
Kenapa harus cepat, yang mau pulang siapa? Celaka, apa dia sudah tahu aku juga karyawan ditempat yang dia pimpin saat ini.
Dinda memperlambat langkahnya, berharap Alan terus berjalan hingga jauh, dan dia bisa menghilang tanpa diketahui lagi.
Mungkin dia tahu lantai tempat plat milikku, tapi belum tentu dia tahu plat ku dimana. Ah harusnya aku senang bisa sedekat ini pada akhirnya. Namun ternyata semua seperti Delusi bagiku. batin Dinda.
Namun semua hanya angan-angan saja, jangan yang seketika menguap dan menghilang di udara saat melihat Alan berhenti didepan plat milik Dinda.
Sial... apa dia juga tahu platku.
"Cepatlah! kenapa kau lambat sekali seperti siput,"
"Hei..." sentak Dinda dengan intonasi lebih tinggi dari biasanya, namun kembali mencicit saat Alan menatap nya dengan nyalang.
"Jangan mengatai ku seperti siput," Cicit Dinda dengan lemah,
Membunuh sekaligus hanya karena tatapannya begitu, dasar gila! Seperti pernah mengatakannya juga, batin Dinda dengan herdikkan lemah di bahunya.
"Cepat masuk!"
"Kau tahu Platku?" ucapnya tanpa menoleh.
"Hem...."
Kamu bener Sha, dia memang manekin. Dan bodohnya aku malah menyukainya. Ya tentu saja sebelum kejadian malam mengerikan itu. Tapi-tapi ...aku masih juga menyukainya sampai detik ini.
Dinda terlihat menghembuskan nafasnya, lalu menekan nomor password platnya dengan cepat. Alan yang dari sedari tadi hanya memperhatikkan nya dengan lekat.
Sesuatu yang tak pernah dilakukan selama hidupnya. Memperhatikan punggung seseorang sedekat ini.
"Dasar ceroboh, membuat password segampang itu. Mudah ditebak."
"Apa maksudmu?"
Pintu plat Itu terbuka, dengan cepat Dinda masuk namun lengannya kembali ditarik. Lalu secepat kilat pintu itu ditutup kembali hingga terkunci kembali secara otomatis.
Membuat Dinda terperangah, namun Alan tak peduli, dia menekan nomor password nomor 1 sebanyak 8 kali.
Dan pintu itu terbuka kembali. "Kau lihat? bahkan dengan sekali lihat, orang bisa tahu kode yang dibuat oleh anak TK itu,"
"Kau...." Dinda menunjuk nya dengan telunjuknya.
"Aahhhh...." kini tangan itu mengepal.
Dinda masuk kedalam, dia hendak menutup pintunya keras, namun Alan menahan pintu itu dengan kakinya.
"Hei, kau bisa terjepit, singkirkan kaki mu!"
Alan tak bergeming, tak juga menjawab pertanyaan Dinda, dia hanya menatap Dinda dengan tatapan sulit diartikan.
Kenapa dia ini.
"Kau...."
Dinda teringat peristiwa malam itu, saat Alan menembak seseorang. Dan sekarang si penembak itu berada dihadapannya.
Apa yang akan dia lakukan terhadapku.
"Kau...."
Entah berapa lama mereka dalam posisi seperti itu, Alan menatap lekat seolah sedang melukis wajahnya dan menempelkannya dalam dinding di hatinya, agar dia benar-benar mengingatnya.
Sementara Dinda menatapnya dengan penuh pertanyaan yang bersarsng dikepalanya.
Dia terlihat kesal sekali,
Apa dia mau membunuhku?
Harusnya ini hari yang membahagiakan,
Menakutkan.
"Kau sudah selesai menatap ku!" ucapnya membuyarkan segala pertanyaan dikepala Dinda.
Tanpa kata lanjutan, Alan mendorong pintu itu hingga Dinda terdorong beberapa langkah. Dia terus berjalan masuk dan Dinda terus berjalan mundur hingga,
"Aaaaaaaahhhhkkk...."
Dinda berlari dengan teriakan yang melengking, berlari masuk kedalam kamar dan menutup pintunya dengan keras.
Brukk
Alan masuk dengan santai, dia membuka jaketnya yang basah lalu menggantungkannya.
Sementara Dinda sudah bersembunyi di bawah selimut, tak perduli bajunya yang masih basah.
Dia pasti akan membunuhku hari ini, dia akan membunuh saksi yang melihatnya sedang berbuat jahat, apa Hendra juga saksi sepertiku.
