Assistant Love

Assistant Love
Pergi ke WO



Dengan langkah gontai, Alan mengikuti keinginan sang bunda, mereka akan pergi ke wedding planner untuk mendiskusikan tentang masalah pernikahan, Alan mengikuti langkah Ayu keluar dari ruangan kerja Arya.


Mereka berjalan keluar dan masuk kedalam mobil, namun saat mobil berada dipertigaan Ayu mendengus kasar.


"Kau ini bagaimana! Kau kan akan menikah dengan Dinda?"


"Iya bunda, itu benar!"


Ayu menepuk lengannya, "Kalau begitu, kenapa kita pergi tanpa dia!"


"Astaga bunda! Kenapa marah-marah terus!"


"Kamu yang membuat bunda marah, sekarang ayo kita ke kantor dulu untuk menjemputnya, bukankah yang menikah itu dua orang, seharusnya kalian yang pergi, gimana sih!"Seloroh Ayu dengan kesal.


Alan menghela nafas, "Baik bunda!" ucapnya dengan pasrah tanpa bisa menolak lagi, kalau tidak sudah dipastikan akan seperti apa Bunda jika marah.


Alan pun memutar arah kemudi, dan mengarah ke kantor Adhinata untuk menjemput Dinda, tak lupa mengirim pesan singkat untuknya agar bersiap-siap.


Mobil pun berhenti didepan lobby perusahaan, Dinda yang menerima pesan singkat dari Alan pun bergegas membereskan berkas-berkas dan menyambar tasnya lalu pergi. Dia masuk ke dalam lift dengan terburu-buru, "Dasar menyebalkan, selalu saja begitu jika mengajakku pergi, awas saja jika sudah menikah, sifatnya masih begitu! Aku akan mengadukannya pada ibu mertua." gumamnya dengan terkikik. Ibu mertua.


Ya ibu mertuanya sama dengan ibu mertua sahabatnya, itu artinya selain bersahabat, Dia dan Metta akan menjadi saudara ipar. Lucu juga.


Ting


Pintu lift terbuka, membuat Dinda yang tengah berfikir tentang masa depannya itu kaget dan berhambur keluar. Dia dapat melihat mobil milik Alan sudah terparkir didepan Lobby.


"Ayo sayang, naik!" ujar Ayu membuka kaca mobil.


"Tante ... eh maksudku Bunda!" gumamnya dengan naik ke dalam pintu belakang, disamping Ayu.


"Aku seperti supir saja!" ungkap Alan dengan melihat ke arah belakang dari spoin depannya.


"Sayang...." sapa Dinda.


Ayu tersenyum melihat mereka, terlebih karena sikap Alan yang terlihat biasa saja saat melihat kekasihnya.


"Kita mau kemana Bunda?"


"Lho, memangnya Alan tidak memberi tahumu kemana kita akan pergi hari ini?"


Dinda menggelengkan kepalanya, "Tidak Bunda, dia hanya mengirim pesan singkat seperti ini." ucapnya dengan memberikan ponsel pada Ayu.


"Astaga ... kau ini! Membuat Bunda malu sebagai ibumu."


Alan melihat ke arah spion, "Kenapa? Tidak ada yang salah dengan pesanku!"


Cepat turun, aku di lobby. Jangan membuatku menunggu apalagi terlambat.


Ayu membaca pesan singkat dan jelas itu dengan suara keras, membuat Dinda tersenyum menang, dan Alan menatapnya tajam.


"Kau mengirimkan pesan seperti itu pada seorang wanita, dan wanita itu calon istrimu? Kau keterlaluan sekali Al."


"Tidak masalah bunda, aku sudah terbiasa dengan caranya mengirim pesan,"


"Terbiasa kau bilang? Berarti dia sering melakukannya?"


Ayu maju dan memukul lengan anaknya berulang kali. "Dasar anak nakal, kau keterlaluan sekali, membuat Bunda malu! Jangan seperti itu,"


Alan meringis, "Bunda, aku sedang menyetir!"


"Bunda tidak peduli, kau memang harus Bunda pukul! Keterlaluan?"


