Assistant Love

Assistant Love
Tukang Drama



Alan memutuskan sambungan telepon, lalu memeriksa, pesan masuk berisi informasi tentang Leon, dan diantara kegiatan hari ini miliknya, tidak ada satupun kegiatan Leon bertemu dengan Dinda, di hari ini.


"Kurang ajar!" gumam Alan.


Dengan jelas disana tertera, kegiatan Leon yang sama sekali tidak bersinggungan dengan Dinda, jangankan makan siang, bertemu dengan berpapasan saja tidak.


Apa gadis itu sedang membual? Dia ingin pasti ingin mengerjaiku, berpura-pura berpacaran dengan Leon, benar-benar gadis bodoh. Apa dia sedang mengerjaiku, padahal aku sudah meminta maaf padanya. Membuat masalah semakin rumit saja. Lihat saja.


Flashback Off.


Alan semakin gusar saat Dinda meninggalkan ruangan begitu saja, setelah apa yang terjadi pada mereka. Dia lantas keluar, melihat meja kerja milik Dinda yang kosong.


Alan berjalan melewati koridor, namun Dinda juga tidak terlihat disana, Hingga dia memutuskan untuk kembali kedalam ruangannya.


Alan melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya, entah kenapa ada perasaan lega yang dirasakannya kini. Saat mengambil kesimpulan bahwa Dinda berbohong padanya.


Lalu bagaimana dengan Leon sendiri? Entahlah, dia bahkan belum bisa berfikir lebih jauh lagi.


Sementara Dinda, belum keluar juga dari salah satu bilik toilet, dia merutuki hatinya yang terlalu lemah berhadapan dengan Alan, terlalu lemah hingga malah terbuai dengan apa yang Alan lakukan padanya.


Ceklek


Dia kembali keluar dari bilik toilet setelah beberapa waktu, lalu kembali menuju meja kerjanya. Mengatur nafasnya perlahan- lahan agar detak jantungnya kembali normal. Hal yang duku sering dia bayangkan, dan terjadi juga hari ini, namun dengan keadaan hati yang tidak lebih baik.


"Aku sudah bilang, untuk tidak pergi begitu saja! Kenapa kau selalu membangkang?"


Suara bariton terdengar menggelegar dari arah belakang. Dinda dengan takut- takut menolehkan kepalanya kebelakang.


Dilihatnya Alan yang berada diambang pintu, masih dengan tatapan yang sulit diartikan, dengan rahang tegas yang kokoh miliknya.


"Masuk!" titahnya.


Alan menghilang dibalik pintu, setelah mengatakan hal itu dengan dingin.


"Apa yang sebenarnya dia inginkan!" gumam Dinda kembali bangkit dari duduknya.


Dengan ragu dia kembali masuk kedalam ruangan sosok yang hari ini sangat menyebalkan.


"Periksa ini!" ujar Alan yang duduk di sofa.


Dinda berjalan mendekat dengan ragu,


"Duduk." titahnya lagi.


Dinda mendudukkan dirinya disofa di hadapan Alan, Sementara Alan berdecak, "Bukan disitu,"


Dinda mulai jengah lagi, suasana hatinya dibuat naik turun dalam waktu bersamaan, benar-benar sulit dimengerti.


"Jadi aku harus duduk dimana?"


"Terserah lah!" ujar Alan dingin.


Apa kau gila? Aku benar -benar tidak mengerti. Dasar orang aneh manekin hidup. batin Dinda dengan menghentakkan kakinya,


"Jangan mengumpat, aku mendengarnya!"


"Dih...." gumam Dinda.


Alan lalu membuka halaman pertama berkas yang akan Dinda pelajari.


"Ingat ini, aku tidak akan mengajarimu berkali-kali, Jadi kau harus lebih pintar lagi, kau paham? Dinda...."


Kenapa dia terus memanggilku Dinda sekarang? Terdengar aneh jika dia yang memanggil ku dengan sebutan itu.


Alan membuka ipad nya, lalu menggulirkan nya, "Kau pelajari ini, ini contoh laporan yang selalu dipakai disini!"


Alan terus menjelaskan semua nya dengan jelas, langkah-langkah yang harus dia ambil. Namun Dinda tidak bisa konsentrasi dengan baik atas penjelasan Alan, dia hanya mengikuti arah pergerakan dari tangan Alan dengan sesekali dianya melirik wajah dengan rahang kokoh dari depan.


