Assistant Love

Assistant Love
Gerak cepat Leon



"Maafkan aku Leon."


"Maafkan aku karena terus membawamu ke dalam masalah yang tidak kunjung selesai ini. Tapi kau tidak perlu berkorban seperti itu." ujar Tasya dengan terisak.


Leon membawa Tasya duduk di sofa, dia pun mengambil alih baby Zi dan memberikannya pada pengasuhnya.


"Bawa baby Zi ke kamarnya!" titahnya.


Sementara dia kembali menenangkan Tasya yang masih terus menangis, dia menyuruh maid yang lain untuk mengambil segelas air dan memberikannya pada Tasya.


"Ini minum dulu, tenangkan dirimu! Ingat kau punya baby Zi yang harus kau urus. Hem? Jangan fikirkan lagi masalah ini."


Tasya menggelengkan kepalanya, dia juga masih terus menangis, efek trauma semenjak kehamilan, karena menerima terus penolakan-penolakan dari Erik menjadi penyebab nya. Bahkan tangannya mengalami Tremor.


"Sya ... Hei ...Hei... kau dengar aku kan?" ujar Leon menepuk kedua pipinya.


Namun Tasya malah tidak sadarkan diri saat itu juga, Leon lantas menyuruh Maid menunjukan kamar miliknya, dan membawanya masuk kedalam kamar.


Leon membaringkan Tasya dan menghubungi dokter, namun maid dirumahnya mencegahnya, "Biar saya menghubungi dokter Frans, dia yang selama ini merawat nona, tuan!"


Leon memutuskan sambungan teleponnya, dan mengangguk, "Baik bi, terima kasih ... boleh tolong ambilkan minyak angin untuknya?"


"Baik tuan."


Maid pun keluar dari kamar, sedangkan Leon masih berada di dalam kamar menjaga Tasya, sambil menunggu dokter datang, dia mengolesi Tasya dengan minyak angin.


Maid masuk begitu saja karena memang pintu dibiarkan terbuka, "Tuan, dokter sudah datang!"


Dokter Frans masuk ke dalam kamar, dan menoleh pada Leon yang mengangguk ke arahnya.


"Bisa tinggalkan kami berdua?"


Leon mengangguk, dia pun keluar dari kamar.


"Tasya ... kau mendengar Om, ini Om Frans!"


Tasya yang baru saja sadar itu menoleh kepadanya, dan berhambur memeluknya, "Om Frans, kenapa dia terus mengganggu hidupku! Jika dia tidak mengakui anaknya, untuk apa dia terus datang dan mengungkit lagi." ujarnya menangis.


Om Frans terus mendengarkan semua yang dikatakan Tasya tanpa menyelanya sedikitpun, dia membiarkan Tasya meluapkan kemarahan dan kekecewaan nya selama ini.


Dokter Frans pun menuliskan resep obat untuknya. "Aku sudah menambah resep obat ini, tapi ingat, kau tidak boleh menyusui jika meminum obat ini, kecuali kau berusaha untuk sembuh dan trauma mu berangsur membaik Tasya."


Tasya mengangguk, "Aku akan berusaha lagi om!"


"Harus bisa, agar kau bisa hidup bahagia ke depannya, kau harus ingat ada baby yang harus kau urus!"


Perkataan om Frans seperti apa yang dikatakan oleh Leon. Aku memang harus melupakan masalah ini. Mereka benar, baby Zi membutuhkanku.


"Om sudah selesai memeriksamu! Om pergi dulu yaa? Jangan lupa di minum obatnya." ujar Frans dengan keluar dari kamar.


Leon yang masih menunggu di depan pintu kamar pun mengantarkan dokter itu sampai turun ke bawah.


"Sebenarnya kenapa dengan Tasya, setiap kali bertemu dengan Erik, dia pasti histeris dan tidak sadarkan diri Dok?"


"Semenjak masa kehamilan sampai pasca melahirkan, dia memang mendapat penolakan dari suaminya, perasaan itu lah yang membuatnya trauma, ditambah aku lihat memang dia tidak mendapat dukungan apapun dari orang-orang terdekatnya, orang tuanya terlalu sibuk dalam dunia mereka, membuat dia merasa kehadirannya tidak di inginkan, dan faktor- faktor berupa penolakan yang lainnya. Dan puncaknya ya itu tadi, dari suaminya yang menolak kehamilannya."


"Tapi selama ini dia terlihat sehat dok?"


Dokter Frans menoleh padanya, "Dia memasng sehat secara fisik!"


Dokter pun masuk ke dalam mobil dan berlalu dari sana.


Leon kembali ke kamar Tasya dan melihat keadaannya. Namun ternyata Tasya sudah tertidur karena obat yang diberikan oleh dokter.


Leonpun duduk di sofa dengan memperhatikannya yang tengah terlelap.


"Kasihan kamu Sya ... ternyata hatimu sangat menderita tapi tidak pernah kamu tunjukan pada siapa pun." gumam Leon.


Dia pun keluar dan perlahan menutup pintu kamar. Dia menuju ke bawah,


"Bi ... bisakah dapur disebelah mana?"


"Di sebelah kiri lalu lurus tuan, maaf apa tuan butuh sesuatu, biar saya yang menyiapkan."


"Tidak perlu bi, aku hanya akan menyiapkan makan untuk Tasya."


