Assistant Love

Assistant Love
Jangan membuatku marah



"Itu karena wajahmu menakutkan,"


"Hentikan ocehanmu!" ujar Alan.


Dinda dengan takut-takut menundukkan kepalanya. Tingkahnya benar-benar membuat Alan yang seorang perfeksionis itu berkali-kali menghela nafas. Lalu memejamkan matanya sesaat.


Kebodohan pertama yang dilakukan oleh Alan, membiarkan tugas kantor terbengkalai begitu saja. Dia tak segan menegur bahkan marah saat ada staf yang lalai, dan hari ini? untuk pertama kalinya dia Bodoh.


Alan menekan tombol satu menuju lobby. Menyandarkan punggungnya di dinding lift dengan tangan yang dia masukkan kedalam saku celananya.


Dinda melirik Alan diam-diam, lalu melangkah perlahan mendekati Alan,


Tuk


Dinda menusuk lengan Alan dengan telunjuknya, sekali, Alan masih diam, Dinda kembali menusuk lengan Alan.


"Apa?"


"Maafkan aku!" ujarnya dengan menatap sendu.


Selalu menampakkan wajahmu yang menyedihkan, tapi membuatku selalu kesal.


"Sudahlah, aku tidak bisa lagi marah padamu," jawab Alan datar.


"Itu artinya kau memaafkanku?"


Dinda menangkup kedua tangannya, dengan menatap Alan, menggerak- gerakkan tangannya.


"Please," gumamnya tanpa suara, hanya deretan giginya yang dia perlihatkan.


Alan mendengus pelan, "Kemarilah!"


Dinda berhambur memeluk Alan, melingkarkan tangannya dipinggang Alan.


"Besok kau pelajari pelan-pelan apa yang menjadi tugasmu, kau mengerti?"


Dinda mengangguk, "Aku mengerti."


Lalu Alan mengurai pelukannya, dia membenahi jasnya bertepatan dengan lift yang terbuka.


Benar-benar berbeda dengan pria lain, dia tidak melakukan apa-apa. Padahal kesempatan besar, hanya berdua saja di dalam lift, dasar manusia kaku. batin Dinda dengan terkikik.


Mereka berdua berjalan keluar dari gedung, lalu berjalan ke arah mobil mereka,


"Kau pulang lah dulu, aku masih ada urusan." ujarnya dengan berlalu pergi menuju mobilnya.


"Ish... Dia bahkan tidak mengajakku pergi! Makan dulu kek, jalan-jalan dulu kek kayak orang-orang." gerutu Dinda sambil berjalan ke arah mobilnya.


.


.


Dinda menghempaskan tubuhnya di sofa, dengan melempar tasnya sembarangan, lalu berjalan dengan gontai menuju kamar, melingkarkan handuk dileher lalu masuk kedalam kamar mandi.


Ponsel berkali-kali berbunyi, namun Dinda yang masih berada dikamar mandi tentu saja tidak mendengarnya, hingga ponsel itu berhenti dengan sendirinya.


Dinda yang baru saja selesai mandi, keluar dengan rambut yang masih tergulung handuk. Mengarah ke arah dapur dan mengambil cangkir yang telah di isi oleh air putih. Lalu berjalan ke ruang tamu dan memeriksa ponsel yang dia letakkan begitu saja dimeja.


"Astaga, banyak banget!" ujarnya dengan melihat notifikasi yang masuk.


"Dua puluh empat panggilan, ngapain yaa dia?" gumamnya sendiri.


Dinda lantas mendial nomor itu, namun ternyata dia kalah cepat, pasalnya nomor dengan nama kontak yang belum dia ganti kini terpangpang di layar ponsel dengan jelas.


Dia meneleponku lagi.


Dinda terkikik sesaat, lalu berdehem sebelum menempelkan ponsel nya itu di sebelah telinganya,


'Hai sayang, maaf aku tadi sedang mandi, jadi tidak mendengar panggilan dari mu? Maaf yaa, ada apa kau menelepon ku? Jangan bilang kau merindukanku!'


