Assistant Love

Assistant Love
Menyukai pilihanmu



"Apa bunda bilang! Mana bisa bunda membiarkan kalian pergi berdua!"


Alan mendengus, dia bangkit dari duduknya, dan menyerahkan semua pemilihan wedding ring pada sang ibu dan juga calon istrinya, baginya yang penting pernikahannya berjalan lancar, tidak ada hambatan yang berarti dan tentu saja membuatnya bisa melakukan hal-hal menyenangkan tanpa ragu.


Dinda melirik sebentar ke arah belakang, dimana Alan kembali sibuk mengutak- ngatik ponselnya. Ingin sekali dia merebut ponselnya dan akan melemparkannya jauh. Agar pria kaku itu bisa fokus mengurus masalah pernikahan mereka, namun semua hanya angannya saja, mana berani dia melakukan hal seperti itu.


Sementara calon mertuanya selalu menenangkannya, dan mengajaknya memilih apa yang dia sukai, dengan begitu Alan akan tetap menyukai pilihan nya.


Bagaimana kalau dia tidak suka, bagaimana kalau dia tidak mau memakainya.


Ayu menoleh pada Dinda yang terlihat khawatir, mengelus lengannya dengan lembut, "Jangan mengkhawatirkan apapun, dia akan menerima apapun yang menjadi pilihanmu."


Alan muncul di belakangnya, "Bunda benar, kau pilih yang kau suka, aku akan menyukainya sayang!" ujarnya datar, dan tiba-tiba mengecup pucuk kepalanya lalu kembali berjalan dengan ponsel yang menempel di telinganya.


Membuat Dinda kaget dan mengulum bibir, dia menoleh pada kedua wanita paruh baya yang memasang senyuman di bibirnya lalu mengangguk.


"Ayo kau pilih yang kau suka." ucap Syara padanya.


Dinda pun mulai mencari-cari, kedua iris coklat miliknya berjalan kesana-kemari, sedangkan Ayu masih bercerita-cerita dengan sahabatnya itu. Dinda menemukan sebuah cincin yang sederhana, dengan berlian kecil ditengahnya, dan untuk Alan, cincin terbuat dari emas putih.


"Ini seperti nya bagus! Aku pilih ini saja bun," ujarnya dengan menunjuknya di kotak kaca.


Syara mengangguk, begitu juga Ayu. "Pilihan yang bagus sayang!"


"Betul, kedua menantumu punya selera yang bagus!" timpal pemilik queen jewelry itu.


Syara mengambilkannya, dan memberikannya pada Dinda untuk di cobanya, dia pun mencobanya dan memperlihatkannya pada Alan.


"Al apa ini bagus?"


Alan yang tengah meneleponpun menoleh, lalu menutup ponselnya, dia melihat jemari Dinda yang mengenakan cincin pilihannya, lalu menatap wajahnya yang berseri.


"Apa kau menyukainya?"


"Kenapa malah bertanya! Jawab dulu pertanyaanku!"


"Kalau kau menyukainya, aku juga akan menyukainya! Aku menyukai semua apa yang kau suka!"


Dinda mengulum senyum, "Tidak bisa kah kau katakan keinginanmu?"


"Keinginanku hanya satu, yaitu menikahimu. Dan masalah pendukung-pendukung pernikahan, aku akan menerima semua sesuai apa yang kau inginkan!"


Dinda menghela nafas, entah harus senang, atau biasa saja, atau kecewa. Entahlah, dia tidak mengerti apa yang Alan lakukan.


Alan mengelus pipinya, "Jangan fikirkan aku, aku sudah bahagia dengan melihatmu senang, aku hanya tidak bisa seperti orang lain, bukan berarti hatiku biasa saja."


"Cintaku padamu sangat besar, walaupun aku tidak bisa memperlihatkannya!" bisiknya.


Cup


Alan mengecup pipi kiri Dinda yang tengah mengerjap-ngerjap itu. "Alan ... sekalinya memberiku ciuman, malah saat banyak orang!"


"Bukankah itu yang selalu kau inginkan? Apa perlu aku mengusir mereka dari sini?" ujarnya dengan berlalu.


"Iiihhh ... tidak begitu juga Al." Ucap Dinda dengan mendengus.


Setelah serangkaian persiapan pernikahan selesai, mereka kembali ke kantor, Dinda bersikeras ingin kembali ke kantor untuk mengurus pekerjaannya yang tertunda, walaupun sebenarnya dia malas melakukannya.