Leon yang memang tidak pernah merasa canggung saat dirumah orang lain oun segera masuk ke dalam dapur, menyiapkan makanan untuk Tasya, dia membuka lemari es dan membuat menu sesuai dengan apa yang dia temukan disana.


Setelah berkutat dengan segala macam bahan masakan, akhirnya masakan buatannya telah jadi. Dia mempersiapkannya di atas piring dan membawanya ke kamar Tasya.


Tasya sendiri sudah terbangun, dia terlihat menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang, dan menoleh pada Leon yang baru saja masuk.


"Kau sudah bangun rupanya, makan dulu yaa!"


"Leon, aku kira kamu sudah pulang! Maafkan aku, aku terus merepotkanmu!"


Leon meletakkan nampan di atas meja disamping ranjang, "Kamu bicara apa? Sudah aku bilang, jangan sungkan padaku! Sekarang lebih baik kamu makan."


"Aku sudah membuat sup iga spesial untukmu!"


"Kamu yang memasak?"


Tasya menarik tipis bibirnya, "Kau bisa memasak juga rupanya. Lalu apa yang tidak bisa kamu lakukan?"


Leon berpura-pura berfikir. "Ada sih satu ... eh dua yang tidak bisa aku lakukan! Melahirkan dan menyusui." ucapnya tertawa.


Tasya pun ikut menutup mulut dan tertawa,


"Jadi apa kau bisa melakukannya untukku?" ucap Leon dengan menyunggingkan senyuman.


"Maksudnya?"


Leon menggaruk kepalanya, "Lupakan, lebih baik, kau makan dulu, kita bicarakan nanti!"


Leon mengambil mangkuk berisi sup iga buatannya dan memberikannya pada Tasya.


"Kau makan sendiri atau mau aku suapin?"


Tasya mengelengkan kepalanya, "Aku makan sendiri saja."


Tasya pun makan dengan lahap, rasa sup iga buatan Lein memang enak, dan dia menyukainya.


"Ini enak sekali Leon, terima kasih!"


"Ini belum seberapa? Aku bisa memasak segala jenis masakan. Western, java, pokoknya semua aku bisa!"


"Benarkah?"


"Kau harus selalu sehat, kalau mau merasakan semua jenis masakanku!"


"Baiklah Chef Leon!" ujar Tasya terkekeh.


Leon mengambil mangkuk yang isinya telah tandas, lalu memberikan segelas air untuknya.


Setelah meminumnya, Leon mengambil gelasnya kembali, hati nya merasa tidak karuan, dia menatap Tasya dengan lekat.


"Sya, aku tahu ini bukan saat yang tepat! Tapi aku ingin mengatakannya sekarang,"


"Mengatakan apa?" lirihnya.


"Aku serius dengan ucapanku yang tadi! Bahkan sangat serius, aku ingin menjadi ayah untuk baby Zi."


"Le--?"


Leon meraih tangan Tasya, "Aku tahu ini terlalu cepat, tapi aku tidak ingin terlambat menyadarinya juga, bolehkah?"


"Leon...."


"Tidak perlu kamu jawab sekarang, tanpa kamu jawab pun aku akan menganggap baby Zi adalah anakku! Seperti yang kamu katakan pada Erik!"


"Tapi Leon? Aku--"


"Aku faham, kau tidak usah khawatirkan apapun!"


Tasya mengangguk kecil, membuat Leon kembali sumringah,


"Aku tidak akan mengecewakanmu!" ucapnya dengan merengkuh bahu Tasya, dan memeluknya.


"Apa aku terlalu cepat?" bisiknya.


"Kamu gerak cepat sekali!" jawab Tasya.


Leon terkekeh, "Aku tidak mau kalah cepat dengan rencana Alan."


"Dia memang lambat!"


"Kau benar! Dia lambat sekali," ujar Leon.


Mereka mengurai pelukannya, lalu tertawa bersama.


Sementara di rumah utama.


Disela rencana pernikahannya, Alan masih sibuk dengan banyak pekerjaan, masalah demi masalah pun harus dia selesaikan. Masalah Jerry yang masih dalam proses pun tidak luput dia perhatikan. Proses hukum yang dijalani oleh Jerry berdampak pada perusahaan ARR. corps yang sekarang dibawah naungan F&M Empire.


Perusahan baru yang di dirikan oleh anak muda dengan sejuta prestasinya, perkebunan, development. inc game, advertising dan bergabung dengan jasa pengamanan, dan juga bodyguard.


"Al ... kapan kau mengurus pernikahanmu? Kenapa terus mengurus pekerjaan?"


"Buat apa ada Wedding planner bun? Itu kan tugas mereka yang mengurusnya."


Sang bunda mendengus, "Kau ini, di kasih tahu, mereka kan juga menunggu, memangnya yang mau menikah hanya kekasihmu seorang saja?"


Alan menghela nafas, "Iya nanti saja bun, aku harus memindahkan data ini ke F&M Empire."


"Biarkan itu dikerjakan Farrel saja, kau ikut bunda, kita ke Wedding Organizer.


"Bunda...!"


"Bunda benar Al, pergilah ... urus segera pernikahan mu, pekerjaan itu tidak akan selesai-selesai." timpal Arya yang baru saja masuk ke dalam ruang kerja.


"Ayah!"