
"Baby Zi...." lirihnya dengan mengedarkan pandangan ke segala arah.
"Aku bodoh percaya begitu saja pada Leon."
Tasya berlari kesana kemari mencari Leon yang membawa bayinya, namun tidak juga menemukannya. Dia mulai menangis, dengan nafas memburu. Kesal, marah, menyesal dia rasakan.
"Leon ... kau kemana membawa anakku!"
Dia harus mencari bantuan, siapapun. Tasya mulai mencari kontak yang bisa dia mintai bantuan, melapor polisi tidak akan ditanggapi karena dia tahu kehilangannya harus menunggu 24 jam.
"Ka Alan, iya dia pasti tahu kemana Leon pergi!"
Dia mulai mendial nomor kontak Alan, tapi hanya dering yang terdengar tanpa ada jawaban. Dia mencoba menghubunginya lagi, namun Alan tidak mengangkatnya.
Fikirannya semakin kalut, dia terduduk setelah beberapa kali panggilannya diabaikan. Bingung harus mencari kemana lagi.
"Sya, sudah selesai? Maaf aku tadi harus pergi terlebih dahulu ke--"
Tasya berbalik, dia melihat Leon yang tengah berdiri dibelakangnya dengan menggendong baby Zi yang sudah membuka matanya.
Tasya mengambil baby Zi dengan paksa, kedua matanya menyalang pada Leon, dia memukul-mukul Leon dengan satu tangan, sementara tangan satu menggendong.
"Kau pergi kemana? Kau pergi begitu saja membawa anakku! Dasar kurang ajar! Harusnya aku tidak percaya padamu begitu saja,"
"Jangan seenaknya membawa baby Zi, kau gila apa?"
Tasya terus memarahinya, tanpa mendengar alasan yang belum terucap sama sekali.
"Kau jahat Leon, aku akan pulang," Ujarnya dengan pergi dari hadapan Leon begitu saja.
"Sya... tunggu, aku bisa menjelaskannya! Aku tadi...."
"Aku tidak perlu alasan apapun darimu!"
Tasya menghentikan taxi yang kebetulan lewat, tanpa berfikir lagi, dia masuk ke dalam taxi begitu saja.
"Jalan pak! Nanti saya tunjukan jalannya."
"Baik Non!"
Leon mengetuk-ngetuk kaca taxi, berharap dia bisa menjelaskannya terlebih dahulu.
"Sya...dengarkan aku dulu, ini tidak seperti yang kamu kira Sya."
Namun Taxi yang membawa Tasya melaju dengan cepat, membuat Leon tidak bisa mencegah apalagi mengejarnya. Dia kembali ke dalam mobil, dan mengikuti Taxi yang menbawa ibu dan anak itu. Leon merasa harus menjelaskan semuanya dengan benar, dia tidak ingin terjadi kesalah fahaman yang bisa membuatnya menjauh.
Baru saja merasa dia mulai tertarik pada Tasya, namun sudah terjadi kesalah fahaman, yang membuatnya bingung.
"Sepertinya Tasya memang marah besar, dia mengira aku membawa kabur Baby Zi." gumamnya dengan memukul stir kemudi.
Leon kehilangan jejaknya dipertigaan jalan, Taxi yang membawa Tasya menghikang begitu saja, membuatnya semakin frustasi.
"Sial, kemana Taxi tadi!" ujarnya kesal.
Seketika dia memutar arah, dia memilih jalan lain.
Sementara Tasya kembali menangis dengan memeluk erat Baby Zi yang menatapnya, kedua mata bulat yang belum mengerti apa-apa itu membuatnya sedikit tenang.
"Mami tidak bisa percaya siapapun Nak, apa jadinya Mami jika kamu tidak ada," ucapnya berlinang air mata.
"Non, kita sudah berputar dijalan ini dari tadi, bisakah saya tahu tujuannya kemana?" ujar supir taxi yang membuat Tasya kembali sadar.
"Maaf pak, saya lupa," ucapnya dengan menyeka air mata dengan ibu jarinya. "Jalan cempaka ya pak! ucapnya lagi.
Supir itu mengangguk, dan keluar dari jalan yang sudah dia lalui 2 kali dan menuju jalan yang sudah di katakan Tasya.
