
"Untuk apa Leon datang kesana? Apa dia sudah mengetahui sesuatu."
Alan bergegas keluar dari ruangannya, dia memang seharusnya membicarakan hal ini pada Leon, agar tidak terjadi masalah lebih rumit lagi.
Bertepatan dengan itu Leon baru saja keluar dari lift dan mereka pun berpapasan.
"Kebetulan bertemu disini, tadi nya aku akan menemui di ruanganmu!" tukas Leon
"Aku sudah mengatakan padamu, untuk jangan kesini! Apa kau tidak mengerti juga Leon?" sentak Alan.
Para karyawan yang berada didepan lift pun menoleh kearah atasan mereka namun sedetik kemudian mereka menunduk.
Lift terbuka, Alan masuk dan diikuti oleh Leon dibelakangnya. Orang-orang yang akan masuk lift pun mengurungkan niat mereka, memilih untuk menunggu kembali dari pada masuk ke dalam lift yang sama dengan seseorang yang tengah kesal.
"Tapi Al, ini tidak ada hubungannya dengan perusahaan, kau tenang saja. Aku hanya berkunjung saja." ujar Leon menjelaskan.
"Lantas untuk apa kau kesini?"
"Ak--"
Ting
Alan keluar saat Leon hendak mengatakan sesuatu, dia mengarah ke luar area gedung.
"Al ... kau kenapa? Kaku sekali!"
"Ikut saja, aku ingin bicara." ujarnya dengan berjalan menuju pelataran parkir.
"Kenapa harus membawa mobil, memang nya kau tidak bisa bicara disini?"
Alan tidak menjawab, dia terus berjalan menuju mobilnya dan Leon harus menyamakan langkahnya berulang kali, karena Alan berjalan lebih cepat dari biasanya.
Dia kenapa?
"Al, sebenar nya aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu." ujarnya lagi.
Alan semakin merekatkan gigi gerahamnya, sementara bibirnya mengatup tanpa ingin mengatakan sesuatu. Leon yang terlihat heran itu pun terdiam. Dia tahu ada yang mengganggu fikiran Alan hanya dengan melihat sikapnya yang dingin.
Alan masuk kedalam mobil, diikuti oleh Leon yang juga masuk kedalamnya melalui pintu sebelahnya, tak lama mereka memasangkan seat beltnya masing-masing.
Alan melajukan dengan kecepatan tinggi, bahkan lebih tinggi dari pada biasanya, membuat Leon berkali-kali bergeleng kepalanya.
"Al, kau gila!" ujarnya dengan menoleh pada Alan dengan heran.
"Al, kau ini kenapa? Kau ingin membuat kita tertangkap polisi karena menerobos lampu merah, kau gila." imbuhnya lagi.
Alan hanya mendengus kasar, namun dia tak menoleh pada Leon yang terus mengumpati dirinya.
Hingga mereka tiba di sebuah kafe dipinggir kota, kafe yang terbilang sepi dan jauh dari hingar bingar. Kafe yang selalu digunakan oleh mereka ber-4 untuk bertemu, dan membahas segala sesuatu.
"Kita bahkan sudah lama tidak kemari Al, kau ingin membahas apa dengan ku?"
Leon terus saja bertanya, meski Alan tidak pernah menjawab pertanyaannya, dia memilih keluar dari mobil dan masuk begitu saja kedalam kafe tersebut.
"Sialan, sifatnya tidak berubah juga!" gumam Leon saat dia keluar dari mobil.
Leon lantas menyusul Alan masuk dan menghampiri meja dimana dia sudah terduduk. Dan Leon ikut menarik kursi untuk dia duduki.
"Katakan untuk apa kau ke kantor hari ini?" tukas Alan tanpa ekspresi.
Leon menghela nafas dengan pertanyaan dari atasan sekaligus sahabatnya itu. Mereka saling menatap dengan fikiran yang berseliweran dikepala mereka masing- masing.
"Sudah kukatakan bukan, aku hanya berkunjung!" jawab Leon kesal.
Alan menatap tajam padanya, tanpa berkata dan membuat nyali Leon menciut saat itu juga, "Oke ... oke Al, aku kesana karena ingin bertemu dengan seorang gadis."
"Dia salah satu karyawan di perusahaanmu, dan dia bekerja di bagian divisi umum! Kau puas, aku sudah menjawab semua pertanyaanmu."