Dinda terkekeh melihatnya, karena berhasil mengerjai pria nya. Rasakan kemarahan bunda, kau memang pantas dimarahi, biar tahu dan bisa sedikit peka.


"Bunda sudah hentikan, aku sedang menyetir!"


"Minta maaf padanya, dan jangan di ulangi, Kalau tidak ingin Bunda marah." ujar Ayu menghentikan pukulannya. Sebab tangannya juga sudah pegal karena lengan Alan yang keras.


"Bunda sampai pegel mukulin kamu." ucaonya memijat jari jemarinya.


Alan menatap Dinda yang tengah menjulurkan lidahnya dari spion, dengan kasar dia mendengus, "Heh ... kamu malah senang begitu bunda memarahiku!"


"Minta maaf, bukan malah memarahinya Al!"


"Iya bun! Aku minta maaf sayang!" ujarnya datar.


Ayu mendecih, "Minta maaf seperti apa itu? Dasar...."


Dinda mengangguk tapi dengan terkekeh, "Tidak apa-apa sayang, lain kali lebih lembut lagi yaa."


Mobilpun tetap melaju, Alan tetap fokus pada jalanan didepannya, dia tidak mengeluarkan satu kata lagi, sementara Ayu mengusap kepala Dinda, "Kamu yakin akan menikah dengan pria dingin dan cuek sepertinya." ucapnya menunjuk


Alan dengan lirikan matanya.


Dinda tersenyum dan mengangguk. Sementara Alan menghela nafas, Aku tidak ada artinya lagi didepan bunda, dan dia sengaja menjatuhkan harga diriku.


Tak lama kemudian, mereka sampai juga di tempat yang mereka tuju, wedding planner langganan bunda Ayu.


Mereka keluar dari mobil, dan masuk ke dalam gedung itu, Ayu disambut oleh sahabatnya,


"Apa kabar mommy Ayu yang cuantik jelita membahana." ujar pria tampan gemulai bernama Marco itu.


Alan menyalang ke arahnya dan memiting pergelangan tangannya, "JANGAN MENYENTUHKU!" serunya dengan mendorong tubuh tegap Marco.


"Auuuhh ... Atiitt, kasar sekali kak Alan! Tapi miss syuka yang kasar-kasar!" ujarnya membuat Ayu menggelengkan kepalanya dsn Dinda tergelak.


"Jangan tertawa, tidak lucu!" ucap Alan yang memilih meninggalkan mereka dan duduk di sofa.


"Ayo sayang, kita ngobrol-ngobrol manjah disana! Ayo Mommy kita sudah lama tidak bergosip ria." ucap Marco menarik tangan Ayu.


"Kapan kau akan berubah Co? Dari dulu kau begini terus, kapan akan mendapatkan istri dsn punya anak, usiamu sudah cocok punya cucu."


Marco menghentakkan kakinya, "Mommy... Hellow, zaman sekarang tidak perlu rahim untuk mendapatkan keturunan, anak bisa aku peroleh tanpa melahirkan."


"Kau gila Co!" ucap Ayu tertawa, begitu juga dengan Dinda.


"Oke sayang, cantik sekarang Marco ingin tahu planning kamu tentang pernikahan ini? Jangan kau hiraukan calon mertuamu yang kepo itu!" ujarnya pada Dinda.


"Iya Om...."


Marco terbelalak, "No....jangan panggil Om, Call me Miss ... just Miss oke!"


Dinda mengulum senyum, "Iya Om...eh Miss."


"Nah gitu, oke cus lihat katalog ini, mana tahu ada yang mau kamu pinang cantikk!"


Dinda menoleh pada Alan, dia malah sibuk bermain ponsel, tentu saja mengurus pekerjaan. Terlihat dari dahinya yang bertaut dan kadang berkerut itu.


Lalu Dinda menoleh pada Ayu, wanita paruh baya yang terlihat elegan itu mengangguk, "Pilih yang kamu inginkan sayang!"


"Terima kasih Bun!"


