Assistant Love

Assistant Love
Kepulangan Tasya



Tasya sudah diperbolehkan untuk pulang hari itu juga, dia pun menghubungi supir untuk menjemputnya, setelah menunggu beberapa lama akhirnya seseorang datang.


"Sudah datang ya pak, itu pak tolong diambil barang-barangnya." ujar Tasya yang tengah memasukkan ponsel ke dalam tasnya.


"Iya..."


Tasya merasa ada yang aneh dengan supirnya, diapun mendongkakkan kepalanya, dan melihat ternyata bukan supir yang tengah mendatanginya, melainkan,


"Leon ...?"


"Hai Sya, sudah siap pulang kan?"


"Bentar, kamu ngapain disini, bagaimana kamu tahu aku pulang hari ini?"


Leon menggaruk kepalanya, dia tidak ingin Tasya tahu bahwa dia mengorek-ngorek para perawat yang bertugas setiap harinya hanya untuk mengetahui keadaan Tasya.


"Kebetulan saja, aku sedang kontrol luka bahuku ini, dan tidak sengaja aku dengar perawat membicarakanmu, katanya kamu akan pulang hari ini."


Tasya mengernyit, "Ngapain mereka ngomongin aku? Gak ada kerjaan banget!"


"Iyalah, ibu hamil yang tidak rewel, jelas saja karena mereka menyukaimu." ucap Leon berbohong.


"Kau ini bisa saja!"


Tasya menyampirkan tasnya di bahunya, "Aku mesti pulang, thanks Leon atas semua bantuannya selama ini."


"Biar aku antar Sya,"


"Tidak usah, lebih baik aku pulang sendiri, aku tidak mau membuat Erik semakin salah paham dan menganggap kita ini benar-benar ada hubungan!"


"What ...?"


Apa Leon tidak tahu mengenai Erik yang menganggap anaknya ini adalah anak Leon? Sepertinya Leon tidak mengetahuinya sama sekali.


"Apa maksudmu Sya? Apa Erik menuduhmu berselingkuh dengan ku."


Tasya mengangguk, "Dan dia akan menceraikanku."


Leon terperangah, "Sialan, lembar batu sembunyi tangan, apa kau percaya padaku? Erik sepertinya harus di beri pelajaran, karena dia menuduh orang yang salah,"


"Leon ... mengertilah, aku akan pulang sendiri,"


Tasya membawa tas besarnya dari tangan Leon, lalu keluar dari ruangan itu begitu saja, dengan fikiran yang sulit diartikan.


Leon yang menatap punggung Tasya dan tidak mampu berbuat banyak untuknya, hingga dia memutuskan keluar dari sana juga, dengan mengikuti Tasya dari belakang.


Berjalan perlahan-lahan agar tidak diketahui olehnya.


Yang tidak mereka sadari, ada sepasang Metta yang menatap tajam ke arah mereka, dengan tangan yang mengepal.


.


.


Tasya sampai dirumahnya, maid membantunya naik ke atas, dia pun langsung merebahkan dirinya di ranjang, namun ada sesuatu yang beda dari kamarnya, dia mengedarkan pandangan pada meja rias, perlengkapan Erik tidak ada di sana, Foto pernikahan mereka pun tidak ada.


Tasya lantas beranjak dari duduknya, dia membuka pintu lemari, dan berkat saja, pakaian yang tertata rapi itu hanya pakaianku saja, dia. tidak menemukan pakaian Erik berada di sana!"


Tasya jatuh bersimpuh di lantai, menangis dengan memegangi perutnya yang semakin besar itu.


Tok


Tok


"Non, ada tamu di depan ingin menemui non!"


"Siapa bi?"


"Bibi tidak tahu Non, bibi tidak tanya namanya!"


"Kalau begitu, suruh tunggu, aku akan turun sebentar lagi."


Tasya pun merapikan rambut dan juga wajahnya yang berantakan karena menangis, tak lama dia pun keluar dan turun dari kamarnya.


.


"Leon? Ngapain kesini?"


"Maaf Sya, tapi aku harus memastikan sesuatu pada mu,"


Tasya mengernyit, "Memastikan tentang apa?"


"Apa Erik menuduhmu berselingkuh denganku, dan menuduh anak yang kamu kandung, itu adalah anak ku?"


Tasya terhenyak, merasa tebakan dari Leon benar semua, dan dia tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.


"Benar begitu Sya?"


Tasya mengangguk, "Iya ...."


Membuat Leon meraup wajahnya kasar, "Maafkan aku, membawamu pada masalah ini!"


Tasya menggelengkan kepalanya, membuat Leon menghela nafas.


"Ini bukan masalahmu, tapi masalah ku, tapi kenapa dia bisa berfikir bahwa kamu lah ayah anak yang aku kandung."


"Apa kalian pernah bermasalah sebelumnya?"


Maaf Sya, aku benar-benar tidak bisa bercerita jika aku pernah melihatnya tengah bercum buu dengan wanita lain saat di klub.


"Katakan saja, Leon? Apa yang terjadi?"


Leon berdecak, "Aku..., tidak tahu Sya, dari mana dia menarik kesimpulan seperti itu, menuduh kita berselingkuh, dan itu anakku."


"Aku tidak habis fikir dengannya."


Tasya berkali-kali melihat nanar ke arah langit-langit rumah, mencoba menahan air bening agar tidak turun begitu saja.


"Sya ... aku akan mencarinya!"


Tasya bangkit dan mencekal tangan Leon,


"Please ... jangan lakukan itu,"


Hatiku terasa sakit, namun juga bahagia karena kamu memohon *padaku, walau pun cara memorinya yang berbeda.


"Sya*...." lirihnya.