
"Maaf pak ini makan siangmu!" ujarnya meletakkan kantong itu di atas meja.
"Temani aku makan." ujar Alan dengan kepala yang sama sekali tidak melihat pada Dinda.
"Apa? Gimana?" tanya Dinda seolah tidak mengerti.
"Kamu tidak tuli kan?"
Dinda mengepalkan tangan, "Maaf pak, saya tidak bisa menemani anda makan siang, saya sudah ada janji dengan pacar saya."
Dinda kemudian keluar dari ruangan Alan dengan cepat. Menyambar tasnya dan pergi begitu saja dengan bibir yang mengerucut.
"Semakin hari semakin kesal melihatnya, dia sengaja melakukannya didepanku. Apa maksudnya coba!" gumam Dinda yang masuk kedalam lift.
Dinda keluar dari lift dan menuju ruangan di kantor divisi, lalu menghempaskan tubuhnya begitu saja didepan meja milik sahabatnya.
"Sha, aku tidak tahan lagi! Dia membuatku kesal hari ini. Dasar manusia kulkas, manekin hidup!" gerutu Dinda.
"Hei, apa sih datang-datang marah, bukan harusnya kamu senang, bisa melihat wajahnya tanpa sembunyi-sembunyi lagi."
"Entahlah Sha, pokoknya dia manusia teraneh di buka bumi, tapi anehnya aku belum juga move on dari dia. Bego gak?"
Metta terkikik, "Tuh udah tahu jawabannya. Ngapain tanya orang lain."
"Shaun ... jangan ikut nyebelin bisa gak? Aku sedang kesal. Aku bahkan tidak peduli sama sekali jika dia memecatku hari ini! terserah saja." ujar nya dengan bibir yang makin mengerucut.
"Ayo kita makan siang saja, semangkok soto ayam akan menenangkan hati dan fikiran mu." seloroh Metta dengan menarik tangan Dinda.
"Tapi jangan di kantin! kita cari tempat lain," rungut Dinda.
"Kenapa? Soto ayam di kantin enak plus murah, mau nyari dimana lagi coba kekenyangan yang haqiqi itu." ujar Metta yang terus menariknya.
Dinda tergelak pada akhirnya, "Kamu tuh udah mau nikah sama orang tajir melintir, tapi masih mikirin harga murah semangkok soto ayam. Belum siap jadi orang kaya apa gimana?"
"Iya juga sih, tapi kan selera perutku tidak akan berubah drastis hanya karena jadi orang kaya. Jadi kita makan di kantin saja oke." Metta membentuk jari jempol dan telunjuknya menjadi huruf O.
"Kita cari tempat lain, kalau ketahuan berbahaya."
"Jangan bilang kamu mengatakan hal aneh lagi!"
Dinda mengangguk, "Aku bilang akan makan siang dengan pacarku."
Metta menoyor kepalanya, "Sardin ... otakmu kurang se ons apa gimana hah? Cari perkara saja."
"Aku tidak peduli, semakin dia membuatku kesal, akan aku buat dia semakin menyesal." ucapnya dengan sinis.
Mereka berjalan beriringan menuju parkir area, tempat dimana mobil milik Dinda terparkir. Dinda membuka pintu mobil, sedangkan Metta berjalan memutar untuk masuk kedalam mobil Dinda.
"So, gak peduli! Padahal tiap hari yang dibicarakan hanya dia saja." ujar Metta yang melingkarkan seat belt pada tubuhnya.
Mobil melaju keluar dari tempat parkir dan mencari tempat yang aman agar tidak ketahuan dia tengah berbohong perihal makan siang bersama pacarnya. Bahkan sampai saat ini pun dia belum mengatakan apa-apa pada Leon.
.
.
Sementara Alan menjadi uring-uringan setelah Dinda menghilang dibalik pintu dengan mengatakan akan makan siang bersama Leon, pacar nya.
Dia meraih ponsel miliknya lalu mendial nomor kontak Leon, namun diurungkannya. Bodoh apa yang aku lakukan?
Alan keluar dari ruangannya, dan menatap meja kerja milik Dinda yang kosong.
Bodoh, dia selalu saja meninggalkan jam kerja begitu saja.
Jika dulu melakukannya untuk mengikutiku, sudah dipastikan mereka tengah berduaan sekarang.
