
"Sudah cukup bermain-mainnya, Knok ... knok! Aku akan masuk!" ucapnya.
Ceklek
Pria itu berhasil masuk dengan menggunakan satu alat yang mirip dengan pisau namun kecil yang dia miliki,
"Halo sayang!" ujarnya dengan membuka pintu itu lebar.
Dinda sudah berdiri di belakang pintu balkon, "Jangan mendekat! Pergilah, aku mohon, aku tidak tahu ada urusan apa kau kemari."
Pria itu kembali tergelak, "Kau ingin tahu? Kenapa tidak kau tanyakan pada kekasih sok jagoanmu itu."
"Apa dia tidak menceritakannya padamu? Oh aku tahu, kau pura-pura tidak tahu sementara kau ada di sana? Dinda Akira Pramudya, putri Pramudya Wardani. Yang perusahaanya saat ini mulai terbangun dari mati surinya."
"Siapa kau?" tanya Dinda dengan satu tangan bersembunyi dibelakang punggungnya.
Pria yang berdiri diambang pintu itu melangkahkan kakinya perlahan.
"Ah ... maafkan aku, aku benar-benar tidak sopan! Harusnya aku memperkenalkan diriku pada gadis secantikmu."
Dinda semakin terpojok, dia benar-benar takut.
"Perkenalkan, aku Denis Danuarta, kau pasti pernah mendengar nama belakang ku baru-baru ini? Hem!" ujarnya lembut.
"Aku kemari untuk bertemu dengan kekasihmu, namum sayang, aku justru menemukan sesuatu miliknya yang berharga, kita lihat apa jadinya dia jika kehilangan salah satu bagian dari dari hidupnya." ujarnya dengan menendang meja.
Dinda tersentak kaget, "Ka--kau dan Davis? Kau...."
"Tepat sekali, aku kakaknya Davis! Kau pintar juga, Jadi bisakah kita berhenti main-main."
"Jangan mendekat! Atau aku akan...."
Denis melangkah kembali, "Akan apa?"
Dinda mengangkat kedua tangannya yang saat ini memegang senjata api yang sempat dia ambil tadi.
Prok
Prok
"Wow ... kau hebat sekali! Kau bisa menembak? Bagus sekali, si keparat itu bahkan membekali kekasihnya senjata api." ujarnya dengan bertepuk tangan.
"Pergilah, aku ... aku tidak akan mengadukanmu pada siapapun jika kau pergi dari sini!" ujarnya dengan lutut yang bergemetaran hebat.
Baru kali ini dia memegang senjata api yang ternyata lumayan berat, bahkan dia sama sekali tidak bisa menggunakannya.
Apa hanya ditarik lalu bagaimana lagi?
Ya tuhan maafkan aku, mama, ayah maafkan aku. Tolong siapapun. Tolong aku.
Denis melihat Dinda yang gemetaran, dia yang hendak mengeluarkan senjata dari balik jasnya justru mengurungkannnya.
Wanita ini sepertinya baru memegang senjata,
"Bagaimana jika kita bermain saja, tidak usah bermain senjata yang akan membuatmu terluka," ujarnya dengan terus melangkah.
"Stop ... berhenti disitu atau aku akan menembakmu." ujar Dinda yang sejujurnya semakin takut itu.
Denis semakin berjalan mendekat, "Aku beritahu, jangan bermain senjata, kau hanya akan membuat diri sendiri terluka,"
"Kau bahkan tidak bisa memegang senjata itu dengan benar!" ungkapnya lagi.
Dinda semakin merasa lututnya lemas, dan juga tangannya yang gemetaran, keringat pun sudah bercucuran dari keningnya. Sementara Davis berseringar saat melihatnya. Dia terus melangkah, hingga akhinya mereka saling berhadapan.
"Kau mau aku ajari memegang senjata?" ucapnya dengan satu tangan terulur, lalu dia menggerak-geraakan jarinya yang mengenadah.
"Pergi dari sini!" Sentak Dinda.
Denis menarik pergelangan tangannya lalu menangkap tubuh Dinda yang ikut terhuyung dan membalikkannya. Hingga posisi Dinda membelakanginya.
"Mari, aku ajari kau memegang senjata!" bisiknya tepat di telinga Dinda.
Dinda meronta, namun kedua tangan Denis terulur sama rata dengan tangannya dan ikut memegangi senjata api itu.
"Jangan panik, kau harus menyeimbangkan tubuhmu dengan kedua tanganmu, senjata ini bukan kapas, kau harus hati-hati." ujarnya dengan menghirup aroma shampo dari rambut Dinda.
"Rambutmu wangi sekali, aku menyukai aromanya." ujarnya dengan menghirup dalam-dalam.
"Kau gila, lepaskan aku." pekik Dinda.