"Jangan terlalu sering melihatku, ingat kau sudah punya pacar!" ledeknya.


Dinda gelagapan, bak orang yang tengah ketahuan mencuri, Sementara Alan mengulum bibir. Lalu kembali menggulir ipadnya.


"Sekarang kau pelajari ini dulu, aku membutuhkannya sore ini juga." ujar Alan berjalan keluar dari ruangan.


Dinda mencoba menyusun sesuai dengan langkah yang diajarkan oleh Alan, mengotak-ngatik tapi tapi juga mengerti.


"Astaga, ini sangat rumit sekali, kenapa tidak memakai yang biasa nya saja." gumam Dinda.


"Aku menyuruhmu mempelajarinya, bukan santai-santai seperti nyonya besar!" ucapnya dingin.


Dinda menatap nyalang pada Alan yang menghampirinya, Iihhh... aku ingin mencakar wajahnya, dasar manekin


"Jangan selalu mengumpat dalam hati." ujar Alan yang kembali duduk.


Dinda mencondongkan tubuhnya, mengambil berkas yang diletakkan Alan diatas meja. Lalu mencoba nya kembali.


"Aku benar-benar tidak mengerti." ujarnya menyerah.


Alan yang duduk dihadapannya bangkit kembali, " Lalu apa yang kau bisa? Bermain drama?"


Dinda bangkit dari duduknya, "Kau ini mau nya apa Hah? Kau benar-benar menyulitkanku!"


Dinda melewatinya begitu saja dan keluar dari ruangan dengan cepat, dan itu membuat Alan tergelak.


"Kau merasa dipermainkan yaa? Sama ...." gumamnya.


Lalu Alan kembali hanyut dalam pekerjaan nya, pekerjaan yang sebenarnya dia bisa handle semua sendiri, meskipun dia membutuhkan seorang sekretaris, itu hanya untuk mengatur jadwal nya saja.


"Kurang ajar!!!" gumam Dinda dengan menahan marah.


"Aku ingin mencakar wajahnya, aku ingin memukulnya, aku ingin aaaahhkk....sial, aku ingin kembali ke divisi umum saja." gumamnya lagi.


Dinda menangkup wajahnya diatas meja, dia tidak peduli dengan orang-orang yang datang menyerahkan laporan pekerjaan untuk ditanda-tangani oleh Alan, tidak menggubris perkataan Alan apapun itu.


Tak berselang lama, seseorang berjalan mendekatinya, sosok itu berdiri dihadapannya dengan bergeleng kepala, lalu mengetuk meja kerjanya sebanyak 3 kali. Namun Dinda tak peduli,


"Simpan saja disitu! Nanti ambil kembali setelah selesai ditanda-tangani!" ucapnya tanpa mengubah posisinya.


Orang itu mengulum senyum, lalu kembali mengetuk meja.


"Mbak, maaf aku ingin bertemu bos!"


"Nanti saja, dia sedang tidak ada ditempat!" ujarnya.


"Begitu yaa!"


Kepalanya terlihat mengangguk-ngangguk dengan rambut yang terurai bebas tapi juga kusut. I Don't care.


Tok


Tok


Suara sosok itu menirukan ketukan, "Sudah ku bilang...."


Dinda mendongkak, menatap wajah orang yang sedari tadi berdiri dihadapannya.


"Leon...?"


"Hai... kau sepertinya lelah?" ujar nya dengan senyuman terukir jelas.


"Hm... begitulah!" jawab Dinda dengan acuh.


"Kau sedang apa disini?" tanyanya kemudian.


Leon menggaruk kepalanya, "Aku kesini untuk ...."


Ceklek


bertepatan dengan pintu ruangan Alan yang terbuka. Alan keluar dan langsung berhadapan langsung dengan Leon.


"Leon...? kau sedang apa disini?" Tanya Alan.


Dinda bangkit dan melangkah mendekati Leon, melingkarkan tangannya pada lengan nya.


"Tentu saja dia menemuiku, iya kan sayang!" ujar Dinda dengan mengulum bibirnya.


Apa maksudnya, dia memanggil ku sayang dan bersikap aneh begitu.


"Jam kerjaku masih ada, kau mau menunggu disini? Atau kau ingin aku minta ijin pulang lebih dulu, sayang!" ujar nya dengan suara dibuat-buat.


Alan menatap tajam tangan Dinda yang terus bergelayut manja pada Leon. Lalu menatap Leon yang berseringai.


"Dasar tukang drama."