'Aku sudah menunggumu didepan pintu seperti orang gila!'


Tut


Sambungan ponsel itu terputus, menohok Dinda yang seketika melihat ke arah pintu dan berhambur membuka nya.


Ceklek


Dinda membuka pintu apartemennya, dan melihat Alan yang tengah berdiri didepannya dengan membawa dua paper bag besar.


"Aku seperti orang bodoh menunggumu!" ujar Alan yang langsung melangkah masuk.


"Maaf aku tidak tahu kamu mau kesini, bukankah kau bilang ada urusan?" timpal Dinda yang kini mengekori langkah Alan.


Alan terus berjalan masuk kedalam dapur, menyimpan paper bag itu di meja dapur dan mulai mengeluarkan barang yang ada di dalamnya.


Dinda mengernyit, menatap Alan yang membawa segala bahan masakan. Hampir semua ada disana, termasuk mie instan dan susu.


"Kenapa membeli semua perlengkapan ini? Memangnya siapa yang akan masak? Aku kan tidak bisa memasak." ujar Dinda.


"Aku...." ucap Alan datar.


Dinda melongo, "Kau bisa masak? Serius...?"


"Hmm ... bahkan lebih jago dari pada Leon, lebih enak juga daripadanya." ucap Alan dengan tangan yang sibuk menata sayur dan bahan lainnya ke dalam lemari es.


"Aku bukannya cemburu ya, bukan ..., sama sekali tidak cemburu!" lanjutnya lagi.


"Cemburu? Memangnya aku mengatakan kau cemburu? ledek Dinda dengan telunjuk yang menusuk lengan Alan.


"Hentikan itu!" ujar Alan.


Dinda terkikik, "Cie ... yang cemburu,"


"Tidak Dinda, mana mungkin aku cemburu, bodoh!" ucap Alan.


Dinda menutup mulut menggunakan satu tangannya, lalu mengangguk-nganggukan kepalanya kedepan.


Iya deh iya yang gak cemburu tapi belanja segini banyaknya, dan mengatakan dia akan memasak. Dasar.


"Kau menertawakanku?" ujar Alan.


"Mana mungkin aku berani sayang!" ungkap Dinda,


Lucu sekali wajahnya.


Dinda membuka tumpukan handuk pada rambutnya, menggosok kepalanya lembut menggunakan handuk kecil, Alan yang diam-diam meliriknya menggunakan ujung matanya pun berdecak,


Alan menggaruk tengkuknya, "Kau keringkan rambutmu dulu, lihat airnya saja masih menetes begitu!" ujarnya dengan berlalu mencuci tangannya diwastafel.


Dinda terkekeh, dengan memegang rambutnya, lalu beranjak masuk kedalam kamar. Masih belum percaya bahwa Alan yang dia fikir terlalu sulit dijangkau itu, sekarang berada di dapurnya, datang dengan membawa bahan-bahan memasak.


"Bukan mimpi kan?" gumamnya dengan mencubit lengannya sendiri.


"Awwwss... sakit ternyata!" ringisnya.


Dia keluar kamar dengan rambut setengah basahnya, berjalan ke dapur yang kini semerbak dengan wangi masakan, harumnya.


Menatap punggung Alan yang bergerak membelakanginya, dia tengah fokus dengan mengaduk masakannya.


Dinda diam-diam duduk, tanpa melepaskan pandangannya melihat Alan, tanpa disangka Alan berbalik dan menatap langsung kepadanya, gadis itu melonjak kaget bak ketahuan mencuri.


Aku yang diam-diam melihatnya, aku yang kaget.


"Kau tidak bosan memandangiku?" tanya Alan, yang mengambil pisau dan memotong tomat.


Dinda mengangguk kemudian bergeleng dalam sekejap. Ya tuhan mahluk apa ini? kenapa ketampanannya meningkat, hanya karena apron memasak yang dikenakannya.


"Piringmu diletakkan dimana?" tanya nya tanpa menoleh.


"Rak atas," jawabnya pelan tanpa mengedipkan mata.