Alan mendengus kasar, "Siapa orangnya?"
"Hah....?"
"Siapa orangnya?" Ucap Alan mengulang pertanyaan bodoh.
"Jawab saja!" ucap Alan dengan dingin.
Leon menggelengkan kepalanya, "Kau ini benar-benar aneh, sejak kapan kau peduli dengan hal-hal begitu!"
"Katakan?"
"Kalaupun ku katakan memangnyabkau mengenal semua karyawan mu? Tidak bukan ... sudahlah tidak perlu membahas mengenai hal itu."
Alan mencabut sebatang rokok dari bungkus nya lalu menyalakan api dan membakarnya. "Aku sudah menemukan gadis itu!"
Bertepatan dengan pelayan yang mengantarkan pesanan mereka, tanpa mereka memintanya. Karena pemilik kafe itu sudah mengenal mereka dengan baik, maka pelayan akan segera menyiapkan pesanan saat mereka datang.
Giliran Leon yang terperangah, "Hah....?"
"Jadi kau berhenti mencari tahu tentangnya lagi,"
"Kau sudah menghabisinya? Pantas saja tidak ada informasi apa-apa tentangnya lagi, kau pasti menghapus jejak tentangnya."
Alan menggelengkan kepalanya, "Belum ... maksud ku tidak!"
Leon mengernyit, "Kenapa?"
Alan menghembuskan asap putih ke udara, menyesapnya sekali lagi kemudian menghembuskannya lagi. Leon yang melihatnya heran, dia lantas menyeruput kopi yang masih mengepul panas.
"Jangan bilang kau menyukainya Al." tukas Leon kemudian.
Alan tidak menjawab, dia memilih memutar gelas kopi dan menuangkannya sedikit ke atas tatakan dibawah gelas, dan meminumnya.
Leon mendengus panjang, "Kau memang paling aneh, kau selalu menuangkan nya begitu saat meminum kopi, benar-benar aneh!"
"Coba saja kalau kau mau!"
"Giliran hal yang tidak penting, kau baru menjawabnya!"
"Semua sudah aku katakan, aku tegaskan sekali lagi. Jangan mencarinya lagi!? Kau paham Le...." tegas Alan.
Leon mengangguk, "Seperti dugaanku, kau menyukainya, benarkan!"
"Sudahlah itu tidak penting, yang pasti aku sudsh membuatnya bungkam."
Leon tergelak, "Membungkamnya dengan apa? Bibirmu sendiri? Apa dengan cinta seluas samudera dari mu?"
"Aku jadi ingin tahu bagaimana seleramu itu, kau bahkan tidak pernah membicarakan seorang gadis pada kami, berbeda dengan Jerry yang setiap hari berganti teman kencan, atau seperti Jhony yang ... astaga maafkan aku Jhon." kelakarnya lalu tersadar kemudian segera menangkup kedua tangan nya keatas.
Sementara Alan menatapnya dengan tajam namun tidak setajam tadi. Pertanyaan Leon mengganggu fikirannya.
'Jangan bilang kau menyukainya Al'
Perkataan Leon terus berlarian dikepalanya, tapi entahnya, Alan sendiri tidak tahu seperti apa rasanya saat menyukai seseorang. Tidak ada yang berubah dalam kesehariannya, pemikirannya atau bahkan benar yang dikatakan Farrel?
Kau sedang membohongi orang lain,
Alan mengisap dalam rokoknya, saat seseorang masuk dengan menggebrak meja,
"Disini rupanya kalian?" bentaknya
Alan terkesiap melihat seseorang yang kini menatap nya dengan sorot mata menajam.
"Dan kau, pengkhianat!" tunjuknya pada Leon.
"Siap-siap lah dengan apa yang akan aku lakukan."
Pria itu menendang kursi yang diduduki Leon, untung saja Leon yang telah siaga itu menahan tubuhnya agar tidak terjatuh, lalu pria itu menyerangnya dengan gerakan maju dan menerjang Leon, menarik kerah kemejanya. Namun Leon memutarkan pergelangan tangannya lalu mendorong tubuh pria itu hingga membentur tembok.
Pria itu kembali menyerang dengan melemparkan kursi pada Leon, dia berhasil mengelak, namun pukulan mendarat di dadanya membuatnya terjerembab.
"Kurang ajar!" gumam Leon.
Sementara Pria itu berseringai.
"Kau tidak ada apa-apanya bagiku."