Assistant Love

Assistant Love
Selamat jalan Jhon.



Alan tergesa-gesa masuk ke dalam markas disusul oleh beberapa anak buahnya,


"LEON...."


"LEONARD...." Alan berteriak hingga suaranya bergema diseluruh ruangan.


"Al...."Ucap Leon yang muncul dari sebuah kamar.


Alan menghampiri Leon dan ikut masuk kedalam kamar, melihat teman sekaligus partnernya yang merintih kesakitan akibat peluru yang bersarang di perut disebelah kanan.


"Aaa--Al, to--long a--aku Al," lirih orang itu, dengan tangan berlumur darah memegangi perutnya.


"Tenanglah jhony, jangan banyak bicara dulu!" ucap Leon yang menekan luka tembak itu dengan sehelai kain.


"To-long aku Leon!"


"Al lakukan sesuatu ...bagaimana ini? Darah semakin banyak keluar," Leon mendongkak pada Alan yang masih berdiri dengan tenang, dengan satu tangan didalam saku.


"Tenanglah Leon, dia akan baik-baik saja!" Bentaknya pada Leon.


Jhony terus merintih, dengan keringat dingin membasahi wajahnya.


"To-long...." suara Jhoni semakin lirih,


"Tenanglah aku akan menolongmu, kau tidak akan merasa sakit lagi!"


Leon menggelengkan kepalanya, "Apa yang akan kau lakukan Al."


"Al...." ucap Leon lirih,


Alan mendekat kearah tepi ranjang, memegang tangan Jhoni yang tengah menahan sakitnya,


"Tenanglah Jhon...sesaat lagi kau akan sembuh. Maafkan aku!"


Alan mengambil senjata api dari balik jasnya, lalu dia tekankan ujung senjata itu di perut Jhony tepat pada luka tembaknya. Lalu dia menarik pelatuk senjata itu dengan sangat pelan.


Jhoni menarik bibirnya tipis, "Te--ri--ma kasih Al!"


Dor


Jhoni terkulai, tangannya terlepas dengan perlahan dari genggaman Alan. Alan menjatuhkan senjatanya ke lantai, dengan wajah yang tertunduk. Kemudian Alan mengusap kedua mata Jhoni hingga tertutup, sementara Leon terduduk lemas dibelakang.


"Selamat jalan Jhon...."


"Al...."


"Leon, urus keluarga Jhoni dengan layak, bilang pada mereka Jhoni telah tiada saat bertugas."


Leon menatap jasad Jhoni, giginya bergemelatuk menahan marah dengan tangan mengepal, Alan kemudian beranjak dari duduknya,


"Cari tahu penyebabnya!" Ujar Alan sambil berlalu keluar.


Hari itu juga Jasad Jhoni di kebumikan, semua orang yang bernaung dibawah kekuasaan seorang Alan berkabung karena kehilangan teman sekaligus rekan terhebat mereka.


Tidak banyak yang tahu perusahaan ARR. Corps milik Alan yang terkenal dibidang pengamanan itu, adalah bisnis internasional jasa penyediaan senjata api ilegal.


Mereka kembali ke markas, mencari tahu apa penyebab tertembaknya Jhoni dan mengatur siasat.


"Bos...." ucap seorang anak buah Alan.


"Katakan!"


"Jhoni tengah bertransaksi dengan salah satu klien dari negara B, mereka berlaku curang! Barang kita diambil dengan sejumlah uang yang tidak sesuai kesepakatan awal. Jhoni murka dan menyerang tanpa persiapan! hingga mereka menembaknya."


"Cari tahu wilayah mereka!"


"Al, kita sedang diawasi polisi, kita tidak bisa menyerang saat ini!"


"Biar itu jadi urusanku!"


"Bukankah lebih baik kita pindahkan dulu gudang kita Al....?"


Alan menghembuskan kepulan asap dari sebatang tembakau, "Itu urusan kalian,"


Leon mengangguk, "Aku akan menemui keluarga Jhoni dahulu."


"Berikan santunan yang besar tiap bulannya Le...." Leon mengangguk lagi, lalu keluar dari markas dengan beberapa orang.


"Maafkan aku Jhon...." lirihnya.


Jhoni adalah sahabatnya dari kecil, bertemu pertama kali saat Alan mengalami perundungan disekolah tingkat pertama, dan Jhoni datang menolongnya waktu itu.


