
"Kau gendong aku sampai sana, melewati CCTV itu dan kita masuk ke sana, pintu berwarna coklat, setelah itu kau baru lakukan yang ingin kau lakukan."
Alan menyorot pada gadis bertopi itu. "Sialan seumur hidupku, baru hari ini aku diperintah oleh seorang gadis, bodohnya aku!"
Alan mengeluarkan kaca mata dari sakunya, lalu dia letakkan dibawah, terlihatlah pantulan sinar merah pada kaca mata miliknya. Benar saja, Alan melihat kedipan kecil berwarna merah yang berasal dari CCTV yang terpasang dibeberapa sudut,
"Gadis ini benar, tempat ini dipenuhi CCTV, Brengsex."
"Bagaimana?" ujar gadis itu dengan menepuk bahunya.
"Apa ini hanya akal-akalanmu saja?"
Gadis itu menelan salivanya, "Mana mungkin!"
Dengan cepat Alan menarik tubuh gadis itu, dan mengendongnya apa bridal style, sementara dia mengalungkan kedua tangannya dan menyembunyikan kepalanya diceruk Alan. Menghirup dalam-dalam aroma maskulin di tubuhnya.
Mereka berjalan menyusuri yang sempit itu, seolah tengah menuju kamar, dan terlihat mereka akan melakukan perbuatan mesum disana.
"Shi't! Jangan mengambil kesempatan," gumam Alan.
Kapan lagi begini.
"Teruslah berjalan, dan jangan mengumpat!" bisik gadis itu di telinga Alan, lalu kembali bersembunyi diceruknya.
Mereka melewati beberapa pemuda yang tengah berkumpul,
"Pria itu?! Sudah kuduga."
Sementara gadis itu mengintip dari balik leher Alan, dia memicingkan matanya, "Apa yang sedang dia cari disini?"
"Hendra? Apa yang dia lakukan disini ... Apa ini yang tengah dicarinya?"
"Hei, tunggu...."
Salah satu dari pemuda itu memanggilnya, kemudian berjalan kearahnya.
"Jangan menoleh!" ucap gadis itu.
Dengan cepat dia menarik kepala Alan hingga mere'mas rambutnya penuh gairah, dengan sengaja dia mengeluarkan de'sahan dan lengguhan dari bibirnya, membuat pemuda itu menghentikan langkahnya.
"Sialan, apa kalian tidak bisa bersabar sampai didalam kamar! membuatku pusing saja."
Pemuda tersebut kembali pada teman-temannya yang tengah menertawakannya, termasuk seorang pria yang menatapnya dengan penasaran.
Alan kembali berjalan, dengan gadis itu yang melolong, hingga menjauh dari para pemuda itu.
"Diamlah, kita sudah jauh, lagian suaramu jelek sekali!" Gumam Alan yang masih terdengar jelas
"Ish... kau ini!" gadis itu terkikik.
Mereka sampai di ujung gang, terdapat 2 pintu disana, dengan 1pintu yang mengarah ke bilik-bilik kamar yang hanya berukuran kecil, dan tempat itu yang disewakan hanya untuk tempat membuang has'rat, para pria berhidung belang yang kelas bawah dan dengan wanita-wanita penghibur.
Alan masuk kedalam pintu yang satunya lagi, terdapat ruangan yang lumayan luas, dengan meja panjang dan juga berbagai perkakas, ruangan ini mungkin bisa disebut ruangan produksi. Terdapat mesin besar
Setelah sampai Alan melepaskan tubuh gadis itu dengan sengaja hingga terjatuh begitu saja.
"Awwwss... Kau kasar sekali!"
Sialan, aku sudah menolongnya, tapi dia masih begitu. Tapi tak apa-apa ini sudah luar biasa.
Gadis itu tak berhenti terkikik dalam posisi berjongkok.
Sementara Alan tidak peduli, dia terus melangkah dengan mata yang beredar, dia mendekati meja dan menatap satu persatu alat-alat kecil dan juga sebuah timbangan.
"Ternyata dugaanku benar, mereka terlibat dalam penjualan narkoba, dan ruangan ini digunakan untuk memproduksi nya." gumamnya.
Alan terus berjalan hingga memasuki lorong, namun dia kembali menoleh pada gadis yang masih berjongkok,
"Hai, kau akan tetap disitu?"
Gadis itu terkesiap, dia bangkit lalu berjalan menghampirinya,
Dia tidak tahu, lutut ku bergetar karenanya.
Mereka memasuki lorong itu dengan penuh waspada. Alan berjalan didepan, sementara gadis itu memegang jaket kulit miliknya dari belakang.
Tiba-tiba secara langkah terdengar, membuat mereka panik karena tidak ada jalan lain selain kembali, hanya ada celah sempit dan gelap dibalik mesin besar yang berada di lorong itu, Alan dengan cepat menarik gadis itu dan masuk kedalam celah sempit itu. Sebuah ruangan kecil yang sepertinya tempat menyimpan dus-dus tidsk terpakai.
