
Tasya melihat pungungnya, "Benar-benar sulit dipercaya! Dia ... "
"Erik."
Leon mengikuti pandangan Tasya yang melihat kearah luar, hingga Erik menghilang di tempat parkir.
"Kau ingin aku membawanya kemari?" ucap Leon.
Tasya menggelengkan kepalanya, namun tidak mengubah arah pandangannya, "Tidak usah Le, untuk apa? Kami bukan suami istri lagi, dia juga tidak pernah mengakui Baby Zi." lirihnya.
Leon menghela nafas, dengan tatapan nanar dia menatap bayi mungil yang tidak terganggu sama sekali di atas stroller.
"Apa dia masih berfikir aku lah ayahnya?"
Tasya menoleh padanya, "Aku tidak tahu dengan cara berfikirnya, dia hanya mencari pembelaan atas kesalahannya."
Leon pun menatap Tasya, dan tidak mengeluarkan satu kata pun, hanya menatapnya lama. Sampai Tasya menyadari bahwa Leon terus menatapnya,
"Le, kenapa terus menatapku seperti itu, aku merasa tatapanmu itu mengasihaniku."
Leon terkekeh, "Tidak ... aku tidak kasian padamu, justru aku kasihan pada Erik, dia akan menyesal seumur hidupnya, karena telah melepaskan mu dan juga baby Zi,"
"Dia akan menangis darah!" bisiknya di telinga Tasya.
"Kau ini...."Ucapnya seraya memukul bahu Leon, namun Leon menangkap tangannya. Sepersekian detik mereka saling menggenggam, Tasya menarik tangannya dan membuang wajah ke arah lain, sementara Leon menjadi salah tingkah, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Maaf!" ujarnya.
Tasya tidak menjawab, namun hanya memberikan seutas senyum, lalu melihat baby Zi yang mulai menggeliat.
"Sepertinya sudah waktunya aku pulang!"
"Biar aku mengantarmu pulang." tawar Leon.
"No Leon, aku pulang dengan supir!"
Leon tidak menggubris perkataan Tasya, dia bangkit dari duduknya dan membawa stroller baby Zi.
"Suruh supirmu pulang teelebih dahulu, katakan padanya, uncle Le yang akan mengantarkan bos kecil kita ini pulang dengan selamat!" ujarnya lalu keluar dari coffe shop.
Tasya menatap punggung Leon yang mendorong stroller itu, dia menghela nafas namun tersenyum kecil, tak berlangsung lama, dia menyusul mereka.
Tasya menelepon supir pribadi yang menunggunya di tempat parkir, untuk pulang terlebih dahulu, kemudian baru dia menghampiri Leon yang telah menunggunya di depan mobil miliknya.
Leon menggendong baby Zi, lalu membuka pintu mobil.
"Masuklah!" ujarnya pada Tasya.
Tasya masuk terlebih dahulu, lalu memberikan baby Zi yang sudah mulai membuka matanya,
"Hati-hati...." ucapnya saat dia memberikan baby Zi ke pangkuan ibunya.
Tasya hanya tersenyum, melihat Leon menutup pintu mobil, lalu dia melipat stroller dan memasukkan nya ke dalam bagasi mobil, setelah itu baru dia berjalan memutar dan maauk ke dalam pintu kemudi.
Ada yang tiba-tiba menghangat dalam hati Tasya, melihat perhatian kecil Leon padanya dan juga bayinya, sangat berbeda sekali dengan Erik yang hanya pandai berjanji.
"Kalian siap?" Tanya Leon dengan menghidupkan mesin kendaraannya dan mulai melaju.
"Kau sudah lihai menggednong seorang bayi Le," goda Tasya mencairkan suasana hatinya yang tengah terenyuh.
"Entahlah, nalurinya datang begitu saja, apa terlihat seperti itu?"
Tasya tergelak, "Kau sudah pantas menjadi seorang ayah, kenapa tidak segera menikah saja!"
Leon menolehkan kepalanya, "Kenapa membahas itu lagi! Butuh waktu untuk mencari calon ibu yang akan mengandung anakku!"
Mereka berdua tergelak, membuat baby Zi yang berada dipangkuan Tasya terus menggeliat, tangan kecilnya merayap ke mulutnya.
"Itu kenapa Sya,"
"Tidak apa-apa, memang waktunya baby Zi minum susu."
