Assistant Love

Assistant Love
Bertemu masa lalu



Kedua maniknya membulat lalu membalikan tubuhnya hendak pergi.


"Tunggu...!"


Dinda menghentikan langkahnya, menghela nafas dengan ujung bibir yang ditariknya melengkung, lalu berbalik kembali.


"Benarkan, kau Akira! Sudah kuduga...." ucapnya saat melihat Dinda berbalik kembali.


"Hai ... Davis?"


"Tepat sekali, kau masih ingat aku?" ujar Davis.


Iya, tentu saja aku mengingat mu. kau yang membuat aku harus pergi dari rumah, dan tinggal di kota ini sendirian.


"Hmm...." gumam Dinda.


"Kau tidak berubah juga ya, dari dulu sampai sekarang."


"Benarkah? Aku bahkan lupa aku pernah mengenalmu dulu,"


Davis tergelak, "Kau benar-benar tidak berubah."


"Oh iya, aku sempat mencarimu kemana-mana, bahkan kerumah mu. Kata ibu mu kau pergi dari rumah karena ingin menenangkan diri, apa itu karena aku?" ungkapnya lagi.


"Benarkah kau mencariku? Untuk apa kau mencariku?"sahut Dinda


Pelayan datang melewati mereka, Dinda lantas menghentikannya, dan mengambil gelas berisi minuman, dia tidak memperhatikan minuman apa yang diambilnya. Kemudian meminumnya sedikit, minuman apa yang aku ambil ini.


Begitu juga Davis yang mengambil satu gelas dengan warna yang sama dengan nya.


Dia pasti mencariku karena merasa menyesal, dan dia ingin memintaku kembali.


"Ya, aku ingin meminta maaf padamu. Karena aku, kau sakit hati!"


Benarkan! Dia menyesal, bagus deh...


"Benarkah kau ingin aku memaafkanmu?"


"Tentu saja, apalagi sebentar lagi aku akan menikah, aku tidak ingin merasa bersalah pada seseorang dan membuat hidupku tidak tenang,"


Dinda tersentak, dugaannya salah, Davis mencarinya bukan karena menyesal karena memperlakukan dirinya dengan tidak baik, tapi karena dia akan menikah. Dan dia tidak ingin merasa bersalah karena telah menyakitinya, memberi harapan palsu dengan janji-janji manis.


"Benarkah? Kau akan menikah?"


"Kau kaget?"


"Tidak, aku tidak kaget. Mana mungkin aku kaget, aku sudah melupakan masa lalu." ujarnya dengan mengerdikkan bahu.


Tiba-tiba seseorang datang menghampiri mereka, Dinda menatap perempuan cantik bak seorang model dengan rambut coklat bergelombang, hidung mancung dan bunir merona itu mendekat ke arah Davis.


Cantik sekali


"Sayang, kau disini rupanya? Aku mencarimu tadi...." ujarnya dengan manja.


Davis merengkuh pinggangnya, " Aku bertemu dengan seorang teman lama, bukan... bukan teman, hanya sebatas mengenal saja."


Dinda mendecih, perempuan cantik itu beralih menatapnya, lalu tersenyum.


"Oh iya, Dinda kenalkan ini calon istriku. Sayang kenalkan dia Dinda," ucap Davis.


Perempuan itu mengulurkan tangan ke arahnya, Dinda menyambut uluran tangan itu dengan membalas senyuman pula.


"Maureen...." ujarnya dengan bibir melengkung penuh.


"Davis sudah memberi tahumu namaku bukan?" ujar Dinda dengan ketus


"Kami akan menikah sekitar satu bulan lagi!"


"Aku harap kanu tidak menjadi pengganggu diantara hubungan kami." ujarnya kemudian menohok Dinda.


"Maaf, kau salah ... aku tidak berniat seperti apa yang kau katakan. Aku juga akan menikah dalam waktu dekat." jawab Dinda, tanpa berfikir dulu.


"Oh iya? Selamat juga yaa," ujar Maureen.


