Assistant Love

Assistant Love
Tekad Leon



Rumah utama keluarga Adhinata


Setelah suasana yang mengharu biru selesai, mereka kini berkumpul di meja makan, Ayu sengaja memasak sendiri untuk ke tiga orang yang hari ini menjadi hari spesial untuk mereka. Alan, Leon dan Jerry yang baru saja kembali menghirup udara segar.


"Bunda tidak seharusnya tidak perlu melakukan hal ini, ini sudah sangat banyak." ujar Alan yang melihat para pelayan mondar-mandir menata hidangan.


"Kau ini bagaimana! Seperti tidak tahu bunda saja!" timpal Farrel yang juga merasa bunda Ayu selalu berlebihan.


Leon dan Jerry mengulum senyum, bagi mereka ini adalah penyambutan paling wah yang pernah mereka rasakan, kehangatan keluarga yang juga mereka rasakan, dari keluarga Adhinata.


"Makan saja yang banyak! Tidak usah fikirkan hal lain, kalian bertiga terlihat kurus dan juga lusuh," jawab Ayu.


"Padahal bunda setiap hari mengirimi kami makanan, kenapa masih terlihat kurus juga ya?" ucap Leon yang membuat semua tergelak.


"Ini beda Leonard, sudah tinggal makan saja!"


"Iya Bunda...."


.


Dokter Frans tiba di halaman rumah, setelah mematikan kendaraannya, dia masuk kedalam rumah, dan langsung menuju ruang makan.


"Wah ternyata pesta sudah dimulai! Maaf Om terlambat."


Semua mata tertuju padanya, termasuk Leon yang sudah mengenalnya saat di rumah Tasya.


"Dokter Frans?"


"Leon ... kau kah itu?"


Leon mengangguk dan langsung berdiri menyambutnya. Dia mengulurkan tangan padanya dan langsung disambut oleh Frans.


"Kalian sudah saling mengenal rupanya?" tukas Ayu.


"Iya Mba ... Aku sempat beberapa kali melihatnya,"


"Oohh ... Ya sudah ayo duduk, kita langsung makan saja kalau begitu."


Alan menghampiri paman angkatnya, lalu mengulurkan tangannya, namun Frans tidak mau menjabatnya, dia justru menarik bahu dan memeluknya.


"Apapun kamu di masa lalu, kau tetap keponakanku Al ... tapi ingat, jangan pernah melakukan hal itu lagi!" bisiknya ditelinga Alan.


Alan mengangguk, "Pasti Om ... terima kasih,"


Frans mengurai pelukannya, "Kalau kau tidak ku maafkan, aku pasti akan mendapat masalah dari kakakku itu!" ujarnya dengan melirik Ayu.


"Kau ini....!"


Frans kemudian terkekeh dengan menarik kursi di samping Leon, hingga dia menoleh ke arahnya.


Apa Leon ada hubungannya dengan Alan, apa meraka satu komplotan yang tertangkap. Dan yang dikatakan Tasya kalau Leon menghilang itu karena dipenjara. Itu karena kasus yang sama dengan Alan. Astaga. Batin Frans.


.


Setelah selesai makan-makan, semua orang berpindah ke area belakang, termasuk dokter Frans dan juga Leon. Sedangkan Farrel segera menemui Ayahnya yang masuk ke dalam ruangan kerja.


"Leon ... bisa kita bicara sebentar?"


Leon mengangguk lalu mengikuti Frans yang berjalan ke arah gazebo, Frans membalikkan tubuhnya ke belakang.


Bugh


Frans tiba-tiba mendaratkan pukulan ke rahang Leon, "Maaf ... tapi aku rasa kamu memang pantas mendapatkannya."


"Om!! ada apa?"


Alan menghampiri paman dan juga sahabatnya, setelah melihat Frans yang memukul Leon secara tiba-tiba.


"Tidak apa Alan, Jer!" jawab Leon.


Om Frans tidak pernah melakukan kekerasan, sekalipun dia marah, kalaupun dia melakukannya, itu artinya Leon memang bersalah. ucap Alan dalam hati.


