Assistant Love

Assistant Love
Memutuskan berhenti 2



Angin yang tenang saja mampu meruntuh,


Air laut pun sewaktu-waktu berubah keruh,


Apalagi hati yang tiba-tiba merasa jenuh,


Bahkan, lambat laun merapuh.


.


Itulah yang dirasakan Dinda, jatuh sebelum berkembang. Menyerah dan berhenti, membiarkan perasaan yang tak berujung itu, menjadi sia-sia dan tidak pernah ada cerita tentang mereka yang akan berakhir bahagia.


Malam itu juga Dinda menghapus semua foto yang berada di galeri ponselnya, yang dia ambil secara diam-diam selama mengikuti Alan, yang mengikatnya dengan benang yang di tarik ulur bak sebuah benang layangan.


Tipis, setipis kulit ari namun tajam dan menyakitkan. Tali yang membuatnya bahagia dan membuat luka di waktu yang bersamaan. Membuat hati yang tadinya tangguh itu lama-lama mengeluh, memilih berlari dan benar-benar berhenti.


Dia bahkan membuang novel yang sempat diberikan oleh Alan, meski hanya melihat benda itu, dia akan terus mengingat sosok Alan yang terlanjur terpatri kokoh didalam sanubari nya.


Memang tidak banyak kenangan dengan nya, moment saat berdua pun dapat di hitung dengan jari. Namun perasaan yang dia punya, yang diam-diam muncul dan tumbuh tanpa diminta, bahkan tanpa pupuk, yang dia rawat sendiri, tanpa adanya balas.


Dia pun tidak pernah tahu apa yang dirasakan Alan terhadapnya, yang jelas sikap Alan terhadapnya sudah cukup membuktikan bahwa tidak ada nama diri nya didalam sana. Di dalamnya hati seorang Alan yang bahkan tidak punya nurani. Mustahil.


Harusnya aku berhenti sejak lama, sejak menyadari rasa ini tumbuh semakin dalam dan membesar hingga akhirnya menyakiti diriku sendiri.


Ya aku memang bodoh, sampai aku berfikir menyukaimu adalah kebodohan, mencintaimu adalah kebodohan. Dan membiarkan perasaan ini juga kebodohan.


Dinda pun mengganti kembali password platnya, password yang bahkan Alan yang membuatnya,


"Maksudnya apa coba? Yang aku fikir itu karena dia menyukaiku? Bodoh sekali bukan?" gumam Dinda dengan menyusut air matanya yang kembali menitik meski tidak sederas tadi.


Setelah selesai dengan membuang semua yang berkaitan dengan sosok Alan yang selama ini menempati urutan pertama dibandingkan yang lain di dalam hidupnya. Dinda menghempaskan tubuhnya didalam ranjang dan menangis sejadinya.


Aku pastikan ini adalah air mata terakhir yang aku keluarkan bersama perasaan yang aku punya untukmu, yang meluruhkan rasa cintaku padamu.


Dinda bangkit dari ranjangnya kemudian dia menuju dapur untuk mengambil minum, namun kepalanya secara alami melirik pintu dan berharap Alan datang, meminta maaf dan memeluknya, mengatakan perasaan nya dan bilang semua akan baik-baik saja.


"Huft..." Dinda menghembuskan nafas panjang.


Sekalipun dia telah menghilangkan semuanya, namun tidak serta merta melupakannya begitu saja. Kembali bodoh kan.


Setelah menenggak segelas air dia menyalakan music player. Namun malah kembali berderai air mata dengan memeluk bantal sofa. Saat music itu berputar seolah tahu dan mengerti perasaan nya saat ini.


Kali ini ku mulai berhenti,


berhenti untuk mencintaimu, telah ku coba untuk bertahan, aku semakin terluka,


Sebenarnya ku tak ingin berpisah


namun hati tak bisa menerima, terlalu dalam kau lukis hatiku, tak sanggup lagi bertahan cinta aku menyerah.


Salah satu lagu yang mengalun lembut dan merasuk kedalam sukma yang tengah terluka. Membuatnya kembali mengingat tentang seseorang yang baru saja ingin dia lupakan.


"Bagaimana aku bisa lupa, bahkan semua nya seolah tahu perasaan ku." gumamnya dengan memukul bantal sofa.


.


.


Sementara Alan kembali ke dalam apartemen dan melemparkan jaket yang dikenakan begitu saja, berjalan menuju lemari es dan mengambil sebotol wine yang dia tenggak langsung dari mulut botolnya.


