
Kedua nya sama-sama terperangah, tanpa kata yang terucap, namun bibirnya bergetar hebat, menahan kesedihan saat melihat sosok maid yang lama tidak dia lihat.
"Masuklah Non, nyonya pasti senang melihatmu."
Dinda melangkah masuk dengan kaki yang teras berat melangkah, di seretnya kedua kaki dengan langkah yang gontai. Sedangkan kedua manik coklat itu kini beredar, menyapu seluruh ruangan yang tidak berubah sedikit pun, letak barang-barang bahkan foto- foto yang menggantung di dinding pun tidak ada yang berubah.
Deg
Hatinya semakin terasa sesak, saat maid mendorong sebuah kursi roda di mana sosok yang begitu dia rindukan terduduk diatasnya, lemah dan tidak berdaya.
Lidahnya kelu, semua pertanyaan yang ingin dia ungkap memuai begitu saja saat melihatnya, sosok wanita tercantik yang dia tahu kini berubah, dengan rambut yang semakin menitip dan kulit yang berkeriput membungkus tulang. Tubuhnya ringkih,
Iris Mata coklat yang sama dengannya pun kini tenggelam dalam derai air mata yang turun bebas membanjiri pipinya.
Tangan kurus itu menggapai udara, melambai-lambai ke arahnya dengan lemah, membuatnya hatinya semakin sakit.
Dinda berhambur ke arahnya, bersimpuh dengan bertumpu pada kedua lututnya, menenggelamkan kepalanya dipaha sang ibu, meski dia belum tahu apa yang terjadi sebenarnya.
"Mam...." lirihnya.
"Maafkan aku, maafkan aku...." ujarnya dengan Isak tangis.
Mereka berpelukan dengan menangis hebat, pelukan hangat setelah hampir lima tahun mereka tidak bertemu.
"Apa yang terjadi? Kenapa jadi seperti ini?" ujarnya dengan Isak tangis.
Sang ibu mengelus punggung anak semata wayangnya, anak perempuan yang pergi dari rumah tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Ma--maafin Mama Nak!" ujarnya lemah.
Sedangkan Maid pun terlihat menangis terguguk, melihat majikannya kini dapat melihat dan memeluk putrinya.
Dia memang keras, selalu egois dan ingin semua berjalan sesuai yang dia inginkan, tapi Sisilia pun begitu menyayangi putrinya, meski dia tidak pernah menunjukannya.
Pramudya datang setelah mendapat telepon dari maid, dia ikut menangis saat tiba di rumah, bahkan masih berdiri diambang pintu.
"Mamamu mengalami gagal ginjal dari empat tahun yang lalu, dan membutuhkan biaya yang sangat besar, " ujar Pram saat mereka kini berkumpul di ruang tamu, dengan Dinda yang terus memeluk ibunya.
"Itu sebabnya setelah keluarga Danuarta memutuskan kerja samanya, kami sempat kelimpungan, ditambah isu-isu diluar sana mengenaimu Nak." ujarnya lagi.
"Kami tidak mampu memberikan pembelaan untukmu, bahkan kami malah termakan hasutannya,"
"Karena itulah, kami tidak mencarimu, membiarkan mu hidup sendiri, agar mereka berhenti mengganggu mu, kami membiarkan kamu pergi dari rumah dan pergi ke luar kota agar kami dapat melihatmu tersenyum lagi, bisa bertahan dengan kerasnya hidup seorang diri, sementara keadaan kita tidak seperti dulu lagi." ucapnya dengan berderai air mata.
Dinda terperangah mendengarnya, Itukah sebabnya mereka melarang maid datang mengunjungi ku lagi? Dan di situ juga ayahnya berhenti menitipkan uang pada maid dan juga supir yang selalu datang! Ya Tuhan ....
Sisilia hanya bisa mengangguk lemah, keadaannya memburuk setahun belakangan, pengobatan nya juga tidak bisa semaksimal mungkin lagi,
"Maafkan aku Ayah, mama, aku selama ini hanya berfikir kalian membuang ku, tidak mencari ku dan membiarkan ku hidup seorang diri. Aku tidak tahu jika kalian menyembunyikan banyak hal dari ku, kenapa kalian tidak bercerita padaku, dan kita akan berjuang sama-sama," ujarnya dengan Isak tangis.
"Hidupmu sudah berat, kau mengalami masa sulit, dan kami tidak ada untukmu saat itu, kami juga tidak sanggup menemui mu." ujar Sisil dengan lemah.
"Kami juga terlalu malu padamu." ungkapnya lagi seraya memeluk kembali putrinya.
.
.
Setelah beberapa lamanya mereka larut dalam tangis dan derai air mata, namun kini keresahan dan segala pertanyaan dalam benak nya terjawab sudah, mereka saling memaafkan, mencoba melupakan masa lalu.
Alan tersenyum melihat ketiganya kini berpelukan, memastikan kebahagian wanita yang dia cintai adalah tujuannya, tentu saja setelah keluarga Adhinata yang tetap menjadi urutan nomor satu.
