Assistant Love

Assistant Love
Pemindahan tugas 3



"Masuk keruanganku sekarang!"


Glek


Dinda menelan saliva, sementara dadanya ikut bergemuruh dengan hebat, sosok Alan yang jauh lebih menyeramkan saat di kantor menjadi penyebabnya.


Dengan takut-takut Dinda mengetuk pintu, tidak ada jawaban dari dalam, hanya suara deheman saja yang samar-samar dia dengar.


Sementara dari kejauhan terlihat kepala HRD berjalan dengan tergesa-gesa,


"Kenapa kau masih berdiri disini?" Ujarnya pada Dinda yang masih berdiri di depan pintu dengan tangan yang sudah menempel di handle pintu.


Kenapa dia juga ada disini? batin Dinda.


"Aku baru mau masuk, Ba--bapak juga kesini?"


Alih-alih menjawab pertanyaan Dinda, kepala HRD itu langsung mendorong pintu ruangan Alan,


"Kau ... masuklah!" ujar nya pada Dinda.


Dinda mengekor padanya, berharap dia bisa mengontrol dirinya sendiri saat di dalam.


Terlihat Alan tengah duduk di kursi kebesarannya dengan dahi yang berkerut, rahangnya mengeras, dia juga memegang bolpoin dengan erat.


"Siapa yang menyuruhnya kesini?" Ujarnya pada Kepala HRD.


See, bahkan dia tidak membiarkannya untuk sekedar duduk, bicara tanpa ada nya basa-basi. Batin Dinda.


"Aku sedang bertanya padamu? Siapa yang melakukannya? Apa ayahku yang menyuruhmu." ucap Alan dengan suara yang menggelegar.


Kepala HRD itu malah diam saja, membuat Dinda mendengus pelan.


"Kau, kenapa kau terlihat kesal melihat ku?" Ujarnya pada Dinda.


"Tidak pak, sama sekali tidak!" ucapnya.


Drett


Dreet


Ponsel Alan berdering nyaring, Alan melirik layar ponsel yang terletak di mejanya.


"Kau, boleh keluar! Dan kau tetap disini!" ujarnya menunjuk Dinda kemudian kepala HRD.


Dinda menatap tajam, lalu dia keluar dari ruangan Alan,


"Kau membiarkan dia disini?"


Samar-samar terdengar suara Alan tengah marah!


Dia menempelkan telinganya, mempertajam pendengaran meskipun suara bariton itu membuatnya kembali menciut.


"Halo yah, kenapa Ayah menyuruh dia kesini, Bukan kah sudah aku bilang, aku bahkan bisa mengurusnya sendiri! Meski tanpa bantuan seorsng sekretaris."


"Iya Ayah memang yang menyuruh HRD, itu ayah lakukan untuk membantu pekerjaan mu, dan tentu saja membantu pekerjaan ayah juga."


"Apa ayah tahu kinerjanya? Ayah sudah memeriksanya?"


"Ayah tahu, makanya sekarang dia ada disana," Ayah Arya terdengar terkekeh.


"Maaf yah, aku tutup dulu, aku harus mengurus sesuatu."


Tut


Alan terlebih dahulu menutup sambungan teleponnya, sebelum ayah Arya menjawab pertanyaannya. Dia kembali menatap kepala HRD.


"Kenapa kau tidak bisa menolaknya? Apa itu terlalu berat kau lakukan, kau bahkan mempertaruhkan semua pekerjaan yang akan dia lakukan." ujarnya kesal.


Sementara Dinda yang berada di balik pintu mendengar semuanya.


"Dia tidak hanya menolak perasaan ku, dia juga menolak ku sini." gumam Dinda mengepalkan tangannya.


.


.


Setelah beberapa saat kemudian, kepala HRD pun sudah pergi dari ruangan Alan, Dinda masih duduk tempatnya, tanpa melakukan apa-apa. Lebih tepatnya tidak tahu harus berbuat apa-apa.