Rahangnya masih menahan gigi yang bergemelatuk hebat, jika saja ada orang lain di dalam platnya, mungkin dia akan mengajaknya duel sekalian sat itu juga, untuk melepaskan amarah yang bahkan dia tidak tahu sebabnya.


Drett


Namun terlambat, selama ini dia memang yang tidak sempat membuka bahkan melihat aktifitas keluar masuk karena kesibukannya hingga dia lupa dengan sendirinya. Dan sekarang semua telah berubah dan sia-sia.


Dia benar-benar bodoh, tidak cukupkah kekhawatiran yang aku perlihatkan padanya? Tidak cukupkah perasaan benci saat dia mengikuti secara diam-diam, andai saja dia bilang secara terang-terangan seperti tadi,


Alan kau gila, bahkan kau menikmati dia melihatmu dari jauh, kau senang bukan?


Batinnya kini tengah berperang, silih berebut siapa yang salah, dan siapa yang benar.


Tiba-tiba Dia dikejutkan oleh kedatangan Farrel dan juga Mac yang tiba-tiba.


"Astaga, apa kau selalu begini?" ujar Farrel saat melihat Alan yang terduduk dengan botol wine yang tinggal setengahnya.


"Mabuk terus, mabuk lagi!!" imbuhnya lagi.


Alan tetap tidak bergeming, hingga Farrel dengan tiba-tiba menghempaskan tubuhnya disamping Alan. Membuat Alan terkesiap dan mendorong bahu Farrel dengan keras.


"Hei ...kau kenapa? Sudah gila...."


"Kau mengagetkanku bodoh!!" ujar Alan dengan tatapan menyalang.


Farrel menggelengkan kepalanya, "Gila, baru segitu saja kau sudah marah seperti ini! Ku memang gila Al."


Alan mendengus kasar, "Sudah lah lebih baik kau pergi dari sini sekarang juga! Aku sedang tidak ingin bermain-main dengan mu!"


"Kau ini kenapa sih? Sepertinya kau tengah kesal sekali," tanya Farrel yang merasa penasaran.


Mac yang tengah berdiri pun terlihat heran, pasalnya jika ada masalah dengan perusahaan atau hal yang berkaitan dengan ARR. corps. Alan pasti akan memberitahunya. Atau bahkan meminta bantuannya, seperti tugas sebelumnya yang tengah diselidikinya berkaitan dengan seseorang yang mencurigakan dan menyalah gunakan kekuasaannya.


Alan menghela nafas panjang, lalu dia menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Menghirup sebatang rokok yang dia hisap dalam- dalam.


"Bagaimana kita tahu perasaan yang kita rasakan?" ujar Alan datar dengan mulut yang masih mengatup.


Farrel mengernyit, begitu juga dengan Mac yang menaikan satu alisnya keatas.


"Apa yang kau bicarakan Al? Kau bergumam- gumam seperti ikan!" ujarnya menahan tawa.


Mac menutup mulutnya sendiri dan juga menahan diri nya untuk tidak tertawa.


Alan menatap Farrel, "Bagaimana kau tahu saat kau menyadari kau menyukai gadis itu."


"Al, kau bodoh atau apa? Pertanyaanmu benar- benar tidak aku mengerti."


Alan mendengus kasar, "Lupakan!"


Mac membisikkan sesuatu pada Farrel yang membuat Farrel tergelak dan mengerti.


"Sepertinya ini masalah serius, berhubungan dengan hati." Bisik Mac di telinga Farrel.


"Seperti nya begitu Mac, lihat lah wajahnya yang bermuram durja." jawab Farrel dengan tergelak.


"Pergilah, kalian tidak mungkin bisa membantuku!" ujar Alan dingin.


"Bagaimana kita akan membantu, kau saja tidak berniat menceritakan apa masalahmu, bicara yang jelas... Kupukul juga lama-lama," ujar Farrel dengan mengepalkan tangannya.


Alan menatap Farrel, "Bagaimana perasaanmu saat kamu menyadari jatuh cinta pada pacarmu?"


Farrel terbahak, begitu juga Mac yang lagi-lagi menutup mulut dengan tangannya. Sementara Alan yang tampak gusar itu hanya menatap Farrel dan Mac bergantian.


"Brengsekk kalian! Berani menertawakan ku!!"