
POV Mac
Aku datang mengunjungi Alan di penjara, melihat wajahnya yang semakin tirus membuatnya sedih, dia lah orang yang mengangkatku dari keterpurukan, dari dunia yang membuatku dipandang sebelah mata, bekerja di klub sebagai tim penjagaan kerap membuat aku menderita, sering kali mendapat perlakuan kasar dari atasanku ataupun orang-orang mabuk yang aku amankan.
Hingga semua berakhir saat Alan datang, dia menawariku pekerjaan dan membuatku menjadi sekarang, tidak lagi lemah dan dipandang sebelah mata.
"Mac ... kau baik-baik saja?"
Aku menganggukan kepala, atas pertanyaan sederhana yang terucap dari bibirnya yang tampak terlihat pucat, tidak bisa aku bayangkan , kehidupan nya berubah, begitupun dengan cintanya yang telah kandas begitu saja.
"Aku baik-baik saja mas!" ucapku dengan lirih, aku lihat kedua matanya yang sipit, dengan gurat rahang yang masih terlihat tegas, tidak ada yang berubah secara fisik, hanya tampak tirus dengan kedua mata yang menghitam.
"Sepertinya kau kurang tidur mas, kedua matamu seperti panda." ucapku hanya sekedar menghibur, ku tutupi rasa sedihku sendiri, aku tidak boleh terlihat seperti aku yang dulu yang lemah. Aku tidak ingin mengecewakannya.
"Kau ini tanya apa? Benar-benar pertanyaan bodoh! Sudah sana, kau harus bekerja! Bukankah kau aku tugaskan untuk menjaga Farrel, dan jangan lupa jaga keponakanku Mac!"
Aku mengangguk, dalam keadaan begini saja yang difikirkannya hanya orang lain, dia tidak memikirkan dirinya sendiri, bahkan kebahagiaan yang seharusnya dia dapatkan dalam waktu dekat, ya pernikahannya dengan orang yang dia cintai.
Aku menyerahkan file undangan yang baru saja selesai, yang seharusnya sudah mulai dicetak lalu disebar,
"Berikan aku tugas untuk menyusulnya dan membawanya kemari Mas," kataku dengan menundukkan kepala, rasanya aku tidak sanggup melihat sorot matanya.
"Mac ... jangan macam-macam, aku tidak apa! Biarkan dia bahagia."
Perlahan aku tengadahkan kepala melihat ke arahnya, namun dia terlihat datar seperti biasanya. Mungkin dia tidak sedih? Atau tidak membiarkan aku melihatnya.
"Tapi Mas--"
"Sudah aku bilang, jangan! Kalau kau berani melakukannya, aku akan memecahkan kepalamu Mac!"
Aku tertunduk lagi, jika pilihannya hanya menyusulnya dan dia memecahkan kepalaku, maka aku akan tetap memilih pilihan pertama. Maka saat itu juga, aku keluar dari kantor lapas kelas 1 itu dengan gagah berani, ku panaskan mobil dan melajukannya dengan cepat.
Aku menemui Farrel dikantornya, terlihat dia duduk termenung dengan layar monitor yang menyala, terlihat tak kalah menderita dengan saudaranya yang baru saja aku lihat. Farrel, sosok anak muda dengan sejuta kharisma, yang membuat Alan bisa berdiri tegak intuk melindunginya, begitupun dengannya, dia tidak akan sehebat ini jika tanpa Alan, mereka bisa saling mengisi, saling melengkapi satu sama lain.
Farrel terlihat kaget saat melihatku, dia menegakkan bahunya, sama seperti sosok yang baru ku lihat.
"Mac? Ada apa?" tanyanya saat aku mendekat.
"Aku ingin mengajukan cuti, untuk beberapa hari ini mungkin aku tidak bisa bekerja!" kataku tanpa basa basi.
"Mau kemana memangnya, kondisi kita disini sedang genting Mac, jangan berulah!"
Dia terlihat kesal saat aku mengajukan masa cutiku.
"Aku akan pergi ke negara A!"
Ku lihat wajahnya semakin kaget, namun sepersekian detik berubah kembali.
