
Pria bertubuh tegap itu berdiri menatap gedung-gedung di balik kaca, dengan satu tangan berada disakunya. Entah apa yang di fikiran nya kini. Meskipun satu persatu masalah telah dia selesaikan, namun hatinya masih tidak bisa tenang.
Seseorang yang tak kalah tegap nya masuk kedalam ruangan, dengan membawa sesuatu di tangannya.
"Al...."
Alan menoleh, namun tidak ada kata yang keluar dari mulutnya.
"Aku menemukan sesuatu, pria yang kau lihat di blok X." Leon menyerahkan selembar foto kepada Alan.
"Dia yang telah mensuplai obat-obatan terlarang itu masuk ke perusahaan." jelas Leon.
Alan memperhatikan foto itu, dan meremasnya menjadi remasan tak berbentuk, urat di kepalanya terlihat, dengan gigi yang bergemelatuk menahan marah.
"Aku akan memberinya pelajaran,"
"Al, lebih baik serahkan dia pada pihak berwajib!"
Alan mendengus, "Tidak usah mengajariku!"
Dia kemudian mendaratkan tubuhnya dikursi kebesarannya. "Bawa saja dia kehadapanku sekarang juga."
"Tapi dia sudah tidak masuk sejak 3 hari yang lalu Al,"
Alan memijit keningnya, "Kalau begitu aku yang akan mendatanginya."
"Jangan bersikap gegabah Al, kita sudah kehilangan Jhony, jangan ada lagi yang jadi korban!"
Alan kembali berdiri, dia berjalan menuju kaca besar yang memperlihatkan ketinggian gedung- gedung. Dengan membakar satu batang rokok yang mulai mengepulkan asap putih di udara.
"Aku akan tetap melakukannya,"
"AL, fikirkan lah lagi!"
Alan menarik kerah Leon hingga, dan merangseknya. Namun Leon tetap tak bergeming.
"Silahkan Al ... lakukan apa yang ingin kau lakukan, tapi please! biarkan polisi yang mengurus persoalan ini, kita tengah diawasi, jika kita gegabah sedikit saja. Bukan hanya kau yang akan terkena masalahnya, tapi semua! Kau mau keluarga mu tahu semua ini? tidak kan... maka dari itu bersabar lah,"
Aaagghhkk
Alan melepaskan cengkraman tangan dikerah Leon dengan kasar, hingga badan Leon sedikit terdorong.
"Kau sudah mulai berani Le...!!"
"Sorry Al, ini semua untuk kebaikan mu juga!"
Leon berlalu keluar dari ruangan, Alan kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa.
"Kau sedang bermain-main dengan ku...!" ucapnya dengan mengepal tangan.
Alan kembali ke apartemen miliknya, setelah info yang dia dapat dari Leon, dia segera bersiap-siap kembali ketempat itu, tempat dia melihat Hendra seperti dugaannya.
Meskipun Leon menyuruh anak buahnya ikut namun Alan menolaknya, dia akan pergi sendirian. Mengurangi resiko terbesar jika salah satu pihak mereka sampai melaporkan, karena sudah pasti tempat mereka itu mendapat sokongan dari oknum aparat.
Setelah selesai Alan kembali turun, memasuki mobilnya dan melajukan kendaraan itu dari pelataran parkir.
Alan menyusuri blok demi blok untuk sampai di tempat ini. Serta menajamkan kembali penglihatannya dan juga pendengarannya.
Alan melihat bayangan seseorang tengah mengikutinya dari belakang, dia berbalik kemudian meringsek tubuh seseorang itu hingga mendorongnya membentuk tembok.
Tangan orang itu meronta-ronta dengan suara yang tercekat, karena Alan menekan lehernya dengan semakin kuat.
Sosok yang memakai topi, dengan mata coklat yang berbinar dan memerah hampir berlinang seketika karena diterpa cahaya lampu diatasnya. Kepalan tangan yang hanya setengah dari kepalan tangan Alan menggantung di udara. Meronta hingga memukul dada dan bahu Alan yang sama sekali tidak berasa apapun baginya.
Dan dipastikan kekuatan tangan yang tidak seberapa itu milik seorang perempuan.
Dengan kasar Alan menarik topi nya, hingga terburai lah rambut cokelat panjangnya.
"Kau...."
Dinda, yang memakai topi andalannya, dengan rambut yang dia gulung lalu dimasukkan kedalam topi nya, lalu kacamata yang bertengger di batang hidungnya.
Uhuk
uhuk
Uhuk
Dinda terbatuk- batuk, dia memegang lehernya hanya untuk memastikan lehernya tidak lepas dari tubuhnya.
Alan tak melepaskan tatapan sedikit pun dari gadis yang kini tengah gelagapan. Mencari Topi yang Alan lempar entah kemana.
"Kenapa kau terus mengikutiku? Siapa kau...."
"Jangan salah sangka, aku ti-tidak mengikuti mu, tidak, kau kau tahu a-aku Akira, Ah kau membuat leherku sakit," memegang kembali lehernya.
Alan mencekal lengan Dinda, hingga terasa kukunya menancap dikulit ari, Dinda meringis. Dan tidak berani menatap wajah Alan.
"Lepas, kau menyakitiku!"
Namun Alan tak bergeming, "Jangan coba membohongiku, kau tidak akan menyangka apa yang bisa aku lakukan terhadap mu Akira!"
Glek
Dinda menelan saliva, Apa yang bisa dia lakukan, apa? melakukan apa.... apa dia akan berbuat jahat padaku malam ini juga, membunuhku? membunuhku dengan tatapannya, hingga jantungku berhenti berdetak. Kalau itu aku mau.
Hentakan kaki terdengar dari satu arah disamping mereka, membuat Dinda menyusup kedalam dada Alan, menyembunyikan wajahnya,
"Mereka datang!" ucap Alan datar.
Saat Dinda menyusupkan kepalanya itulah, dia tak sengaja memegang senjata api yang tersembunyi, di balik jas yang membalut tubuhnya.
"Apa ini senjata api?!" gumamnya,
My Sweety ice mempunyai senjata?
Perlahan Dinda memundurkan tubuhnya, hingga kembali membentur tembok dibelakangnya.
Derap langkah semakin terdengar, Alan menarik Dinda hingga menyuruhnya berjongkok. Bersembunyi dengan menangkup kedua lututnya.
.
Kenapa? apa kau takut denganku sekarang?" ucap Alan bangkit kembali.
"A-aku...." Dinda memejamkan matanya.
"Siapa kau sebenarnya?"