Assistant Love

Assistant Love
Flash back on( Salah sasaran)



Flash back On


"Rasanya sepi sekali, biasanya Metta akan menelepon berjam-jam hanya untuk bercerita, Sekarang kok tidak ada." Dinda membulak-balikkan ponsel yang dia pegang.


"Ah, sudah lah mendingan aku tidur," Dinda kemudian membuka selimut dan bersembunyi didalam sana.


Dinda terbuai dalam mimpi beberapa saat, hingga merasa mimpi sedang dikejar hantu yang menggedor pintu dengan keras, hingga Dinda terperanjat bangun dengan nafas yang tersengal.


"Astaga, jam segini mimpi seram," Dinda melirik jam diatas nakas.


Namun ketukan dipintunya semakin nyata, samar-samar Dinda mempertajam indera pendengarannya. Turun dari ranjang dan mengendap-endap keluar dari kamarnya.


Dor


Dor


Ketukan dipintu terdengar semakin keras, "Astaga, ini nyata atau aku mimpi bangun tidur,"


"Heh, siapa itu. mengetuk sudah seperti orang gila,"


Dinda yang tadinya mengendap kini berjalan memburu kearah pintu dengan amarah.


"Siapa sih, gimana kalau pintunya rusak."


Dinda membuka pintu Apartemennya, dia kaget melihat seseorang yang tengah berdiri di hadapannya.


Seorang wanita paruh baya dengan menggendong anak bayi berdiri di hadapannya. "Mbak tolong saya, cucu saya sakit. Tolong mbak susulin ibunya yang sedang bekerja,"


"Coba dihubungi lewat ponsel bu?"


"Sudah, tapi tidak juga diangkatnya."


"Ya sudah kita kerumah sakit saja dulu yah bu, nanti tinggal menyusul ibunya setelah kita ke rumah sakit." wanita paruh baya itu mengangguk.


Dinda menyambar tas juga kunci mobil nya diatas nakas, lalu keluar dan mengunci pintu. Namun lift yang dibutuhkan dengan segera itu malah rusak, dan mereka terpaksa turun menggunakan tangga.


"Sialan, habis ini aku harus cari tempat yang lebih baik, sering sekali lift itu rusak!" gumam Dinda saat menuruni tangga dengan tergesa.


Anak dalam gendongan neneknya itu terus menangis, entah panas ataupun apa Dinda tidak sempat bertanya.


Dengan nafas tersengal akhirnya mereka tiba di tempat parkir, Dinda langung menancap gas mobilnya setelah wanita paruh baya dan cucunya itu masuk kedalam mobil.


Dinda melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, meski dia tidak lah lihai berkendara cepat, namun dia cukup handal dalam mengejar waktu.


Tak lama kemudian mereka sampai di rumah sakit, Dinda dengan cepat membuka pintu dan menuju ruangan gawat darurat.


"Sus... suster tolong saya, saya bawa anak kecil yang sakit, cepat! teriak Dinda.


Seorang suster menyerbu anak dalam gendongan sang nenek, "Biar saya periksa dulu ya, ibu boleh urus administrasinya terlebih dahulu di sebelah sana." Suster itu menunjuk tempat pendaftaran.


Setelah beberapa saat akhirnya dokter dan suster keluar, memberitahukan bahwa anak tersebut secepatnya harus dirawat. Wanita paruh baya itu tampak kebingungan, dia tidak bisa memberi keputusan apa-apa karena tidak memiliki uang.


"Ya sudah bu, dirawat saja. Biar aku yang menanggung biaya saat ini." ucap Dinda menenangkan.


"Terima kasih Nak, tapi apa boleh ibu meminta tolong lagi. Ibu tidak tahu harus meminta tolong pada siapa."


Akhirnya disinilah Dinda berdiri, menyusuli anak dari si ibu yang tengah kebingungan. Berbekal sebuah nama Dinda masuk kedalam club malam itu untuk mencari orang yang bernama Lastri.


Dinda berasal dari keluarga yang mampu, untuk sekedar pergi ke club atau bahkan bersenang-senang dalam hidupnya. Namun semenjak berteman dengan Mettasha, sahabatnya yang berasal dari keluarga sederhana. Membuat dia enggan menghabiskan uangnya untuk berfoya-foya.


Dinda mendekati bartender yang sedang sibuk menuangkan berbagai minuman untuk pelanggannya.


"Mas, boleh aku meminta tolong?" Ucap Dinda setengah teriak.


Bartender itu menoleh, "Kenapa...?"


"Aku mencari orang yang bernama Lastri, apa Mas tahu dimana dia?"


"Lastri? Tidak ada yang bernama Lastri disini. kau cari ditempat lain,"


"Tapi benar club nya disini Mas, coba Mas ingat- ingat barangkali pelayan disini atau siapa?"


"Sudah kukatakan tidak ada, ya tidak ada, sudah jangan menggangguku."


Dengan perasaan kesal Dinda duduk di depan bartender itu dengan wajah yang merengut.


"Aku harus cari dimana lagi dia, aneh banget apa dia mengganti nama nya disini!"