Hingga mobil Taxi itu memasuki real estate dimana rumah Tasya berada, mobil berhenti tepat di depan gerbang hitam yang menjulang tinggi, Tasya keluar dari Taxi setelah memberikan beberapa lembar pada supir itu.
"Sya ... biarkan aku menjelaskan semuanya, kamu salah faham, aku tidak membawa kabur baby Zi, itu tidak akan mungkin aku lakukan Sya!"
Tasya menoleh, "Pergilah Leon, aku tidak mau mendengar apapun dari mulutmu, aku kecewa padamu!"
Seorang security menahan Leon agar tidak masuk ke dalam pekarangan rumah, dia menutup pintu gerbang dengan cepat, sementara Tasya sudah masuk ke dalam rumah.
Leon berteriak memanggil Tasya, namun tidak sama sekali di gubrisnya.
"Aaahkk...." teriaknya dengan memukul gerbang yang baru saja tertutup, dan Leon tidak berhasil menjelaskan apapun.
Dia kembali ke dalam mobil, membuka bagasi dan mengeluarkan stroller berwarna biru navy itu dan beberapa bungkusan dari kursi belakang.
Dia memanggil security yang sudah masuk ke dalam pos penjagaan nya, dan memberikan semua barang padanya.
Security itu menerimanya, dan dia membawanya masuk ke dalam rumah, sementara Leon hanya bisa berdiri dibelakang gerbang, masih berharap Tasya keluar dan mengizinkannya menjelaskan semuanya.
Setelah menunggu beberapa lama, Leon akhirnya menyerah, dia pun masuk ke dalam mobil dan berlalu dari sana dengan kecewa.
"Aaahkkk!!" Leon kembali memukul stir kemudi dengan marah.
Matanya tertuju di bawah kursi, sepatu mungil milik baby Zi yang tertinggal. Dia mengambilnya dan menggenggamnya.
"Maafkan uncle, membuat ibumu salah faham, baby Zi." lirihnya.
.
.
Lron kembali ke apartement miliknya sendiri, dan menghempaskan tubuhnya begitu saja di sofa. Memandangi langit-langit ruangan tamu dengan sepatu baby Zi yang maaih dia genggam.
Alan masuk begitu saja, dan melemparkan bantal sofa ke arahnya.
"Apa yang baru saja kau katakan Leonard?" serunya membuat Leon kaget.
"Apa maksudmu? Kau tidak mengerti."
Alan mendecih, "Setelah berhenti dari bisnis senjata, kau beralih menjadi penculik anak?"
Leon menoleh pada Alan dan berdecak, sementara Alan mendaratkan pantatnya disampingnya.
"Bagaimana aku bisa hidup tenang dengan istriku nanti, jika semua orang memberikanku masalah terus menerus."
Leon menghela nafas, "Berikan nomor ponsel Tasya padaku, aku harus menjelaskan sesutu padanya, dia hanya salah faham, untuk apa aku menculik bayi, siapa yang akan mengurusnya, kalau aku mau, aku akan menculik ibunya saja, mengurus seorang wanita dewasa lebih mudah dari pada mengurus seorang bayi." ungkap Leon yang membuat Alan menggelengkan kepalanya.
"Apa yang terjadi?"
"Berikan nomor ponselnya!"
Alan kembali bangkit dari duduknya, "Kau temui dia langsung saja, dia memintaku untuk tidaak memberikan nomor ponselnya pada mu."
Setelah mengatakan hal tersebut, Alan kembali keluar dari apartemen Leon, membiarkan Leon kembali seorang diri.
"Bagaimana aku menjelaskan padanya, dia saja tidak membiarkan aku masuk ke dalam rumahnya! Tidak memberikan nomor ponselnya juga, rumit sekali." gumamnya dengan menutup wajah dengan bantal sofa.
Sementara Alan keluar dari apartement milik Leon, dan menghubungi kembali nomor Tasya.
'Halo kak?'
'Berikan kesempatan untuknya menjelaskan semuanya padamu!'
'Tapi kak, aku tidak mau, aku terlanjur kecewa padanya.'
'Percaya padaku, dia tidak mungkin melakukan hal seperti itu tanpa alasan.'
Alan kembali menutup sambungan telepon tanpa mendengar jawaban Tasya, ucapannya bagai perintah yang memang harus dilakukan.