Assistant Love

Assistant Love
Nikah Massal



"Aku tidak akan membiarkanmu jatuh!"


Sikap hangat Alan akan ditunjukan pada saat tertentu saja itu, membuat Dinda semakin merona.


"Benarkah?"


Alan menyempilkan anak rambutnya di belakang telinga, "Aku tidak suka mengulangi perkataanku, cukup satu kali, dan kau harus mengingatnya seumur hidupmu!"


Dinda mengangguk paham, "Tentu saja, aku akan mengingatnya, kalau tidak lupa!"


Pletak


Alan menyentil dahinya. "Tapi jangan selalu bersikap ceroboh!"


Dinda yang terlanjur kesal itu mendorong tubuh Alan, "Kau selalu saja begitu! Tidak peka sedikitpun!"


Alan kembali maju dan tidak membiarkan ruang kosong diantara mereka, "Lalu kau ingin aku menciummu?"


"Tidak ... siapa juga yang ingin kau cium! Sudah sana pergi! Bukankah kau sedang mengurus pekerjaan mu!" kembali mendorong dada Alan.


Namun tubuh Alan tidak bergeming sedikitpun.


"Kalau aku yang ingin menciummu? Bagaimana...."


Dinda membelakakan matanya. Kenapa malah selalu bertanya dulu, dasar tidak peka.


"Terserah! Aku tidak peduli...."


"Kau mau atau tidak, kalau tidak, aku tidak akan melakukannya!"


Dinda mengernyit, "Kenapa begitu?"


"Aku tidak ingin menyakitimu,"


"Bagaimana mungkin hanya berciuman saja bisa dikatakan menyakiti."


Alan menghela nafas, "Dasar bodoh! Jelas disebut menyakiti kalau pihak satu tidak menginginkannya." ujarnya dengan mundur perlahan.


Dinda menarik jas miliknya dan kembali membuatnya merapat, "Aku menginginkannya!" ucapnya dengan tersipu.


Alan menarik tipis bibirnya, dengan ibu jari dan jari telunjuk yang menarik dagunya perlahan, dia melu matt bibir tipis milik Dinda, sementara gadis berambut coklat itu memejamkan kedua matanya.


Perlahan namun pasti, keduanya hanyut dalam ciu man lembut namun sangat dalam, lidah mereka saling menyisir rongga dalam mulutnya, lalu saling membelit dengan kedua tangan yang saling melingkari pinggangnya.


"Hensom, kau di dalam?" teriak Marco membuat mereka melepas tautan bibirnya.


Alan menyapu bibir Dinda dengan lembut, "Kita keluar!"


Dinda mengangguk, lalu mengikuti langkah Alan yang menggenggam tangannya.


"Astaga ... kalian ih! Ngapain hayo?" goda Marco dengan menutup mulutnya.


"Bukan urusan mu!" ujar Alan ketus, meninggalkan Marco yang menggelengkan kepalanya.


"Sepertinya aku harus membongkar pintu agar bisa melihat ke dalam, kenapa mereka yang datang kesini suka sekali berlama-lama di Fitting room." Ucapnya dengan kembali menyusul mereka.


Setelah hampir 3 jam berada di kantor milik Marco, akhirnya mereka selesai, sesuai janji Ayu mengembalikan ponselnya pada Alan, Alan mengambilnya dan langsung menyalakan kembali ponsel miliknya.


Puluhan notifikasi masuk secara bersamaan, terutama dari Farrel yang mengirimi pesan dan panggilan tidak terjawab.


Saat hendak menelepon balik, ponsel Alan kembali berdering, Farrel terlebih dahulu meneleponnya.


'Al ... kemana saja! Ponselmu mati tiba-tiba!'


"Cepat Al ... panas ini!" seru bunda yang sudah menunggunya dari tadi.


'Apa itu bunda Al?'


'Hm ... '


Farrel terdengar berdecak, 'Kenapa kau tidak mengatakan sedang bersama bunda! Dasar bodoh, bunda pasti marah padaku, karena mengajakmu terus bekerja.'


'Tapi memang aku harus bekerja El.'


'Sudah nanti saja, kau pasti sedang mengurus pernikahanmu! Dasar bodoh, seharusnya kau mengatakannya dari tadi.'


Tut


Baru kali ini Alan tidak bisa memutuskan sambungan telepon terlebih dulu, dia mendengus kasar.


"Dasar bodoh! Dia memutuskan sambungan teleponnya lebih cepat dari pada aku!"


"Al ... cepat!" teriak Ayu yang sudah terlebih dulu masuk ke dalam mobil.


Alan segera menyusul dan masuk, sementara Ayu yang sudah kesal itu mendengus kasar.


"Maaf bun!"


"Kau membuat kesal bunda!" ujarnya dengan memukul bahu Alan dari belakang.


"Pukul saja terus bun, biar dia tahu rasa!" ujar Dinda dengan terkekeh.


"Awas saja kau!" ucap Alan dari balik spion.


Dinda menjulurkan lidah ke arahnya.


Mereka melanjutkan perjalanan ke sebuah kafe, dan hendak makan terlebih dahulu. Hingga Alan menghentikan mobil nya di kafe yang tidak terlalu jauh dari sana.


