
Pesan berisi foto baru saja dikirim pada Mac, berharap bisa menemukan gadis itu, Akira Dinda Kirani, gadis yang memberikan sensasi yang tak pernah dirasakan sebelumnya, namun dia tak tahu pasti sensasi apa itu.
Mac mengernyit saat melihat foto itu dengan lekat, merasa tidak asing dengan wajahnya. Tak lama dia menghubungi seseorang.
Kenapa dia harus dicari?
Terlibat apa?
"Hmm, kalau kau sudah menemukannya hubungi aku." ucapnya dengan seseorang diujung sana.
Tak butuh lama Mac mendapatkan apa yang dia ingin kan, seseorang yang menghubunginya mengirimi pesan yang sekarang tengah dia lihat. Bahkan lengkap dengan info lainnya.
"Apartemen di blok xx?" Mac mengernyit, "Ini tempatnya tidah jauh dari apartemen milik Alan."
"Alan pasti terkejut saat tahu jarak mereka begitu dekat tapi dia tak menyadarinya."
Bertepatan dengan itu Alan bangkit dari tempat duduknya, sementara lengannya menyenggol selembar kertas putih. Polos tanpa tulisan apapun.
Alan mendongkak mengambil kertas itu dan meremasnya, lalu dia berjalan ketempat sampah, dan membuangnya begitu saja. Dia kembali menghempaskan dirinya disofa, namun ketenangan tak juga dia dapatkan, walau pun dirinya sudah menyuruh Mac mencarinya.
"Aku harus mencarinya sendiri," gumamnya lalu bangkit dan berjalan keluar dari ruangannya.
"Mana Leon?" tanyanya pada sekertaris Leon.
"Maaf pak sudah pergi setengah jam yang lalu,"
"Pergi kemana?" Sekretaris itu menggelengkan kepalanya.
"Mung-"
Namun Alan berbalik dan berjalan kembali meski sekretaris itu belum selesai dengan kalimatnya. Alan berjalan keluar dari perusahaan, menuju pelataran parkir dan masuk kedalam mobilnya.
Melaju ke sebuah tempat, bangunan apartemen yang cat temboknya sudah mengelupas dimana-mana. Secepat mungkin Alan ingin sampai disana, berharap bertemu gadis itu, gadis absurt berambut coklat.
Hingga mobil berhenti didepan apartement yang lebih mirip dibilang rumah susun itu dari pada Apartemen biasanya.
Alan keluar dari mobil dan langsung masuk kedalam, namun sial lift yang berada disana kini kembali rusak, dan dengan terpaksa dia harus menaiki tangga.
"Sial ...." umpatnya pelan.
Hingga dia berhasil naik ke lantai 3 dimana dia mengantarkan gadis mabuk yang dia selamatkan malam itu.
Gadis yang dia tebus sebanyak 5 juta dollar, yang dress yang sobek dibagian bahu karena ulah dua pria didalam club, gadis berambut cokelat yang mengumpat seorang pria saat dia dalam keadaan mabuk, umpatan-umpatan yang dia tidak tahu untuk siapa.
Hingga saat dia menyibakkan rambut yang memenuhi wajahnya saat dia memindahkannya dari lantai menuju ranjang miliknya. Sampai,
Lantai 3 kini terlihat lenggang, hanya ada beberapa kamar yang terlihat berpenghuni, dilihat dari tirai yang menutupinya, sementara yang kosong kebanyakan tidak bertirai, hingga dapat melihat ruangan nya dari luar.
Alan tertegun melihat kamar no 75 yang kini tak bertirai, apa itu artinya?
"Shi ** ...gadis itu mungkin saja kabur setelah ketakutan melihatku semalam,"
"Bodoh! Seharusnya aku memastikannya semalam."
"Brengsekk" umpatnya memukul udara.
Lalu dengan langkah tergesa-gesa dia kembali turun, tak peduli nafasnya sudah mulai terengah-engah dan keringat mulai bercucuran dari keningnya. Dia terus berjalan keluar ditemani umpatan demi umpatan dari mulutnya.
Sebelum dia masuk, dia merogoh ponsel dari sakunya lalu menghubungi Mac.
"Pastikan kau menemukannya, secepatnya!!"
Lalu kembali memasukkan ponsel itu kedalam saku dan masuk kedalam mobil dengan membanting pintu mobil dengan kesal.