"Ada juga yang mau dengan mu!" gumam Davis, yang masih terdengar walau sedikit pelan.


Dinda mendelik ke arah Davis, ingin rasanya dia menyiramkan minuman itu tepat pada wajahnya.


Apa dia menyapa ku hanya ingin mengatakan bahwa dia akan menikah. Bukan karena dia masih menyukaiku. Dasar bodoh.


"Kau tahu kami akan berbulan madu ke negara P," ujar Davis yang sekarang memeluk Maureen.


Dinda menatap nya jengah, "Wow, keren dong! aku juga akan pergi berbulan madu tapi ke negara B, dan jauh lebih indah dari pada negara P."


"Benarkah? Memangnya kau sudah tahu seperti apa disana!" cibir Davis padanya.


Dinda berdecih, sialan dia menyepelakanku.


Dinda tertawa terpaksa, "Tentu saja aku tahu!"


"Kalian tunggu saja undangan dari ku," ujarnya kemudian.


"Oke dengan senang hati aku akan datang." ucap Davis yang semakin merengkuh Maureen.


Membuat Dinda semakin jengah dan ingun segera pergi dari sana, ujung matanya mencari Alan yang tak kunjung mencarinya,


Iihh, dia malah asyik mengobrol dengan mereka. batin Dinda saat matanya mengunci sosok Alan yang tengah berbincang dengan Arya dan juga Fierro.


Dinda terpaksa meladeni obrolan tidak penting dari orang yang tidak penting lagi dalam hidupnya. Berbagai pertanyaan seputar kehidupannya yang di jawab hanya dengan,


Oh


Iya


Tidak


Masa


"Ngomong-ngomong mana calon suamimu, aku tidak melihatnya dari tadi, jangan bilang kau membual ya Akira," ujar Davis yang tidak hentinya menohok.


Dinda tergelak, "Kenapa aku harus membual padamu, tidak penting! Lagi pula calon suamiku itu sangat sibuk, bukan seorang pria yang hanya mengurusi hal-hal remeh dan bergosip dengan pasangannya."


"Kau menyindir ku?" pungkas Davis yang terlihat kesal karena ucapan Dinda.


"Upps sorry, memangnya kau pria macam itu? Aku tidak bermaksud menyindir, tapi kalau kau merasa begitu ... yaa maaf!" ujar Dinda puas.


Dinda menoleh, dan merasa bersyukur juga kaget dengan kehadiran tiba-tiba Alan.


"Sayang, bagaimana? urusanmu sudah selesai semua kan?" ucapnya dengan melingkarkan tangan dipinggang milik Alan.


"Kau mabuk?" bisik Alan.


"Sayang, kenalin ini teman yang baru saja aku kenal, ini... siapa namamu tadi? oh Davis iya ..dan ini calon istrinya, Maureen." tunjuk Dinda dengan penuh penekanan.


"Dan ini calon suami ku, dia sangat sibuk! Jadi baru bisa menghampiriku sekarang," ucapnya dengan terkekeh.


Alan tercengang, begitu juga Davis dan Maureen yang terpana melihat sosok Alan yang tegap dan tinggi.


Apa yang sekarang kau mainkan Dinda, astaga


"Sayang ayo dong, mereka berdua menanyakan mu dari tadi, ayo ulurkan tanganmu." Dinda melingkarkan tangannya pada lengan Alan dan menaruh dagunya pada bahu Alan.


"Mereka penasaran sekali bagaimana calon suamiku ini." ucapnya dengan suara yang sengaja dibuat manja.


Astaga, kau berulah lagi, dan membuat aku semakin bodoh Dinda.


Davis mengulurkan tangannya, Alan penjabatnya tanpa suara, Sedangkan Maureen menatap Alan tanpa berkedip. Dinda melihatnya dan menarik tipis bibirnya.


"Awas matamu melompat keluar Maureen, ingat kau akan segera menikah dan berbulan madu di negara P." ujar Dinda yang tidak merubah posisinya,


Davis terlihat kesal menoleh pada Maureen yang tengah gelagapan, lalu menarik pergelangan tangannya dan berlalu dari sana begitu saja.


