Assistant Love

Assistant Love
Boomerang Cintya



Setelah mengetahui fakta yang sebenarnya, Dinda kembali ke Apartement miliknya, berdiam diri memikirkan ucapan ibunya Farrel. Dan bagaimanapun caranya akan dia lakukan untuk bisa membantu sahabatnya Metta.


"Maaf Sha, aku tidak ada pilihan lain. Semoga nanti kamu mengerti apa yang aku lakukan ini Sha." ujarnya seorang diri.


Dinda merebahkan dirinya diatas ranjang, melihat langit- langit kamarnya, fikirannya melayang kemana-mana. Mencoba menerka apa yang ibunya Farrel katakan, apapun itu dia kan siap jika dibutuhkan.


Dinda meraih ponsel yang dia simpan diatas meja, lalu membuka hasil jepretannya seharian tadi.


"Astaga, kenapa dia bisa sekeren ini walaupun hanya berdiri saja."Ucapnya dengan mengusap foto Alan yang dia ambil secara diam-diam.


Dinda menggeserkan layar ponselnya, melihat foto Alan yang lainnya." Uuuhh ...." lirihnya dengan menguap.


Tak bosan Dinda terus melihat foto-foto Alan, hingga akhirnya dia terlelap sendiri.


Sementara Cintya terlihat marah karena rencananya tidak berjalan sempurna sesuai keinginannya. Bodohnya dia langsung pergi tanpa memastikan terlebih dahulu.


"Sepertinya rencana kita tidak berhasil! Apa kau sudah mendapat kabar tentangnya?"


Miranda menggelengkan kepalanya, "Aku belum bertemu lagi dengannya, bahkan dikampuspun aku tidak melihatnya."


"Bodoh, hubungi dia! kalau perlu kau datang kerumahnya,"


"Kenapa kau sangat ingin menghancurkannya?"


"Karena dia telah menghalangi jalanku untuk mendapatkan Alan." Cintya menenggak minumannya.


"Bahkan kau memperalatku." lirih Miranda pelan.


Cintya terus menenggak minuman di atas meja hingga beberapa botol, "Dia itu merusak segalanya yang sudah aku rencanakan."


"Sudah lah kau jangan terus minum begitu!" Sentak Miranda.


Erix memperhatikan mereka berdua dari balik meja Bartender, dia menangkap ada sesuatu hal yang tidak beres yang mereka rencanakan.


"Hans, kemarilah," ucapnya pada pegawai yang berada dibelakang.


Pria yang dipanggil Hans itu menghampirinya, "Kenapa Bos?"


"Kau gantikan aku dulu."


Erix membuka Apron yang melekat ditubuhnya, lalu dia berikan pada Hans. Dia lantas menghampiri meja tempat dimana Miranda dan juga Cintya duduk.


"Mir, kenapa temanmu ini?"


Miranda mendongkakkan kepalanya, "Ah ... hai Rix, gak tahu nih dia kebanyakan minum."


Erix menatap lekat pada Cintya yang kini menangkup kepalanya diatas meja.


"Pergilah, jangan menggangguku! Kau sama saja dengan si Tasya itu...." ucapnya meracau.


Namun Erik semakin tertarik, dia menggeser kursi lalu ikut duduk bersama mereka.


"Apa yang dia lakukan pada Tasya?" bisiknya pada Miranda.


Namun Miranda menaikkan bahunya sekali, dia benar-benar bungkam karena takut akan Cintya.


"Ah... aku lupa, bertanya padamu sama saja bohong!" Erik lalu bangkit dan berlalu dari sana.


"Ayolah Cintya kita harus pergi dari sini, Erik saja mencurigaimu karena kau meracau begitu."


Namun Cintya hanya menatapnya lalu terkekeh, "Apa pedulinya, biarkan saja dia!"


Miranda lalu mengangkat lengan Cintya, dan menggopohnya keluar dari club malam itu, dia mencari kunci mobil didalam tasnya Cintya, saat kedua pria mendekatinya.


"Hai, cantik mau kemana? kenapa buru-buru sekali, ayo kita bersenang-senang dulu ..." ucap seorang pria.


"Kalian ....?"


Miranda ingat, mereka adalah kedua pria yang memberikan sejumlah uang pada Cintya dan diperintahkan untuk menghancurkan Tasya.


"Sudahlah, pergi sana!" sentak Miranda.


Seorsng pria mencuil dagunya, "Ayolah, kau akan menikmatinya nanti,"


"Kalau tidak, temanmu itu saja yang menemani kami bagaimana?"