Akhirnya Alan mengantarkannya kembali ke kantor, sementara dia kembali pulang ke rumah utama.


.


.


Ternyata Farrel dan juga Metta sudah menunggunya di rumah utama, Alan turun dari mobil begitu juga dengan Bunda Ayu, mereka masuk dan langsung disambut oleh pasangan suami istri yang tengah menunggunya.


Farrel berhambur keluar dan langsung memeluk Alan, sementara Ayu dan Metta menggelengkan kepalanya,


"Lepas, apa-apaan?" hardik Alan saat Farrel memeluknya.


"Selamat Al ... kau sebentar lagi akan menikah, aku senang mendengarnya, akhirnya kau hidup juga!" ujar Farrel tergelak.


"Sialan kau! Kau fikir aku apa?" memukul bahunya.


"Sudah ayo berhenti ribut, kalian ini!"


Akhirnya, mereka masuk ke dalam rumah, Metta mengikuti mertuanya yang pergi ke aesh dapur, sementara Alan dan Farrel mendudukkan bokongnya di ruang keluarga.


"Kapan rencananya Al?"


"Tanya bunda saja, aku tidak tahu!"


"Kau ini! Jadi siapa yang mau menikah, kau apa bunda, kenapa kau tidak tahu kapan waktunya."


Alan berdecih, "Aku tidak seperti kau, yang seenaknya bertindak tanpa memikirkan apapun, sampai-sampai merencanakan hal-hal yamg konyol!"


Farrel mengerjap, dia melempar bantal sofa ke arahnya, "Jangan membahas hal itu, bisa-bisa istriku mendengarnya!"


"Cih ... terus berbohong! Suatu hari nanti juga akan terbongkar!"


"Aku tidak berbohong! Aku hanya belum mengatakannya saja!"


Alan kembali melemparkan bantal sofa itu ke arah Farrel, "Sama saja, kau ini!"


Metta dan Ayu kembali menghampiri mereka, Farrel tiba-tiba terdiam, dan Alan hanya mendengus. Metta melirik ke arah keduanya.


"Ada apa nih, kok tiba-tiba diam begini!"


"Gak ada apa-apa sayang, jangan hiraukan kami! Ngobrol saja sama bunda yaa," mengecup tangan Metta.


"El ... kebiasaan deh!" ujarnya menarik tangannya karena merasa risih. Lalu Metta memilih menghampiri bunda Ayu yang tengah menuangkan teh kedalam cangkir.


"Bagaimana kandunganmu sayang?"


"Baik Bunda ... 3 bulan lagi louncing nih!" ujarnya dengan mengelus perut buncitnya.


Ayu mengangguk, "Jangan cape- cape, kau harus banyak istirahat yaa!" Metta mengangguk.


Sementara Farrel kembali menggoda Alan yamg tak bergeming sedikigpun, kedua alisnya bertaut dengan ipad yang dia pegang.


"Masih saja mengurus pekerjaan, kau tidak punya hari esok apa?"


Alan menghela nafas, "Aku harus memastikan semuanya berjalan lancar, sampai tiba saatnya!"


Farrel mengernyit, "Tiba saatnya apa?"


"Lupakan, tidak penting!"


"Dasar aneh!" Farrel mendengus.


"Oh ya Al ... bagaimana keadaan Jerry? Aku dengar dia sudah ditetapkan jadi tersangka!"


Alan mendongkakkan kepala nya, "Kau tahu dari mana?"


"Pengacara Ayah, dia tadi datang ke kantor dan bercerita padaku!"


Alan menghela nafas, "Aku belum mendengar apapun, Leon juga tidak mengatakan apapun!"


"Mungkin karena kau sedang mempersiapkan pernikahan, jadi mereka belim mengatakannya padamu!"


"Apa ayah sudah tahu?"


Metta datang dengan dua cangkir di tangannya, dia meletakkan kedua gelas berisi teh itu di atas meja.


Pembicaraan Alan dan Farrel terhenti begitu saja karena kedatangan Metta.


"Terima kasih sayang!" ucap Farrel pada istrinya, yang hanya mengangguk lalu kembali menghampiri Ayu yang duduk di ruang makan.


"Ayah juga sudah tahu." lanjut Farrel.


Alan mematikkan ipadnya, dan merogoh ponsel miliknya di atas meja, dia mendial nomor kntak Leon, namun tidak ada jawaban.


Sekali lagi Alan mendialnya, namun Leon tidak menjawabnya lagi. Karena panggilan nya d abaikan, Alan mengetikkan pesan padanya.


'Hubungi aku segera!!'