sempat kecewa padamu! Tapi melihat putriku saat ini yang bahagia, aku yakin kau tidak akan pernah mengecewakannya lagi."


"Aku akan menjaganya seumur hidupku!"


Sisilia mengangguk, "Dia sudah mengalami banyak tekanan dimasa silam, dari kesalahan kami sebagai orang tua! Hingga aku mengusirnya dari rumah." Sisilia menitikkan air mata, dia mengusutnya menggunakan jarinya, "Jadi tolong jaga dia dengan baik Al." ujarnya lagi.


Alan mengangguk, dia memegang tangan Sisilia, "Momy tidak perlu khawatir, aku memahami semua yang dia lakukan, dia juga menerima aku dengan apa adanya! Bahkan dia menerima masa lalu ku."


"Terima kasih! Maaf kan juga momy karena sempat ingin menjodohkan nya dengan dokter Kemal." ujar Sisilia dengan ragu.


Alan mengulas senyuman, lalu menepuk meluk punggung tangan Sisilia, "Tidak apa! Toh sekarang dia sudah jadi tanggung jawabku mom."


"Terima kasih ya! Sekarang kau juga harus istirahat, Momy juga mau tidur!"


Alan mengangguk, dia merapikan selimut dan menurunkan ranjang agar menjadi lurus. Sesudahnya dia mendekati Dinda, lalu menyelimutinya.


Dreet Drett


Ponselnya berbunyi didalam saku celananya, dia merogohnya lalu melihat siapa yang menghubunginya malam malam.


"Leon?" Alan Keluar dari kamar setelah melihat kontak Leon yang membuat ponselnya berdering.


"Ada apa?"


"Kau dimana Al?"


"Negara S, kenapa?"


"... aku lusa akan menikah! Tapi kau justru pergi!"


"Menikah saja! Apa hubungannya dengan kepergianku?" tanya Alan dengan heran.


"Kau ini bagaimana? Tidak punya perasaan sedikit pun, lalu siapa yang akan jadi saksi pernikahanku Al."