
Farrel terbahak, begitu juga Mac yang lagi-lagi menutup mulut dengan tangannya. Sementara Alan yang tampak gusar itu hanya menatap Farrel dan Mac bergantian.
"Brengsekk kalian! Berani menertawakan ku!!" ujarnya dengan kesal.
""Biar ku tebak, kau ... Akira Dinda Pramudya?" Ujar Farrel yang menempelkan kedua jari telunjuk membentuk panjang bak jembatan.
"Kalian ... umm!!" Goda Farrel dengan menempelkan ibu jari dan telunjuk menjadi lambang cinta versi korea yang sering dia lihat di mana-mana.
Alan hanya melirik sebentar lalu kembali dengan wajah datarnya.
"Entahlah, aku tidak mengerti sama sekali!" gumamnya.
"Kau terlalu kaku, Al ...."
"Ajari Mas bagaimana caranya," ujar Mac menyela.
"Kau benar Mac, dia harus banyak belajar dari master of love." ujar Farrel menepuk dadanya sendiri.
Sementara Alan hanya mendengus kasar. Farrel terus saja berceloteh, tentang cinta dan cinta. Yang sebenarnya dia pun baru pertama kali merasakannya.
"Kau tahu Al, perempuan itu suka pada pria yang memperhatikan hal-hal kecil padanya. Dan itu berhasil! Trust me ...."
"Hal kecil apanya!"
"Kau ini benar-benar tidak peka, susah juga menjelaskannya pada pria bodoh seperti mu!" kata Farrel dengan menggelengkan kepalanya.
"Hei, jangan so paling tahu segala, kau harus ingat, aku yang membereskan semua masalah sampai bisa sekarang ini," ujar Alan dengan sorot mata tajam.
Farrel berdecak, "Dan kau tidak bisa membereskan masalahmu sendiri? Lucu sekali bukan?"
"Lantas aku harus bagaimana?"
"Kau ternyata sangat bodoh, lebih bodoh dari ku dulu, sudah aku bilang tadi, wanita itu butuh perhatian, sedingin apapun wanita lambat-laun akan luluh juga, bahkan mereka akan menyerah begitu saja tanpa dipaksa,"
"Kelembutan, beri mereka kelembutan yang berasal dari hatimu, kau akan melihat dari bahas tibuh yang di berikan mereka, karena mereka pintar menyembunyikannya, tapi tidak pintar membohongi dirinya sendiri,"
"Tapi dalam kasusmu ini, dia yang mengejar- ngejarmu bukan? Apa karena kau tidak merasa tertantang untuk menaklukannya? Kau lebih suka mengejar dari pada mengejar? Begitu, sial ... Aku sudah seperti pakar cinta saja!"
"Terlalu sombong!" gumam Alan.
"Kau harus ikuti kata hatimu sendiri, susah membuatmu mengerti!" Farrel menggelengkan kepalanya berulang kali.
Alan melempar bantal sofa ke arah nya, "Bicara saja dengan bahasa yang mudah aku mengerti! Aku mana paham bahasa- bahasa tubuh seorang wanita. Sangat rumit, apa gunanya mulut untuk bicara! Apa juga gunanya suara, aku mana paham!!"
" Karena kau terlalu kaku, seperti kanebo kering!" Farrel tergelak, begitu pun dengan Mac.
Alan mengernyit, "Apa ...."
"Tidak apa-apa! Lupa kan masalah kanebo kering, itu tidak penting."
Lagi- lagi Farrel tergelak, Mac pun ikut terbahak.
"Mac apa dia sama sekali tidak tahu apa itu kanebo kering?"
"Dia tahu Mas bentuknya tapi tidak tahu namanya mungkin Mas. Dia kan tidak pernah memikirkan hal- hal yang tidak penting."
Farrel mengangguk, " Kau benar juga Mac!! Dia terlalu pintar, sampai akhirnya tidak ada ruang lain di hati, selain file- file dan juga kertas lainnya."
Lalu apa yang harus aku perbuat?
Alan kembali mencecap wine, dia membuka ipad nya dan memeriksa semua jadwal yang harus dilakukannya seminggu kedepan.
Farrel menggelengkan kepalanya, "Tuh kan! See ... semua wanita akan merasa kau ini terlalu dingin, kaku, juga tidak peka. Baru saja membicarakan wanita sekarang sudah memikirkan pekerjaan lagi, pekerjaan lagi."
"Lalu kau apa? Bukannya mengurus pekerjaan, kau malah sibuk pacaran!"
Alan melihat rekaman Cctv yang memperlihatkan Dinda berada disana, saat Alan dan Tasya keluar dari plat beberapa saat dan tampak mengikuti mereka, masuk kedalam lift dan menunggu dirinya dan Tasya keluar lalu dia ikut keluar.
