
"SEKARANG!!"
Arya menoleh, pria itu menarik bahunya dan,
DUAAAARRRRR
Bruk
Bruk
Mereka berguling ditanah, bom itu meledak, memporak porandakan gedung itu hingga hancur, serpihan-serpihan beserta api yang melambung tinggi hingga ke udara, membuat asap tebal bercampur dengan hancur leburnya bangunan itu, udara disekitarnya tampak berkabut.
Pria itu melindungi kepala Arya dengan kedua tangannya. Untuk beberapa mereka tertahan ada posisinya tersebut. Hingga suara-suara serpihan bangunan yang beterbangan dan api yang melambung itu turun dengan sendirinya.
Blug
Tubuh pria itu berguling di sampingnya dengan terlentang. Begitu pun dengan Arya. Dadanya bergemuruh hebat, naik turun dengan cepat.
"Kau tidak apa-apa kan? Terima kasih sudah mau menolongku." ujarnya dengan suara yang melemah.
Arya mendekatinya, "Hei, kita selamat. Mari kita pergi!"
Namun pria itu tidak menjawab, wajahnya tiba-tiba berkeringat dingin. Dengan dada yang naik turun dengan cepat.
"Mungkin ini waktuku pergi. Terima kasih Arya." ujarnya dengan mata yang mulai terkulai lemas.
Arya menggoyangkan tubuhnya, "Hei ... sadarlah."
Lalu dia mengangkat tubuh pria tersebut, sementara darah merembes banyak sekali dari punggungnya "Kau terluka."
Arya merogoh ponselnya namun naas Ponselnya mati kehabisan daya.
Dengan membopong tubuh kekar itu Arya keluar dari perkebunan milik keluarganya, yang masih menjadi sengketa dari sang kakek dengan beberapa saudaranya. Padahal sudah jelas jika tanah itu hak ayahnya.
Jarangnya kendaraan umum yang melewati area perkebunan itu mempersulit Arya, hingga dia menemukan mobil pick up yang tengah terparkir.
Setelah melalui banyak negosiasi, Alan memberikan semua uang yang berada di dalam dompetnya. Dan akhirnya pemilik pick up mau mengantarkannya ke sebuah klinik. Namun klinik tersebut menolaknya karena ternyata pria tersebut terluka akibat luka tembakan, dan peluru pun masih bersarang dipunggungnya, klinik kecil itu tidak mempunyai peralatan yang memadai, hingga mereka harus kembali ke perkotaan.
Entah siapa dan kenapa pria itu mempunyai luka tembak bahkan membawa bom waktu, Arya tidak ada waktu memikirkannya, ditambah seharusnya hari ini dia bertemu dengan pujaan hatinya, Ayu larasati, mahasiswi ilmu kedokteran yang baru saja lulus hari ini, tepat dihari ini, dan dia akan menyatakan cinta padanya, tepat di hari wisudanya. Semuanya gagal total,
Tak lama mereka sampai di rumah sakit, Pria itu semakin melemah, mereka akan turun dan masuk, namun tangan Arya ditahannya, Pria itu menggelengkan kepalanya dengan lemah, kedua maniknya mengarah pada pintu UGD.
"Tidak apa, mereka akan menolongmu."
Pria yang sudah pucat pasi itu kembali menggelengkan kepalanya,
"Ja---ja---jangan...." ucapnya tergagap, dengan terus melirikan matanya bergerak ke arah pintu.
Arya mengikuti gerakan matanya, benar saja, beberapa orang polisi terlihat keluar dari sana.
Dia sedikit mengerti, jelas bukan hal yang lumrah, ketika seseorang mempunyai luka tembak, dan juga sebuah bom waktu.
Apa dia seorang penjahat, atau bahkan *******.
Arya menutupi tubuhnya dengan terpal yang ditemukan di sampingnya, lalu menyuruh supir pick up untuk segera pergi.
Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke rumah Ayu, selain aman, Ayu yang seorang lulusan kedokteran itu pasti mempunyai alat-alat medis.
