
Satu minggu kemudian.
"Hai Leon? Gimana keadaan mu?" ujar Dinda saat membuka pintu ruangan rawat inap tempat Leon dirawat.
"Hm ... sudah lebih baik," gumamnya dengan kembali menatap ke arah lain.
Dinda menarik bibirnya melengkung, menggantikan bunga didalam vas dengan bunga yang baru saja di bawanya.
"Apa Alan tahu kau kemari? Aku tidak ingin dia salah faham lagi,"
Dinda menoleh, " Eehh ... salah faham lagi bagaimana? Dia yang menyuruh ku kok!"
Leon masih belum berani menatapnya, dia memilih menatap jendela, "Benarkah? Dia menyuruhmu?"
"Huum ... Sementara dia mengurus pekerjaan nya bersama Jerry, kau tenang saja! Dia sudah tidak marah padamu,"
"Kau sendiri?"
"Apa kau marah padaku?"
Dinda membuang bunga yang sudah layu itu ke dalam tong sampah, lalu mencuci tangan di wastafek,
"Tentu saja aku marah, tapi melihatmu dipukuli tempo hari, aku merasa kasihan!" ujarnya terkekeh.
Leon berdesis, "Kau malah membahas bagian itu nya saja! Kau pasti kesal padaku ya!"
Tentu saja Leon aku kesal padamu, tapi aku juga menyayangkan sikapmu, andai saja kamu tidak melakukannya mungkin hubunganmu dan Alan sudah tentu akan baik-baik saja.
Kau juga sebenarnya adalah pria baik, Tapi tetap saja apa yang kau lakukan itu salah.
"Kau tidak usah khawatir, My sweety ice sudah benar-benar memaafkan kelakuan bodohmu itu!"
"Benarkah?" Dinda meengangguk.
"Siapa yang kau panggil seperti itu? Menjijikan!"
Dinda terhenyak, dia menolehkan kepalanya kearah pintu, Alan sudah berdiri dibelakangnya dengan Jerry yang mengatupkan bibirnya.
"Sayang ... kau sudah datang?" Dinda mendekat dan menyambutnya.
"Dia bahkan menyetir seperti dikejar setan, hanya tidak ingin membiarkan kau dan Leon terlalu lama, berduaan diruangan ini!"
"Diam saja kau Jerr!" sentak Alan, Jerry lantas terkekeh,
"Kau memang benar? Dia sedingin es Namun juga bisa sangat manis." ujar Jerry yang membuat Leon tergelak, namun terhenti begitu saja karena membuatnya meringis tiba-tiba.
"Kalian
Dengan tangan memegangi luka yang bahkan belum mengering di bahunya, "Aaaawww...."
"Terlalu banyak tingkah!" ketus Alan padanya.
Jerry kembali mengulum senyum, perlahan hubungan keduanya sudah terlihat membaik, kejadian ini membawa hikmah tersendiri bagi mereka, terutama bagi Alan dan Leon.
"Al, benarkah kau sudah benar-benar memaafkanku?" tanya Leon pada Alan yang berdiri disamping Dinda.
Tak lama suara ketukan terdengar dari arah luar. Namun pintu itu tidak juga terbuka, membuat mereka saling pandang, Jerry sudah siap dengan tangan yang menyusup dibalik jasnya, bersiap dengan memegang senjata api miliknya.
Alan mendorong Dinda hingga terpojok ke sudut ruangan, sementara dirinya menghalangi Leon, menjadikan tubuhnya menjadi tameng.
Ceklek
Pintu terbuka, beberapa perawat dan dokter masuk kedalam.
"Maaf mengganggu, kami adalah mahasiswi dari fakultas keperawatan, ingin ikut dalam pemeriksaan, apa tidak keberatan?" ujar salah satu dari mereka, terlihat paling bersinar dan paling cantik. Tubuhnya tinggi semampai, dengan kulit langsat,
"Te--tentu saja boleh, silahkan. Tolong periksa Aku!" ujar Leon kemudian, lalu diam diam memperhatikan mahasiswi keperawatan tersebut, dia mendongkak pada Name tag yang melingkar pada lehernya
"Priya...." gumamnya kemudian.
Gadis manis itu menoleh pada Leon dan mulai memeriksanya. Leon tidak bisa berhenti memperhatikannya.
"Awas biji mata mu!" Ujar Jerry dari belakang, sedangkan Alan tampak datar saja. Dengan bersandar pada tembok.
Kemudian rombongan itu meninggalkan ruangan Alan,
"Benar-benar manis!" ujar Leon dengan lengan menyeka lengan yang tadi dipegang oleh Priya saat memeriksaan tadi.
Membuat Alan berdecak, "Sudahlah, aku mau pergi!" ujarnya dengan menarik ujung baju Dinda.
"Kita pergi dari sini!" ujarnya kemudian.
"Jerr, jaga dia! Jangan sampai berulah lagi,"
Jerry mengangguk.
Dinda menoleh ke arah belakang. "Bye Leon, bye Jerry."
Alan membalikan kepala Dinda yang menoleh ke belakang, lalu menariknya hingga dia serikt menyeretnya.
"Kau ini kenapa? Bukankah kai sudah memaafkan kelakuan bodoh nya Leon?" Ujar Dinda dengan melingkarkan tangan pada lengannya.
Alan melepaskannya, selain risih, dia juga tidak terbiasa.
"Memaafkan tidak harus memberinya kesempatan lagi kan?" jawab Alan datar.
Membuat Dinda berfikir keras dengan apa yang dia katakan.
"Bagaimana? Apa maksud perkataan mu?"
"Dasar bodoh! Otakmu memang tidak bisa menjangkau kata-kata terlalu berat."
Dinda terkekeh, "Hal terberat dalam hidupku adalah tidak bertemu denganmu."
"Dasar bodoh," ujar Alan dengan menyentil keningnya.
"Iihh ... kau ini!"
Alan mengulum senyum, dengan perlahan menyentuh kening yang tadi dia sentil dengan perlahan.
"Udah ah, kau ini sedang apa? Mengelus apa? Kaku sekali!"
"Memangnya kau ingin aku melakukan apa?" tanya Alan.
Mereka berjalan di selasar gedung, menuju tempat parkir dimana mobil Alan terparkir.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu, memangnya kau mau melakukan apa yang aku inginkan?" tukas Dinda.
"Sudah aku katakan, jika permintaanmu bisa aku penuhi hari ini, maka aku akan melakukannya."
Dinda memasang kedua mata nya menyipit, dia "Benarkah itu?"
Dinda menarik handle pintu mobil lali masuk kedalam. Begitu juga yang Alan lalukan, dia masuk ke pintu belakang kemudi.
"Aku ingin kau berhenti melakukan bisnis itu!"
Alan terdiam.
"Aku...."