Dinda terus mengingat, dan mengingat, apa Hendra yang dulu menghilang tanpa kabar itu juga ulahnya. Astaga... Sebenarnya siapa kamu My Sweety Ice. Kenapa berbeda sekali dengan adiknya.
"Keluar sendiri atau aku dobrak!" suara Alan tak kalah melengking dengan teriakannya.
"Aku hitung sampai 3!"
Hih...kenapa dihitung.
Satu....
Ti....
Pintu terbuka, Dinda mendelik kearahnya, sementara dia tidak sedikit pun merubah ekspresi wajahnya.
"Sudah ku duga, dasar ceroboh!"
"Apa...." lirihnya
"Ganti baju mu!"
"Bodoh...." gumamnya lalu berbalik kembali.
Hei kau punya masalah apa denganku? siapa yang punya rumah siapa yang marah-marah.
Dinda kembali masuk kedalam kamar, dengan tersungut-sungut dia menuju kamar mandi lalu membersihkan dirinya.
Setelah selesai Dinda keluar dan mengambil baju dari lemari. Lalu dia memakainya. Namun dia juga tak kunjung keluar dari kamar nya, berjalan mondar-mandir, duduk di tepian ranjang lalu kembali berjalan dengan kuku jari yang dia mainkan, sesekali dia gigit lalu mondar-mandir kembali.
Gedoran pintu membuatnya tersentak, "Hei, kau mati ya! cepatlah keluar,"
Dinda memejamkan matanya, "Bagaimana ini,"
"Cepatlah kenapa kau lama sekali,"
Dinda membuka pintunya, dan melihat Alan mematung didepannya.
Sepertinya aku pernah mengalami kejadian ini.
"Minggir!"
Dinda tetap terpaku dalam diamnya. Harusnya ini kencan. Ternyata bukan
Alan berdecak, "Minggir, aku mau ke kamar mandi." Ucapnya dengan menabrak tubuh Dinda hingga dia bergeser.
Ini....
Seperti mimpi... Dalam mimpi ku.
Dinda berjalan dengan kepala yang berdenyut, Lalu menatap pintu kamar nya yang tertutup. Lalu berjalan kedepan kemudian kembali lagi.
Astaga, aku kenapa panik begini. Dia memandang jaket Alan yang tergantung, apa senjatanya dia simpan disana, tidak mungkin. Dia pasti membawanya masuk tadi.
Sesaat kemudian Alan keluar bertepatan dengan Dinda yang kembali masuk ke ruang tengah. Hingga tak sengaja melihat Alan yang saat ini tengah bertelanjang dada dengan kemeja yang dia jinjing di tangannya.
Ini benar-benar mimpi ku beberapa waktu lalu. Seperti ini, persis sekali. Astaga... Mimpiku jadi kenyataan.
"Bodoh...." ucap nya saat melewati Dinda yang masih mematung, seolah syaraf-syaraf tubuhnya tak bereaksi, kinerja otaknya tak bekerja dengan baik.
Aku hanya ingin bisu dan tuli bukan jadi patung begini.
Alan kembali menggantungkan kemeja nya, dengan sesekali melirik Dinda yang takut-takut melirik juga padanya.
"Kau ingat sesuatu?"
"Hah...."
"Dasar bodoh..., apa kau pernah mengalami kejadian seperti ini?"
Dinda mengangguk,
Bagus, itu berarti dia pun mengingatku
"Dalam mimpiku," gumamnya.
"Jadi kau tahu kan kau berhutang apa padaku?
"Apa...."
Alan berjalan mendekat, sedangkan Dinda semakin merengut.
"Kau berhutang banyak padaku, aku akan menagihnya nanti,"
"Hutang...?
Hutang apa yang dia maksud,
"Bisa kan kau tutup mulut dan tidak menceritakan apapun pada siapapun kejadian yang kau lihat?"
Apa tentang penembakan itu.
Dinda asal mengangguk, Aku masih belum mengerti apa yang dia katakan."
"Bagus... "
Alan berjalan ke ruang tengah, mengambil sesuatu lalu kembali menghampiri Dinda yang masih penuh dengan rasa bingung.
"Minumlah!"
Alan menyodorkan satu botol Ginger milk (Susu jahe) padanya.
"Apa kau ingin memperlakukan ku dengan baik sebelum membunuhku?" gumamnya.
Membuat Alan tersedak saliva nya sendiri,
Jadi dia mengira aku akan membunuhnya?