Assistant Love

Assistant Love
Sembunyi di belakang pohon



Entah apa yang dirasakan Alan yang jelas dia tahu siapa yang layak dihabisi dan siapa yang layak diberi ampun. Seperti prinsip hidupnya selama ini, lalu mengenai Akira? Entahlah, hati nya masih tertutup kabut, yang pasti dia tidak akan membiarkan Leon menemukannya.


Dinda yang masih sering mengikuti diam-diam Alan, entah kenapa, padahal jika dia mau... dia bisa menemuinya langsung, toh mereka setidaknya sekarang saling mengenal, Ya meskipun hanya gadis bodoh itu yang tahu lebih banyak, sementara Alan tidak peduli sama sekali.


Seperti hari ini, saat Alan dan Farrel selesai meeting dengan klien di cafe tak jauh dari kantor. Dinda kembali mengikuti Alan. Bodoh


Drett


Ponsel Alan yang dalam keadaan silent bergetar, tanda pesan masuk didalamnya. Alan meraih ponsel yang dia letakkan diatas meja, dia Membuka pesan masuk yang ternyata sebuah foto yang dikirim oleh Mac.


Alan memperhatikan foto itu, lalu dia tergelak hingga membuat meja tergeser. Dan beruntung cafe itu tengah sepi,


"Heh... kau gila?" Ujar Farrel yang tengah memeriksa berkas yang baru dibahasnya.


"Maaf, aku tidak sengaja."Ucap nya.


"Untung saja berkas ini berjarak dengan kopimu, kalau tidak, habis kau!!" Sarkas Farrel.


"Maaf tuan muda!!" cibir Alan.


Dia melanjutkan kembali menatap benda pipih itu, menunggu Mac yang tengah terlihat online dan mengetik dalam aplikasi sejuta umatnya,


Dia terus mengamati foto yang dikirim oleh Mac yang entah dapat dari mana. Mac memang juara.


Seorang gadis yang tengah bersembunyi di belakang pot bunga besar yang hampir menutupi seluruh tubuhnya, dengan kaca mata yang juga hampir menutupi seluruh wajahnya. Bodoh


"Kenapa sih...?" Tanya Farrel yang heran karena dia masih saja tergelak tanpa suara hanya karena melihat ponsel.


"Gak ada apa-apa!" Ucapnya datar.


Farrel mengernyit, namun tak juga menoleh kearahnya, "Dasar aneh ...kalau gitu kita pergi dari sini!"


"Kau duluan saja, aku masih harus mengurus sesuatu."


Farrel bangkit dari kursinya, "Terserah."


Farrel yang keluar terlebih dahulu pun hanya melewati Dinda yang bersembunyi dari balik sebuah pot besar disamping pintu masuk Cafe. Dia bahkan tidsk menyadari jika dibelakang pot besar itu ada seseorang. Dia tidak bisa melihat siapa-siapa selain Metta, kekasihnya, hmm


Drett


Pesan baru dari Mac,


Kau yakin tidak ingin melakukan sesuatu padanya?


Alan mengetik balasan untuk pesan yang masuk dari Mac.


Tidak usah, biarkan saja!


Kau yakin?


Ya


Singkat, padat dan jelas. Lalu dia masukkan kembali ponsel miliknya kedalam saku jas. Dengan menggunakan ekor matanya dia menatap Dinda yang masih dengan kaca mata bertengger di pangkal hidungnya. Bodoh.


"Hei kau! kemari lah...."


Alan tiba-tiba memanggil waiters yang melintas didepannya.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" Ucap waiter itu saat menghampiri nya.


"Hem...aku ingin kau melakukan 1 pekerjaan untukku." Alan mengeluarkan sesuatu dari saku belakang celananya.


"Apa itu Tuan? Kalau saya bisa, saya akan melakukannya, selama itu tidak membuat saya dipecat dari pekerjaan ini." kelakarnya kemudian.


"Kau menyapulah diluar sana, dan nanti kau akan melihat tugas apa yang aku berikan padamu."


Dengan anggukan kepala nya dia mengerti dan yang jelas pekerjaan yang diberikan Alan tersebut tidak melanggar,


Lalu Waiters itu berjalan kearah keluar, membawa sapu dan mulai menyapu, dengan mata yang beredar dia mulai mencari tugas apa yang diberikan padanya, namun sedetik kemudian matanya melihat sosok Dinda yang tengah bersembunyi, kemudian dia menghampiri Dinda.