.
.
Dengan senyum yang kini mengembang, Leon memandangi pesan dari Akira, Dinda ya Dinda. Dia mengirimi sebuah alamat Cafe untuk mereka makan siang sesuai janjinya tadi pagi.
Leon sengaja berangkat lebih awal karena tidak ingin terlambat dan membuat Dinda menunggunya lebih lama. Dengan siulan renyah dari bibirnya yang dia kerucutkan. Menghilangkan perasaan kesal karena Alan yang sudah dia peringatkan sebelumnya.
Dinda baru keluar dari kantor, hari-hari dia bekerja rasanya membosan kan karena Metta sahabatnya tengah ijin lagi, Dinda masuk kedalam cafe sesuai yang dia kirim kan pada Leon, tetangga baru nya yang berparas tampan dan juga rahang keras,
"Nona Dinda?" ucap seorang waiter padanya.
"Mmmpphh...iya,"
Waiter itu memberikan setangkai bunga mawar berwarna kuning kepadanya.
"Tolong diterima, ini untuk anda dari Tuan Leon," waiter itu pun menunjuk Leon yang duduk tak jauh darinya.
"Leon, aku kira kau belum datang!" ucapnya saat Leon menyambanginga.
"Kau suka bunganya?"
"Hmm, aku suka....wangi," ucap Dinda dengan menghirup kelopak bunga mawar itu.
"Tapi kok kuning? Biasanya aku melihat seseorang memberi mawar berwarna merah atau putih, jarang sekali yang memberi warna kuning seperti ini,"
Leon menarik bibirnya keatas, "Tentu saja karena warna mawar berbeda itu juga berbeda artinya."
"Mawar putih artinya cinta yang suci biasanya diberikan saat momen pernikahan yang suci dan kesetiaan,"
"Kalau mawar Merah artinya menggelora, kuat, dan juga romantis."
"Sedangkan kuning artinya, pertemanan, awal yang bagus untuk memulai sesuatu,"
Dinda terperangah dengan penjelasan yang jelas yang diberikan oleh Leon, "Wow... kau cerdas sekali, apa kau bekerja sebagai penjual bunga?"
"Astaga...." Leon tergelak mendengarnya.
"Hei, kecilkan suaramu!"
Namun Leon tetap terbahak,
Astaga, ada gadis yang seperti mu didunia ini.
"Atau kau pemilik taman bunga?" tukasnya lagi,
Membuat Leon tak berhenti terbahak hingga terpingkal-pingkal.
"Hei sudsh kubilang, jangan tertawa sekeras it! lama-lama kau menyeramkan."
Leon menyusut air mata yang berada diujung mata dengan ibu jarinya, akibat dari terpingkal mendengar penuturan Dinda yang polos atau,
"Kau ingin membuang waktu makan siang ku dengan percuma ya!" rungutnya saat Leon masih dengan sisa-sisa gelaknya.
"Oke-oke kita pesan makanan sekarang! maaf tapi kau lucu sekali," ujarnya dengan memanggil waiters untuk memesan menu.
Waiters pun datang menghampiri, mereka mulai memesan makan siang mereka,
"Aku cumi asam manis dan ice lemon tea, kamu makan apa?
"Udang pedas gurih dan ice tea," ujar Dinda.
"No...no Lebih baik minumnya ice lemon tea ya,"
Dinda terperangah, namun dia juga tidak menolak saat Leon mengganti menu miliknya.
Leon mengangguk, "Udah Mbak itu saja dulu,"
"Baik, saya ulangi pesanan nya ya, Cumi asam manis dan juga udang pedas gurih, kalau minumnya ice lemon tea, betul?"
Leon mengangguk, " Betul...."
"Kalau begitu mohon ditunggu," waiters itupun berlalu,
"Maaf ya, tadi aku mengganti menu yang kamu pilih, karena setelah makan udang tidak boleh minum teh?"
"Iya ih, padhal aku biasanya juga minum ice tea, hot tea, memangnya kenapa sih?"
"Karena kandungan teh itu mengandung asam tanat yang akan menyebabkan iritasi pada lambung jika terus diminum bersamaan dengan udang yang banyak mengandung nutrisi baik,"
"Yaa ampun, kamu ahli gizi? Dokter?"