Frans menatap Jerry dan kembali tersenyum, "Om hanya harus melakukannya, maaf Leon! Tapi aku tidak bisa menahan diri."


"Silakan duduk!" sambungnya lagi.


Leon yang tampak mengernyit dengan sikap Frans mengangguk dengan memegangi rahangnya yang terasa kaku, karena pukulan Frans cukup kuat.


"Tidak apa dok, tapi kalau boleh tahu kenapa memukulku?" tanya Leon saat pantatnya sudah mendarat dengan sempurna.


Kini mereka duduk bersampingan, Frans melirik Alan dan juga Jerry, seolah menunggu mereka faham jika dia harus bicara 4 mata saja dengan Leon, melihat tatapan dari Frans, Alan pun kembali ke tempatnya.


"Terus terang, aku ikut sakit hati, melihat Tasya yang kembali harus trauma."


Leon mengerti sekarang, kenapa dokter Frans sampai memukulnya tadi, dia menundukan kepalanya.


"Dok ... Tasya pasti kecewa, bagaimana keadaannya sekarang?"


"Kau tahu sendiri jika dia sedang kambuh, dsn kali ini, dirimulah yang jadi pemicu utama, kau tahu? Baby Zi sampai dehidrasi karena seharian tidak diberi Asi."


Deg


"Baby Zi?"


Frans mengangguk, sementara Leon bangkit dari duduknya, "Aku harus kesana sekarang juga Dok!"


Namun Dokter Frans menahan lengannya, "Jangan gegabah, Tasya sedang kambuh, dan jika melihatmu, aku takut malah dia kembali histeris, setidaknya tunggu lah 1 atau 2 hari."


Leon membasuh wajahnya, "Lalu aku harus menunggu, bagaimana kalau ayahnya membawa Tasya dan baby Zi hari ini juga?"


Kali ini Frans yang mengernyitkan dahi, "Kau juga sudah tahu?"


Leon mengangguk, "Ayahnya menemuiku dipenjara, dan dia menyuruhku untuk menjauhi anak dan cucunya."


Frans menghela nafas, "Fierro memang keras kepala dan egois! Aku takut hal itu yang akan membuat penyakit Tasya semakin parah,"


"Tidak bisa di tunda lagi, aku harus menjelaskan nya dengan baik! Jangan sampai aku terlambat." ujarnya dengan beranjak, dan langsung masuk kedalam rumah.


"Jerry ... biarkan dia menyelesaikan masalahnya!"


Jerry kembali menghampiri Alan, dan sudah dipastikan jika Alan tahu sesuatu. "Memangnya ada masalah apa antara pamanmu dan juga Leon sampai dia buru-buru keluar?"


"Nanti juga kau akan tahu!!" ucap Alan tanpa menolehkan pandangannya.


Leon keluar rumah, dia mengedarkan pandangannya, dan menemukan mobil Rubicon hijau miliknya masih berada digarasi mobil.


"Leon, lebih baik nanti saja! Kau harus dengarkan aku!"


"Maaf Dok! Aku tidak bisa menunggu lagi, apapun yang terjadi aku akan menanggung resikonya, kalaupun nyawa yang menjadi taruhannya. Aku tidak bisa kehilangan mereka."


Frans tersenyum melihatnya, lalu dia mengangguk, "Aku memang yakin kamu pria yang baik, dan bisa menyembuhkan luka batin pada diri Tasya."


"Kalau begitu aku pergi!" ujar Leon yang langsung masuk kedalam pintu mobil, dan langsung menancap pedal gas.


.


Leon melajukan kendaraannya secepat mungkin, dia tidak ingin terlambat apalagi menyesal seperti sahabatnya. Tidak menggubris ruas jalan yang mulai macet, dia membelokkan nya mencari jalan alternatif lain agar cepat sampai.


Tak lama kemudian dia sampai dirumah Tasya, security yang mengenalinya pun membukakan pintu gerbang.


