
Leon menatap Alan yang terlihat sinis padanya, lalu melirik Dinda yang tengah mencuri pandang pada Alan.
Apa yang sedang terjadi pada mereka?
Leon menepis tangan Dinda yang masih melingkar dilengannya,
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan Alan," ujarnya.
Alan mengangguk, dengan membuka pintu ruangannya, "Masuklah Le, kita bicara didalam!"
Leon masuk kedalam ruangan Alan, sementara Dinda masih berdiri terpaku ditempatnya,
"Kau, buatkan minuman!" ujar Alan yang mengagetkan Dinda.
Dinda mengangguk berlalu pergi menuju pantry, Sedangkan Alan masuk kedalam ruangannya, dia berjalan lalu mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya. Dengan wajah tampak gusar.
"Ada apa Le?"
"Aku yang seharusnya bertanya padamu? Apa yang terjadi antara kau dan juga Dinda, dan sejak kapan dia berada di depan, menempati posisi sebagai sekretaris?"
"Kenapa, kau cemburu pacarmu berada dekat denganku?"
Leon mendesis, "Apa yang kau bicarakan Al?"
"Sudah lah jangan di bahas, kau mau apa kesini? Kenapa akhir-akhir ini kau sering sekali ke sini."
Hening
Leon berdesis, "Aku hanya ingin mendengar pendapatmu tentang pacar Jerry yang akan direbut oleh temannya,"
"Kenapa kau selalu menanyakan hal itu padamu? Aku tidak tahu!"
Alan kembali menundukan kepalanya, menatap ipad yang dia gulir ke kiri lalu kembali lagi, gulir kembali kemudian kembali lagi. Entah apa yang dia cari.
Leon berseringai, Alan ... Alan, sampai kapan kau akan terus begini? Kau menyukainya bukan? padahal kau tahu dia hanya berpura-pura bersikap seperti itu padaku! Kalian menjijikan.
"Seharusnya kau tahu Al!" Leon mengeluarkan sebatang rokok dan membakarnya.
Alan menatap tajam padanya, "Apa maksudmu?"
"Sudahlah, kau tidak perlu terus berpura-pura, aku sudah tahu semua!"
"Kau, hanya tinggal katakan secepatnya pada dia tentang perasaaan mu!" ujarnya dengan menatap langit-langit ruangan.
"Jangan bodoh! Aku bercerita tentang jerry untuk memancingmu! Tapi ternyata kau lebih bodoh!" lugasnya lagi.
Alan menggebrak meja, "Tutup mulutmu Le."
Leon menggelengkan kepalanya, "Kenapa kau harus marah Al, kalau kau tidak menyukainya! Atau kau ingin menunggu aku yang bergerak duluan?"
Alan terkesiap, " Lalu bagaimana denganmu? Bukankah kau juga menyukainya?!"
Leon mengembuskan asap putih ke udara, kemudian mencecap kembali tembakau yang mengandung nikotin itu dalam- dalam.
"Aku menyukainya, aku juga sudah mengatakan padanya, tapi dia tidak sekalipun menjawabnya sampai saat ini, karena dia menunggu mu yang bodoh ini!"
"Aku tidak ingin kita bersaing, apalagi harus bersitegang hanya karena seorang wanita Al," imbuhnya lagi.
Hening
Alan hanya menatap Leon tanpa berkata apa-apa. Begitu juga Leon yang terus menatap langit-langit, seolah mencari sesuatu diatas sana.
"Al apa yang kau fikirkan lagi? Bodoh!" gumamnya namun masih terdengar jelas ditelinga Alan.
"Karena aku juga memikirkan mu Leon!"
Leon mendongkak kearah Alan, lalu terkekeh, "Kau tidak perlu memikirkan aku Al, aku bisa mencari wanita lain,"
"Jangan bilang kau tidak bisa mengatakan apapun dihadapannya? Kau kan tidak banyak bicara." tunjuknya pada Alan dengan tergelak.
Alan menggaruk tengkuknya, "Itu benar, aku tidak tahu harus mengatakan apa!"
Leon tergelak, "Kau memang payah!!"
Ruangan itu kini penuh dengan gelakan dari Leon, sementara Alan hanya diam dan menatap Leon. Dia memang tidak bisa mengutarakan apa-apa, menyatakan perasaan nya bahkan hanya untuk mengatakan bahwa dia menyukai Dinda.
"Apa yang harus aku lakukan Le? Aku memang tidak bisa mengumbar perkataan macam itu."
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, Dinda masuk dengan membawa nampan berisi minuman untuk Alan dan Leon. Dia melewati meja Alan begitu saja dan meletakkan secangkir kopi untuk Leon.
"Kopimu...." ujarnya dengan seutas senyuman.
