
"Gila kau Le, kau tahu Tasya itu istri orang!" tukas Alan dengan kesal.
"Aku pun sudah bicara seperti itu padanya, tapi sepertinya dia tidak mendengarkanku."
Alan melemparkan bolpoin tepat pada wajahnya, dia tak sempat menghindar, hingga bolpoin itu mengenai keningnya.
Dia hanya meringis, tanpa suara yang keluar dari mulutnya.
"Kalian gak tahu yang terjadi sebenarnya, kalian tahu tidak, Erik yang menuduh Tasya berselingkuh denganku, dan lebih parahnya lagi dia menuduh anak yang ada dalam kandungannya itu adalah anakku! Aku yang terseret dalam kemelut rumah tangga mereka, bukan aku yang sengaja masuk."
"Itu karena kau sok pahlawan, menghajar Erik hingga babak belur,"
Alan terperangah, "Sialan kau, kau tidak mendengar peringatan ayahku? Kita sedang diawasi, kau malah mencari gara-gara!"
"Aku tidak menggunakan senjata api, kau tenang saja! Aku sudah gantung senjata, alias pensiun," ujarnya dengan mendengus.
"Kecuali si bodoh ini!" ujar Leon melempar bolpoin yang dilempar Alan tadi ke arah Jerry.
"Aku menahan diri, agar tidak mengeluarkan senjata saat itu! Dan kau tahu rasanya seperti apa!" tukas Jerry.
Alan menggelengkan kepala nya, berulang kali. Namun fikirannya tertuju pada Tasya, wanita yang sudah dia anggap adiknya sendiri.
Alan beranjak dari duduknya, lalu dengan cepat dia keluar dari ruangan.
"Al ... mau kemana?" teriak Leon.
Namun Alan tak menjawab, dia terus berjalan keluar, masuk ke dalam lift, lalu turun ke area basement.
Alan masuk ke dalam mobilnya, dan melaju dengan cepat, membelah jalanan siang itu dengan kencang, sesekali klakson dia tekan dengan keras, berharap semua orang minggir dari hadapannya.
Dia masuk ke perumahan elite dan berhenti tepat di depan gerbang yang menjulang tinggi, kemewahan terlukis di sana, namun kebahagiaan sepertinya masih enggan menyertainya.
Setelah mematikan mesin mobilnya mati, Alan turun, security yang mengenalinya langsung membuka pintu gerbang, dan mempersilakan untuk masuk.
Setelah menunggu sesaat pintu terbuka, seorang maid terlihat mengangguk, lalu menyuruhnya untuk masuk.
"Silahkan Tuan, saya panggilan dulu Non Tasya."
Alan hanya mengangguk, dan dia mengikuti maid dengan masuk ke ruang tamu. Dan maid meninggalkannya disana. Namun Alan yang khawatir memilih untuk naik ke atas mengikuti maid tersebut.
Maid mengetuk pintu, memastikan suara sahutan dari dalam, namun tak jua mendengarnya, hingga ketukan kembali dicetuskan, kali ini lebih bertenaga daripada sebelumnya.
"Non... non Tasya. Buka pintu nya non! Ada yang nyariin non."
Hening.
Maid menoleh pada Alan, membuat Alan mendorong pintu dengan keras.
"Ada kunci cadangan?"
Maid mengangguk, namun anak kunci tersebut tidak bisa masuk ke dalam, karena ada anak kunci yang terpasang didalamnya.
"Minggirlah, aku akan mendobraknya."
Bruuk
Bruuk
Pintu terbuka seketika, dan Tasya sudsh terkulai lemas di tepi ranjang, "Astaga Non!"
"Tasya ... hei bangun Tasya!" Seru Alan.
Dia lantas menggendong tubuh Tasya dan membawanya masuk ke dalam mobil, Alan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Bertahan lah Sya!" gumam Alan dengan menatap Tasya dari spion.
Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan ruang UGD, seorang perawat mendorong blankar untuknya.
Mereka memindahkannya, dan membawa Alan masuk kedalam.
Terlihat Dokter Frans tang baru saja hendak masuk ke dalam ruangan UGD itu, membuat Alan bergegas menghampirinya.
"Om ... tolong lihatin temenku, dia baru saja masuk ke dalam."
Frans mengernyit, namun sesaat kemudian menganggukan kepalanya.
Setelah memastikan apa yang tengah di alami Tasya, akhirnya dokter Frans menghampirinya,
"Masuklah ke ruanganku, kita bicara di sana!"
Alan mengangguk, dia lantas mengikuti om Frans masuk ke dalam ruangannya.
Dokter Frans menghela nafas, sebelum berbicara,
"Om ...aku mohon, untuk kali ini serius lah!"
"Om kan belum mengatakan apapun!"kilahnya.
"Tapi sepertinya kau sudah bisa menebaknya, dia pasien Dokter Mariska, buaran dia memeriksa nya terlebih dahulu."
Brakk
Alan menggebrak meja, membuat adik dari bunda Ayu itu terperanjat kaget.
"Sialan, lantas untuk apa kau menyuruhku ke ruanganmu!"
Alan bangkit dan keluar begitu saja dari ruangan dr Frans, dan tentu saja dengan kekesalan yang membuncah.
Namun sorot matanya kini mengunci sosok yang menjadi penyebab semua masalah yang dihadapi Tasya.
Alan menghampirinya, "Gimana hah, puas kau?"
"Al...kau yang membawa istriku kemari?"
Bugh
Bugh
Alih-alih menjawab, Alan justru memukul wajah Erik yang masih terlihat babak belur akibat perkelahian yang baru saja terjadi.
"Kau memang bodoh Erik, dan kau menuduh sembarangan tanpa bukti!"