
"Mac kau bicara sama siapa?"
Mac menoleh, "Pada bosku!"
Dinda mengambil ponsel dari Mac, "Biarkan aku bicara padanya," setelah itu dia tempelkan ditelinganya, "Halo ... untuk apa kau terus menelepon Mac! Kau sudah tidak menyimpan nomor ponselku lagi? Hem ...."
Hening
Tidak ada suara dari ujung telepon, yang terdengar hanya suara angin yang samar-samar terdengar, ditambah suara nafas lembut.
Deg
Deg
Dinda merasa degup jantungnya semakin berirama, sampai ocehan yang ingin dia ucapkan hanya sampai di tenggorokannya.
'Hai... apa kabar? Kau hidup baik selama ini?'
Kali ini Dinda yang tak mampu mengucapkan satu patah kata pun, bibirnya tiba-tiba kelu, dan otaknya seakan tak mampu lagi mencerna dengan baik, suara itu, suara yang amat dia rindukan.
Suara yang mampu menjungkir balikkan dunia nya.
'Aku tidak bisa mendengar suaramu! Apa ponsel milik Mac mati?'
'Kenapa kau hanya peduli pada Mac?' lirihnya.
Hening kembali
Suasana bandara international terbesar di tanah air sedang panas-panasnya, dengan beribu orang yang hendak pergi dan juga datang itu terbilang cukup ramai, namun ditengah keramaian, Dinda seolah ada dalam ruangan hampa, hanya ada suara dan juga angin.
'Ternyata benar ponselnya rusak yaa! Kalau begitu aku tutup yaa!'
Dinda tersungut, 'Masih saja tidak pernah peka! gumamnya pelan,'
Alan mendengarnya, dia mengulum senyum, dan pura-pura tidak mendengarnya, "Halo ... hallo,"
Kembali hening
Untuk berapa saat tidak ada pembicaraan diantara mereka, keduanya terdiam dengan segala ungkapan di hatinya masing-masing.
'Aku merindukanmu!' ujar Alan lembut nyaris tidak terdengar.
"Gimana sih Mac, ponselmu rusak!" ucap Dinda memberikan kembali ponsel nya pada Mac.
Mac tersenyum kecut, dan kembali berjalan terlebih dahulu.
"Huuh ... sudah sampai di sini saja! Kau baru meninggalkanku!" gerutu Dinda.
Dinda mengedarkan pandangan, melihat ke segala arah dan melihat beberapa orang berpakaian hitam yang berjalan ke arahnya.
Karena mulai takut, dia berbalik dan pura-pura tidak melihatnya, mereka mau apa? jangan-jangan mereka musuh-musuhnya Alan, tapi apa hubungannya denganku. Mereka tidak tahu tentangku.
Seseorang dari mereka berdiri tepat di belakangnya, "Mau sampai kapan berdiri begitu?"
Deg
Seketika Dinda berbalik, dan dia pun langsung menabrak pria itu, "Al ...?"
"Hmm ... ini aku!!"
Dinda melipatkan kedua tangannya di depan dada, "Mau apa kau kemari? Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi!"
"Siapa bilang?"
"Aku yang bilang, dan kau juga menyetujuinya!"
"Begitu yah! Hm ... padahal aku kemari sengaja menjemputmu, tapi ternyata Kekasihku itu tidak lagi mencintaiku, apa boleh buat!" Alan berbalik dan kembali berjalan, Lalu menyunggingkan bibirnya.
"Dasar sialan, dia tidak pernah berubah sedikit pun! Aku fikir dia akan membujukku untuk kembali padanya." gumamnya kesal.
Seketika 3 orang berpakaian hitam itu menghampirinya, dan memaksanya untuk ikut.
"Hei ... kau sudah gila!" seru Dinda menginjak kaki salah seorang dari mereka,
"Jalan saja! Dan kita tunggu mereka disana."
Tak lama kemudian Leon melajukan mobilnya, dengan Alan yang duduk di sampingnya, sementara Dinda, dibawa paksa masuk kedalam mobil yang dikendarai oleh Jerry, dengan penjagaan dari ke 2 pria yang mengapitnya, dan 1 pria masuk ke pintu depan.
"Hey ... lepaskan aku!! Kalian gila yan, aku bisa berteriak."
"Teriak saja! Mobil ini dilengkapi dengan peredam suara, kau bisa teriak sekencangnya!"
Ujar Jerry asal bicara.