"Jika pemikiranmu sama denganku pergilah, aku baru saja berfikir seperti itu, tapi aku tidak bisa membiarkan perusahaan begitu saja, Agah bisa kewalahan dengan semua tuntutan dewan direksi dan juga pemegang saham Mac!"
Tidak aku sangka, dia setuju dengan apa yang jadi rencanaku, aku mengangguk dengan sigap, ku keluarkan ponsel dan segera memesan tiket, namun ternyata Farrel sudah lebih dulu memesannya.
"Aku memang berencana ke sana, mengajakmu! Tapi karena aku tidak bisa pergi, kau pergi sendiri Mac!" ucapnya menyimpan tiket pesawat di atas meja.
"Mas?"
"Pergilah, segera hubungi aku jika kau telah siap kembali, aku akan mengirimkan tiket pulangmu, dan jangan kembali tanpa kau membawanya Mac, aku akan mengatur semuanya di sini."
Ku pandangi dia dengan nanar, ingin aku memeluknya dengan erat, tapi tentu saja aku tidak berani melakukannya. Aku tahu diri siapa diriku ini.
Kuanggukan kepala, sebagai tanda aku akan pergi secepat mungkin dan kembali membawanya, gadis yang dicintai Alan.
"Mac!!"
Aku menoleh padanya saat dia memanggilku, dan aku tersentak, dia berhambur memelukku.
"Terima kasih Mac! Bawa dia kembali!"
.
Dan setelah mendapat apa yang aku minta, aku segera pergi kesana, dan ya disini lah aku sekarang.
Basah kuyup.
.
.
"Apa kau bilang Mac? Penjara?"
"Kau tidak mengada-ngada kan? Atau akal-akalannya saja?"
Dinda terlihat kaget, wajahnya panik setealh Mac mengatakan hal tersebut. Dia mondar- mandir didepannya, membuat Mac yang tengah mengelap wajahnya itu mengikuti gerakannya dengan kedua bola matanya.
"Aku bisa menghubungi seseorang agar kau percaya!"
Mac mengeluarkan ponsel dari saku celananya, dan mendial nomor sebuah kantor.
Setelah seorang pria mengangkat dan menyuruhnya menunggu, Mac menyerahkan ponsel itu pada Dinda.
"Siapa?" tanyanya dengan mengambil ponsel dari tangan Mac.
"Bicaralah!"
Dinda menempelkan ponsel itu tepat di telinganya, namun tidak ada suara apapun.
Hening
Hingga satu suara khas yang begitu dia kenali, suara yang begitu dia rindukan.
'Ada apa Mac? Apa ada hal penting Mac?'
Dinda menutup mulutnya, dia tidak berani bicara sepatah katapun.
'Halo Mac, kau gila ... apa yang kau lakukan? Kalau ada yang penting kau hubungi saja Farrel.'
Dinda masih menutup mulutnya, kini air matanya mengalir begitu saja.
'Mac ....?"
"Brengsekk kau Mac! Aku akan menghancurkan kepalamu saat kau kembali kemari!'
Tut
Alan menutup teleponnya begitu saja, dia sudah mengira jika bukan Mac yang meneleponnya, dan lebih parahnya lagi, Alan tahu dengan mudah jika Mac pergi menyusul Dinda.
Mac mengambil ponsel dari tangan Dinda yang kini lunglai, "Kau percaya sekarang? Dia tidak akan menjemputmu sesuai apa yang kau mau! Dan mas Alan juga melarangku untuk menyusulmu kemari."
"Mac ... apa itu benar dia?"
Mac mengangguk, "Itu memang dia! Saat ini dia membutuhkanmu, jadi kembali lah!"
Tubuh Dinda lunglai seketika, hingga Mac membantunya duduk di sofa. Dan tiba-tiba Sisilia keluar dari kamar.
Dinda menangis dalam pelukan ibunya, tanpa tahu apa yang terjadi, Sisilia hanya menatap heran pada Mac.
"Ada apa sayang? Katakan pada Mami,"
Dinda menangis tersedu sedan, dia ingin kembali dan melihat kekasih hatinya, tapi dia juga tidak bisa meninggalkan ibunya yang sedang menunggu jadwal operasi.
Mac mengeluarkan kartu namanya dan menyimpannya di atas meja.
"Hubungi aku jika kau sudah memutuskan!"