Assistant Love

Assistant Love
(Bukan) Kencan pagi



Masih dengan tergelak Dinda masuk kedalam apartemen, menekan tombol lift lalu masuk saat lift terbuka. Dia pasti menyusulku


Namun sampai lift itu tertutup, Alan tak juga menyusulnya, dia menekan tombol tiga, dimana letak platnya berada, Dinda menggerakkan kepalanya melongo ke arah luar lift namun Alan tak juga terlihat.


Dia lantas berjalan gontai menuju platnya, masih dengan menoleh ke arah belakang, masih berharap lelakinya itu menyusul. Dia mendengus kasar saat tidak ada orang lain dibelakang nya.


Dengan tersungut-sungut akhirnya dia masuk kedalam apartemen, melempar flatshoes nya begitu saja. Lalu dia masuk kedalam kamar, membantingkan tubuhnya ke atas ranjang,


'Aku kira dia akan menyusulku, dasar manusia kaku.' gumamnya dengan membenamkan kepalanya kedalam bantal.


'Lebih baik aku tidur,'


Namun ternyata malah tidak bisa tertidur sama sekali, dia sudah menghitung kancing sampai ratusan, diiringi lagu pengantar tidur, namun tetap saja. Kedua matanya tidak bisa terpejam,


Dinda mengetikkan sesuatu di aplikasi chat sejuta umatnya, yang ditujukan pada kekasihnya.


'Kenapa kau tidak menyusulku....'


Namun dia hapus kembali pesan yang belum terkirim itu, 'Aku kira kau akan menyusul....'


"Tidak, tidak, itu menjijikan, dia mungkin akan semakin marah, dasar manekin, kenapa dia juga tidak mengirim pesan padaku?" Ujarnya dengan melemparkan ponsel diatas ranjang.


Dia langsung mendekap guling, berharap bisa tertidur dengan cepat.


Setelah beberapa saat kemudian.


Dia sudah berguling kesana kemari, namun matanya tidak juga terpejam, Dinda meraih ponsel yang tadi dia lempar begitu saja di atas ranjang, Dan melihat jam masih menunjukan pukul dua dini hari, namun, rasa kantuk seakan hilang begitu saja. Sama sekali tidak bisa tertidur.


'Untung besok hari libur, aku bisa bangun siang tanpa khawatir kesiangan, bisa-bisa di ceramahin Lagi.' Monolognya dengan terkikik.


Dengan memikirkan Alan, akhirnya dia bisa terlelap begitu saja.


.


.


Semburat biru bercampur putih di awan kini sudah mulai terlihat, menggantikan gelapnya malam, deru kendaraan sudah mulai terdengar meskipun masih terlalu pagi.


Dering ponsel terdengar sangat nyaring, menggelepar-gelepar diatas nakas, Dinda yang belum lama tertidur itu menutup wajah dan telinganya menggunakan bantal.


Dreet


Dreet


Ting


Ting


Entah berapa puluh kali ponselnya berdering, ditambah bunyi pesan yang masuk, tangan Dinda perlahan meraba-raba ranjang mencari ponselnya yang terus berbunyi.


Tanpa melihat layar ponsel yang menyala, Dinda menempelkan ponsel itu di telinganya,


"Hmmm, apa? Hari ini hari libur kerja." selorohnya dengan mata yang masih terpejam.


"Lima menit kau tidak keluar, aku akan mendobrak pintunya!"


Tut


Ponselnya tiba-tiba hening kembali, hanya denting jarum jam yang kini terdengar, Dinda mengerjapkan matanya sempurna, saat mengenali suara siapa yang meneleponnya.


'Ya ampun Miss call nya banyak banget." ujarnya dengan menggulir-gulir ponselnya.


"Astaga, lima menit! Apa yang akan dia lakukan sepagi ini! Aku masih ingin tidur." gumamnya dengan melihat jam di ponselnya.


"Jam lima pagi, dia mau kemana?"


Dengan langkah yang diseret Dinda keluar kamar, memeluk guling dan rambut acak-acakan. Dia membuka pintu apartemen dengan menempelkan tubuhnya di ambang pintu.


Alan yang melihat Dinda dari ujung kepala hingga ujung kakinya hanya berdecak,


"Kau siap-siap, aku akan mengajakmu sesuatu tempat." ujar Alan datar.


Dia masuk kedalam meskipun sang pemilik apartemen masih menempel di pintu dengan mata yang masih terlihat mengantuk, sedetik kemudian kedua manik coklatnya membulat.


"Hah... ke suatu tempat? Kemana?"


"Lari pagi!"


Dinda merengus, Aku tidak suka olah raga, tapi karena kekasih ku yang mengajak, iya deh. Anggap saja ini kencan pertama alias kencan pagi.batinnya.


"Cepat, kau ini lambat sekali!" ketus Alan seraya mendorong Dinda masuk ke dalam kamar.


"Iya Tunggu sebentar!"


Dasar tidak sabaran, Untung aku cinta.


Tidak lama kemudian Dinda keluar dengan pakaian olahraga nya, dengan rambut yang dia kuncir kuda.


Alan menarik satu sudut bibirnya, melihat Dinda yang telah siap. Dia lalu menarik tangannya keluar dari Apartemen.