"Kenapa kau letakkan diatas, bukannya diletakan dibawah!" gumam Alan.


"Karena aku jarang memakai piring, jarang memasak juga!" ujarnya dengan terkekeh.


"Bodoh," gumam Alan lagi.


"Kau bisa ambilkan, kedua tangan ku kotor," ucap nya datar.


Dinda bangkit dan langsung mendekati Alan, melihat Alan, dia membuka rak atas dimana piring yang dia letakkan disana.


"Tangan Dinda menggapai piring, namun karena terlalu tinggi dia harus berjinjit, namun tubuhnya malah limbung, dengan sekali gerakan Alan menangkap tubuh limbungnya. Dia memegangi pinggang Dinda, dan juga spatula di tangannya.


"Dasar ceroboh!" ujar Alan menyentil dahi Wanitanya itu.


Dinda mengkerut dengan kedua tangan berada dibahunya, "Aku kan tidak tahu akan terjatuh,"


"Lagi pula kenapa kau menyimpan piring di rak atas? menyusahkan diri sendiri, simpan ditempat yang mudah di jangkau!" ucapnya kemudian.


"Iya, baik lah tuan perfeksionis. Aku akan memindahkannya," Dinda terkekeh.


Pletak


Alan kembali menyentil dahinya, Dinda meringis kembali, "Aku memberitahumu untuk memudahkan dirimu sendiri, kau malah mengataiku!"


Dinda menggigit sedikit bibirnya, menatap Alan yang masih menggerutu.


Gemes-gemes gimana gitu


"Apa kau tidak cape, marah-marah terus?" ujar Dinda terkikik.


Alan menarik tangannya dari pinggang Dinda, dan kembali ke penggorengan.


"Kalau kau tidak mau aku marah, jangan berulah."


"Huuumm ... wangi sekali! Ini masakan apa?"


"Kau memang paling pintar mengalihkan pembicaraan!"


"Sudah sana duduk," Titahnya kemudian.


Cup


Dinda mencium kilat pipi Alan, lalu berlari menuju meja makan, dia menggeser kursi lalu mendudukkinya, dengan tergelak, sedangkan Alan menjadi salah tingkah dengan menoleh sekilas ke arah belakang.


Alan kemudian bergelang kepalanya dengan sudut bibir yang terangkat, lalu dia mengambil piring dari rak atas dan mulai menata menu yang dia masak.


Tak lama kemudian, dia membawa piring dan meletakkan nya di hadapan Dinda.


"Makanlah...." ujar Alan, yang kemudian menarik kursi dan duduk berhadapan.


"Wow ... Apa ini namanya? Kau sudah bekerja keras, terima kasih yaa!" ucap Dinda dengan wajah berseri.


"Kau sebahagia ini hanya karena melihat makanan?" gumam Alan yang menarik tipis ujung bibirnya,


Dinda mulai memotong daging ayam itu lalu menyuapkan nya, "Kau belum menjawab pertanyaanku? Apa ini?"


"Rosemary chicken dengan sause tentunya, enak?"


Dinda mengangguk, "Huum, ini enak sekali, dagingnya lembut!"


"Kau tidak makan?" tanya nya pada Alan yang hanya memandangi nya.


"Aku sudah kenyang, makanlah!"


"Ini enak lho, kau tidak mau mencobanya?" Alan menggelengkan kepala nya.


"Tidak makanlah,"


Dinda terus mengunyah dan menyuap makanannya, sedangkan Alan mengambil ponsel dan memeriksa notifikasi yang masuk.


"Kenapa kamu dan Leon pintar memasak? Padahal kalian itu pria, aku saja perempuan tidak bisa masak! Ujarnya dengan menyuap kembali.


"Tidak usah menyebut lagi nama Leon!" gumamnya dengan pandangan tetap pada ponsel.


"Tapi dia kan temanmu, dan temanku juga!"


Alan meletakkan ponselnya, lalu menatap kearah Dinda. Sementara Dinda masih sibuk dengan makanannya,


"Kau ingin membuatku marah lagi Akira Dinda Pramudya?"


.


.