"Maaf Nona, apa Nona sedang mencari seseorang?"


Dinda gelagapan karena ketahuan, tanpa suara dia menggelengkan kepalanya seraya menempelkan jari telunjuk pada bibirnya,


"Kalau begitu pergilah!"


"Suuthhh...suthh... diam saja!"


"Jika anda tidak mempunyai uang, pergilah! jangan berbuat aneh-aneh cafe ini,"


"Ti--tidak kok! Aku tidak melakukan hal yang merugikan, aku han--hanya sedang menunggu seseorang disini." Ucapnya gelagapan.


Waiter itu pun terus berusaha mengusir Dinda, dengan mengibas kan sapunya, "Maaf Nona, untuk kenyamanan para pengunjung lebih baik anda pergi saja,"


Dinda mulai terserah panik, "Siapa juga yang mengganggu kenyamanan pengunjung, jangan sembarangan yah," ujarnya berkacak pinggang.


"Sudah lah Nona, jangan sampai membuat kesabaran ku hilang!" kata waiter seumuran Andra, adiknya Metta.


"Ka--kau...." tunjuknya.


"Sudah sana jika Nona tidak bermaksud masuk, lebih baik pergi. Atau saya akan menyuruh security untuk menyeret Nona!" imbuhnya lagi.


Dinda berkacak pinggang kembali , "Awas yah...!!" ucapnya lalu membalikkan tubuhnya dan berlalu dari sana.


Dirasa Dinda sudah berlalu jauh, waiters itu pun kembali menyapu, "Haduh...tugas yang diberikan padaku itu apa sih, aku tidak menemukannya!"


Karena merasa cukup lama berada diluar, dia kembali masuk dan menghampiri Alan kembali.


"Maaf Tuan, saya tidak bisa menemukan tugas yang anda berikan, tugas seperti yang tuan katakan sudah saya lakukan, tapi saya tidak menemukan apa-apa selain seorang gadis yang sedang bersembunyi!"


Alan mengangguk, "Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik, terima lah hadiah kecil ini," ujar Alan dengan menyelipkan amplop kecil berwarna kuning kedalam apron yang dikenakannya.


"Tapi Tuan saya kan tidak melakukan apa-apa." mengeluarkan kembali sesuatu itu dari dalam saku apronnya.


"Pergilah, dan bawa amplop itu sebelum saya berubah pikiran." ujarnya dengan mengaduk kopi yang baru saja dia pesan.


"Terima kasih Tuan,"


"Hm...kau boleh pergi."


Lalu Alan menatap kearah luar dimana Dinda sebelumnya bersembunyi, dia bergeleng kepala nya. Tak lama kemudian dia mendial salah satu kontak diponselnya.


"Ada tugas untukmu," ucapnya datar, dan langsung mematikannya begitu saja.


Setelah menghabiskan kopinya, dia pun bangkit dari dudukdan keluar dari cafe, berjalan seperti biasa tanpa ekspresi dengan mata tajam bak seekor elang.


Sementara waiters itu terbelalak dan hampir pingsan setelah membuka amplop pemberian Alan.


"Astaga...." ucapnya namun segera menutup mulutnya sendiri.


"Banyak banget, ini sih gaji aku 2 bulan kerja di sini!" dia berjingkrsk seraya ingin melompat karena senangnya.


"Terima kasih orang baik," imbuhnya lagi.


Sementara Dinda masuk kedalam gedung divisi umum dengan tersungut-sungut. Bahkan dia mengabaikan sapaan security yang setiap pagi disapanya, berjalan terus tak peduli orang yang melintas dan tersenyum padanya. Jangan ditanya, aku sedang kesal.


.


.


Epilog


Waiters itu memang tidak paham akan tugas yang diberikan Alan, karena memang pekerjaan itulah yang biasa dilakukannya setiap hari, semua karyawan akan memperingatkan orang-orang aneh semacam Dinda, bahkan mempunyai kewajiban menjaga kenyamanan pengunjung lainnya. Tapi dia tidak menyadari bahwa itulah tugasnya.