Aku harus menyuruh orang mengikuti Leon, tidak, bukan begitu caranya! Aku akan mengikuti mereka, tidak, itu malah terdengar menjijikan.
Alan terus bermonolog, dia keluar dari gedung utama menuju tempat parkir. Lalu masuk kedalam mobil dan melaju dengan kecepatan tinggi.
Dreet
Dreet
Ponselnya yang dia simpan di balik jas yang dikenakannya berdering. Alan mengernyit setelah tahu nomor kontak yang tertera pada layar putih ponselnya adalah Leon.
Alan mencari ear phone dan segera memasang benda kecil tersebut di lubang telinganya.
"Hm ... Ada apa?" Ujarnya dengan tatapan lurus ke depan.
"Aku di kantormu, kau dimana?"
Seketika dia menginjak pedal rem pada mobilnya.
""Kau dimana? dikantor?"
"Hm ... aku di kantormu!"
"Baiklah, aku akan kembali kesana." ucap Alan kemudian.
Alan lalu memutar balik setir kemudinya, dia kembali mengarah ke kantornya lagi. Tak berapa lama, dia sampai ke kantor. Lalu turun dari mobil dengan tergesa.
Sampai akhirnya Alan bertemu muka dengan Leon, Alan menghampirinya dengan tatapan yang menyalang.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya nya heran.
"Aku menemuimu, ada yang ingin aku bahas denganmu! Kau ada waktu?"
"Kita bicara di ruangan ku."
Ting
Pintu terbuka, Alan keluar di ikuti oleh Leon. Mereka berjalan menuju ruangan Alan.
"Al, kau tidak makan siang?" ujar Leon langsung menghempaskan tubuhnya di sofa.
Sementara Alan mengambil Soft drink dari lemari es yang terdapat di pojok ruangan.
"Aku baru saja akan makan siang Le, tapi kau menggagalkan rencana ku. Dan kau sendiri?" memberikan satu kaleng soft drink pada Leon.
Apa dia berbohong perihal makan siang bersama pacar atau bahkan hanya mengaku-ngaku berpacaran dengan Leon? Jika benar, maka aku tidak akan pernah memaafkanmu Akira.
"Aku kesini untuk meminta pendapatmu!" membuka kaleng minumannya lalu menenggak nya.
"Apa ada masalah diperusahaan?" Alan mendudukkan tubuhnya disamping Leon.
"Ini bukan tentang masalah perusahaan, ini masalah yang lain."
"Memang ada masalah apa?"
"Apa kau ingat tentang teman nya Jerry yang mengundang kita datang ke klub?"
Alan mengangguk, "Lantas?"
"Dia menyukai wanita yang disukai Jerry, dan berusaha merebutnya. Bagaimana menurutmu?"
"Entahlah, aku tidak paham soal begitu! Kau bertanya pada orang yang salah." ujar Alan dengan menenggak kembali minumannya.
Leon mengangguk, "Aku harap itu tidak terjadi diantara kita bertiga."
"Hanya kalian yang aku punya," ujar Leon dengan menundukkan kepala.
"Aku tidak ingin merasakan kehilangan lagi, seperti saat kehilangan Jhoni." imbuhnya lagi.
Alan berdecak, "Kau kenapa Le, sentimentil sekali kau hari ini!"
Leon terkekeh, "Aku hanya sedang merindukan masa-masa kecil kita Al."
Leon bangkit dari duduknya, "Kalau begitu aku pergi. Sampai jumpa,"
Leon berjalan keluar dan menghilang dibalik pintu. Meninggalkan Alan yang masih belum paham dengan semua yang dibicarakan Leon.
Waktu terus berputar, jarum jam dinding terdengar berdenting, menemani keheningan diruangan Alan.
Dia berdiri menghadap jendela yang membentang di depannya, melihat gedung-gedung yang menjulang tinggi. Merogoh ponsel dan mengotak-ngatik nya.
Tak lama kemudian Dinda masuk dengan membawa berkas dari seluruh divisi untuk ditanda tangani oleh Alan.
"Maaf Pak, ini seluruh dokumen yang harus ditanda tangani hari ini juga." ujar Dinda dengan meletakkan berkas diatas meja kerja Alan.
Sementara Alan yang berdiri mematung didepan jendela besar dengan melihat ke arah luar mengacuhkan Dinda begitu saja. Dia memasukkan ponsel kedalam sakunya kembali
"Apa kau sedang bermain peran?"