Aku memang menyukaimu, bahkan sangat menyukaimu. Tapi aku juga tidak bisa bersaing dengan sahabatku sendiri.
"Terima kasih."
"Tidak usah sungkan, aku kan pacarmu!" ujarnya dengan sengaja diucapkan dengan penuh penekanan.
Leon tergelak, dia berdiri dan merengkuh pundak Dinda dengan tatapan berseringai pada Alan,
"Kalau begitu terima kasih sayang!"
Kalau kau diam saja, haruskah aku yang bertindak!
"Dia juga bosku!" ujarnya dengan menoleh pada Alan.
"Leon, jangan berlebihan! Maafkan aku, ayo kita bicara ditempat lain!" bisik Dinda pada nya.
"Kenapa tidak bicara disini saja, apa kau malu pada bosmu yang juga bosku?" ucap nya dengan sengaja memancing Alan.
Alan hanya diam, seolah tidak peduli apa yang akan Leon lakukan.
Dinda menarik tangan Leon dari bahunya, "Ayo bicara ditempat lain!"
Dinda berjalan menghampiri meja Alan dan meletakkan kopi disana, Kau malah diam saja, dasar manekin.
"Ini kopi mu pak!" ucapnya.
"Hm...."
Dinda keluar dari ruangan itu dan menghempaskan nafasnya pelan, "Aku harus bicara pada Leon."
Leon beranjak dari duduknya, "Kau memang bodoh Al! Kalau kau tidak mengejarnya, jangan salahkan aku yang akan mengejarnya duluan!"
Leon berlalu begitu saja, dia keluar dari ruangan Alan. Lalu berjalan ke arah meja Dinda.
"Kita memang harus bicara, kau bisa ikut aku kan?"
Dinda mengangguk, "Aku juga ingin bicara padamu!"
"Kita pergi dari sini!"
.
.
Sementara Alan menghembuskan nafas yang terasa sesak itu, katakan dia memang bodoh. Tapi banyak hal yang harus dia fikirkan, kehadiran Leon yang juga menyukainya, walaupun Leon sudah mengatakan padanya bahwa dia tidak ingin bersaing.
Ditambah dia memang tidak pandai mengutarakan kata, apalagi kata cinta yang selama ini menurutnya bodoh. Dan paling utama adalah ketakutan paling terbesar adalah rasa kehilangan, sebagaimana dia kehilangan kedua orang tua nya dulu. Bukankah cinta tidak berfokus pada hal-hal indah? Ada kehilangan yang selalu menyertainya.
Dan Alan tidak siap untuk itu, hingga dia memilih untuk tidak terlibat dengan segala hal yang berkaitan dengan cinta, hanya karena takut kehilangan suatu hari nanti.
Alan menghembuskan nafas, mungkin dia akan membiarkan Leon yang akan mengejarnya.
Sudahlah, bukankah aku masih bisa hidup walau tanpa cinta dari seorang wanita?
Alan kembali berkutat pada pekerjaan nya, pria berhati dingin itu kembali harus menata hati, kembali mengubah hati dengan tujuan awal hidupnya, hanya keluarga Adhinata yang menjadi cinta untuknya, dan sampai kapanpun, dia hanya akan mengabdikan diri untuk mereka.
Aku tidak ingin bodoh karena cinta, dan kehilangan karena cinta.
Dreet
Dreet
Suara ponsel menggelepar diatas meja, Alan menatap layar ponsel menampilkan nama Tasya disana. Dia menempelkan nya ditelinga,
"Kak, apa kau ada di kantor? Bisakah aku mampir?"
"Hm... datanglah!"
"Oke, tunggu aku yaa!"
Tok
Tok
Suara ketukan di pintunya, sedetik kemudian Tasya menyembulkan kepalanya.
"Hai kak...."
Alan menoleh dengan ponsel yang masih berada di genggamannya.
"Aku sudah datang, hehe!"ujar Tasya yang langsung masuk kedalam ruangan.
Alan berdecak, "Kau mau menipuku?"
Tasya duduk dan meletakkan paper bag diatas meja, "Tidak sama sekali, tapi aku sangat yakin kau ada dikantor! feeling ibu hamil selalu benar!"
Alan ikut mendudukkan dirinya disofa yang berhadapan dengan Tasya, "Ada yang begitu?"
"Hm... tentu saja!"
"Baiklah terserah kau saja! Aku malas berdebat dengan ibu hamil yang feeling nya kuat!" ujarnya kemudian.
"Kenapa wajahmu? Buruk sekali!" tanya Tasya tanpa takut.
"Tidak usah kau fikirkan ada apa mencariku!"
.
.
Author lagi melehoy, butuh energi yang banyak dengan like dan komen kalian 🤣