"Kau gila Ar, aku ini dokter anak, mana paham beginian, kenapa tidak dibawa langsung ke rumah sakit besar." ketus Ayu.
"Aku sudah membawanya, tapi aku urungkan, karena disana banyak polisi!"
Ayu tampak terkejut, dengan menarik lengan adik kelasnya di kampus dia berbisik, " Kamu menolong seorang penjahat pasti."
"Kita bicarakan nantu saja, tolonglah dia dulu!"
Ayu tampak menghela nafas, "Kalau dia mati, jangan salahkan aku!"
"Kau bantu aku dong! Jangan diem aja," ujar Ayu yang sepertinya tidak mendengar apa yang dia gumamkan.
Dengan buku panduan kedokteran, dia mengeluarkan peluru yang bersarang dari punggungnya, lalu menjahit lukanya.
"Untung saja aku masih menyimpan peralatan praktek kemarin," ucapnya dengan memasang infus.
"Terima kasih."
Ayu memutar bola matanya malas, "Lain kali jangan bertingkah konyol, aku dokter anak, bukan dokter bedah, untung saja aku punya buku ini."
"Mungkin aku bisa berhenti bersikap konyol jika kamu mau menerimaku kali ini." ujarnya dengan kedua mata yang membinar.
"Su--"
"Kali ini jangan menolak, ini ke empat kalinya aku mengatakannya." sela Arya.
Ayu mengerdikkan bahu, "Kau ini bandel sekali Arya!"
Arya menggaruk tengkuknya.
Lebih dari tiga hari pria tersebut tidak sadarkan diri, Arya setiap hari akan menemaninya,
Hingga suatu malam, kedua matanya mengerjap, dia melihat sekelilingnya.
"Dimana aku?"
"Di Apartemenku!" jawab Arya.
"Ponsel, berikan aku ponselku!"
Arya memberikan ponsel padanya, dan selang beberapa jam, segerombolan orang menjemputnya.
"Tunggu, aku masih belum tahu namamu siapa? tanya Alan.
Pria itu menolehkan kepalanya, "Mereka biasa memanggilku dengan nama Don salendro."
Lalu dia pergi begitu saja, membuat Arya merasa heran. Dan selang berapa hari, dia menerima kiriman mobil dengan tife yang sama dengan mobilnya yang ikut terbakar.
...Aku berhutang nyawa padamu, suatu hari nanti aku akan membayarnya....
Tulisan tangan yang Arya temukan di dalam mobilnya,
"Don Salendro? Siapa dia?"
Flashback of
Alan terperangah saat Arya menceritakan masa lalunya, dia semakin kagum pada Ayahnya. Begitupun dengan Leon dan juga Jerry yang menatap Alan.
Pertemuan singkat di masa lalu yang membuat mereka saling terikat, dan bukan hal yang sulit bagi Don salendro menemukan Arya, namun karena dunia mereka berbeda, Salendro enggan menemuinya.
"Itu hari terburuk sekaligus terbaik yang pernah aku alami, pertemuan singkat dengan ayahmu hingga kita terikat sampai hari ini, dan jangan menganggap itu adalah hutang keluargamu, Omar!"
"Semenjak saat itu kita menjadi saudara Omar, bukankah menjadi saudara tidak harus sedarah,"
Omar mengangguk, tanda setuju.
"Bahkan akupun tidak tahu! Ayah pernah mengalami hal itu." tukas Alan.
"Ayah baru ada waktu menceritakannya, dan bukankah kau juga sangat sibuk? Sampai pulangpun jarang sekali." Arya mendengus kasar.
Alan hanya tersenyum tipis. "Maaf yah."
Dia boleh kejam diluar sana, bahkan menakutkan seperti tadi, tapi disaat berhadapan dengan ayahnya, dia seperti anak kecil. Dan Alan sangat patuh pada ayahnya, bagaimana bisa dia terjun di dunia hitam, sementara dia dilahirkan dalam keluarga dengan penuh kasih sayang, tidak bisa ku duga. batin Omar.