Dia pun mengatur pengobatan untuk Sisilia, agar dia mendapat pengobatan yang maksimal, jika perlu dia juga akan mengirimnya ke luar negeri, namun itu ditolak oleh Sisilia dan juga Pramudya, mereka tidak ingin lagi jauh dari Putri mereka.
Alan tidak bisa memaksa, dia tidak mempunyai hak untuk terlalu jauh ikut campur, dia menghargai keinginan mereka.
.
.
Dinda mengangguk, "Terima kasih, kau melakukan ini semua untuk ku?"
"Kau baru menyadarinya? Dasar bodoh!"
Dinda berdesis, "Kau ini..."
"Ini lebih dari tas branded, apartemen, dan berlian yang kau sebutkan tadi, keluarga adalah hal yang tidak ternilai, kau paham?"ujar Alan mengacak pucuk kepala Dinda.
Kau terlalu manis dengan caramu sendiri Alan, dan aku tidak pernah mengerti dengan apa yang kamu lakukan. Jadi aku merasa aku yang
tidak peka, terhadap mu. batin Dinda berbicara.
"Sekali lagi aku berterima kasih padamu, kau melakuan semuanya untukku dan keluargaku." lirih Dinda.
"Hiduplah dengan baik, manfaatkan waktu yang masih ada bersama orang tuamu, kau mengerti!"
Dinda mengangguk, Itulah sebabnya dia begitu menjaga keluarga Adhinata dengan sebegitunya, dia ternyata penyayang keluarga. Aaahkk... My sweety ice.
Pletak
Alan menyentil keningnya, "Apa yang kau pikirkan? Dasar bodoh...!"
Dinda merenggut dengan menggosok keningnya, " Kau ini bisa tidak, tidak menyentil aku seperti itu! Aku ini pacarmu, bukan anak kecil!" merengut, dengan kedua mata menatap nyalang, "Dasar pacar gila." gumamnya lagi.
"Tentu saja tidak, karena kau itu bodoh!" gumam Alan mengatupkan bibirnya.
"Isshh ... kau ini memang tidak punya perasaan, kau selalu mengatakan aku bodoh,"
"Juga ceroboh, jangan lupa itu!" sela Alan dengan tergelak.
Dengan tangan mengepal, Dinda hendak memukul Alan, "Awas saja kau! aku pasti membalas mu, dasar!"
Dinda menatap Alan yang masih tergelak, dia ikut menarik bibirnya memenuhi garis bibirnya yang melengkung.
Aku senang melihatmu tertawa begitu, ternyata kau juga begitu hangat, terutama pada keluargaku. Aku begitu beruntung, karena bisa melihat sisimu yang kau sembunyikan dibalik sikap dingin mu itu.
"Sudah cukup kau memandangiku begitu! dasar bodoh." seru Alan membuyarkan pandangannya.
Didalam kamar.
"Yah, aku sekarang bahagia, anak kita akhirnya pulang juga, semua keadaan kembali sepeti dulu, dan aku juga pasti akan pergi dengan bahagia." ujar Sisilia yang tengah melihat pantulan dirinya di cermin.
Pram berdecak, " Kau ini bicara apa? Kau akan sembuh, dan kembali seperti dulu, cantik dan energik, walaupun terkadang galak, jangan memikirkan hal yang tidak- tidak, kau akan hidup panjang umur dan kita akan sama-sama mengasuh seorang cucu." ujarnya sambil menyisir rambut istrinya yang semakin penipis itu.
"Bersemangat lah menjalani pengobatan, demi dirimu sendiri, demi aku dan demi anak kita." sambungnya lagi.
Seutas senyum terbit di bibir pucat Sisilia. Pram yang selesai menyisir rambut, mendorong kursi roda. Dan dia berjongkok menghadap wajah istrinya.
"Dia sudah memaafkan kita, Hem! kau tidak perlu takut lagi, ada aku yang akan selau bersamamu." ujarnya dengan menyapu air bening yang lolos begitu saja.
.
.
Tidak lama kemudian Pram dan Sisilia keluar dari kamar, Pram mendorong kursi roda, Senyum merekah dari keduanya, dengan Sisilia terlihat lebih segar dari sebelum dia bertemu dengan putrinya.
Dinda menatap kearah mereka, "Ayah, mama, sudah siap?"
Mereka mengangguk, lantas mereka keluar dari rumah, Alan bahkan membantunya mengangkat Sisilia, yang kini duduk persis di samping Dinda.
"Mama harus sembuh, aku ingin menghabiskan waktu dengan mama, dan mama harus membayar waktu mama yang terbuang selama ini padaku. Deal?" ujarnya dengan menyandarkan kepalanya di bahu sang ibu.
"Hm... baiklah, kalau itu mau mu! Mama akan berusaha sekuat tenaga untuk sembuh, dan membayar waktu mama yang selama ini terbuang begitu saja." ucapnya dengan mengelus punggung Dinda.