Mereka mulai berlari pagi, mengelilingi taman bermain kemudian mengelilingi selasar di atas taman bermain yang sudah tampak ramai oleh orang-orang yang berolahraga atau sekedar jalan santai.


Dinda berlari kecil dengan terengah- engah, sementara Alan sudah berada jauh didepannya, dan terlihat berkacak pinggang dengan melihat ke arahnya.


"Baru juga berlari sebentar! Kau sudah ambruk begini,"


Karena aku tidak pernah berlari, bahkan darimu sekalipun." ujarnya terkikik.


"Ayo cepat, jangan terus bermain- main!" ujar Alan dengan menyeret Dinda.


"Aaaaaaa.... tidak mau ! Aku ngantuk ... Aku lelah!"


Alan menyentil keningnya,


"Memangnya kau tidur jam berapa semalam, kau tidur larut malam?"


Dinda mengangguk, "Semua gara-gara kamu!"


Mereka berdua bukannya kembali lari, namun kini mereka berdua jalan kaki santai.


"Kenapa dengan ku?" tanya Alan mengernyitkan dahi.


"Kau tidak datang menyusulku, kau malah pergi, tidak mengirim pesan atau apa gitu! menyebalkan." gumam Dinda pelan.


Alan mengernyit, "Memang nya aku harus menyusul?Untuk apa? Kau kan yang masuk sendiri ke Apartemen mu, kenapa jadi menyalahkan ku."


Dasar si kaku! Untung tampan, kalau tidak mana mungkin ....


"Heh, memikirkan apa hem? fikiranmu harus dibersihkan." ucap Alan dengan menarik kembali tangan Dinda,


Sementara Dinda menarik garis bibirnya hingga melengkung, menatap tangan Alan yang kini menggenggamnya.


Setelah berjalan tiga kali putaran dengan Dinda yang tersungut, akhirnya mereka mengakhiri lari pagi yang lebih pantas disebut jalan santai itu, Dinda terduduk di sebuah kursi, sementara Alan yang berdiri membukakan botol mineral lalu memberikannya pada gadis yang kini tengah memukul- mukul pelan betisnya karena pegal.


"Itu karena kamu kurang olah raga! Pemalas." ujar Alan.


Dinda mendelik manja, "Ish... Kau ini!"


"Ayo pulang," ajak Alan.


"Kaki ku sakit!" rengek Dinda.


Alan berdecak, dia lalu berjongkok dengan posisi membelakangi, "Ayo naik."


Dinda mengulum bibirnya, dengan kedua tangan yang memegang bahu lalu naik ke punggung Alan, Alan berdiri dengan kedua kaki Dnda yang melingkari pinggang bagian belakangnya.


Dinda terkikik dengan tangan yang mengapung di seputaran lehernya.


Astaga, dia malah membuatku tidak karuan dengan nafasnya telingaku.


"Jangan tertawa, suaramu yang jelek langsung masuk kedalam telingaku! Berisik."


Dinda kembali terkikik dengan mulut yang mengatup. Mereka berdua masuk kedalam lobby apartemen, membuat orang-orang melihat kearah mereka dengan senyum yang mengandung banyak arti.


Dinda menyembunyikan wajahnya ke ceruk leher Alan, membuat bulu-bulu halusnya meremang,


"Jauhkan wajahmu! Kau membuatku geli Dinda!"


Dinda terkekeh, "Geli ya, maaf!"


Dia dengan sengaja meniup cuping telinga milik Alan sebelum menjauhkan wajahnya,


"Akira hentikan itu!" seru Alan,


Yang membuat orang yang tengah berada di sana sontak melihat ke arah mereka dengan mendelik, dan sebagian lagi menatap aneh pada Alan, Alan berbalik menyoroti mereka. Sementara Dinda dengan takut-takut tersenyum pada mereka.


"Maaf kekasih ku ini terlalu bersemangat, maaf ... maaf... silahkan melanjutkan!" ujarnya dengan tangan yang melebar mempersilahkan mereka berjalan.


"Apa yang kau bicarakan, kenapa meminta maaf pada mereka."


"Sudah, kau ini kenapa segala marah." gumam Dinda menepuk bahunya.


Alan mendengus, "Semua gara-gara ulahmu!"


"Jadi kau akan menghukumku?" Dinda terkekeh.


"Aku akan turunkan kau disini, jika tidak berhenti bicara." Ancam Alan.


Dinda mengulum bibir, lalu kembali melingkarkan tangan pada leher Alan.


Ting.


Pintu lift terbuka, Alan berjalan melewati koridor untuk sampai di plat milik Dinda,


"Tekan Password pintu nya, kau fikir aku bisa menekannya?" ujar Alan.


Hening.


Tidak ada jawaban dari belakang.


"Hei kau tidur? Dasar gadis ceroboh, kenapa dia bisa tidur begitu saja di punggung ku!" gumam Alan.


"Akira Dinda Pramudya!"


.


.


Seperti biasa, Up nya kadang masih tidak teratur yaa, kadang malam, kadang siang,😁 gak bisa tiap hari crazy up juga. hihi.


Terima kasih yang sudah selalu dukung author, lope lope deh❤❤buat yang udah vote, gift, Meskipun favnya gak nambah-nambah yaa. Masih merayap rayap nih. wkwk.


Sabar ya Aladin...wkwk