"Kau harus belajar bela diri, jangan sampai dirimu lemah, karena mereka akan menindasmu lagi." ucap Jhoni kecil kala itu, mengelap darah yang mengucur dari keningnya.


"Kau ini payah sekali, kau harus melawan, bagaimana bisa kamu melindungi adikmu jika kamu saja lemah begini." Alan kecil mengangguk.


Sejak saat itu mereka berteman, setiap hari Jhony akan mengajak Alan untuk belajar bela diri. Hingga mengajari memegang senjata saat itu dan sangat lihai sampai hari ini.


Dari Jhony pulalah, Alan belajar menjadi petarung sewaktu remaja, tentu saja tanpa sepengetahuan Kedua orang tua angkat Alan. Hingga suatu hari mereka harus saling bertarung, Jhony kalah pada saat itu, dengan nafas terengah-engah mereka terbaring diatas lapangan.


"Jika satu hari nanti aku kalah lagi, bunuhlah aku dengan tanganmu Alan, atau kau yang akan mati di tanganku!"


Mereka terbahak dengan perkataan yang mereka fikir lelucon saat itu, hingga tepat hari ini ucapan Jhony menjadi kenyataan.


Alan memejamkan matanya, namun tangannya mengepal diatas meja.


Dreet


Dreet


Alan membuka mata, meraih ponsel yang terus bergetar diatas meja. lalu dengan cepat Alan mengangkatnya.


"Kau menemukan orangnya?


"...."


"Berikan alamatnya, aku akan kesana!"


.


.


Tak lama kemudian Alan melajukan kendaraannya dengan cepat, setelah sebelumnya menerima pesan berisi suatu lokasi. 2 mobil berisi anak buah Alan mengikuti dari belakang, sementara 1 mobil sudah berada disana.


"Berpencarlah...." ucap Alan melalui earphone.


Satu persatu mobil menjauh, hingga mengelilingi sebuah bangunan kosong.


Alan masuk seorang diri dari pintu depan, sementara anak buahnya menyelinap tanpa diketahui dari samping kiri dan kanannya. Gedung itu tampak sepi, hanya samar-samar suara terdengar dari satu ruangan.


Salah satunya telah melihat Alan, dia kaget hingga tubuhnya bergetar, namun tidak dengan satu orang lagi, yang tampak biasa saja melihat Alan. Dia terlihat berseringai.


"Mau apa kau kemari? apa kau mengantarkan nyawamu seperti temanmu itu?" Ucapnya.


"Lebih tepatnya aku yang akan menjemput nyawamu!" kilatan tajam kini terlihat dari matanya.


Pria itu selalu bermain curang dalam bisnis mereka, sejak dulu sampai saat ini mereka adalah rival bisnis dalam jual beli senjata api. Namun pria itu selalu bermain curang.


Alan mengeluarkan sebatang rokok dari balik sakunya, lalu membakarnya dengan perlahan, "Aku sudah memberi mu kesempatan berkali-kali, tapi hari ini aku menyesal tidak menghabisimu saat itu juga."


Pria itu mengeluarkan senjata dari balik bajunya, dan mengacungkannya kearah Alan. Alan terus melangkah tanpa takut, dengan rokok yang dia lempar lalu diinjaknya sampai padam.


Tiba-tiba muncul anak buah pria itu mengepungnya, dari berbagai arah. Dia berseringai, "Sudah kubilang kau mengantarkan nyawamu dengan datang sendiri kesini anak muda."


"Kau selalu saja curang pak tua!" Alanpun tak kalah berseringai.


Tepat saat itu anak buah Alan yang berhasil menyelinap masuk serta jumlahnya lebih banyak menodongkan senjatanya pada anak buah pria tua itu.


"Menyerahlah, sudah saatnya kau beristirahat diliang lahat."


Dor


Pria tua itu menarik pelatuk menembak Alan, namun Alan berhasil mengelak, dia mengeluarkan senjatanya dan menembak kakinya hingga tersungkur. Lalu Alan menendang senjata yang terlepas dari tangannya hingga terlempar jauh.


Alan semakin mendekat, menodongkan senjatanya tepat dikepala pria tua itu.


Bersambung.


.


Jangan lupa like dan komen nya. Terima kasih❤