"Ayolah biarkan temanmu menemani kami!" Ucap pria itu dengan memegang lengan Cintya.


.


.


Cintya dibawa ke sebuah hotel, mereka memapahnya masuk kedalam satu kamar yang sudah di sewanya.


"Malam ini kau milikku," ucap seorang dari mereka.


Cintya yang terlalu banyak minum, dengan mudah mengikuti langkah mereka, dengan meracau tidak jelas.


Satu dari mereka membuka kunci kamar lalu masuk, menyusul dibelakangnya satu pria lagi yang memegangi Cintya.


Mereka menghempaskan tubuh cintyabegitu saja kedalam ranjang.


"Kau pergilah dulu, setelah selesai, baru giliranmu!" Ucap pria yang merupakan Bosnya itu.


Rekannya berdecak, karena dia yang merasa sudah lelah memapahnya namun mendapat jatah paling akhir. Diapun berlalu dengan kesal.


"Ayo sayang, kita bersenang-senang!" ucapnya berseringai.


Pria itu mengelus wajah mulus Cintya, Lalu turun pada bagian dada yang terlihat turun naik dengan nafas yang lembut. Merobek dengan kasar dress yang melekat pada tubuh Cintya.


Kondisi Cintya yang tak sadarkan diri memudahkannya menyentuh bagian-bagian sen'sitif pada tubuh yang mulus itu. Cintya mengerang, merasakan ada getaran yang memancing jiwa jalanggnya.


Pria itu semakin bergairah, menyentuh hingga mencecap bagian ceruk Cintya yang harum dan putih, Cintya menggeliat, tubuhnya menggelinjang keatas,


"Aku menantikanmu sejak lama," Cintya meracau.


"Apa kau tahu itu, bahkan aku harus menahannya setiap kali mencium aroma farpummu Alan, aaahh...."


Cintya semakin menggelinjang saat pria itu menarik kain penutup benda bulatnya, "Berikan aku kenikmatan itu sekarang juga sayang aaah...."


Cintya menarik kepala pria itu hingga terbenam di dadanya, mencecap dengan mulutnya dan tangan yang dia pakai untuk mere'masnya. Tak sampai situ Cintya yang kehilangan akalnya mengira pria itu adalah Alan.


Menarik kemeja pria itu dengan kasar, kemudian mereka sama-sama membenamkan tubuhnya, merasai kenikmatan yang menyeru hebat.


"Kau luar biasa sayang," ucap pria penikmat na'fsu itu.


Lalu dengan cepat dia membuka retsleting celananya dan menurunkannya hingga di batas paha. "Kau siap sayang?"


Pria itu lansung menghujamkan senjatanya pada Cintya, membuat Cintya mengerang hebat, perih kini dirasakannya karena pria itu menghujamkan dengan gerakan cepat.


"Aaah... sakit bodoh!"


"Euughh...."


Erangan demi erangan saling bertautan lolos sempurna dari keduanya, tubuh yang bergetar hebat serta bergelinjangan saat na'fsu yang merajai mereka sampai pada puncaknya.


Pria itu ambruk diatas tubuh Cintya, begitu juga Cintya. "Kau memuaskan sayang," pria itu merapikan rambut Cintya yang basah akibat peluh.


"Tapi kau masih harus bertahan, anak buahku akan memuaskanmu juga!" Pria itu beranjak dari ranjang, menaikkan kembali celananya dan mengambil kemejanya yang sudah terkoyak, Lalu masuk kedalam kamar mandi.


Cintya masih bergelung dalam ranjang tanpa kain sehelaipun, nafasnya terengah-engah dengan kesadaran yang masih lemah. Hanya perih yang dapat dia rasakan dari pangkal pahanya.


Seseorang yang tengah menunggu diluar dengan sabar, mencecap minumannya, menunggu tuannya selesai. Tak lama kemudian bos yang dia tungguin keluar, dengan rambut basah sehabis mandi namun kemeja yang sedikit koyak.


"Masuklah, dia sangat hebat!" ucapnya terkekeh lalu menenggak wine yang berada diatas meja. Pria itu menelan saliva saat bosnya mengatakan hal tersebut dan dengan cepat dia bangkit lalu masuk kedalam kamar.


.


.


Jangan lupa like dan komen nya yaa, Author sangat berharap melihat jejak-jejak bertebaran lagi karena itu membuat Author receh ini tambah semangat.


Rate 5, Fav dan jangan lupa gift nya juga yaa..


Semoga kita saling bersinergi dalam kehaluan ini.


Terima kasih