Membuat Dinda tersenyum puas melihatnya,


"Sukurin, makanya jangan main-main dengan ku." gumamnya.


"Kau berulah lagi Akira?" ujar Alan datar.


Dinda gelagapan, dia menolehkan kepala nya namun tak melepaskan tangannya pada lengan Alan,


"Mereka duluan yang menggangguku, mengatakan hal-hal yang membuatku ingin muntah, mengatakan tidak ada yang mau denganku! Mereka bahkan menuduhku pengganggu di hubungan mereka. Aku tidak terima, ya aku balas saja, lagi pula siapa suruh dia melihatmu begitu, tanpa berkedip." ucapnya panjang lebar dengan mencebikkan bibirnya.


Alan bergeleng kepala, dan menghembuskan nafasnya. "Kau bilang apa tadi?"


"Aku ingin membalasnya,"


"Bukan itu tapi sebelumnya,"


"Dia melihat kearahmu tanpa berkedip,"


"Bukan itu,"


"Menuduhku menjadi pengganggu di hubungan mereka!"


"Astaga, Dinda!" Alan memejamkan matanya.


"Mereka duluan yang menggangguku, aku jadi ingin membalasnya." sela Dinda.


Alan menyorotinya,


"Yang mana yang kau maksud, aku lupa." ujar Dinda terkekeh.


"Kau mengatakan aku calon suamimu!" ucap Alan dengan penuh penekanan.


Dinda melepaskan tangannya yang sedari tadi melingkari lengan Alan, lalu menautkan jari jemarinya sendiri.


"Oh, yang itu..."


Hei, kenapa, kenapa melepaskan tangan segala. Aku kan tidak marah! bodoh. batin Alan.


"Memangnya siapa mereka?"


Dinda berbalik dan mengambil hidangan yang berupa buah, lalu memakannya perlahan.


"Bukan siapa-siapa, tidak penting juga!" ujarnya sambil mengunyah.


"Jawab aku atau aku akan menyeretnya ke sini untuk menjawab pertanyaanku!" ancam Alan.


Dinda menoleh kembali, "Lakukan saja, dia juga tidak mengakui ku, buang-buang energi saja melakukan hal itu!" ketus Dinda.


Dia memang kesal, pasalnya Davis yang dulu menyatakan cinta padanya, cinta pertamanya, yang berjanji akan terus bersama. Namun ternyata hanya menjadikan dirinya sebagai taruhan bersama teman-temannya.


Dan memutuskannya tiba-tiba setelah Dinda menolak melakukan hubungan terlarang.


Membuatnya pergi dari rumah untuk menenangkan diri, membuat ibunya menyalahkan semua yang terjadi padanya.


Dinda menghembuskan nafas panjang saat mengingatnya,


Kenapa harus bertemu lagi, dia yang kupikir menyesal melakukan hal itu, tapi ternyata sikapnya tidak berubah juga.


Sementara Alan menghampirinya dan mencekal pergelangan tangannya,


"Kita pergi dari sini."


.


.


Alan dan Dinda keluar dari acara pernikahan Tasya dan Erik lebih cepat, padahal acara belum selesai. Mereka masuk ke dalam mobil lalu Alan melajukannya dengan cepat.


"Kau marah karena aku bicara seperti itu?" ucap Dinda saat mereka diperjalanan pulang ke apartemen.


Alan terdiam,


"Maafkan aku, aku tidak akan ngomong sembarangan seperti itu lagi." ujarnya lesu.


Lalu Dinda menyandarkan kepalanya disandarkan jok. dan menghembuskan nafasnya berkali-kali.


Sementara Alan hanya meliriknya dengan ekor matanya.


Dia merogoh ponsel dan mengetikkan sesuatu pada seseorang.


'Cari tahu tentang orang yang bernama Davis.'


.


.


Maafkan author baru up, ada sedikit kendala wkwk... Semoga gak bosan menunggu. Dan makasih buat semua ❤