Dinda pun mulai membuka lembaran demi lembaran katalog berisi tema pernikahan dsn juga gaunnya, catering beserta perlengkapan lainnya.


Sementara Ayu dan Marco membicarakan apa saja yang membuat keduanya tertawa, tentu saja karena Marco yang seusia dengannya namun masih saja bersikap muda layaknya seusia Alan. Membicarakan masa lalu di kampusnya dan perjuangannya sampai hari ini, membicarakan teman-temannya dan banyak topik lainnya.


Sementara Dinda menghampiri Alan yang masih sibuk itu, menyodorkan katalog padanya,


"Sayang, menurutmu ini bagus tidak?"


Alan meliriknya sebentar, "Bagus!" lalu kembali melirik ponselnya.


"Kalau ini?"


"Bagus juga!" ujarnya kembali menunduk.


"Diantara dua ini bagus yang mana?"


Alan kembali melihat katalog, dan memilih pilihan pertama dengan telunjuknya.


"Tapi menurut aku yang ini yang bagus!" tunjuk Dinda memilih pilihan yang ke dua.


Alan mendongkakkan kepalanya, dan menyentil dahi Dinda, "Lalu untuk apa bertanya padaku?"


Dinda menggosok keningnya, "Ih ... kau ini, mau aku adukan lagi sama bunda?"


Alan menarik pinggangnya hingga dia jatuh dipangkuan Alan, "Kalau kau berani, silahkan, aku tidak akan segan membalas perbuatanmu itu!"


Glek


Dinda menelan air liurnya yang hampir menetes, bukan karena ancaman Alan, namun karena wajah mereka yang berjarak hanya berapa sentu saja, hingga dia bisa merasakan hembusan nafas dari Alan, ada sesuatu yang menyeruak tiba-tiba, ingin sekali mela hap bibir yamg tengah menggerutu itu, dan menyisir bagian dalamnya. Astaga, Dinda apa yang kau fikirkan. Jangan melakukan apa-apa jika bukan dia yang memulainya. Tapi menunggu dia yang melakukannya sampai kapan? Batin Dinda bermonolog.


Alan menatap wajah Dinda dengan lekat, tidak berbeda dengannya, dia pun merasakan hal yang sama, sesuatu menyerangnya tanpa aba-aba, membuat tangannya semakin mengerat pinggang Dinda.


"Ullala ... membuat Marco mengiri dech!" suara Marco yang menggema membuat keduanya melonjak kaget dan melepaskan diri, sementara Ayu tersenyum melihatnya.


"Mommy ... kau lihat mereka, manisss nyaa, Marco syuka, Marco juga mau di peluk begitcu...."


"Apaaan sih! Jijik tahu gak! Udah sana urus anakku!"


Marco pun menganggukkan kepalanya, dengan langkah bak seorang putri, dia menghampiri Dinda dan juga Alan.


"Jadi mana yang akan kalian pilih, jangan membuat adegan yang Marco inginkan ya, kalian tidak punya perasaan!" Ujarnya dengan memukul lembut bahu Dinda, membuat Dinda tertawa.


"Berikan yang dia mau! Aku ikut saja." celetuk Alan.


"Ulllala ... sweet banget! Dia menerima semua yang kamu pilih, yakin?"


"Ya terserah lah!" ucap Alan kembali menunduk menatap ponselnya.


"Ih ... kau ini, tidak punya keinginan apa-apa!"


"Yang paling penting menikah saja! Sah ...sah ... sudah tidak usah ribet!" ucapnya lagi.


Marco terkikik, "Cantik, sudah, kita sebagai mempelai wanita saja yang mengurusnya, pria memang syuka begitu! Makanya aku tidak suka jadi Pria. Yuk ... kita kesana saja! Kakak Alan tahu beres saja." ujar Marco menarik tangan Dinda.


Dinda dan Marco kembali membahas tentang tema pernikahan, dibantu oleh Ayu yang sering melirik Alan lalu menghela nafas. Dinda yang menyadarinya pun mengelus tangannya,


"Tidak apa-apa bunda!"


"Sabar yaa sayang!"