"Harusnya kita ajak Metta dan Farrel kesini, iya kan Din!"


"Iya Bun, perlukah aku menghubungi adikku,"


"Boleh, kasian Sha, dia pasti ikut suaminya ke kantor baru hari ini." ujar Bunda.


"Iya dan harusnya aku membantu mereka bun!" celetuk Alan yang baru saja muncul dari arah belakang.


Ayu berpura-pura tidak mendengarnya, dia sibuk melihat buku menu. Hingga mereka dikagetkan oleh kedatangan Leon dan Tasya yang baru saja datang.


"Tante Ayu?" sapa Tasya.


Ayu menoleh, "Tasya ... apa kabar sayang?"


"Leonard, kalian pergi bersama?"


Leon mengangguk, "Benar bunda."


Alan memicingkan kedua matanya, yang semakin sipit saat dirinya merasa Leon mencurigakan. Apalagi melihat keduanya yang terlihat berseri, berbeda sekali dengan kemarin saat mereka tengah salah faham.


Leon menarik kursi dari meja lain dan menyatukannya dengan meja yang di tempati oleh Ayu, Alan dan juga Dinda.


"Hei, siapa yang menyuruhmu duduk sini?"


"Kau pelit sekali, bunda juga tidak akan keberatan, iya kan bunda?" ucapnya dengan menoleh pada Ayu.


"Iya tidak apa-apa, kita bergabung saja!"


Alan mendengus, sementara Leon segera menyuruh Tasya untuk duduk, lalu dia sendiri mendaratkan pantatnya disamping Ayu.


"Sya, bagaimana kabar Baby Zi? Kapan-kapan ajak ke rumah tante ya."


"Iya Tante ... nanti aku ajak main ke sana!"


"Dinda...." sapanya.


"Hai Tasya, apakabar!"


"Leon...."


Namun Alan memasang kembali wajah datarnya, dan hanya mendengarkan para wanita itu berceloteh, sementara dia dan Leon hanya saling melirik.


"Sepertinya ada yang kau sembunyikan dariku?"


Tanya Alan dengan tiba-tiba.


Leon mendongkak, begitu pun ketiga perempuan yang duduk bersampingan, mereka bertiga menatap Leon dan Alan bergantian. Walaupun Tasya tahu apa yang mereka berdua maksudkan.


"Apa aku tidak menyembunyikan apa-apa darimu! Kau sudah mengetahui semua tentangku, apalagi?" Leon mencoba berkilah, dia tidak ingin membuat Tasya tidak nyaman, karena mengatakan sesuatu yang dianggap Privasi, yang belum saatnya orang lain tahu.


"Lupakan!" ujar Alan yang merasa Leon terlihat canggung dengan terus melirik ke arah Tasya, meskipun begitu, dia tahu ada sesuatu yang terjadi diantara mereka.


"Oh iya aku sampai lupa menghubungi Metta dan juga Farrel!" ucap Dinda.


"Untuk apa? Mereka tidak akan bisa datang hari ini, mereka tengah meeting bersama para pemenang tender." ungkap Alan datar.


"Yah ... gimana dong bun?" tanyanya pada Ayu.


"Lain kali saja tidak apa-apa! Mereka sedang sibuk sekali saat ini!" sahut Ayu.


Mereka pun akhinya makan bersama, dengan berbagai celotehan demi celotehan yang terlontar dari Leon dan juga Dinda yang paling ceria di antara mereka, sementara Tasya hanya sesekali tertawa dan ikut berkomentar.


Namun tidak dengan pria yang tanpa ekspresi itu, dia lebih banyak diam maupun acap kali ikut menyunggingkan senyum kilatnya.


"Maaf aku ke toilet sebentar." Ucap Leon.


Dan disusul oleh Alan yang juga mengatakan ingin ke toilet.


Alan menyusul Leon yang terlebih dahulu masuk ke dalam toilet khusus pria itu.


"Kau terlalu penasaran sampai mengikuti ke sini?" tanya Leon.


"Percaya diri sekali, jelas-jelas aku kesini ya karena aku harus ke sini!" jawab Alan dengan ketus.


"Aku berniat menikahi Tasya."


"Benarkah?"


"Hm ... dalam waktu dekat, tapi aku masih harus menunggu jawaban Tasya."


"Gimana maksudnya? Kau berniat menikahinya tapi dia belum mengatakan iya atau tidak?"


Leon menjentikkan jemarinya, "Tepat, seperti itulah kira-kira!"


Alan mengangguk mengerti, tangannya menepuk bahu Leon, "Aku akan terus mendukungmu!"


"Terima kasih, bagaimana kalau kita menikah massal?" tanyanya konyol.


Alan melingkarkan tangan di bahu Leon. Membuat Leon melirik tangan yang tersampir. itu.


"Usaha yang bagus! Tidak sekalian saja ikut program nikah massal dari pemerintah, tidsk ribet juga tidak ada biaya besar!" ungkap Alan dengan kesal.


"Ide bagus! " Leon tertawa hingga terpingkal.