Suara detak jantung silih beradu, keheningan terasa kentara dicelah yang gelap itu, namun masih dapat melihat sinar dari sepasang mata yang kini saling menatap.
"Jantungku sebentar lagi mau copot," gumam Gadis itu.
Sementara Alan menatap wajah yang hanya terlihat sinar matanya saja, dengan tangan yang berada dipinggangnya dan jarak yang sangat dekat dikeduanya.
Merasa ada yang kurang, gadis itu meraba-raba kepalanya, kini rambutnya terurai bebas. "Ah, topiku terjatuh." ucapnya pelan.
"Aww, kau bisa diam tidak! merepotkan."
"Aku mencari topiku, sepertinya terjatuh tapi aku tidak bisa melihatnya!"
Refleks Alanpun ikut menyapu ruangan yang hanya muat untuk satu orang jika berjalan, namun tetap saja tidak terlihat.
Hingga Gadis itu menyalakan ponselnya, namun Alan secepat kilat merebutnya dan mematikannya.
"Kau sudah gila, ini akan membuat kita ketahuan!"
Gadis itu merebut ponselnya kembali, "Iya aku tahu, aku hanya ingin menemukan topiku saja."
"Aku akan menggantinya nanti!"
Bukan masalah ganti mengganti, tanpa topi itu aku tidak bisa berbuat sesukaku, hehe. Topi itu keberuntunganku, dengan memakai topi itu, aku bisa berada disini denganmu. Dia kembali merengut setelah batinnya berbicara.
"Hei, topi siapa ini?" ucap seorang pria yang menemukan topi yang terjatuh di lorong.
"Ah, mungkin mereka menjatuhkannya saat pulang tadi! Dasar pemabuk."
Alan menatap gadis itu begitupun sebaliknya walau merekapun tetap tidak dapat melihat dengan jelas satu sama lain karena gelap.
"Topiku ...."
"Diamlah, mereka semakin mendekat!"
Alan mendekap tubuh gadis itu dengan mata yang mengarah keluar, sementara gadis itu memejamkan mata, merasakan dekapan waspada itu seolah dekapan hangat dan menenangkan.
Membayangkan mereka tengah berada disatu ranjang dengan banyak kelopak bunga bertebaran di atasnya, saling mendekap mengumandangkan kata cinta dan juga segala rencana kedepannya.
Gadis itu terkikik, membuat Alan menoleh dengan cepat. " Apa yang ada di otakmu sekarang?Apa kau berfikiran kotor?"
"Ti--tidak ... siapa yang berfikir kotor?" Gadis itu balik bertanya.
Alan kembali mengawasi, setelah dirasa aman dan pria itu berlalu dari sana, dia melepaskan gadis itu dan berhambur keluar. Dan membuyarkan semua khayalannya.
Gadis itu mendengus, lalu ikut keluar namun dengan cepat kembali masuk, dia memasangkan tudung hoodie nya hingga menutupi kepala dan dahinya sebagian. Lalu dia kembali keluar.
"Kita harus segera pergi."
Mereka pergi melalui celah jendela, memutar ke area belakang, namun kembali CCTV mengawasi mereka.
"Kita harus melakukannya seperti tadi!" ucap gadis itu berakhir dengan kikikan.
Alan menyorotinya " Jangan harap!"
Lalu Alan mengarah pada pagar teralis dan menaikinya, "Naiklah cepat!"
Gadis itu mendengus, dan menoleh kebelakang, bayangan 2 pria terlihat tengah berjalan mendekat.
Alan menggapai tangan nya dan mereka berhasil keluar dari sana. Dengan nafas terengah mereka berlari hingga masuk kedalam mobil.
"Aku antar kau pulang!" Gadis itu mengangguk.
"Kau tinggal daerah dekat sini?
"Iya, sangat dekat itu didepan," ucapnya menunjuk sebuah Apartement.
Mobil Alan berhenti, gadis itu membuka pintu lantas keluar, "Terima kasih sudah mengantar,"
"Tunggu," seru Alan, sementara gadis itu berhenti.
"Siapa namamu?"
Tanpa menoleh, gadis itu berteriak menyebutkan namanya kemudian berlari,
"Akira ... namaku Akira!"
Alan menatap Apartement di depannya. seolah mengingat sesuatu lalu masuk kembali dan melajukan kendaraannya.
"Akira ...." gumamnya.
Bersambung
.
Jangan lupa like dan komen nya yaa, Author sangat berharap melihat jejak-jejak bertebaran lagi karena itu membuat Author receh ini tambah semangat.
Rate 5, Fav dan jangan lupa gift nya juga yaa..
Semoga kita saling bersinergi dalam kehaluan ini.
Terima kasih