"Siapa kau? Katakan pada bos kalian, aku membencinya!"
Jerry memang sempat beberapa kali bertemu Dinda, namun sepertinya Dinda sepertinya tidak mengingatnya, "Katakan sendiri saja Nona!"
Jerry kemudian melajukan mobilnya, menyusul mobil yang dikemudikan Leon. Tanpa Dinda tahu kemana mereka akan membawanya.
Dinda urung berteriak, karena akan percuma saja jika mobil yang membawanya itu dilengkapi oleh alat peredam.
Namun dia terus memukuli kedua pria yang berada disampingnya.
"Enyah kau dari sini! Bilang padanya aku benci, dan aku menyesal karena telah kembali kemari."
"Aku menyesal menolak pria baik hati hanya karena urusanku dengan bos kalian belum selesai. Aku sangat menyesal." ujarnya dengan terus memukuli.
Sampai kedua pria itu meringis menahan tubuhnya yang sakit terkena pukulan terus menerus, begitu juga Dinda yang mulai kelelahan sendiri.
Lelah menggunakan kedua tangannya, dia kemudian menggunakan tasnya untyk memukul kembali, "Bos ... aku sudah tidak tahan!" ujar satu pria di sisi kanannya pada Jerry.
Jerry hanya menyunggingkan bibirnya, "Al ... kau harus lihat ini! Gumamnya pada headset yang menempel di telinganya.
Beberapa jam kemudian mobil berhenti di sebuah tempat, tempat yang cukup sepi dan lenggang tanpa orang, kedua pria turun terlebih dahulu dan menunggu hingga Dinda turun, namun gadis bermata coklat itu tetap pada pendiriannya, dia tidak mau turun sama sekali.
"Suruh bos kalian menemuiku! Apa dia sekarang berubah menjadi pengecut!"
"Itu karena kau menolaknya nona, hingga bos kami menjadi sangat marah dan melakukan hal ini."
Dinda mengedarkan pandangannya, "Apa Alan membuangku disini, apa aku akan disekap dan dibiarkan mati disini." gumamnya.
Jerry yang mendengarnya menoleh ke belakang, "Itu tergantung kemurahan hari bos kami, kalau dia mau dan mengampunimu, dia akan melepaskanmu! Tapi jika tidak, kau akan berakhir disini."
Dinda terhenyak, mana mungkin Alan setebal itu padanya, apa dirinya sudah tidak berarti lagi baginya, kisah cinta macam apa yang dia rasakan. Dari awal sampai sekarang, rasanya memang tidak mudah digapai.
Pelan namun pasti, air matanya turun drastis, mengingat Alan tidak lagi peduli padanya, selama ini merasa berjuang sendiri dan melelahkan.
Akhirnya Dinda berangsur keluar tanpa dipaksa, mulai menerima dan berada di fase sudahlah, jika aku berakhir disini, tapi aku tidak akan pernah memaafkanmu Al ... sampai kapanpun, kalau bisa 7 turunan keluargamu, aku tidak akan pernah memaafkanmu.
Kedua pria itu membawa Dinda masuk ke dalam gedung yang nyaris tidak ada siapa-siapa, dan mendudukkannya disebuah kursi.
"Siapkan dirimu nona! Kami pergi dulu."
Dinda menatap nyalang kedua pria itu, lalu menendang kursi kecil ke arah mereka dengan marah, "Pergilah kalian, aku juga tidak sudi melihat kalian, apalagi melihat bos kalian!!"
Alan keluar dari mobil, dan berjalan masuk, sementara Leon menghampiri Jerry, "Kau membuat kesalahan Jerr, kau tidak mematikan telponmu tadi.
Jerry menatapnya, "Dia mendengarnya?"
"Hem ... dia pasti marah!!"
"Biarkan saja, ini pasti seru!"
Leon berdecak, "Kau pengacau Jerry!!"
Alan masuk kedalam ruangan, dan melihat ke arah Dinda, "Jadi siapa pria baik hati itu?"
Dinda terperangah, dan bangkit dari duduknya, "Bukan urusanmu lagi! Kau mau apa kemari dan menemuiku? Bukankah kau ingin mengurungku disini?"
"Apa dia lebih baik dari ku?"
"Kalau iya memangnya kenapa? Apa kau akan membunuhnya? Kau juga meninggalkanku? Kenapa kau marah?"
"Katakan!! Siapa dia??"