Sedangkan dia harus bertanya pada Alan? Nanti dulu, dia benar-benar tidak ingin melihatnya, kesal, kesal bahkan sangat kesal.


Intercom berbunyi lagi, namun Dinda enggan menjawabnya kali ini. Dia hanya memandangi nya sampai alat komunikasi itu berhenti dengan sendirinya.


Dinda mendengus kasar setelah intercom itu kembali hening. Dia hanya memutar-mutar bolpoin dengan jarinya,


Ceklek


"Dasar manekin!!" gumamnya.


Tidak lama kemudian Alan kembali masuk, tanpa melihat ke arah Dinda,


" Masuk keruanganku sekarang!" titahnya.


Dinda kembali menelan saliva, namun beberapa saat kemudian dia bangkit dari duduknya dan masuk dengan gontai.


Jika saat dulu Dinda akan mencari cara untuk bisa masuk kedalam ruangan Alan, berbeda sekali dengan hari ini. Dia memikirkan caranya keluar dari sana dengan cepat.


Dinda berdiri mematung, menatap Alan yang berdiri membelakangi nya, menatap bahu tegap dengan punggung yang sudah dipastikan kuat.


"Kau tahu apa tugasmu?" Ujarnya dingin.


Hening


Tidak hanya malas menjawab, namun karena Dinda tidak tahu apa tugasnya di sana, dari pada menjawab salah, lebih baik dia diam saja.


Alan berbalik, menatap Dinda dengan tajam.


"Kau tidak tahu? Dasar bodoh!"


"Kalau aku tidak tahu memangnya kenapa? Bukankah seharusnya kau memberi tahukan apa pekerjaanku." ujarnya dengan tangan yang meremas ujung pakaiannya.


Tahan Dinda tahan


Saling menatap tajam, saling beradu netra yang saling menghunus bak sebuah pedang bermata tajam.


Sampai akhirnya Alan membuang wajahnya, namun urat di kepalanya terlihat menonjol.


Kenapa kita harus berada di situasi begini!


Alan berjalan memutar dan duduk dikursi kebesarannya, dia mengambil bolpoin lalu terlihat menulis kan sesuatu di secarik kertas.


"Ini tugas yang harus kau lakukan, " ujarnya dengan suara yang melemah dari tadi.


Dinda mengambil kertas itu dan melipatnya, lalu dia masukkan ke kantong bajunya.


"Kenapa kau tidak melihatnya?"


"Apa sudah tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan?ujarnya kembali.


"Hm ... " ucap Alan dengan memeriksa pesan yang baru saja masuk kedalam ponselnya. Namun ujung matanya melirik Dinda.


"Kalau gitu aku keluar dulu!" ucapnya ketus.


"Hem...."


Dinda berbalik, melangkah menuju pintu,


"Siapa yang menyuruhmu keluar?"


Dia menoleh kan kepalanya, "Lantas kau mau apa lagi?"


"Pesankan makan siang untukku!" ucapnya dengan pandangan yang mengarah pada berkas diatas meja.


"Ta--tapi ...."


"Itu juga salah satu tugas mu!"


Dinda be berdecak, "Kau mau makan apa?"


"Terserah, asal bukan yang manis-manis!"


"Pantesan, hidupnya tidak pernah tersenyum!" gumam Dinda.


"Kalau begitu aku keluar!


Membuat Alan garuk kepala, namun menatap punggung Dinda yang semakin menghilang dibalik pintu.


Alan melonggarkan sedikit ikatan di dasi nya, yang seakan mencekalnya perlahan, lalu menyandarkan punggung disandaran kursi kebesarannya.


"Dia benar-benar memancing kemarahan ku, bahkan aku benar-benar kesal hanya karena melihatnya saja."


gumamnya kemudian.


Dinda membawa kantong makanan yang baru saja diantar oleh seorang kurir makanan, dia menenteng kantong itu lalu masuk kembali kedalam ruangan Alan.


"Maaf pak ini makan siangmu!" ujarnya meletakkan kantong itu di atas meja.


"Temani aku makan."