Leon mengangguk-nganggukkan kepalanya, namun terdiam, bukannya tidak tahu, dia tengah berfikir bagaimana caranya Tasya memberikan ASI sementara ada pria asing di depannya.
Baby Zi mulai menangis, "Sabar ya sayang, sebentar lagi!" ujar Tasya menepuk-nepuk bayinya.
"Berikan apa yang dia mau!"Ujarnya.
Tasya teelihat kebingungan, bagaimana dia menberikan ASI pada bayi nya.
Namun tiba-tiba Leon membuka pintu dan keluar begitu saja, "Aku tunggu di sana," ucapnya dengan menunjuk sebuah kursi panjang.
Tasya mengangguk, dia mengerti apa yang di lakukan Leon, memberinya waktu untuk menyusui Baby Zi, tanpa risih adanya Leon.
"Terima kasih Le."
.
.
Setelah beberapa waktu, Tasya keluar dengan menggendong baby Zi yang kemnali terlelap setelah kekenyangan. Dia menyusul Leon yang tengah duduk di kursi dengan sebatang rokok disela jarinya.
Kepulan asap terlihat mengapung bersama ke udara, Tasya mendaratkan tubuhnya disamping Leon. Pria jangkung itu langsung mematikan rokok yang baru saja dia bakar itu, menginjaknya di tanah hingga padam.
"Maaf, kau menunggu lama!"
"Tidak masalah Sya, kau ini selalu saja sungkan, perkara bayi menangis dan harus segera di diamkan," ujar nya terkekeh.
"Terima kasih Leon!"
Leon mengangguk, "Perkara mudah, jangan sellau berterima kasih! Oh ya ... dia sudah tidur lagi ternyata." ujarnya dengan menjumpit hidung kecil baby Zi.
"Iya... bayi kan memang kerjaannya tidur!"
Leon menyandarkan punggungnya, "Kau ingin pulang sekarang? Apa diam sebentar disini?"
"Bolehkah kita diam sebentar, disini sangat menenangkan!"
Leon mengangguk, dia membiarkan Tasya yang menggendong baby Zi dipangkuannya itu, sementara dia sendiri larut dalam fikirannya.
Hampir 45 menit mereka duduk tanpa membicarakan sesuatu, ada banyak hal yang melintas di fikiran mereka, berlarian di atas kepala tanpa harus orang lain tahu, menikmati angin sepoy-sepoy yang menyejukkan.
"Leon, sepertinya aku harus ke toilet? Bisakah kau menggendong Baby Zi sebentar?" ujar Tasya membuyarkan lamunan Leon.
"Sini, berikan pipi bapau padaku! Dan toilet ada di sebrang sana, kau tinggal lurus saja,"
"Ya ... maaf yaa?" ucap Tasya dengan memberikan Baby Zi pada Leon.
Tasya segera pergi mengikuti arahan yang diberikan Leon, sementara Leon melihat punggungnya semakin menjauh.
"Sepertinya aku jatuh cinta pada ibumu? Tapi tolong rahasiakan ini dulu, uncle tidak mau terburu-buru bertindak, Kau paham yang aku katakan pipi bapau?" ucapnya dengan mengelus pipi baby Zi lalu tertawa sendiri.
Baby Zi hanya menggeliat, dia tetap terlelap dalam pelukan hangat pria atletis itu.
.
.
Tak lama kemudian Tasya kembali, namun tidak menemukan siapa-siapa di kursi itu, mobil Leon pun tidak ada disana. Dia mulai panik, dan mencari Leon.
"Astaga, Leon membawa anakku kemana?" ujarnya dengan merogoh ponsel didalam tasnya.
"Leon kau kemana? Jangan membuatku takut."
Tasya mulai mencari kontak Leon, namun tidak menemukannya, dia sendiri lupa, kalau sebelumnya telah mengganti nomor ponselnya. Dan tidak memberi tahu siapapun perihal nomor baru miliknya.
"Astaga, Leon!!" ujarnya dengan memijit pelipisnya.
Dia pun mulai bertanya pada orang-orang yang melintas di dekatnya.
"Bu ... apa ibu melihat seorang pria membawa seorang bayi di sini?" tanyanya pada seorang ibu yang melintas.
"Tidak ...." jawabnya dengan kembali berlalu.
"Baby Zi...." lirihnya dengan mengedarkan pandangan ke segala arah.
"Aku bodoh percaya begitu saja pada Leon."