Assistant Love

Assistant Love
Alan ikut bermain.



"Apa kau sedang bermain peran?"


Dinda menoleh, dia menatap punggung Alan, "Apa maksudmu?"


"Berhentilah main-main!" Ucap Alan tanpa menoleh sedikitpun.


"Aku tidak paham ucapanmu, permisi!" ujar Dinda lalu berbalik ke arah pintu keluar.


Alan mendengus, "Gadis bodoh!"


Alan berbalik, menatap Dinda yang masih terpaku ditempatnya. "Kau terlalu lama makan siang, apa pacarmu itu tidak mengingatkanmu tentang jam kerja?hem...."


"Tidak, karena kami sering lupa waktu jika sedang berdua!" ujar Dinda dengan mengulum bibirnya.


"Begitu yaa!"


Dinda mendesis, "Tentu saja begitu, aku selalu lupa jika hanya berdua dengannya."


Alan mengangguk, " Itu karena kau terlalu mencintainya."


Bodoh


"Tentu saja aku sangat mencintainya, kalau tidak mana mungkin aku mau berlama-lama dengan nya." ujarnya.


"Begitu yaa...."


Alan berjalan mendekatinya, dengan satu tangan yang berada didalam sakunya, seperti biasa.


"Tentu saja begitu! Dia...."


"Dia juga mencintaimu?"


"Apa kau senang?" imbuhnya lagi.


"Tentu saja, kenapa kau menanyakan hal yang tidak penting untuk dibahas dikantor!"


"Aku hanya ingin tahu, itu saja!"


"Jadi kau penasaran begitu?" Dinda berjalan mundur selangkah demi selangkah.


Alan kini berada dihadapannya, "Aku penasaran sekali, seberapa dalam kamu menyukainya?"


Bodoh, kenapa aku malah ikut-ikutan berpura-pura!


Alan terus melangkah maju, hingga Dinda tidak punya ruang lagi untuk mundur. Tubuhnya menempel disudut ruangan,


Dengan mencondongkan tubuhnya, dia berbisik ditelinga Dinda. "Kau sangat pintar!"


"Tentu saja...."


"Tidak ... maksudku kau sangat bodoh! Kau bodoh sekali Akira."


Dinda membuang wajah kearah sebaliknya, hembusan nafas menthol menyeruak masuk kedalam lubang hidung Dinda.


Alan tiba-tiba mengangkat satu tangannya, Dinda memejamkan matanya, saat melihat tangan yang mengayun lemah dihadapannya itu sudah terangkat,


Sedikit saja dia menyakitiku, aku tidak akan memaafkannya. Batin Dinda.


Namun tanpa diduga, tangan yang mengayun itu kini berada di sampingnya, menyelipkan anak rambut miliknya dengan lembut.


Dinda terkesiap, kedua netra mengerjap. Menyadari perlakukan dari Alan akan membuat hatinya kembali lemah, dan dia tidak ingin itu terjadi.


"Lebih baik aku keluar,"


Dinda memutar tubuhnya, dengan tangan yang sudah berada di handle pintu.


"Sedikit saja kau bergerak keluar, aku tidak akan segan menyakitimu!" ujar Alan dingin.


"Kau fikir aku takut padamu? Lalu, apa yang akan kau lakukan jika aku keluar dari sini? Pacarku tidak akan diam saja, dia akan membuat perhitungan denganmu, atau kau akan membunuhku saat ini juga?"


"Kau fikir aku takut pada pacarmu itu." Cibirnya kemudian.


Aku akan mengikuti permainanmu, bodoh.


Grep


Kedua tangan Alan kini berada di bahunya, dengan paksa Alan memutarkan tubuh Dinda hingga kembali menghadap ke arahnya.


"Kali ini aku tidak main- main, aku akan membuatmu menyesal karena pernah mengenalku!"