"Pak ... Tasya ada kan??" tanyanya saat security itu membuka gerbang.


"Mas Leon kemana saja? Tidak pernah kemari."


"Ceritanya panjang, nanti saja! Katakan apa Fierro ada?"


Security itu mengangguk, "Non Tasya sedang istirahat, tapi sepertinya tuan besar akan pergi malam ini juga!"


"Benarkah?" ucapnya dengan kedua mata yang mengedar ke atas.


"Apa kau mau membantuku?"


Securty itu mengangguk, "Apa yang harus aku lakukan, aku kan melakukannya!"


"Terima kasih...."


.


Dengan bantuan security, Leon bisa naik ke balkon rumah dengan menggunakan tangga, dan langsung menuju kamar Tasya. Leon mencari jalan untuk bisa masuk, dan beruntung, pintu dari arah balkon tidak terkunci, hingga dia bisa masuk dengan leluasa.


Tasya yang tengah terbaring itu tidak menyadari jika Leon sudah masuk ke dalam, dia berjalan memeriksa pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Lalu kembali menghampiri ranjang.


Leon duduk ditepi ranjang, menatap lekat wajah Tasya yang terlihat sembab, dia mengelus pipi putihnya dengan perlahan.


Seketika Tasya membuka matanya dan melonjak kaget, lalu berteriak hingga Leon terpaksa membungkam mulutnya menggunakan tangan.


"Sayang, ini aku! Ini aku...."


Kedua mata Tasya membola saat melihat sosok di hadapannya adalah Leon.


"Aku akan melepaskan, tapi aku mohon jangan berteriak, aku tidak akan pernah menyakitimu apalagi meninggalkanmu!"


Tasya mengganggukkan kepalanya, Leon pun perlahan melepaskan tangannya. "Maafkan aku, karena datang dengan cara begini! Aku hanya ingin menjelaskan semuanya padamu."


Tasya berderai air mata, dia tidak bisa menahan dirinya.


"Jangan menangis please ... jangan! Aku akan menebus kesalahanku padamu, aku bersalah karena menghilang begitu saja dan tidak mrmberimu kabar, meninggalkanmu dan juga baby Zi." ujarnya menyusut air mata yang meleleh di pipinya.


"Kau jahat ... brengsekk!!" Tasya memukul Leon berulang-ulang, namun Leon semakin menundukkan kepalanya.


"Aku yang bersalah, hukumlah aku sesukamu, tapi maafkan aku,"


"Dan aku akan berusaha meyakinkan ayahmu agar beliau mengijinkanku untuk menikahimu.


Tasya mengangguk, "Aku tidak ingin ikut dengan Papi keluar negeri, aku hanya ingin disini dan juga baby Zi."


"Aku akan berusaha ... kamu percaya kan?"


Tasya terdiam, dia tidak menjawabnya, hingga terdengar ketukan di pintu kamarnya.


Tok


Tok


Leon dan Tasya menoleh kearah pintu, lalu saling berpandangan. "Aku harus pergi! Dan aku pasti akan kembali."


Tasya terkesiap saat bibirnya menyentuh benda basah dan lembut, Leon menciumnya dengan lembut.


Tok


Tok


"Non....?"


Leon langsung beranjak dari duduknya, lalu memeluk Tasya, "Tunggu aku, aku pasti akan menjemputmu dan juga Baby Zi."


Tok


Tok


Leon menunggu jawaban Tasya yang masih bungkam itu, namun gerakan kecil kepalanya cukup membuat Leon yakin, bahwa Tasya mengerti ucapannya dan akan menunggunya.


"Aku pergi...."


Namun tangannya tidak Tasya lepaskan, "Aku ikut bersama mu saja!"


Leon menggelengkan kepala, "Tidak ...bukan seperti ini, ayahmu pasti akan semakin membenciku. Aku akan menjemputmu dengan cara yang benar." ujarnya mengecup kening nya.


Ketukan dipintu semakin kencang terdengar,


"Non ... Non Tasya?"