"Tenanglah, kita hanya akan bermain-main sebentar."
"Begini caranya," ujarnya dengan mengarahkan jari telunjuk milik Dinda pada lingkaran kecil di antara pelatuk.
"Simpan jarimu seperti lalu jari jempolmu mengapit seputaran ini." ucapnya lagi dengan mengarahkan jari jemari Dinda, di gagang senjata api nya.
"Kemudian angkat bahumu." menepuk bahu Dinda.
Dinda menegakkan bahunya,
"Good girl." Mengecup bahu Dinda.
Ya tuhan, pria ini sungguh gila, aku harus mencari cara agar bisa keluar dari sini.
Dengan lembut tangannya terulur pada paha Dinda, mengusapnya sebentar lalu kembali naik, untung saja Dinda memakai celana panjang, tidak bisa dibayangkan jika dirinya saat ini memakai rok ataupun celana pendek.
"Sejajarkan kakimu, jangan terlalu rapat." bisiknya disela telinga.
Dinda memejamkan mata, "Aku mohon biarkan aku pergi."
Denis membalikkan tubuh Dinda hingga menjadi berhadapan. Dengan cepat dia mengambil alih senjata api itu.
"Kenapa buru-buru sekali hem? Kau belum mempelajari semuanya."
"Aku mohon, biarkan aku pergi!" ucapnya lagi.
Pria itu berseringai, menyentuh wajah Dinda dengan moncong senjata api yang kini dipegangnya.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi, sebelum acara bermain kita selesai."
Dinda memejamkan kedua matanya, saat ujung senjata itu berada di pipinya.
"No ... no buka matamu, jangan kau sembunyikan mata indahmu itu, aku menyukainya, sangat indah dengan iris mata seperti milik ibuku."
"Buka matamu ... buka aku bilang!" ujarnya dengan mengetuk-ngetuk pipinya dengan ujung senjata yang dipegangnya.
Pria ini sakit jiwa.
Dengan takut Dinda membuka matanya perlahan. Denis kemudian berseringai, "Aku suka wanita penurut!"
Dia kembali meraih kedua tangan Dinda, digenggamnya lalu dikecupnya. "Aku pria baik jangan takut, aku hanya akan mengajarimu memegang senjata, agar kau sendiri nanti yang akan menembak kekasihmu itu."
"Kau mau kan menurut padaku hem?" ujarnya dengan menjambak rambut bagian belakang Dinda, hingga dia meringis, lalu mengeluarkan alat kecil yang tadi dipakainya membuka pintu, dia menatap kedua iris mata Dinda yang sudah menganak.
"Aaahh ... sakit! Lepaskan." ujarnya dengan suara bergetar.
Dengan masih menjambak rambut nya keras, "Sutthh, jangan menangis!"
Sreett
Ujung rambut panjang coklat itu ditebasnya hanya memakai alat kecil itu, membuat Dinda semakin takut, kakinya sudah terasa sangat lemas.
Perlahan-lahan benda itu digunakannya menyusuri pipi Dinda, hingga ke lehernya, sementara rambutnya masih dia jambak ke belakang.
Sreet
Darah segar menetes dari leher, akibat sayatan kecil itu.
"Aku pasti akan melepaskanmu, setelah kau berjanji!"
Dinda menganggukkan kepalanya, "Iya aku berjanji, aku janji akan menembaknya."
Cup
Denis mengecup pipi Dinda, "Kau memang wanita penurut."
Lalu dia menggiring Dinda untuk duduk tepi sofa, mengelap darah yang mengucur dari lehernya dengan sapu tangan miliknya. Lalu dihirupnya dalam-dalam.
"Oke kita kembali belajar lagi, kau sudah tahu cara memegangnya bukan?"
Dinda kembali menganggukkan kepalanya.
"Sekarang kita belajar menembaknya."
Trakkkk
Dia menarik magazine( tempat peluru) Mengisinya dengan beberapa peluru lalu memasangkannya kembali.
Trakkk
Lalu dia menarik slide(Bagian atas yang ditarik kebelakang).
Trakk
"Kau lihat apa yang baru saja aku lakukan?"
Dinda mengangguk, "Aku mengerti!"
Sudah tidak ada lagi air mata, kini hanya kebencian yang terlihat dari matanya, dengan kepala yang terus berpikir bagaimana caranya agar dia bisa keluar dari sana, Kalau perlu aku akan menembaknya mati.
Denis menyelipkan senjata api milik Jhoni itu kedalam pinggangnya. "Bagus, aku anggap kau siap, mari kita pergi!"
Dinda ikut bangkit dari duduknya.
"Kita akan kemana?"
Denis berbalik, lalu menariknya dengan kasar, "Kita temui kekasihmu."