Dinda mendorong dada bidang yang kokoh itu dengan keras, "Tidak perlu menunggu nanti, saat ini juga aku menyesal pernah mengikuti mu, menjadi penguntit yang melakukan cara apapun agar bisa melihatmu, walau dari jauh! Dan aku menyesal karena menyukaimu yang bodoh ini." ujarnya dengan suara lantang dan mendorong tubuh Alan menjauh.


Namun Alan terlebih dahulu menarik tengkuknya, hingga dia mendongkak kearahnya dan melu mat bibirnya dengan rakus, dengan tangan satu merekat dipinggangnya.


"°Emmmmpphh..., hentikan!" gumam Dinda disela lu matan rakus dengan lidah milik Alan yang memaksa masuk dan menerobos paksa, dengan gigitan kecil pada bibir Diñda yang tidak juga terbuka.


Semakin ingin menolak, semakin berbanding terbalik dengan reaksi yang di lakukan tubuhnya, hingga indera perasa itu kini sudah berada didalam sana, mengobrak-ambrik seluruh bagian tanpa terlewati.


Lum atan rakus yang Alan berikan lama-lama berubah menjadi sangat lembut namun juga menuntut. Memegang tengkuknya dengan kedua tangan yang dia selipkan dibagian belakang telinganya. Semakin lembut dan membuatnya terbuai.


Seluruh darah terasa mendesir, kala sentuhan Alan membuatnya lupa akan tujuan membuatnya menyesal. Kemarahan seakan menghilang dengan sendirinya. Hingga kedua tangan saling bertaut.


"Jangan pernah mencoba pergi dari sini." gumam Alan saat melepaskan pautan nya.


Nafas keduanya saling berburu, dengan dada yang turun naik, sesuatu yang tidak dapat dia kendalikan. Nalarnya hilang begitu saja. Sedetik kemudian, Dinda baru sadar dengan apa yang dia lakukan, hatinya sendiri yang berkhianat.


"Kau akan mendapat masalah besar dari pacarku!!"


Dinda mendorong dada bidang Alan lalu dia dengan cepat berhambur keluar dari ruangan itu. Dinda berlari masuk kedalam ruangan bertuliskan women's toilet.


Dia masuk kedalam satu bilik toilet dan berdiam diri disana. Bodoh, apa yang kau lakukan Dinda. Batin Dinda.


Sementara Alan merasa bodoh, entah dari mana dorongan kuat Alan membuatnya melakukan hal yang bahkan belum sempat terjawab.


Flashback on


Setelah kepergian Leon dari ruangannya, Alan menghubungi seseorang.


"Berikan informasi mengenai Leon hari ini,"


"Hari ini bos?"


"Aku tidak akan mengulangi perintahku!"


Tut


Alan melirik jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya. Jam makan siang telah usai, bahkan sudah lewat lebih dari 30 menit, namun tanda-tanda kehadiran Dinda belum ada juga.


Begitupun dengan seseorang yang diperintahkannya. Membuat Alan bertambah gusar, belum lagi masalah lainnya yang harus dia urus, semua pekerjaannya yang menguras habis fikirannya.


Dia kembali mendudukkan tubuhnya di kursi kebesarannya, mencoba mengalihkan perhatiannya pada setumpuk berkas yang berada di meja kerjanya.


Dreet


Dreet


"Maaf bos, aku baru mengirimkan informasi mengenai Leon, Dia orang kita. Yang tentu saja kita juga yang mengamankan data-data kita sendiri, Yang hari ini kita mencoba membobolkan pengamanan kita sendiri, terutama Leon,"


"Kau terlalu banyak bicara! berikan hasilnya hari ini juga." sentak Alan.


"Aku sudah mengirimkan nya."


Tut


Alan memutuskan sambungan telepon, lalu memeriksa, pesan masuk berisi informasi tentang Leon, dan diantara kegiatan hari ini miliknya, tidak ada satupun kegiatan Leon bertemu dengan Dinda, di hari ini.


"Kurang ajar!" gumam Alan.