Bodoh, dia bahkan mengikuti kami dari sini, apa yang di fikiran? Makanya dia bisa semarah itu? Dan aku hanya ingin melihatnya kepanasan, namun mungkin aku terlalu berlebihan. Batin Alan.
"Mac kita pulang," Ujar Farrel bangkit dari duduknya,
Ucap Farrel pada Alan yang kembali menghembuskan kepulan asap putih itu ke udara.
"Aku pulang, besok aku harus ke bandara! jangaj lupa itu Al, dan kau tolong urus pekerjaanku yaa " imbuhnya dengan terkekeh.
"Hm...."
"Satu lagi, karena kau tidak punya sekretaris, suruh Doni juga membantumu Al, dia akan aku suruh menghandle beberapa proyek di bawah persetujuanmu!!"
"Hmm...."
Setelah kepergian Farrel dan juga Mac, kini Alan memilih merebahkan tubuhnya di sofa, dengan menatap langit-langit. Berharap esok pagi Dinda akan kembali mengikutinya dan melupakan kejadian sebelumnya.
Hingga dia terlelap sendirinya.
.
.
Beberapa hari berubah menjadi minggu dan berlalu menjadi bulan, begitu saja, kini Dinda tidak lagi menampakkan diri didepan Alan, membuat Alan tampak gusar karena nya, kedua manik hitamnya selalu mengedar saat dimanapun, berharap Dinda berada di kejauhan melihatnya.
"Aku benar-benar gila!" gumam Alan.
Alan pun segera masuk kedalam ruangannya, memilih menenggelamkan diri dalam tumpukan berkas hingga berjam-jam lamanya. Membuat pekerjaannya semakin banyak, ditambah tidak ada lagi Cintya yang membantunya. Meski berkali-kali Arya menyarankan mencari sekretaris baru untuk membantunya, namun Alan masih enggan.
"Aku masih bisa menghandle semua nya sendiri yah!nanti saja." jawab Alan saat Arya bertanya padanya.
"Alan kenapa kau ini sangat keras kepala, kau bekerja sangat keras, dan itu tidak baik untuk kesehatan mu!"
"Iya yah, aku tidak akan melupakan kesehatanku, Ayah tenang saja! Oh iya aku juga harus pergi menjemput El, dia pulang lebih cepat dari pada jadwal seharusnya!" ujar Alan yang membereskan berkas yang masih menumpuk.
"Ya sudah kalau begitu, Ayah juga akan menemui rekan Ayah. Kita nanti akan ketemu di rumah ya, kau sudah lama tidak pulang kerumah, bunda pasti akan memarahi mu karena terus mengabaikannya." Tegas Arya.
"Iya yah, aku nanti akan pulang. Aku harus pergi, bye yah!"
Alan keluar dari ruangannya, dia menuju basement untuk mengambil mobilnya, bertepatan dengan Leon yang baru saja masuk ke area basement juga.
Leon memarkirkan mobilnya dan tidak lama keluar dari mobilnya. Masuk kedalam lift dan Alan keluar dari basement.
Tak lama kemudian Leon juga masuk kedalam ruangan Divisi umum dan mengedarkan pandangannya mencari Dinda.
"Hai.... "Ucapnya saat menemukan Dinda tengah duduk di kubik paling belakang.
"Leon, kenapa kau ada disini?"
"Aku mencarimu! Kita makan siang bersama bagaimana?
"Hm... tapi pekerjaan ku masih banyak, lagi pula belum saatnya makan siang." Ujar Dinda.
"Kalau begitu akan menunggu, itu juga jika kamu menerima tawaran ku makan siang."
Dinda mengangguk, "Baiklah, tapi aku selesaikan dulu pekerjaan, kau tidak keberatan kan?"
"Baiklah aku akan menunggu di taman samping kantor ini ya, kalau kau sudah selesai, segera hubungi aku." Ujar Leon yang lansung bangkit dan menghilang dibalik pintu.
Metta yang melihatnya pun terheran, ini kali kedua dia melihat Leon masuk ke ruangannya, yang sebelumnya dia mengira Leon datang untuk menemui Alan, namun ternyata dia menemui Dinda.
"Hei... bukankah itu Leon?" tanya Metta pada sahabatnya.
"Iya, kau mengenalmu? Metta mengangguk.
"Aku sempat beberapa kali melihatnya disini! So...Kau tidak mau bercerita tentang nya padaku?"
"Dia teman ku! Lebih tepatnya dia tetangga plat apartemennya.
.
.
Maaf author low res balas komentar yaa.. Tapi tetap aku baca satu satu.