"Lastri ... Lastri" gumamnya pelan dengan mata yang mencari-cari ke segala arah, mencari sosok yang diapun tidak tahu seperti apa.


Tiba-tiba seorang perempuan duduk disebelahnya, memesan minuman yang kemudian diletakan di hadapannya. Perempuan berambut pirang itu meminumnya. Dinda memperhatikannya. Dia sangat cantik dengan tubuh yang semampai. Hingga perempuan itu pun beranjak.


Sementara Dinda mulai bosan, dia menanyai setiap orang yang tengah lewat namun tidak ada satupun yang dapat mengetahui dimana Lastri.


"Berikan aku Tequila sunrise," ucapnya pada sang bartender. Dinda memiringkan kepalanya melihat name tag yang menempel di dada pemuda yang tengah meracik minuman itu.


"Erik ...! heh...Berikan aku tequila sunrise." Dinda mengulangi perkataannya.


Bartender yang diketahui bernama Erik itu hanya mengangguk dan tak lama menyodorkan minuman itu padanya


"Yang ini gratis!"


Dinda mengernyit, tapi dia bersikap tidak perduli, toh hal tersebut memang biasa terjadi di club-club malam manapun.


.


.


Tasya dan Miranda tiba di club tempat mereka sering berkumpul. Mereka langsung berbaur dengan semua orang yang tengah berjingkrak seiring musik yang dibawakan seorang DJ.


Seseorang mengerling pada Miranda, dia sendiri segera menuju meja bartender untuk memesan minuman.


"Rik... Biasa yaa!" Ucap Miranda.


"Ok..." Erik menjawab tanpa menoleh kan kepalanya.


Miranda memasukkan sesuatu pada minumannya, sementara dia menenggak minuman yang lain, lalu dengan santai nya dia kembali bergabung dengan Tasya yang tengah asyik berjingkrak.


"Sya, minuman kamu tuh disana," Miranda menunjuk meja bartender.


"Oh, ok thanks ya Mir."


Kemudian Tasya melangkah menuju meja bartender, mendaratkan tubuhnya di kursi lalu menenggak minumannya.


"Hei, itu punyaku!" seru Dinda pada Tasya.


"Ups..Sorry!" Tasya melihat ada dua gelas diatas meja namun memang Tasya mengambil gelas yang terletak lebih dekat dengan Dinda.


"Rasanya aku pernah melihatnya!Tapi dimana yaa..."


"Nih, minuman kita sama kok, kamu ambil punyaku. Sorry yah, aku langsung ambil punya mu begitu saja." Tasya kemudian berlalu meninggalkan Dinda.


Dinda mengherdikkan bahu, "Terserah," lalu menenggak minuman yang seharusnya untuk Tasya.


Yang ada difikirannya sekarang hanya mencari dimana Lastri.


"Kemana dia Mir?" ucap wanita berambut pirang.


Miranda menunjuk dengan dagunya."Toilet..."


Perempuan berambut pirang itu menelefon seseorang,


"Barang sudah siap ..." ucapnya pada seseorang diujung sambungan.


"....."


"Hem, Uangnya kirim sekarang juga! Bodoh,"


"....."


"Oke ...."


"Well Tafasya ... Enjoy your time."


Wanita berambut pirang itu meninggalkan Club setelah menerima sejumlah uang yang masuk ke dalam rekeningnya, sedangkan Miranda menunggu sesaat sampai ada dua orang pria menyusul Tasya ke dalam toilet lalu dia pun segera pergi setelahnya.


Dinda merasa pusing lebih dari biasanya, dia memegang kepalanya yang terasa sangat berat, lalu berjalan ke toilet dengan sempoyongan.


Hingga dia berada di toilet seorang diri, memuntahkan sesuatu namun efek alkohol tak juga hilang, bahkan terasa lebih berat lagi.


Saat itulah kedua pria masuk kedalam toilet dan memaksa Dinda untuk ikut dengan mereka,


"Siapa kalian?"


"Ayo sayang, aku sudah menunggu mu dari tadi."


Dinda berusaha melarikan diri, seseorang dari mereka menarik bajunya hingga terkoyak.


"Aaa... lepaskan!"


Dinda terus berusaha berlari dengan sisa tenaga yang dia punya. Hingga akhirnya dia bisa keluar dari tempat itu.


Flash back Off


Sementara Tasya yang baru saja keluar dari bilik toilet merasa heran,


"Perasaan baru saja aku mendengar ada suara teriakan!" ucapnya dengan berjalan sedikit sempoyongan.


"Rik, Miranda mana?"


"Mana aku tahu! kau lebih baik tidak usah berteman lagi dengan mereka,"


Tasya terdiam, "Mereka bukan orang baik."


"Aku juga bukan orang baik kok Rik."


"Seenggaknya kamu tidak pernah menjual temanmu untuk kesenanganmu sendiri."


Bersambung.


.


.


Terus dukung karya receh Author ini dengan like, komen, rate 5 juga Fav dan Vote. Atau Gift yaa..


Terima kasih,❤❤


✍✍Sedikit saran


Baca Novel harus keduanya, wkwkkwkw